25 January 2016

Imlek dan Kenangan Merah Airin

BLOGKATAHATIKU/IST
Imlek dan Kenangan Merah Airin
Oleh Effendy Wongso

Imlek selalu menghadirkan giris di hatinya. Kenangan merah itu selalu terkuak. Kotow, lampion merah, angpau, kue pia, dan busana Cheongsam. Airin menghela napas panjang. Lamat kenangan itu membaur di benaknya. Sudah tiga tahun. Tapi kenangan itu tetap menusuk-nusuk hatinya!
“Airin!”
Mungkin tidak ada yang pernah tahu bagaimana sakitnya kehilangan. Ketika orang-orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan ia seorang diri, Airin kecil yang tercenung menatap bentangan masa depan suram di hadapannya. Tapi takdir memang tak dapat dielakkan. Nyawa kedua orangtua serta adik tunggalnya tidak dapat diselamatkan dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, meski semalam-malaman ia bersujud dan berdoa untuk keselamatan keluarganya.
Digigitnya bibir. Menatap hampa keluar jendela rumah. Terawangannya menembusi langit malam. Namun gemintang pun seperti enggan menyapanya malam ini. Semuanya kelam saat kelap-kelip indahnya bersembunyi di balik awan gemawan. Mungkin sebentar lagi langit akan mencurahkan hujan. Meniriskan tirai-tirainya yang basah. Membasuh muka bumi yang  mengerontang akibat kemarau musim lalu. Ia menggeleng sekali lagi. Imlek selalu menghadirkan aroma yang sama. Untaian hari yang terhimpun dari detik-detik jam dinding di ruang tamu selalu mengiramakan lara. Apakah ia pantas mengecap manisnya Imlek, sementara ia bagai seorang putri yang hilang dalam rimba kota!
“Airin, kamu tidak apa-apa, kan?”
Sepasang telinganya seperti terbebat oleh alur sepat silam. Revo menatapnya mawas. Bukan sekali ini Airin begitu. Lampion merah pemanis interior rumah menggantung di tangannya. Belum lagi sempat digantungkannya di sudut langit-langit ruang. Gadis itu masih dirundung lara.
“Airin, sudahlah....”
Gadis itu terkesiap. Seperti menyadari kesalahannya, ia menyembulkan senyum paksa. Revo menghela napas. Menanggapi kepura-puraan mimik riang Airin dengan rupa tidak senang.
“Maaf....”
“Kamu ini keras kepala....”
“Ya, Tuhan!” Airin menepuk dahinya, pura-pura melirik ke setumpuk pita merah yang masih tergeletak di dalam kardus. Mencoba menggusur topik masalah. “Sori, sori ya, Vo. Wah, aku terlalu banyak melamun sehingga pekerjaan kita terbengkalai.”
Revo menggeleng. “Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Maksudmu?”
Revo mengusap wajahnya. “Rin, sampai kapan sih kamu dapat melupakan tragedi yang menimpa keluargamu?!”
Wajah Airin memucat. “Ak-aku....”
“Aku tahu tragedi itu sangat berat. Tapi, kami tidak suka melihat kamu terus-menerus sensi begitu.”
‘Kami’ yang dimaksud Revo adalah ia, Papa dan Mamanya. Papa dan Mamanya sendiri sudah menganggap Airin keponakan mereka sebagai putri sendiri. Sejak kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kedua orangtua serta adik perempuan Airin, gadis yatim-piatu itu memang sudah diangkat sebagai anak oleh orangtua Revo.
“Ta-tapi....”
“Apakah mereka dapat hidup kembali kalau saban hari kamu meneteskan airmata?!”
“Revo....”
Revo mengibaskan tangannya. Memutar tumitnya, bergegas meninggalkan gadis cengeng itu. Sungguh, ia paling benci melihat Airin menangis. Terlebih-lebih menangisi keluarganya yang telah tiada. Pergi untuk selama-lamanya dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas tiga tahun lalu.

