31 January 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 04

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 04
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Asmara dari Seberang

Kamu makin kurus saja, Syan,” ujar Sonya sambil mengunyah permen karetnya. Mereka berjalan beriringan di antara mahasiswa lain yang menuju ruang kuliah masing-masing.
“Ah, masa?” Syanda memperhatikan pergelangan tangannya. Dia selalu mengukur kondisi badannya dari pergelangan tangan. Dan dilihatnya tonjolan tulang di sana. Berarti Sonya tidak salah. Badannya memang menyusut beberapa kilogram.
“Masih sering menjenguk Aditya?”
“Tentu. Kalau bukan aku, siapa lagi?”
“Ibunya?”
“Ah, semua telah mengucilkan Aditya. Padahal, Aditya tidak bersalah,” ujar Syanda seolah kepada dirinya sendiri.
“Tapi, itu kan pengakuannya terhadapmu?”
“Maksudmu, Aditya berbohong sama aku?!” Syanda menghentikan langkahnya sesaat. “Tidak mungkin!”
“Kamu begitu yakin?”
“Ya.”
“Kamu tipe cewek setia, Syan,” kelakar Sonya.
“Setia? Rasanya pujian itu terlalu berlebihan. Kamu perlu tahu, Son, akhir-akhir ini aku sering bimbang. Apakah aku harus terus bersedih? Atau, mulai berpikir untuk hari-hari dan masa depanku sendiri.”
“Of course. Satu tahun bukan waktu yang singkat memang….” Sonya ikut merenung.
Syanda mengerjapkan matanya.
“Sudahlah. Kuliah apa hari ini?” ujarnya, mengganti pokok pembicaraan. Semangatnya selalu surut setiap kali membicarakan soal Aditya dan masa depannya bersama Aditya. Juga soal kesetiaan. Soal apapun tentang Aditya hanya akan menumbuhkan kedukaan yang kian dalam. Makin membuatnya merasa, hari penantian kian panjang dan tak berujung.
“Hari ini Kewiraan. Dua jam.”
“Kewiraan lagi? Huh!” Syanda menghela napasnya.
“Pasti malas lagi. Bolos lagi?”
“Tak tahulah. Aku bosan sama Pak Irwan dan caranya mengajar itu. Setiap kali mata kuliah Kewiraan, aku hanya terkantuk-kantuk di ruang kuliah.”
“Jadi?” Sonya menghentikan langkahnya di pertigaan koridor. “Kamu terus atau ke kiri?”
Syanda melirik ke kiri. Rasanya lebih baik dia menghabiskan siang ini di kantin saja. Seorang diri, menghabiskan waktu sembari menanti Sonya untuk pulang bareng nanti.
“Ke kiri saja.” Senyum Syanda disambut cubitan jengkel Sonya.
“Tunggu aku, ya?” pesan Sonya sebelum berlalu.
Syanda melambai. Diayunkannya langkahnya ke kantin. Lantas dipesannya secangkir cappuccino dan sepotong roti keju bakar setibanya di sana. Ah, betapa segarnya badannya setelah beberapa hari dia menghindarkan diri dari tempat yang bernama kampus ini. Betapa jernih pikirannya setelah beberapa minggu dia menghindari tatapan orang-orang yang kebetulan tahu siapa dia dan siapa Aditya.
Diteguknya kopinya dengan semangat begitu pesanannya tersaji di hadapan. Ah, mana tisu? Syanda mengorek-ngorek tasnya untuk mencari sepotong tisu guna memegang roti bakar yang berminyak dan agak panas itu.
Pluk. Sebuah benda terjatuh dari tasnya. Korek api Aditya! Korek api yang dulu sempat disembunyikannya agar Aditya tidak merokok di rumahnya.
“Punyamu?”
Ups. Rupanya Syanda kalah cepat dengan tangan kekar yang kini menyodorkan benda itu kepadanya.
“Ya.” Ditatapnya si penolong itu. Seorang cowok berambut cepak ala Tintin, berkemeja garis-garis dengan lengan baju yang dilipit rapi.
Cowok itu tersenyum simpatik.
“Terima kasih,” ujar Syanda lagi.
“Sama-sama. Kamu kuliah di sini?” tanyanya lagi.
Syanda mengangguk.
Cowok itu menatap berkeliling. Rupa-rupanya kursi kantin telah penuh terisi. Syanda menatap cowok itu lantas mengambil inisiatif.
“Duduklah di sini kalau kamu mau.”
“Oh, terima kasih. Kursi-kursi kantin selalu penuh pada jam-jam begini. Jam-jam lapar! Hahaha….” Cowok itu tertawa. “Oya, kita belum kenalan. Saya Ivan, Ivan Prasetyo. Fakultas ekonomi semester dua.”
Syanda menyambut uluran tangan Ivan. “Syanda. Syandarini Aprilia Joshepine Munaf. Aku di fakultas psikologi. Baru semester pertama.”
“Calon psikolog? Wah, saya harus hati-hati kalau begitu.”
“Kenapa?”
“Katanya, psikolog bisa tahu apakah seseorang jujur atau berbohong hanya dengan menatap mata orang itu. Betul? Apakah ilmumu sudah sampai di situ?”
Syanda tertawa. “Ada-ada saja,” kilahnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
“Eh, tapi ngomong-ngomong, rasanya saya memang sering lihat kamu dulu. Habis cuti kuliah?” tanya Ivan.
