22 January 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 02

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 02
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

To You I Belong

Rain feel down
You where there
I cried for you when I
hurt my hand
Storm a-rushing in
Wind was howling
I called for you, you where there....

Suara B*Witched dari Radio Prambors FM masih memenuhi ruang kamar Syanda. Di atas bantal, Syanda merenung. Terlentang menatap langit-langit kamarnya. Tiada lagi hari-hari bersama Aditya. Tidak ada lagi acara JJS yang mengesankan. Tidak ada acara shopping bersama ke Blok M Plaza. Juga, tidak ada tawa canda ceria lagi di malam Minggu. Ah, betapa beratnya menerima kenyataan kehilangan sesuatu yang amat berarti dalam hidupnya secara tiba-tiba. Hari-harinya kini terasa terpenggal. Padahal, baru beberapa hari berlalu. Apalagi satu tahun?
Syanda bergidik membayangkan. Tiga ratus enam puluh lima hari harus dilaluinya dalam kesendirian. Apakah dia akan mampu mempertahankan rasa sayangnya kepada Aditya? Apakah dia sanggup memerangi setiap kejenuhan yang datang? Belum lagi sindiran sana-sini yang akan membuat kupingnya memerah. Syanda pacaran dengan junkies! Pacar Syanda ada di panti rehabilitasi milik yayasan Katolik ‘Nusa Bangsa’. Ah!
Tok-tok-tok.
“Masuk,” ujar Syanda tak bergeming.
Pintu berderit, dibuka. Wajah Mama menyembul.
“Sedang apa, Syan?” tegur Mama lembut sambil melangkah masuk.
Syanda menggeleng.
“Melamun terus.” Mama mengangkat bantal dan guling yang berserakan jatuh di lantai. “Berantakan betul kamarmu. Uh, sama kusutnya dengan wajahmu yang awut-awutan itu.”
“Nanti Syanda rapikan.”
“Sudahlah. Untuk apa memikirkan anak itu lagi? Sekarang terbukti kan, kata-kata Mama dulu?” ujar Mama dengan perasaan bangga.
“Apanya yang terbukti?!” Syanda tersinggung.
“Lho? Kurang bukti apa lagi? Aditya sekarang tengah dirawat di panti rehabilitasi untuk orang yang kecanduan obat-obat terlarang. Itu tandanya dia morfinis atau entah apalah namanya. Masa sih kamu tidak sadar juga, Syan?!” pekik Mama tertahan.
Syanda menggeleng.
“Bukannya Syanda membela Adit, Ma. Tapi, Mama harus tahu kalau polisi salah menjaring orang. Adit hanya ber....”
“Ah, Mama tahu semuanya, kok,” potong Mama. “Mama sudah punya firasat yang buruk terhadap anak itu.”
“Memang Mama tidak senang sama Aditya, kok! Kenapa sih, Ma?! Apa Aditya pernah bikin salah sama Mama?” tanya Syanda serak sambil menatap kosong langit-langit kamar.
“Tidak. Mama tidak menyukainya karena dia dekat dengan anak Mama. Mama tidak mau anak perempuan Mama ikut-ikutan rusak! Belum lagi ocehan tetangga yang ramainya seperti pasar. Mau dikemanakan muka Mama ini?! Anaknya pacaran sama pemabuk, tukang kebut, berandalan. Kok, dibiarkan saja....”
Syanda menghela napas keras. “Tapi Aditya tidak seperti sangka Mama!”
“Kamu terus saja membelanya, Syan. Heran. Jangan-jangan kamu sudah dipelet.”
“Dipelet? Dipelet pakai apa?! Apa Mama tidak tahu kalau Aditya rajin ke gereja?” bantah Syanda jengkel. Mamanya mulai tidak rasional.
“Ah, itu kan cuma pura-pura saja. Supaya kamu makin simpati kepadanya. Aslinya berandalan, ya tetap saja posisinya di tengah-tengah orang yang berandalan.”
“Tidak! Aditya tidak bersalah. Dia memang bandel, tapi tidak seburuk sangka Mama. Dia bukan pemabuk, pecandu narkoba. Dia bukan berandalan!” seru Syanda gusar.
Mama tersenyum melecehkan.
“Kamu mau bela dia lagi? Mau bilang bahwa polisi salah menjaring orang?”
Syanda terdiam.
“Polisi tidak asal tangkap saja, Sayang. Mereka menyelidiki dulu. Kalau Aditya ikut terjaring, itu tandanya dia betul bersalah. Dia betul morfinis, atau apalah namanya. Sebab polisi tidak bakalan menahan orang tanpa bukti.”
Syanda makin diam, terjerat kata-kata Mamanya. Hatinya mulai ragu. Siapa yang salah. Polisikah? Mama? Atau, jangan-jangan justru Aditya yang begitu pandai mengelabuinya? Atau... ah!
“Berhentilah memikirkan dia.” Mama mengelus kepala Syanda.
Sementara lagu terus mendayu-dayu, pikiran Syanda membelit benaknya sendiri. Hanya beberapa hari berlalu tanpa Aditya, tapi semua telah tampak demikian kabur. Masih beratus-ratus hari lagi, tentulah bayangannya akan semakin jauh dan makin tak kelihatan. Makin samar, lalu menghilang....