***

Besok adalah hari pergantian tahun menurut penanggalan China. Sudah dua ribu lima ratus tahun lebih, dan tetap dirayakan oleh orang-orang Tionghoa perantauan. Tak terkecuali di Indonesia. Sebagai WNI peranakan Tionghoa, keluarga Revo pun merayakan Imlek secara sederhana dari tahun ke tahun. Namun ada yang agak istimewa pada Imlek kali ini. Bahwa Imlek tahun ini dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah. Itulah sebabnya keluarga Revo merayakan Imlek kali ini dengan cukup meriah. Buktinya hiasan-hiasan bernuansa China terasa benar mewarnai rumah mereka.
Namun sayang, keceriaan suasana Imlek tidak selalu sempurna. Airin tidak pernah merasa bahagia dengan Imlek. Setiap menjelang Imlek, ia selalu mengenang tragedi kecelakaan yang merenggut keluarganya. Tiga tahun lalu, tepat pada momen Imlek, keluarganya yang terdiri dari Papa dan Mama serta Ailin, adiknya, mengalami musibah kecelakaan. Mobil yang ditumpangi mereka tertabrak sebuah truk tangki minyak yang melaju kencang dari arah Tol Cikampek. Naas tak dapat dihindari. Mobil yang ditumpangi keluarganya hancur. Dan nyawa ketiga orang yang paling dikasihinya tidak dapat diselamatkan lagi. Papa dan Mamanya tewas di tempat. Sementara Ailin koma selama tiga hari sebelum meninggal pada hari yang keempat.
Waktu itu ia meraung-raung sampai tak sadarkan diri beberapa kali. Jiwanya terguncang. Ia bahkan menyesali diri, kenapa tidak ikut dalam mobil tersebut. Kenapa tidak ikut bersilaturahmi ke rumah kerabatnya. Kenapa ia harus ikut teman-temannya ke vihara untuk menyaksikan pertunjukan barongsai Imlek sehingga luput dari kecelakaan tersebut.
Tragedi kecelakaan itu menyebabkan dirinya sebatang kara. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain kerabat dekatnya, Oom Surya Wijaya yang merupakan kakak kandung Papanya. Sejak tragedi naas itu pula, Airin tinggal di rumah pamannya. Ia dianggap anak sendiri oleh Oom Surya Wijaya, dan menjadi adik perempuan buat Revo yang terlahir sebagai anak tunggal.
“Sekolah terbengkalai, juara kelas nihil!”
“Aku....”
“Sampai kapan...?!”
“Tapi....”
“Kamu bukan Airin yang aku kenal empat tahun lalu! Airin yang ceria. Airin yang juara kelas.  Airin yang menjadi kebanggaan keluarga Wijaya! Airin yang....”
“Cu-cukup, Revo!”
“Belum cukup apabila kamu masih saja mengiang-ngiang keluargamu yang sudah berada di alam baka. Jangan-jangan arwah mereka akan menjadi roh gentayangan karena tidak nyaman mendengar tangisanmu yang menyayat kalbu itu!”
“Ka-kamu....”
“Sori. Aku tidak bermaksud menghina mendiang keluargamu. Tapi, aku tidak suka kamu menyesali kematian mereka. Aku tidak suka kamu jadi parno begitu karena tidak tawakal melepas kepergian mereka.”
“Tapi....”
“Apalagi, setiap Imlek yang seharusnya merupakan hari paling bahagia bagi kita ini kamu isi dengan tangismu yang....”
“Revo!”
“Papa dan Mama sedih melihat kamu begini terus-terusan. Kamu pikir dengan airmata dapat mengembalikan masa lalu-masa lalumu yang indah, yang terenggut oleh kecelakaan itu?!”
“Ten-tentu saja tidak. Tapi....”
“Tapi apa?! Supaya kami iba melihat ada gadis bernama Airin Wijaya yang bernasib malang karena kehilangan keluarganya?!”
