06 January 2016

BI Mencatat, Penyaluran Kredit Kakao Masih Minim

MINIM - Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan untuk kakao masih minim. Hal itu dipengaruhi kurangnya hasil produksi perkebunan kakao dari petani. BI melansir, hingga Oktober 2015, penyaluran kredit di sektor perkebunan masih tertinggi di bidang pertanian, menyumbang sekitar 80 persen atau sekitar Rp 1.200 triliun. Namun khusus untuk komoditi kakao masih relatif rendah di bawah angka 10 persen. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan untuk kakao masih minim. Hal itu dipengaruhi kurangnya hasil produksi perkebunan kakao dari petani.
BI melansir, hingga Oktober 2015, penyaluran kredit di sektor perkebunan masih tertinggi di bidang pertanian, menyumbang sekitar 80 persen atau sekitar Rp 1.200 triliun. Namun, khusus untuk komoditi kakao masih relatif rendah di bawah angka 10 persen.
Hal tersebut terungkap belum lama ini dalam seminar nasional “Peningkatan Daya Saing Kakao” di Baruga Mangkasara, Gedung BI, Jalan Jenderal Sudirman. Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian, Dwi Praptomo Sudjatmiko, menjelaskan, secara nasional produksi kakao terus mengalami penurunan sejak beberapa tahun terakhir, dengan jumlah produksi pada 2014 sebesar 709 ribu ton. Jumlah produksi tersebut dihasilkan dari luas lahan produksi 1,7 juta hektare dengan kontribusi Sulsel sekitar 64,85 persen.
Ada beberapa permasalahan yang dihadapi sehingga produksi salah satu komoditi ekspor unggulan tersebut menciut. “Di antaranya lantaran produktivitas rendah, juga akibat sebagian besar tanaman tua atau rusak. Selain itu, aktivitas pertanaman belum menghasilkan bibit unggul, yang terjadi karena kurangnya perawatan tanaman, rendahnya tingkat iseminasi teknologi. Hal ini juga dapat terjadi akibat minimnya tenaga penyuluh hingga kualitas biji kakao yang dihasilkan masih rendah,” papar Praptomo.
Faktor lain yang turut mempengaruhi hal tersebut di antaranya terkait kelembagaan petani yang belum kuat. Oleh karena itu, pihaknya membuat strategi pengembangan kakao berkelanjutan melalui intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, dan intercropping tanaman kakao dengan kelapa.
Saat ini, sebut Praptomo, Indonesia berada di urutan ketiga penghasil kakao terbesar dunia. “Perlu diwaspadai jika produksi terus merosot yang dapat menurunkan hasil. “Sejauh ini, kami melihat trennya turun karena ada el nino yang terjadi beberapa bulan. Juga karena ada petani yang mengalihkan tanamannya, karena harga masih belum stabil,” bebernya.
Ditambahkan, meskipun ada el nino yang mempengaruhi produksi kakao, namun petani tetap dapat meningkatkan nilai tambah melalui fermentasi, mengolah bahan setengah jadi menjadi olahan jadi, dan tetap berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian.