28 January 2016

Fokus Agrobisnis, Rabobank Bidik Kredit Kakao

FOKUS AGROBISNIS - Director Strategy and Business Change PT Bank Rabobank International Indonesia, Hans Loth (dua dari kiri), saat menggelar jumpa pers terkait program Rabobank di Hotel Grand Clarion, Jalan AP Pettarani, Makassar, Selasa (26/1). Rabobank memberikan peluang pembiayaan kredit kepada pengusaha agrobisnis di Tanah Air, dan mengklaim, sebagai bank yang memiliki pengalaman terkait pembiayaan sektor pangan maupun agrobisnis. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - PT Bank Rabobank International Indonesia (Rabobank) memberikan peluang pembiayaan kredit kepada pengusaha agrobisnis di Tanah Air. Hal tersebut diungkapkan Director Strategy and Business Change Rabobank Indonesia, Hans Loth. Ia mengklaim, pihaknya memiliki pengalaman terkait pembiayaan dalam sektor pangan maupun agrobisnis.
“Kami ingin menjadi bank pangan dan agrobisnis di sini, dengan konsep penyaluran kredit melalui wholesale banking. Untuk mendukung hal tersebut, induk perusahaan kami telah menyuntikan modal 26 juta dolar AS pada Desember 2015 dan 35 juta dolar AS pada Mei tahun lalu,” terangnya, saat menggelar jumpa pers terkait program Rabobank di Hotel Grand Clarion, Jalan AP Pettarani, Makassar, Selasa (26/1).
Di 2015, Rabobank telah menyalurkan kredit Rp 12,55 triliun per November 2015 atau naik 5,19 persen dibandingkan posisi Rp 11,93 triliun per November 2014. Sementara, dana pihak ketiga (DPK) turun 9,14 persen menjadi Rp 11,53 triliun per November 2015 dari posisi 12,69 triliun per November 2014.
Guna menjaring nasabah, bank asal Belanda ini gencar menggelar sosialisasi menyoal sektor pangan dan agrobisnis, khususnya pada sektor kakao dan produk olahannya. Dengan begitu, pihaknya dapat berkontribusi membantu nasabah dalam menjalankan bisnisnya. Pengetahuan pasar pangan dan agrobisnis secara global akan membantu nasabah.
Menurut Hans, segmentasi pada kakao mengemuka lantaran Indonesia merupakan negara penghasil kakao ketiga terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. “Indonesia memproduksi delapan persen dari kakao dunia. Sementara, Sulawesi adalah penghasil kakao terbesar di Tanah Air dengan kontribusi 66 persen dari produk nasional, disusul Sumatera yang memberikan kontribusi 22 persen,” ulasnya.
Sementara itu, Food and Agribusiness Research and Advisory (FAR) Analyst Rabobank, Haris Fajar Rahmanto, menjelaskan, konsumsi dunia untuk produk-produk olahan kakao terus meningkat. “Dalam lima tahun, konsumsi permen coklat dunia naik menjadi 7,29 juta ton di 2015 dari 6,77 juta ton di 2010,” imbuhnya.