03 January 2016

Membidik Potensi Bisnis di 2016

SEKTOR PERTANIAN - Bank Indonesia (BI) melansir, pada 2016 ekonomi Sulsel diproyeksi tumbuh antara tujuh persen hingga delapan persen. Yang lebih membanggakan, pertumbuhan tidak hanya sektor pertanian, tetapi juga perdagangan dan jasa. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Kondisi perekonomian secara nasional tahun ini diprediksi tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan tahun lalu. Tahun “Monyet Api” bukanlah kondisi yang stabil, sebab banyak gejolak yang bakal dialami.
Setelah melewati tahun “Kambing Kayu” selama 2015, kini giliran Monyet Api menyapa 2016. Menurut prediksi, tahun Monyet Api bukanlah kondisi yang stabil. Pasalnya, banyak gejolak yang akan dialami, baik dari sisi ekonomi, bisnis, maupun politik. Hal-hal yang sifatnya kontroversial dan tidak terduga juga memiliki peluang besar untuk terjadi.
Meski begitu, tahun Monyet Api akan dipenuhi keceriaan, pandangan optimis, serta pikiran agresif. Pada 2016 akan menjadi waktu tepat untuk melakukan berbagai penemuan menarik dan bermanfaat, lantaran Monyet dikenal memiliki sikap yang gesit, berani, dan pintar. Inilah waktu yang tepat untuk melakukan terobosan-terobosan yang bermanfaat bagi kemajuan sebuah perusahaan.
Bagaimana dengan pendapat para ahli yang didasarkan pada analisis ekonomi dan bisnis? Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo, mengatakan, pada 2015 merupakan tahun penuh tantangan dan ujian bagi perekonomian Indonesia. Berbagai kinerja positif yang dicapai pada tahun sebelumnya seolah menjadi tidak terasa. Tekanan terhadap stabilitas ekonomi muncul dari segala arah. Itu tidak terlepas dari faktor terjadinya berbagai pergeseran fundamental dalam perekonomian dunia.
Tekanan lain juga semakin bertambah ketika otoritas moneter Tiongkok pada Agustus 2015, tanpa diduga mendevaluasi mata uang Yuan. Itu memicu terjadinya gejolak di pasar keuangan global, menyebabkan arus modal asing ke negara berkembang menurun drastis, termasuk Indonesia.
Bagaimana di 2016? Kondisi perekonomian secara nasional tahun ini diprediksi tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan tahun lalu. Hal itu terlihat dari beberapa indikator, di antaranya kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga. Secara otomatis, kebijakan tersebut akan berdampak terhadap roda perekonomian nasional,  sehingga diprediksi mengarah ke daerah, termasuk Sulsel. Apakah Sulsel mampu menjadi garda ekonomi nasional di tengah hambatan perekonomian?
Deputi Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) BI Sulsel, Causa Iman Karana, mengatakan, di 2016 diperkirakan ekonomi Sulsel tumbuh antara tujuh persen hingga delapan persen. Yang lebih membanggakan, pertumbuhan tidak hanya sektor pertanian, tetapi juga perdagangan dan jasa. Sudah banyak hotel dan perdagangan, termasuk jasa keuangan dan perbankan yang tumbuh.
“Kalau di 2016 semua pelaku usaha bisa meningkatkan kinerja, terutama kategori yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Sulsel, maka prospek akan jauh lebih baik dibandingkan 2015. Untuk kategori pertanian, beberapa upaya bisa dilakukan, antara lain membuka lahan baru. Bisa juga dengan membangun irigasi baru, sehingga indeks penanaman dapat meningkat. Bisa juga dengan meningkatkan kualitas bibit, sehingga produktivitas naik.
Dalam kategori industri pengolahan, pembangunan smelter untuk mengolah bijih nikel di Bantaeng yang diproyeksi beroperasi Februari 2016, dapat memacu pertumbuhan ekonomi Sulsel lebih baik lagi. Sementara, dalam kategori konstruksi, pembangunan rel kereta api Makassar-Parepare, proyeksi pembangunan flyover dan underpass di persimpangan menuju airport, dan rencana pembangunan outer ring road Sungguminasa-Maros, harus bisa direalisasikan untuk menggenjot perekonomian daerah.
Sekjen Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Nurdin Abdullah, saat menjadi narasumber dalam Dialog Ekonomi Outlook, mengatakan, semua daerah di Sulsel sebenarnya memiliki potensi klaster-klaster pertumbuhan, baik wisata, industri, dan lain-lain. Akan tetapi, semua itu harus dilakukan dalam perencanaan yang baik dan terukur.
Lanjut lanjut, Bupati Kabupaten Bantaeng ini menjelaskan, Sulsel menjadi pusat pertumbuhan di Indonesia. Sehingga, apabila percepatan infrastruktur dilakukan maka akan mempengaruhi seluruh kabupaten yang ada. “Untuk mendukung pertumbuhan, maka harus disokong infasfruktur,” tuturnya.
Pengamat Ekonomi Sulsel, Mukhlis Sufri, menuturkan, langkah strategi untuk pertumbuhan ekonomi Sulsel masuk dalam tiga dimensi. Pertama, dimensi sumber daya manusia (SDM) harus cerdas dan inovatif. Pembangunan SDM dimulai dari konsep pendidikan oleh pemerintah, didukung anggaran agar bisa berubah menjadi human kapital, bukan human resort.
Faktor kedua, mengoptimalkan sektor unggulan sebagai upaya mencermati ketimpangan pembangunan. Data BI, sektor pertanian pertumbuhannya menurun, padahal kontribusinya 40 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Sulsel. Menurutnya, penurunan di sektor pertanian sebab terjadinya pergeseran dari pertanian ke sektor industri.
“Makanya, Sulsel harus menerapkan konsep hiliralisasi dengan klaster komoditi unggulan, yang merupakan dimensi ketiga. Mindset harus diubah dari spekulasi motif ke transaksi motif. Sulsel harus meredesain pasar sebelum masuk hilirisasi,” imbau Mukhlis.
Sementara itu, Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sulsel, Hariyadi Kaimuddin, menjelaskan, MEA telah memasuki pasar Indonesia. Ada dua sudut pandang untuk melihat MEA, apakah menjadi tantangan atau hanya menjadi objek pasar semata. Oleh karena itu, kesiapan harus dimulai dari perubahan pola pikir.
“Pola pikir yang mampu berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi Sulsel adalah menjadi pengusaha. Tercatat, pengusaha di Indonesia baru 0,4 persen yang produktif dari jumlah pengusaha yang ada. Sementara, Singapura sudah tujuh persen. Apabila jumlah pengusaha produktif di Indonesia dapat mencapai angka minimal dua persen saja, itu sudah bagus,” terangnya.
Lebih lanjut, Direktur Kalla Toyota ini, mengimbau agar pengusaha harus lebih berani mengambil risiko dengan langkah yang jelas. “Itu dilakukan agar kerja lebih produktif, efektif, dan efisien,” imbuhnya.
Menurut Hariyadi, masyarakat Sulsel harus mampu mendesain mimpi, menjadikan target capaian lebih tinggi. “Kalau cara berpikir rendah, maka hasilnya akan biasa-biasa saja,” tutupnya.

