20 January 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 01

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 01
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Mungkin orang akan berpikir bahwa aku, Syandarini Aprilia Joshepine Munaf, adalah gadis teraneh yang pernah ada. Bagaimana tidak, seorang gadis yang hanya menambatkan biduk cintanya hanya pada satu dermaga hati, meski banyak dermaga yang dihamparkan di hadapannya dengan pantai yang lebih indah sekalipun.
Sama ketika aku begitu mencintai secangkir Cappuccino dan menolak banyak kopi lain yang ditawarkan kepadaku, Espresso, Coffee Junket, Coffee Mocha, Iced Vanilla Latte Espresso, Coffee Frappuccino, Tiramisu Latte, Cafe Macchiato, Almond Cafe Au Lait, dan masih banyak jenis kopi lainnya.
Sesungguhnya, bukan karena aku tidak ingin. Bukan. Tapi bagiku, minum kopi bukan semata untuk memenuhi selera lidah. Namun lebih pada cita rasa yang telah melekat pada lidah.
Dan sejak mula, aku telah menentukan pilihanku pada Cappuccino. Aku jatuh cinta, dan tidak mungkin berpaling pada kopi-kopi lainnya.

***

Jakarta, 1994
Jangan Pasung Cintaku

Syanda tercenung sesaat di muka kulkas memilih minuman yang hendak disajikannya untuk Aditya. Kalau untuk dia sendiri sih, gampang. Cappuccino.
“Belum pulang juga anak itu?!” tegur Mama.
Syanda hanya menggeleng. Dia tahu, di rumah ini tidak seorang pun menyukai Aditya. Dan yang paling sering menunjukkan rasa tidak senang itu adalah Mama.
“Sudah jam berapa ini....”
“Ini kan malam Minggu, Ma,” kilah Syanda sambil mencomot sebotol Coca-Cola jumbo dari kulkas.
“Malam Minggu sih, malam Minggu. Zaman Mama masih muda dulu juga ada malam Minggu. Tapi tidak sampai selarut seperti ini hura-hura sama pacarnya.”
“Zaman Mama kan, dua puluh tahun yang lalu. Kuno. Ya lain, dong,” ujar Syanda berkelakar.
Mama mencibir. “Botol yang keberapa itu?” tanyanya nyinyir, melirik dengan rupa tidak senang.
“Kenapa sih, Ma? Minuman di kulkas itu kan, memang disediakan untuk tamu!”
“Anak itu suka minum, ya?”
Syanda membanting tubuhnya dengan kesal di atas sofa.
“Kata teman-teman arisan Mama, temanmu Si Aditya itu tukang minum. Tukang begadang. Tukang kebut-kebutan.”
“Tukang minum apa dulu. Ya, kalau minumnya soft drink sampai segentong juga kan tidak apa-apa, Ma. Namanya juga anak muda, begadang dan kebut-kebutan itu biasa. Kalau tidak dilakukan selagi muda, kapan lagi dong, Ma? Apa mesti kalau sudah jadi kakek-kakek?” bela Syanda seraya beranjak berdiri.
Dia baru ingat kalau Aditya masih menunggu di luar.
“Huh, kamu ini! Dibela terus Si Aditya. Pemuda itu tidak punya masa depan. Mana boleh kamu menggantungkan diri kepada orang yang tidak punya masa depan? Mau makan apa kamu nanti? Mau makan batu, apa?!” tukas Mama sengit.
Syanda hanya menghela napas lantas berlalu meninggalkan Mama. Mama memang cerewet. Syanda sadar, siapa pun akan menilai Aditya sebagai anak berandalan. Sebab cowok itu kelewat apatis. Cuek-bebek. Tukang balap. Doyan begadang. Tapi bagi Syanda, hal itu bukan merupakan citra buruk selama semua itu dilakukan sebagai tren anak muda belaka.
Toh, selama ini dia tidak pernah melakukan hal-hal yang negatif. Malah, perhatian dan kasih sayangnya tidak pernah berkurang secuil pun kepadanya.
Ya, mungkin Mama benar. Aditya tidak punya masa depan yang menjanjikan. Tapi, apa peduliku? pikir Syanda. Hari ini memang mereka pacaran. Tapi esok? Hari esok pasti menjanjikan cerita yang berbeda dengan hari ini. Dan Syanda merasa hari-hari yang akan dilaluinya masih panjang.