Whenever dark turns to night
And all the dreams sing their song
And in the daylight forever
To you I belong          
Beside the sea
When the waves broke
I drew a heart for you in the sand
in fields where streams
Turn to rivers
I ran to you, you where there....

***

Aditya tampak kurusan dengan seragam hijau tuanya itu. Dagunya membiru habis dicukur. Rambutnya tidak lagi gondrong. Syanda menatap iba. Aditya yang dulu senantiasa bersemangat, kini harus menghabiskan detik demi detik di sebuah panti rehabilitasi. Segalanya harus diawasi. Segalanya dibatasi. Bagai terpenjara.
“Apa kabar, Dit?” sapa Syanda canggung.
“Aku baik-baik saja. Kamu?” Adit mencoba tersenyum. Tapi di mata Syanda senyumnya kelihatan hambar. Jujur, Aditya tentu tidak kerasan di tempat ini. Senyum tadi hanya untuk membahagiakannya. Sekadar mengusir rasa resah dari dalam diri Syanda.
“Ak-aku baik.” Syanda tertunduk.
“Mamamu dan Santi?”
“Mereka baik-baik saja dan titip salam untukmu.”
“Mamamu juga?!”
“Ya, Mama juga....”
Aditya menyeringai. “Kamu bohong! Mamamu pasti makin benci sama aku. Bahkan, Ibuku sendiri mulai bosan menjengukku….”
“Dit, kamu mau berjanji kepadaku?”
“Apa?”
“Berhentilah merokok. Berhentilah ngebut dan begadang setelah kamu keluar dari panti ini,” pinta Syanda.
“Pasti. Pasti. Aku telah berhenti merokok, Syan. Dan di sini, aku lebih suka tidur ketimbang begadang.”
“Syukurlah. Kamu juga tidak lupa berdoa, kan?”
“Tentu. Kebetulan di sini ada kapel. Kamu lupa, panti ini milik yayasan Katolik. Malah aku mulai akrab dengan salah satu pastornya,” cerita Aditya agak bersemangat.
Tapi masih beratus hari lagi mesti kamu lalui di sini, bisik Syanda pedih. Masih adakah semangatmu esok? Lusa? Bulan depan?
“Kamu juga mendoakan aku?” bisik Syanda. Menggenggam jemari Aditya.
“Ya. Mendoakan kita. Aku dan kamu. Juga Mamamu.”
“Mamaku juga?!”
“Ya. Aku menyesal. Seandainya saja sejak dulu kemauan Mamamu kuturuti, tentu Mamamu tidak akan menentang hubungan kita. Juga tragedi ini tidak bakal terjadi....”
“Sudahlah, Dit!” Syanda menyentuh lembut bahu kekasihnya.
“Aku kangen kamu, Syan....”
“Kamu pikir aku tidak? Aku sering kebingungan menghabiskan malam Mingguku dengan membaca atau menonton TV,” ujar Syanda.
“Kamu... ah maaf. Aku ingin tahu, apakah ada yang mengisi tempatku di hatimu selama aku tidak ada?” tanya Aditya hati-hati.
Syanda menggeleng. “Jangan bicarakan hal itu.”
“Apakah kamu akan setia, Syan?” Aditya menatapnya dengan tajam.
Syanda makin rikuh. Dia takut Aditya membaca kebimbangan yang mulai sering merecoki hatinya. Ah, kamu tidak tahu bagaimana kejamnya dunia memusuhimu, Dit! Mempengaruhiku untuk  meninggalkanmu dan merengkuh asa yang lebih baik. Selama ini, aku mencoba bertahan tapi aku mulai ragu. Apakah pasak yang kita bangun bersama akan cukup kuat menyanggah setiap empasan badai yang datang? Sementara, hari masih begitu panjang dan gersang. Apakah semua akan berlalu seperti rencana kita, Dit? Syanda membatin dengan kepala tertunduk.
“Hei, kamu tidak datang untuk membingkiskan airmata untukku, kan?” goda Aditya, mencairkan kebekuan suasana, lalu menghapus titik airmata yang menempel di pipi kekasihnya tersebut.
Syanda tersenyum. Menyusut sisa airmata yang menggantung di sudut matanya yang tak tersentuh tangan Aditya tadi.
“Ma-maafkan aku, Dit. Aku sedih membayangkan hari-hari sepi yang harus kamu lalui sendiri di sini,” kilahnya.
“Aku akan baik-baik saja.”
Bel berbunyi. Memisahkan mereka kembali. Hari terus berganti dan roda terus berputar. Bagi Aditya, mungkin tidak terlalu sulit. Tapi aku? batin Syanda.
Syanda menyeret langkahnya meninggalkan panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’ dengan hati galau. Dunia seakan menertawakan dirinya yang mau saja setia terhadap pemuda seperti Aditya. Duh!