Persaingan Hotel Semakin Ketat

Empat tahun terakhir, sejumlah investor memilih Kota Makassar sebagai wilayah pengembangan bisnis. Itu tentu menjadi tantangan bagi pengelola hotel untuk menyediakan hunian layak bagi pengunjung. Apalagi, Makassar dilihat sangat seksi oleh para investor, sebagai kota penghubung kawasan Indonesia bagian barat dengan timur.
Tahun lalu, pembangunan hotel di Kota Makassar sangat pesat. Tahun ini, diprediksi akan semakin kompetitif. Itu seiring rencana pengoperasian 13 hotel berklasifikasi bintang.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, mengatakan, seluruh hotel tersebut tengah dibangun dan memasuki tahap perampungan. Ditargetkan akan mulai beroperasi pada 2016.
Secara keseluruhan, hotel yang siap untuk beroperasi berkapasitas hingga 1.800 kamar. Sedikit melebihi ekspektasi  kebutuhan kamar sebanyak 1.650 unit. Hal tersebut tentu akan membuat bisnis hotel di Makassar semakin ketat. Untuk sementara ini, jumlah kamar hotel yang tersedia di Kota Makassar sebanyak 11.550 unit.
Pertumbuhan ketersediaan kamar tersebut akan diikuti penyediaan fasilitas ballroom maupun arena konvensi. Itu bakal membuat Makassar layak disebut sebagai kota penyelenggara meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Kondisi itu membuat industri perhotelan di Makassar juga dibayangi potensi oversupply. Itu dapat terjadi apabila arus kunjungan wisatawan tidak sejalan persediaan kamar hotel.