“Lama banget. Kukira kamu ngambil Coca-Cola-nya sampai ke pabriknya,” goda Aditya, menyambut gadisnya yang keluar dengan sebotol minuman ringan.
Syanda tersenyum.
“Nih, minum sampai mabuk!” Diserahkannya botol Coca-Cola itu ke tangan Aditya.
“Mamamu marah lagi, ya?” tanya Aditya.
“Kok tahu? Nguping, ya?”
“Tidak usah nguping juga kedengaran dari sini, Syan. Suara Mamamu itu bisa sampai ke bulan kalau lagi ngedumel.”
Syanda terkikik. Dicubitnya lengan Aditya dengan gemas. Selalu saja ada bahan untuk memancing tawanya.
“Jangan terpengaruh Mamamu ya, Syan? Aku cinta banget sama kamu!” ujar Aditya, mendadak jadi serius.
Syanda tercenung. Ditatapnya mata lugu di hadapannya dengan hati berdentam. Cinta? Cintakah aku kepada Aditya? Terlalu pagi rasanya mengucapkan kata-kata itu. Sampai detik ini, yang dia tahu, dia hanya merasa senang berada di dekat Aditya. Itu saja.
“Aku juga sayang kamu, Dit!” ujar Syanda akhirnya setelah berhasil meredakan gemuruh di hatinya.
Aditya menggenggam tangannya. “Walaupun aku tidak naik sedan seperti Edo?” tukasnya.
“Hei, hei! Memangnya aku cewek materialistis?” Syanda melototkan matanya. “Aku tuh, suka dibonceng sama sepeda motor trailmu itu asal kamu tidak ngebut.”
“Tapi, aku juga tidak punya banyak duit buat neraktir kamu.”
“Ya, ampun! Kok, kamu mendadak jadi Mama kedua, sih?”
“Aku takut  perasaanmu kepadaku akan luntur karena terpengaruh Mamamu....”
“Dih, memangnya baju apa pakai luntur-luntur segala,” Syanda bergurau.
Aditya tersenyum. Sinis.
“Eh, Dit, maksud Mama kan baik juga sebetulnya,” ujar Syanda lagi, mencoba berpikir dewasa.
“Baik?” Aditya mencibir. “Berusaha memisahkan kita, itu kamu katakan baik?!”
“Mama tidak sepicik itu. Mama hanya tidak ingin melihat aku bergaul dengan cowok urakan. Nah, kamu harus introspeksi, dong! Perbaiki sikap dan tingkah kamu. Mulai sekarang, jangan suka ngebut. Jangan suka merokok. Jangan suka begadang. Itu saja. Begitu lho, maksud Mama.”
Aditya menghela napas. Sementara Syanda hanya memilin-milin tepian roknya sebagai pengusir keterdiaman mereka. Enam bulan sejak perkenalan mereka di orientasi kampus sudah mampu menautkan dua kutub hati yang berbeda. Aditya dengan kebengalannya akibat broken home, dan Syanda yang tumbuh berkembang dalam didikan Katolik yang saleh.
“Aku pulang dulu ya, Syan?” pamit Aditya setelah meneguk minumannya sampai tandas. “Sudah larut malam.”
Syanda mengangguk. “Pamitkan aku kepada Mamamu, ya?”
“Langsung pulang ya, Dit?” pesan Syanda mewanti-wanti.
“Oke, tapi aku mampir sebentar ke Menteng, ya? Kalau tidak, nanti aku dikatanakn sombong lagi. Mentang-mentang sudah punya pacar sehingga melupakan teman lama,” jawab Aditya sambil menaiki sepeda motornya dan memasang helm.
“Eh... ada yang kelupaan.” Aditya turun dari sepeda motornya dan membuka helm. Dihampirinya Syanda yang anggun berdiri dengan denimnya. Cup. Sebuah kecupan singgah di dahi Syanda. “Met bobo, ya? Have a nice dream,” bisiknya lembut.
Sepasang mata Syanda membola. Masih nervous atas kecupan tiba-tiba dari Aditya tadi. Namun, akhirnya dia dapat bersuara dalam selang waktu delapan detik. “Jangan kebut-kebutan malam ini lagi, ya?”
Aditya mengedipkan matanya. Sesaat kemudian sepeda motor pun menderu dan meninggalkan Syanda dengan lambaiannya.
Dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, Syanda semalam-malaman tidak dapat memejamkan matanya lagi. Itulah kecupan pertama yang dirasakannya dari seorang cowok. Kecupan dari Aditya. Cintanya yang pertama.

