15 January 2016

Desember 2015, Nikel Merupakan Komoditas Ekspor Terbesar Sulsel

NIKEL - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam (baju putih) saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Sulsel, Jalan Haji Bau, Makassar, Jumat (15/1). Dijelaskan, nikel merupakan komoditas ekspor terbesar Sulsel pada Desember 2015, dengan nilai ekspor sebesar 59,88 juta dolar AS atau 55,76 persen dari total nilai ekspor, disusul komoditas kakao 12,88 juta dolar AS, ikan dan udang 8,52 juta dolar AS, biji-bijian berminyak dan tanaman obat 6,60 juta dolar AS, serta buah-buahan 5,62 juta dolar AS. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Nilai ekspor Sulsel pada Desember 2015 meningkat sebesar 3,15 persen bila dibandingkan ekspor bulan sebelumnya, dari 104,10 juta dolar AS menjadi 107,38 juta dolar AS.
Selama Januari-Desember 2015, nilai ekspor Sulsel mencapai 1.409,10 juta dolar AS. Bila dibandingkan periode yang sama pada 2014, terjadi penurunan 19,38 persen, di mana pada periode tersebut nilai ekspor Sulsel 1.747,92 juta dolar AS.
Adapun ekspor menurut komoditas, beber Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, adalah nikel. “Nikel merupakan komoditas ekspor terbesar Sulsel pada Desember 2015, dengan nilai ekspor sebesar 59,88 juta dolar AS atau 55,76 persen dari total nilai ekspor, disusul komoditas kakao 12,88 juta dolar AS, ikan dan udang 8,52 juta dolar AS, biji-bijian berminyak dan tanaman obat 6,60 juta dolar AS, serta buah-buahan 5,62 juta dolar AS,” terangnya saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Sulsel, Jalan Haji Bau, Makassar, Jumat (15/1).
Sementara itu, negara tujuan ekspor Sulsel pada Desember 2015 dengan nilai lima terbesar, yaitu ke Jepang 63,68 juta dolar AS, Amerika Serikat (AS) 11,04 juta dolar AS, Malaysia 9,93 juta dolar AS, Tiongkok 8,80 juta dolar AS, dan Vietnam 4,15 juta dolar AS.
Nursam menguraikan, ekspor menurut pelabuhan muat terbesar Sulsel pada Desember 2015 adalah melalui Pelabuhan Balantang Malili dengan nilai 59,88 juta dolar AS, atau 55,76 persen terhadap total nilai ekspor Sulsel. Selama Januari-Desember 2015, ekspor Sulsel terbesar melalui Pelabuhan Balantang Malili dengan nilai 790,35 juta dolar AS.
“Nilai impor Sulsel pada Desember 2015 sebesar 33,42 juta dolar AS, terjadi penurunan 62,52 persen dibandingkan nilai impor November 2015. Secara kumulatif (Januari-Desember 2015) bila dibandingkan nilai impor pada Januari-Desember 2014, mengalami peningkatan sebesar 12,85 persen,” imbuhnya.
Ditambahkan, komoditas impor Sulsel pada Desember 2015 dengan nilai terbesar adalah bahan bakar mineral dengan nilai 11,53 juta dolar AS, disusul mesin-mesin/pesawat mekanik 7,75 juta dolar AS, benda-benda dari besi dan baja 5,29 juta dolar AS, dan pupuk 2,84 juta dolar AS.
Menurutnya, lima negara pemasok utama barang impor ke Sulsel pada Desember 2015 adalah Singapura, Tiongkok, Malaysia, Brasil, dan Australia. “Besarnya nilai impor dari kelima negara tersebut masing-masing sebesar 13,53 juta dolar AS (Singapura), 12,48 juta dolar AS (Tiongkok), 2,16 juta dolar AS (Malaysia), 0,83 juta dolar AS (Brasil) dan 0,46 juta dolar AS (Australia). Kelima negara tersebut memasok barang impor dengan nilai 29,46 juta dolar AS (88,15 persen) dari total nilai impor Sulsel di bulan yang sama,” papar Nursam.
Impor Sulsel periode Januari-Desember 2015 naik 12,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara dengan nilai impor terbesar selama periode tersebut adalah Singapura 221,09 juta dolar AS, Tiongkok 184,80 juta dolar AS, Rusia 146,40 juta dolar AS, Australia 116,63 juta dolar AS, dan Kanada 57,24 juta dolar AS.
“Barang impor ke Sulsel pada Desember 2015 dengan nilai terbesar dibongkar melalui Pelabuhan Makassar 12,15 juta dolar AS, atau 36,36 persen terhadap total nilai impor Sulsel, dan juga melalui pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar 5,76 juta dolar AS. Selama Januari-Desember 2015, impor Sulsel terbesar melalui Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, yaitu senilai 345,63 juta dolar AS, disusul Pelabuhan Makassar 266,50 juta dolar AS, dan pelabuhan Balantang Malili 171,03 juta dolar AS,” tutup Nursam.