08 January 2016

Kim Yang Erl, Saranghae


BLOGKATAHATIKU/IST
Kim Yang Erl, Saranghae
Oleh Effendy Wongso

“Huh, kenapa tidak ngecat rambutnya pakai pilox sekalian?!”
“Setiap gadis mempunyai karakter yang berbeda.”
“Semua manusia juga begitu. Tapi karakter cewek tengil itu di luar dari batas kewajaran!”
“Selama masih dalam batas kesopanan, apa salahnya?”
“Apa salahnya kamu bilang?! Hah, padahal kelakuannya seperti orang yang salah minum obat!”
“Yang salah minum obat, kamu apa dia sih? Setiap hari kamu ngedumel seperti cucakrawa.”
“Ka-kamu….”
“Apa salahnya sih kalau dia berekspresi begitu?!”
“Ekspresi?! Apanya yang ekspresi kalau kelakuannya sudah bikin orang mengurut dada!”
“Aku tidak mengurut dada. Biasa saja, kok.”
“Semua orang bilang kalau suatu saat KLB, Kelompok Lima Bintang bubar pasti karena ulahnya!”
“Siapa semua orang? Sori, bukannya aku membela. Tapi jangan mewakilkan satu suara atas nama kolektivitas global.”
“Ta-tapi….”
“Jangan cepat mengambil kesimpulan kalau letak permasalahannya belum jelas benar, Arum. Kegagalan pentas tempo hari tidak berada di pundak satu orang saja. Rasanya tidak adil melimpahkan kesalahan hanya pada dia seorang.”
“Dia merusak alur tarian dengan norak! Reputasi baik KLB rusak karenanya!”
“Bukan sengaja. Siapa sih yang ingin reputasi kelompoknya rusak? Waktu itu, mungkin dia belum hapal gerakan. Mungkin juga lupa.”
“Terlau picik rasanya kalau dia tidak serius untuk pentas sepenting itu, Bram!”
“Aku lihat dia sudah berusaha semaksimal mungkin.”
“Berusaha merusak dengan kelakuannya yang tengil itu memang iya!”
“Aku tidak merasa dia….”
“Apa sih kelebihan gadis itu sehingga kamu selalu membelanya?!”
“Kalau tidak salah tentu akan aku bela. Begitu pula sebaliknya kalau dia salah. Aku punya tanggung jawab itu sebagai ketua di KLB.”
“Tentu. Kamu harus jeli melihat siapa-siapa yang pantas atau tidak bertahan di KLB.”
“Itu kewajibanku. Jangan kuatir aku akan lupa!”
 “Sori. Aku cuma mengingatkan. Bukannya sok mengatur!”
Sepele sebetulnya perdebatan saya dengan Arum hari ini. Hanya soal rambut. Entah kenapa tiba-tiba dia mempermasalahkan rambut gadis Korea yang dicat pirang itu. Padahal, menurut saya persoalan ini tidak perlu sampai mengemuka begini. Sampai-sampai habis waktu untuk membincangkan tetek-bengek rambut Kim Yang Erl.
Tapi letak permasalahannya sebenarnya bukan pada karakter prenjak gadis tujuh belas itu. Entah Arum yang agak posesif atau saya yang kelewat sensitif menilai ulahnya yang ganjil. Saya sadar, sejak kehadiran Kim Yang Erl menjadi bagian dari sahabat kami di Kelompok Lima Bintang, dia mulai menunjukkan sikap antipati. Menjauh dan mengucilkan diri dari dunia kami yang penuh dengan kedinamisan.
Tentu ini bukan hal yang bagus. Saya tidak ingin salah seorang anggota KLB bercerai berai. Rasanya tidak bijak persahabatan yang telah kami bina sekian tahun lantak dalam sehari. Seperti kemarau semusim diguyur hujan sehari!
Bukan itu saja. Rasanya, seabrek latihan rutin kami bakal tersita hanya mempertentangkan hal tidak berguna seperti itu. Sama sekali tidak membawa faedah apa-apa.
Hanya menghadirkan permusuhan!