***

Syanda menguap lebar sementara HP-nya masih menempel di telinga. Juga suara Sonya yang seperti cucakrawa itu membujuknya supaya kuliah hari ini.
“Cuma Kewiraan kok, Syan. Masuk sajalah,” bujuk Sonya di seberang sana.
“Justru karena cuma Kewiraan saja aku jadi malas.”
“Ya ampun... kujemput, deh
“Bukan soal jemput menjemput....”
“Apa perlu aku sewa sepeda motor trail untuk menjemputmu?”
“Hei, ngeledek kamu, ya?”
Didengarnya suara Sonya terkekeh.
“Habis, susah amat sih bikin kamu insaf buat kuliah.”
“Aku lagi tidak enak badan nih, Son. Swear, tidak tahu kenapa pikiranku hari ini tidak karuan.” Syanda memijit pelipisnya. Bukan, bukan kepalanya yang pening. Tapi, dia merasakan sesuatu yang janggal pagi ini.
“Kalian bertengkar tadi malam?”
“Tidak.”
“Atau, Mamamu yang cicit-cuwit itu lagi ngedumel soal Aditya?”
“Termasuk. Tapi, ah tauklah. Aku titip catatan saja, ya? Mau, kan?” bujuk Syanda. “Aku tahu kamu teman yang terbaik sedunia.”
“Dih, kalau ada maunya....” Sonya terkekeh. “Boleh saja, Syan. Tapi....”
“Tapi apa?”
“Asal kamu tahu saja. Teman yang baik perlu disuap agar lebih baik lagi. Sepotong burger dan segelas es krim di McDonalds bolehlah. Hehehe….”
“Ember,” Syanda turut terkekeh. “Cingcailah.”
“Oke. Hati-hati di rumah ya, Non? Nanti sore aku ke rumahmu. Salam buat tukang balapmu itu.”
Bip. Telepon diputus. Syanda menggeliat. Kalau bukan karena dering telepon Sonya, tentu dia masih bermalas-malasan di tempat tidur. Dan, masih bermimpi tentang Aditya!
Hei... apa mimpinya tadi malam?! Rasanya bukan mimpi yang indah. Buktinya, dia bangun dengan badan yang basah oleh keringat dan rambut acak-acakan. Mimpi buruk, keluhnya dalam hati. Semoga saja cuma mimpi. Dan semoga saja perasaan tidak enak yang bermain dalam hatinya saat ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mimpinya tadi malam.
Syanda beranjak ke dapur. Dibukanya tutup wadah kopi dan dituangkannya dua sendok teh kopi instan pada cangkirnya.
Kring-kring-kring.
Telepon berdering lagi. Namun, kali ini telepon rumah. Tapi beberapa saat kemudian terhenti. Tentu sudah diangkat Santi, adiknya. Perlahan Syanda menuang air panas dari dispenser setelah menabur krimer dan mengaduk-aduknya.
“Syan... telepon untukmu,” ujar Santi di muka dapur. Wajahnya kelihatan agak pucat.
“Dari siapa?”
“Suara perempuan. Tapi sudah kututup.”
“Lho, bagaimana sih kamu ini?” seru Syanda, tidak jadi meneguk cappuccino yang sudah berada di pelepah bibirnya.
“Ka-katanya… Aditya berada di panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’!” jawab Santi terbata-bata.
Syanda tercekat. Panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’?!
Siapa pun tentu tahu tempat seperti apa itu. Tapi kalau Aditya masuk ke panti itu.... Ah, salah apa Aditya?! Panti itu kan, tempat untuk merawat mereka yang kecanduan dan terlibat pemakaian obat-obat terlarang, narkoba?!
“Pe-perempuan itu tidak bi-bilang apa-apa lagi, San?!” tanyanya nyaris tanpa ekspresi.
“Tidak. Katanya cuma menyampaikan permintaan Aditya untuk memberitahumu,” jawab Santi sambil duduk di hadapan Syanda. “Sebetulnya Aditya itu nyabu atau tidak, sih?”
Syanda menggeleng lemah. Ditebaknya, si penelepon tadi pasti ibunya Aditya.
“Kamu yakin dia bukan junkies ?” tanya Santi lagi, kurang yakin.
“Aku tidak tahu!” Syanda bangkit berdiri. Memijat keningnya kemudian. Dia benar-benar shock.
Santi menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aditya... ah, pasti polisi-polisi itu salah menangkap orang. Pasti Aditya hanya ikut terjaring operasi penertiban narkoba dan ekstasi. Mungkin beberapa temannya memakai narkoba. Tapi Aditya? Syanda membatin galau. Dia kenal betul siapa Aditya Putra Wicaksana. Tukang balap yang setiap Minggu tidak pernah absen ke gereja. Tapi kalau teman-temannya junkies, apakah tidak mungkin Aditya juga ikut-ikutan walau cuma sedikit?
“Ti-tidak mungkin! Tidak mungkin!” desis Syanda ber-lang-ulang. Matanya mulai membasah. Bibirnya bergetar menahan tangis.
“Tapi, Aditya kan perokok?” bantah Santi.
“Aku harus ketemu Aditya!” Syanda meninggalkan Santi yang masih menatap kakaknya dengan pandangan heran.
Siapa pun pasti heran. Gadis semanis dan sepandai Syanda mau menggantungkan hatinya terhadap cowok bengal yang tidak ketahuan kemana tujuan hidupnya. Tapi, siapa yang tahu kalau di balik semua sikap buruk Aditya ternyata ada sebongkah emas murni. Dan Syanda-lah yang tahu di mana emas itu tersembunyi.
Cuma Syanda yang tahu.

