17 January 2016

Capital Market Professional-Development Program Tingkatkan Jumlah Tenaga Profesional di Pasar Modal

CMP-DP - Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Makassar, Fahmin Amirullah saat menyampaikan sambutan dalam lokakarya jurnalis bertajuk “Transforming Saving Society to Investing Society, Yuk Nabung Saham” di kantor BEI, Jalan Ratulangi, Makassar, Selasa (12/1). BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), belum lama ini menyelenggarakan Capital Market Professional-Development Program (CMP-DP). Program ini. Dengan dibukanya CMP-DP dapat meningkatkan minat dan mengembangkan karier profesional di industri pasar modal Indonesia, khususnya pada self regulatory organization (SRO). CMP-DP telah disosialisasikan melalui berbagai media publikasi dan bekerja sama sejumlah universitas di dalam negeri. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Sejak 2012, Indonesia sudah memasuki era bonus demografi. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, puncak bonus demografi akan tercapai pada periode 2028 hingga 2030 dengan angka beban ketergantungan yang menyentuh nilai terendah sebesar 46,9 poin.
“Bonus demografi ini hanya terjadi satu kali dalam perjalanan suatu bangsa, dan Indonesia kini tengah berada di era tersebut sehingga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. Studi Bank Dunia menunjukkan, bonus demografi berkontribusi sekitar 30 persen terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi di Asia, termasuk di Indonesia,” terang Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Dwi Shara Soekarno dalam keterengan tertulisnya kepada sejumlah media di Tanah Air, Sabtu (16/1).
Dijelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, jumlah penduduk Indonesia di 2015 mencapai 255,5 juta jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahunnya mencapai 1,38 persen. Dengan sebagian besar atau sekitar 48,8 persen penduduk Indonesia berada dalam kelompok umur muda, artinya kesempatan perekonomian Indonesia untuk lebih maju dan berkembang dengan lebih pesat lagi sangatlah besar.
Berdasarkan data Bank Dunia, pada 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya 37,7 persen dari populasi, tetapi pada 2010 kelas menengah Indonesia mencapai 134 juta jiwa atau 56,5 persen. Masih menurut studi Bank Dunia, kalangan kelas menengah ini terbagi empat kelas. Pertama, kelas menengah dengan pendapatan Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per kapita per bulan (38,5 persen).
Kedua, kelas menengah dengan pendapatan Rp 1,5 juta-Rp 2,6 juta per bulan (11,7 persen). Ketiga, kelas menengah dengan pendapatan Rp 2,6 juta-Rp 5,2 juta per bulan (lima persen), dan keempat,golongan menengah berpendapatan Rp 5,2 juta-Rp 6 juta per bulan (1,3 persen). Sayangnya, Bank Dunia kembali menyebutkan di 2014 tercatat hanya 36,1 persen orang dewasa Indonesia yang memiliki account di lembaga keuangan formal.
“Berdasarkan survei nasional literasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2013, baru sekitar seperlima penduduk Indonesia atau 21,84 persen atau yang memiliki kategori well literate atau melek pengetahuan keuangan. Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal dan tingkat utilitas produk pasar modal sendiri tercatat masih jauh tertinggal jika dibandingkan lima industri jasa keuangan lainnya di Tanah Air,” imbuh Dwi.
Oleh karena itu, selain harus masif melakukan sosialisasi dan edukasi melalui serangkaian program kepada masyarakat, pasar modal Indonesia juga dituntut harus memiliki tenaga profesional yang kompeten, andal, dan mampu menjawab tantangan di masa depan. Akan tetapi, sampai saat ini jumlah tenaga profesional di industri pasar modal Indonesia yang memiliki kompetensi dan sesuai kebutuhan bisnis pasar modal masih minim.
“Mempertimbangkan hal-hal tersebut, BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyelenggarakan Capital Market Professional-Development Program (CMP-DP). Program ini telah diluncurkan dalam pembukaan Investor Summit and Capital Market Expo 2015 pada 9 November 2015 lalu,” papar Dwi.
Dengan dibukanya CMP-DP, pihaknya berharap dapat meningkatkan minat dan mengembangkan karier profesional di industri pasar modal Indonesia, khususnya di self regulatory organization (SRO). CMP-DP telah disosialisasikan melalui berbagai media publikasi dan bekerja sama sejumlah universitas di dalam negeri.
Menurut Dwi, program yang baru dilaksanakan pertama kali ini memiliki jumlah pelamar mencapai 4.200 orang dari seluruh daerah Indonesia. Seleksi tahap awal dilakukan dengan cara menggelar tes tertulis yang dilaksanakan serentak pada 16 Januari 2016 pada 20 kota, Jakarta, Balikpapan, Aceh, Bandung, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jambi, Jayapura, Lampung, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pontianak, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Riau.
“Calon kandidat yang lulus dalam tes tertulis akan mengikuti serangkaian tes lainnya sampai terpilihnya 30 orang terbaik yang akan mengikuti 12 bulan program pengembangan dan enam bulan on the job training. Nantinya, setiap lulusan CMP-DP akan ditempatkan untuk bekerja di tiga lembaga SRO dan afiliasinya,” urainya.
Dengan semakin banyaknya ketersediaan tenaga profesional di pasar modal, Dwi berharap bisa semakin menumbuhkan industri pasar modal dalam beberapa tahun mendatang. “Sehingga, mimpi pasar modal Indonesia untuk menjadi yang paling besar pada kawasan Asia Tenggara maupun Asia dapat terwujud di masa depan,” tutupnya.