11 January 2016

Jaga Stabilitas Makroekonomi, BI Pertahankan Rate 7,50 Persen

BI RATE - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 7,50 persen dengan suku bunga deposit facility 5,50 persen dan lending facility pada level 8,00 persen. Kebijakan ini dipandang sebagai ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter yang semakin terbuka. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 7,50 persen dengan suku bunga deposit facility 5,50 persen dan lending facility pada level 8,00 persen. Kebijakan ini dipandang sebagai ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter yang semakin terbuka.
Hal tersebut juga dilakukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya inflasi akhir 2015 yang berada di bawah tiga persen, dan defesit transaksi berjalan yang berada pada kisaran dua persen dari produk domestik bruto (PDB).
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di 2015, yakni pada kisaran 4,8 persen secara tahunan (yoy), atau lebih rendah dari lima persen pada 2014. Ini karena dipengaruhi ekspor yang menurun seiring lemahnya permintaan global dan penurunan harga komoditas. Akan tetapi, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan penguatan stimulus pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ini agar stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan tetap terjaga,” ungkap Kepala BI Wilayah Sulsel, M Dadi Aryadi di Gedung BI, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, belum lama ini.
Dijelaskan, tantangan ekonomi Indonesia pada 2015 tidak dari dinamika perkembangan dan keuangan global, yakni pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, harga komoditas yang menurun, dan pasar keuangan yang bergejolak.
Walaupun demikian, sebut Dadi, perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut masih dapat ditopang konsumsi yang masih kuat, baik rumah tangga maupun pemerintah. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan meningkat pada kisaran 5,2 persen hingga 5,6 persen (yoy).
“Kami akan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan stimulus fiskal, terutama pembangunan proyek infrastruktur dan konsumsi yang diprediksi masih tetap kuat. Sementara itu, investasi diharapkan meningkat seiring implementasi paket kebijakan pemerintah yang mendorong investasi dan stabilitas makroekonomi yang semakin baik,” tandasnya.