***

“Waktu Nona cuma tiga puluh menit,” pesan satpam yang mengantar Syanda ke ruang tamu panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’.
Ternyata panti rehabilitasi ini juga dijaga ketat beberapa aparat keamanan. Syanda agak bergidik ketika melihat beberapa penghuni yang juga sedang menerima tamu. Badan mereka kurus kering dan tatapan mereka hampa.
Ah, Aditya-nya bukan orang jenis seperti itu. Dan Syanda semakin yakin kalau polisi salah menjaring orang. Mata Aditya selalu berbinar dan bersemangat manakala menyanyikan lagu-lagu rohani di gereja. Ah, mana bisa dia disamakan dengan para junkies itu?!
“Kamu datang juga,” suara berat Aditya membuyarkan lamunan Syanda.
“Ka-kamu... ke-kenapa?!”
Aditya menarik kursi di hadapannya. Menatap lurus sepasang mata indah milik gadis yang belakangan ini diakrabinya melebihi apapun juga.
“Kamu pikir aku sama dengan mereka....”
“Tidak. Aku yakin kamu tidak bersalah....”
Aditya mengerjap-erjapkan matanya. Kepalanya terkulai lemas. “Malam itu, Omar dan Maxi ternyata bikin pesta gila-gilaan di rumahnya, di tempat kami biasa nongkrong ramai-ramai. Aku ingat pesanmu untuk segera pulang, Syan. Tapi terlambat, polisi ternyata sudah mengepung kami. Semua terjaring. Malah, Maxi dan Omar ditahan di Polsek Menteng,” ceritanya dengan suara serak.
“Tapi, kamu ti-tidak....”
“Demi Tuhan, Syan. Demi Tuhan aku tidak....”
“Aku percaya....”
“Terima kasih. Hanya kamu yang mau percaya aku.”
Syanda memaksakan bibirnya tersenyum. “Berapa lama kamu di sini?”
“Entahlah, Syan. Mungkin sebulan. Atau, mungkin pula bisa setahun....”
“Se-setahun?!” Syanda terbelalak.
“Kamu malu aku masuk panti rehabilitasi?”
Syanda menggeleng. “Aku tidak peduli. Aku hanya takut membayangkan hari-hari yang mesti kulalui tanpa kamu.”
Aditya mengeraskan rahangnya. Berusaha menahan airmata yang hendak menyeruak. Laki-laki pantang mengeluarkan airmata. Dia harus menunjukkan ketabahannya di hadapan Syanda. Bukannya malah menambah rasa pedih di hati gadis yang sangat disayanginya itu.
“Memang lama. Tapi....”
“Ak-aku akan tabah, Dit. Aku akan menunggu....”
“Ja-jangan....”
Syanda tersedu. “Ak-aku akan menunggumu sampai kapan pun juga!”
Aditya merengkuh pundak gadisnya. Membiarkannya menangis di bahunya. “Terima kasih untuk ketulusanmu.”
Waktu berlalu. Tiga puluh menit berjalan tanpa terasa. Mereka harus berpisah tepat ketika bel tanda  besuk berakhir berdenting memekakkan.
“Pulanglah....”
“Dit...!” Syanda kembali memeluk Aditya setelah sesaat tadi siap melangkah keluar. “Jangan lupa berdoa, ya?”
“Pasti.” Aditya mengangguk lalu melambai setelah Syanda berdiri di bawah bingkai pintu keluar ruang tamu. Ditatapnya tubuh Syanda yang menirus dan menghilang di balik tembok. Dua petugas satpam telah mengapitnya untuk menggiringnya masuk dan berkumpul dengan penghuni panti rehabilitasi lainnya.
Di luar, betapa inginnya Syanda berteriak lantang. Bahwa Aditya sama sekali tidak bersalah. Aditya bukan junkies. Tapi, siapa yang peduli?  Bahkan, Aditya pun tampak pasrah dan tabah menerima kenyataan itu. Dipisahkan dari orang-orang tercinta.
Syanda menyusut airmatanya. Diayunkannya langkah lebih cepat menyusuri koridor panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’. Dia ingin ke kapel. Berdoa di sana. Melaburkan dirinya di dalam damai dan teduhnya sinar Ilahi.