***

“Dia….”
“Arum Sanggarwati! Apa sih salah dia?!”
“Kamu….”
“Bukannya aku membela dia.”
“Ta-tapi….”
“Kita mestinya bangga.”
“Bangga?!”
“Memangnya kenapa?”
“Nehi, nehi! Jangan bilang karena merek luar negeri anak diplomat Korsel yang disandang cewek ganjen itu sehingga KLB patut berbangga! Mau dari Jepang-Rusia-Turki-Kamerun kek, kalau kelakuannya minus kuadrat begitu sama juga KLB hanya piara bom waktu.”
“Tapi….”
“Tanpa dia sebagai label kebanggaan pun KLB mampu mandiri, kok.”
“Tentu saja. Semua kesuksesan KLB selama ini berkat galangan kerja sama tanpa pamrih dari sesama anggota.”
“Tapi dia sama sekali tidak pernah memberikan kontribusi apa-apa bagi perkembangan KLB selain….”
“Stop! Aku tidak mau dengar kamu bilang tanpa gadis itu pun KLB….”
“Kenyataannya memang begitu, kok.”
“Jangan motong! Aku belum selesai bicara.”
“Oke. Kamu teruskan saja perbendaharaan kalimat kamu yang dipenuhi pujian tentang The Most Beautiful Girls from Korea, Kim Yang Erl!”
“Aku selalu bersikap adil menilai!”
“I hope.”
“Arum!”
Gadis mungil sahabat se-SMA saya itu mengibaskan tangan. Saya menghela napas panjang. Selalu saja begitu. Dipikirnya saya selalu tidak adil dalam menyikapi suatu masalah. Rasanya saya malas berdebat dengan dia lagi!
“Sebagai ketua….”
“Justru karena aku ini ketua sehingga tidak ingin melihat KLB direcoki dengan pertengkaran sesama anggota.”
“Tapi….”
“KLB dapat bertahan sampai sekarang karena satu hal. Kekompakan!”
“Dan sekarang Si Korea itu datang memburai kekompakan kita!”
“Atas dasar alasan apa kamu menuduhnya begitu?!”
“Bukankah sekarang kita sudah tidak kompak?!”
Saya kaget mendengar kalimatnya yang barusan. Hubungan saya dengan Arum memang telah merenggang. Tapi, bukan salah Kim Yang Erl sehingga hubungan pertemanan antara saya dan Arum kurang harmonis lagi. Gadis dari Negeri Ginseng itu tidak pernah melakukan kesalahan di mata saya. Arum saja yang jealous. Karena sejak bergabungya dia di KLB, praktis pengurus maupun anggota lama mengalihkan perhatian dari Arum. Kim Yang Erl memang menjadi primadona baru di KLB.
Dan ketika Kim Yang Erl melakukan kesalahan kecil dalam pentas tempo hari, Arum pun mengurai alasan sepanjang Sungai Nil untuk mendepak gadis Korea itu dari keanggotaan KLB. Heh, dianggapnya kesalahan kecil itu sebagai kiamat bagi KLB!
Tapi tentu saja saya menampik kehendaknya yang tidak beralasan itu. Atas dasar apa saya bisa mendepak Kim Yang Erl yang sudah masuk sebagai anggota KLB melalui prosedur sahih? Padahal sebagai ketua generasi pertama KLB, saya justru dituntut untuk senantiasa bersikap adil tanpa membeda-bedakan warna rambut!
Namun Arum tidak mau tahu! Dia terus saja mendesak sehingga malah membuat saya antipati padanya. Kalau disuruh memilih untuk mendepak siapa, justru yang akan saya depak adalah Arum! Fase penyakit cemburunya itu sudah pada stadium akut!
“Dia…”
“Sudahlah. Jangan memperpanjang kesalahan kecilnya tempo hari menjadi masalah besar, Arum!”
“Aku sudah tidak tahan melihat tingkahnya….”
“Jangan karena masalah sepele sehingga kita bertengkar terus.”
“Aku juga sebenarnya tidak kepingin bertengkar, kok!”
“Aku harap kita bisa kompakan lagi seperti dulu, Arum.”
“Tentu saja bisa kalau tidak ada yang namanya Kim Yang Erl.”
“Jangan mendesakku untuk mendepak anak diplomat Korsel itu.”
“Sudah kuduga kamu tidak bakalan mau!”
“Aku tidak punya alasan….”
“Tidak perlu alasan apa-apa untuk mendepak anak ganjen itu!”
Saya mengusap wajah. Entah harus mengurai kalimat bijak apa untuk menggebah keinginan Arum yang tidak sehat itu. Saya bangkit dari bersila, keluar dari pendopo dengan langkah gamang.