Syanda menggeleng. “Sakit,” dustanya.
“Oo.” Ivan manggut-manggut.
“Kamu tidak pesan apa-apa?” tanya Syanda.
“Nanti saja. Ngobrol dengan kamu membuat rasa laparku hi-lang.”
“Oya? Jadi aku kamu anggap sejenis roti bakar, ya?” kelakar Syanda. Rasanya sudah lama betul dia tidak menemukan teman untuk diajak bercanda seperti ini. Mereka tertawa bersama. Keakraban terjalin begitu cepat.
“Keberatan kalau aku menganggapmu roti bakar?”
“Tidak. Tapi aku menyesal membiarkanmu duduk bersamaku kalau tahu kamu sebetulnya bukan perlu makanan, tapi perlu teman ngobrol saja,” ujar Syanda santai.
“Jadi betul ….” desis Ivan.
“Apanya yang betul?”
“Seorang psikolog bisa menangkap maksud seseorang hanya dari tatapan matanya.”
“Jadi…?” Syanda mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
“Kebetulan aku ketemu kamu. Aku sedang butuh teman bicara. Hm, aku tengah menghadapi persoalan dengan….”
“Pacarmu?” penggal Syanda yakin.
“Yap! Seratus lagi buat kamu!” Ivan menjentikkan jarinya.
“Kamu percaya sama aku? Orang baru kamu kenal lima menit lalu?” pancing Syanda.
“Kenapa tidak? Tiba-tiba saja aku merasa menemukan orang yang tepat untuk menuangkan unek-unek. Boleh?”
“No problem. Aku siap jadi waskom curhatmu, kok.” Syanda tertawa.
Ivan latah. “Begini, pacarku itu, hm… namanya Mita. Kami satu fakultas, satu ruang kuliah malah. Belakangan ini kami selalu ribut. Soal kecil bisa jadi besar. Karena itu, aku jadi malas ketemu dia lagi. Nah, akhirnya ya begini. Aku keseringan bolos jam kuliah. Kamu tahu, Mita tidak pandang tempat! Kalau dia ngambek, di mana pun jadi. Nah, kalau kejadiannya di ruang kuliah, mau kutaruh di mana mukaku yang berjerawat batu ini?” cerita Ivan bersemangat.
“Lantas?”
“Lantas aku ingin menyadarkannya. Bahwa, cowok perlu juga dimanja sesekali. Jangan ditekan terus, jangan diomeli terus. Tapi, aku bingung mencari kalimat yang tepat.” Ivan mengusap-usap keningnya. “Dia terlalu egois dan mau menang sendiri! Susah mengatur dia!”
Syanda tersenyum. “Kamu merasa lebih lega sekarang?”
 “Yah.”
“Itulah. Lain kali kalau ada persoalan, ceritakanlah kepada orang yang dapat kamu percaya. Walaupun belum tentu bisa mencarikan jalan keluarnya, tapi paling tidak dengan bercerita beban batinmu sudah sedikit berkurang,” ujar Syanda sok tua, mengutip kalimat dari literatur yang pernah dibacanya.
Ivan hanya manggut-manggut. Matanya yang jenaka dan cara bicaranya yang polos mengingatkan Syanda kepada seseorang. Seseorang yang kini jauh darinya. Ah, kerinduan selalu datang tiba-tiba.
Sekelebat dilihatnya Sonya melambai dari kejauhan. Syanda bergegas merapikan tasnya lalu bersiap meninggalkan tempat duduknya.
“Hei… mau ke mana?” tahan Ivan.
“Temanku sudah menjemput.”
“Tapi, kamu belum memecahkan masalahku.”
“Lain kali saja. Oke?” Syanda berdiri, siap untuk beranjak. “Aku sendiri sedang banyak masalah.”
“Lain kali? Kapan?” desak Ivan.
“Mungkin suatu hari di kantin ini kita ketemu lagi. Atau… entah kapan.” Syanda mengangkat bahunya. Menatap roti bakar yang sama sekali belum disentuhnya.
“Kamu tidak ingin kita bersahabat?”
Syanda tersenyum, lalu melambai. “Sampai ketemu….”
“Hei, tunggu! Ini korek apimu!” panggil Ivan.
“Oh… trims.” Syanda menghentikan langkahnya di bawah bingkai pintu kantin. Bergegas disambutnya benda kecil bergrafer ‘A’ di depannya.
“Kamu merokok?”
Syanda menggeleng. “Milik temanku,” jawabnya hambar.
Ditatapnya Ivan sekilas. Dirasakannya ada kerinduan yang tertambat di mata Ivan. Sepasang mata yang pernah diakrabinya. Ah, sebetulnya dia ingin menghabiskan beberapa saat lagi bersama Ivan. Berbagi cerita. Bertukar canda seperti yang biasa dilakukannya bersama Aditya. Tapi, tidak mungkin. Ada yang tengah menunggunya jauh di sana. Ada yang terperangkap dalam sepi. Ada yang menagih kesetiaannya.
“Sampai ketemu.” Syanda melambai kembali lantas bergegas menghampiri Sonya. Meninggalkan Ivan yang tengah melongong, menatap langkah gegasnya yang melesat secepat camar.
“Pak Irwan tidak masuk,” urai Sonya tanpa ditanya.
“Tumben….”
“Eh, siapa cowok yang bersamamu di kantin tadi….”