“Ak-aku....”
“Jangan picik begitu dong, Rin! Kamu pikir kami ini bukan keluargamu?! Kamu pikir kami tidak menyayangi kamu?!”
“Maafkan aku, Revo....”
“Aku tidak butuh kalimat maaf, Rin. Kami tidak butuh itu. Yang kami perlukan adalah, please kamu tidak terus-terusan begini! Please kamu tidak larut dalam kesedihan yang sama sekali tidak bermakna itu. Itu saja. Bukan maafmu!”
“Aku selalu menyusahkan keluarga kamu....”
“Siapa bilang tidak?! Memang iya kok, kamu selalu menyusahkan kami dengan airmata bombay-mu itu!”
“Ak-aku....”
Revo melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Lampion-lampion merah sudah tergantung dengan anggun. Beberapa pita merah pemanis menggayut di sisi-sisi lampion. Tinggal mencantelkan beberapa hiasan berbentuk petasan dan koin khas China yang bersimpul tali merah, ia akan menyudahi dekorasi rumah. Airin tidak banyak membantunya. Gadis jalan enam belas itu lebih banyak melamun. Mengenang masa-masa lalu yang tidak membawa faedah apa-apa bagi perkembangan jiwanya. Ia malah jadi labil dan sensi.
“Revo....”
“What?”
“Kamu, Papa dan Mama pasti membenciku, kan?!”
Revo mengalihkan perhatiannya dari langit-langit rumah. Tak jadi mematri seuntai petasan mainan di sebelah sebuah lampion. Ia turun dari tangga piramida. Memandang dengan rupa terkesima ke wajah lesi Airin akibat terkesiap kalimatnya barusan.
“Kok kamu bilang begitu, sih?!”
“Aku merasa telah mengganggu ketenteraman keluarga kamu, Vo. Aku telah membawa kemurungan pada keluarga kalian. Padahal, menjelang Imlek seharusnya kita semua bergembira. Aku memang picik!”
Airmata Airin menitik. Ia tersedu, duduk di lantai bersidekap lutut. Revo menghampiri saudara misannya yang sudah dianggap adik kandungnya itu. Ia iba. Tidak sepatutnya ia menambah kesedihan gadis itu dengan ultimatum-ultimatumnya yang tegas, agar putri mendiang pamannya tersebut menggebah jauh-jauh kenangan getir masa lalunya. Ia seharusnya introspeksi. Bukannya menghukum gadis itu dengan kalimat-kalimat sarkastis dan antipati begitu. Seandainya ia berada di pihak Airin, mungkin ia akan merasakan hal yang sama. Bahwa betapa beratnya kehilangan orang-orang yang dicintai!
“Sudahlah, Rin,” bisik Revo lembut, duduk bersila di samping Airin.
“Maaf....”
“Iya, iya. Kamu jangan menangis begitu, dong. Besok Imlek, pamali kata orang-orang tua kalau malam Imlek disambut dengan airmata....”
Airin masih terisak. Disandarkannya kepalanya di bahu Revo. Cowok itu membelai-belai rambutnya.
“Vo, sungguh, aku tidak bermaksud merusak suasana Imlek di rumah ini, kok!”
“Iya, iya, aku tahu. Aku tahu.”
“Vo, aku janji akan berusaha melupakan kenangan pahit yang menimpa keluargaku. Aku janji. Tapi, aku butuh waktu untuk itu....”
Revo mengangguk-angguk mafhum. Mendadak merasakan kepedihan hati gadis itu. Mungkin ia terlalu picik mendesak gadis itu menyudahi semua peristiwa getir yang membebati memori kenangannya. Bukan sekarang memang. Tapi suatu saat. Suatu saat ketika sang waktu melamur kenangan lara itu dengan bilangan hari-harinya yang baru.
Dan Imlek selalu menjanjikan hari-hari yang lebih baik.