***

Kelompok Lima Bintang mulanya berjumlah lima orang. Saya, Bramana Sanjaya, Arum Sanggarwati, Bernardus Tito Chekov, Chiang Kok Wui, dan Erika Danny Emanuel alias Ede. Semuanya merupakan sahabat satu sekolah sejak SMP. Memasuki usianya yang keempat, KLB berkembang menjadi kelompok kesenian profesional. Padahal, mulanya kelompok ini hanyalah sebuah geng biasa. Tanpa bertujuan apa-apa selain sekadar mengikat tali persahabatan saja. Perjalanan KLB mulai berubah menjadi kelompok kesenian, sanggar, setelah SMP kami mengadakan acara perpisahan sekolah. Arum mengusulkan agar KLB mempersembahkan sebuah tarian kontemporer yang dibawakan oleh kami sendiri.
Perjalanan itu pun berkembang lebih jauh karena KLB sudah kadung dikenal sebagai kelompok tari remaja meski belum dalam taraf profesional. Semua berkat keberhasilan kami dalam acara perpisahan sekolah lalu. Tahun kedua keberadaan KLB, sudah dilakukan pembenahan organisasi melalui sistem manajerial, agar KLB dapat terus eksis melalui swadaya sendiri. Karena selama ini KLB hidup dari subsidi patungan lima orang anggota inti.
Akhirnya KLB menerima anggota baru sebagai bagian dari pengembangan. Selain hidup dari iuran anggota sebagai sanggar tari, KLB juga mengajukan proposal pentas ke event-event organizer. Dari fee hasil pentas-pentas yang kami lakukan itulah maka kelangsungan hidup KLB dapat terus berjalan.
Saya akui Arum punya peranan besar dalam perkembangan KLB. Selain gape sebagai koreografer, dia juga smart dalam melobi instansi yang hendak mengadakan pertunjukan suatu acara. Seperti di ambasade Korea Selatan dua bulan lalu. KLB sukses mewakili Indonesia dalam Festival Tarian Kontemporer di Seoul, Korea Selatan.
Di situlah awalnya perkenalan kami dengan Kim Yang Erl. Gadis itu merupakan putri kedua diplomat Korsel di Jakarta. Waktu itu dia tampil mewakili Korsel dengan tarian tradisional-modern. Perkenalan itu berlanjut lebih jauh setelah secara resmi dia mendaftarkan diri sebagai anggota KLB yang baru.
“I want learn Indonesian dance’s. I want learn any dance’s in the whole wide world!”
Dan keinginannya itu diwujudkan dengan masuknya dia sebagai anggota KLB. Dengan cepat dia dapat beradaptasi dengan iklim KLB yang dipadati serangkaian latihan serius. Bakatnya di bidang tari memang telah terbukti. Ede, pemandu bakat KLB, memilihnya menjadi salah satu wakil penari KLB, yang tampil sebagai dancer pembuka dalam pentas akbar Teater Tanah Airku dua minggu lalu.
Tentu saja hal itu menyulut api cemburu di hati Arum. Dia berusaha membatalkan keputusan itu sehingga bersitegang dengan Ede. Namun keputusan tetap dilaksanakan dengan aklamasi bahwa Kim Yang Erl tetap mewakili KLB di pentas akbar tersebut. Arum mati-matian menolak. Dan dia memilih mundur sebagai koreografer untuk pentas tersebut!
Menjelang pentas, gadis berambut mayang itu tidak pernah lagi muncul di pendopo. Dia menghilang seperti ditelan tanah. Berkali-kali saya menegur sikapnya yang apatis itu. Tapi dia malah membantah. Merusakkan kekompakan yang selama ini menjadi andalan KLB.
Sejak kehadiran Kim Yang Erl dia memang menjelma menjadi gadis yang aneh!

***

“Aku sudah tidak mau mendengar kalimat sarkartis bikin sakit kuping itu, Arum!”
Saya marah. Benar-benar marah kali ini. Sudah dua minggu dia mencecar saya hanya untuk mengeluarkan titah pemecatan Kim Yang Erl dari daftar keanggotaan KLB!
“Tapi….”
“Stop semua ocehanmu yang memburuk-burukkan Kim Yang Erl lagi!”
“Ka-kamu…!”
“Kamu kira sikap jealous-mu itu lebih baik ketimbang kelakuannya yang tengil itu?!”
“Ak-aku….”
“Kim Yang Erl tidak seburuk sangkamu, Arum! Aku tahu, selama ini kamu hanya mencari-cari kesalahan dia, sehingga urusan seperti rambutnya saja kamu permasalahkan!”
“Ta-tapi….”
“Kamu sudah keterlaluan!”
Arum menitikkan airmata. Sudah lama saya tidak pernah melihat dia mengeluarkan airmata. Terakhir setahun lalu ketika kami berpisah dengan Bernardus Tito Chekov yang kembali ke Kiev, Ukraina.
“Kenapa, Arum?! Apa salah dia sama kamu?!”
“Ak-aku… ti-tidak ingin dia merampas….”
“Merampas apa?!”
“Merebut segalanya dari aku! Merebut hati kamu! Ak-aku cinta kamu, Bram! Aku tidak ingin dia….”
Saya terhenyak. Sama sekali tidak menyangka kalau selama ini Arum memendam rasa cintanya terhadap saya. Sungguh, saya tidak tahu! Karena sekian tahun ini saya hanya menganggap dia sebagai seorang sahabat. Tidak lebih dari seorang sahabat!
Saya menengadah ke langit lewat jendela besar pendopo. Suasana malam tanpa bintang seperti menegaskan kegalauan di hati saya. Pendopo mendadak sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik mengerik dari luar sana. Anak-anak KLB sudah bubaran, pulang ke rumah masing-masing. Latihan malam ini selesai dengan menyisakan dua hati yang bimbang.
“Bram, I want go back to home. See you tomorrow. Bye!”
Kim Yang Erl pamit seperti biasa. Dia selalu pulang paling belakangan. Menunggu sampai saya mengantarnya pulang ke ambasade. Tapi hari ini dia bermaksud pulang sendiri setelah melihat saya mematung bersama Arum di pendopo.
“Kim Yang Erl, wait!”
Gadis itu menghentikan langkahnya.
“I'll take you home!”
Airmata Arum menderas. Dia masih terduduk lunglai di teras pendopo. Saya menggigit bibir. Hati saya giris karena tidak pernah dapat mencintai gadis berambut mayang itu.
Arum selamanya sahabat saya.