27 December 2015

Ubud Bali, Keindahan Seni dan Budaya Mengagumkan di Pulau Dewata

UBUD - Terletak di Kabupaten Gianyar, kawasan wisata Ubud, Bali memang telah dikenal sejak lama di kalangan penikmat traveling, baik domestik maupun mancanegara. Secara administratif, Ubud merupakan kecamatan di Bali yang terhimpun dari 13 banjar yang membawahi enam desa adat. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Pesona Bali seakan tidak akan luntur bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Salah satu daerah favorit di Pulau Dewata yang menjadi favorit destinasi adalah Ubud. 
Sebuah film Hollywood yang dibintangi aktris legendaries, Julia Roberts dan Christine Hakim, berjudul “Eat, Pray, Love” menjadikan Ubud Bali sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar. Inilah bentuk pengakuan dunia terhadap eksistensi Ubud sebagai salah satu tempat wisata paling menarik untuk dikunjungi. Beberapa waktu lalu, pemilik Apple Pie, Rizka Amiyati mengunjungi tempat tersebut.
Terletak di Kabupaten Gianyar, kawasan wisata Ubud Bali memang telah dikenal sejak lama di kalangan penikmat traveling, baik domestik maupun mancanegara. Secara administratif, Ubud merupakan kecamatan di Bali yang terhimpun dari 13 banjar yang membawahi enam desa adat. Topografi wilayah Ubud pada umumnya dikelilingi persawahan serta hutan-hutan yang diapit jurang dan sungai. Desa Ubud dari airport Denpasar, berjarak kurang lebih 40 kilometer. Jika menggunakan mobil, dapat ditempuh selama satu setengah jam.
Selain karena kondisi alam, Ubud juga terkenal karena seni dan budaya Bali, sangat berkembang dari tahun ke tahun. Sebagian masyarakat Ubud, sehari-hari tidak lepas dari aktivitas unsur seni dan budaya. Sebagian masyarakatnya juga bermata pencaharian sebagai seniman, baik lukis, kerajinan tangan, ataupun tari.
Bagi wisatawan yang senang mencari galeri-galeri seni wajib datang ke Ubud. Pasalnya, di sini terdapat banyak galeri dan pementasan seni. Setiap malam  ada saja tari yang dipentaskan. Saat di kawasan wisata Ubud, banyak tempat dan kegiatan menarik yang diikuti Rizka. Menurutnya, cara terbaik untuk menikmati kedamaian di Ubud adalah dengan menginap selama beberapa hari di sana.
Sewaktu ke Ubud, tempat yang paling pertama dicari Rizka adalah Pasar Seni Ubud. Itu karena kesenangannya menikmati keunikan benda-benda seni. Pasar Seni Ubud sebenarnya merupakan pasar tradisional biasa, yang lazim ditemui di berbagai tempat Tanah Air. Tetapi, ketika waktu telah beranjak melewati tengah hari, maka wisatawan akan menemukan banyak kerajinan kesenian di pasar ini. Pasar Seni Ubud terdiri dari dua lantai, terletak di pusat Ubud persis berada di depan Puri Agung Ubud atau bangunan bekas kantor pemerintahan di masa Kerajaan Ubud tempo dulu.
Di pasar ini, terdapat berbagai stand barang khas kesenian Bali, mulai baju, kain, kerajinan tangan seperti tas, topi, aksesoris, pajangan dinding, lukisan, suvenir, dan lain-lain. Ini menjadi salah satu tempat favorit Rizka saat ingin membeli oleh-oleh khas Bali yang “recommended”. Satu hal yang menarik, menurut wanita yang hobi traveling di pasar ini,  dapat dibeli berbagai suvenir khas Bali dan kerajinan lokal dengan harga yang lebih murah dibandingkan tempat lain di Pulau Dewata. Tentu, harus memiliki kemampuan tawar-menawar harga.
Kawasan wisata Ubud Bali terkenal sebagai salah satu sentra karya lukis di Indonesia. Itu yang menjadi alasannya mengunjungi Museum Puri Lukisan di Ubud. Di museum ini, dapat disaksikan berbagai karya seniman lokal yang mengundang decak kagum.
Museum yang berdiri sejak pertengahan 1950-an tersebut, menyimpan sejumlah koleksi terbaik dari berbagai sekolah seni di Bali. Di museum inilah wisatawan dapat mengetahui aliran seni di Bali, yang bertransformasi dari bercorak tradisional hingga modern, yang dipelopori para seniman lukis Ubud.
Pada hari kedua kunjungannya, Rizka mengunjungi Puri Agung Ubud yang terletak tepat di tengah Ubud. Inilah tempat yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Ubud pada masa lampau. Puri yang merupakan pusat kegiatan seni budaya dan adat ini, memiliki tata ruang yang masih orisinal sebagaimana pertama dibangun.
Wisatawan dapat menikmati suguhan pertunjukan tari di halaman depan Puri Agung Ubud, persisnya pada sebuah area yang disebut “Ancak Saji”. Pertunjukan tari ini diadakan seminggu sekali. Selain itu, dapat pula menyaksikan berbagai kelompok seni musik di Ubud yang berlatih setiap hari di kawasan puri.
Taman Wanara Wana menjadi kunjungan yang tidak dilewatkan Rizka saat ke Ubud. Berasal dari bahasa Sansekerta, Wanara berarti kera dan Wana berarti hutan. Wisatawan mancanegara mengenalnya dengan sebutan “Monkey Forest”. Inilah hutan kecil yang menjadi habitat ratusan spesies kera di Ubud sejak ratusan tahun lalu. Secara umum, hewan kera di tempat ini jinak, sehingga wisatawan dapat memberinya makanan jika suka.
Kearifan lokal menyebut hutan ini sebagai hutan yang sakral. Di kawasan hutan terdapat tiga pura kuno yang dapat dikunjungi, yakni Pura Dalem Padangtegal, Pura Pemanduan Suci, dan Nista Mandala. Hutan ini adalah sebuah Makam Desa, wisatawan dapat menyaksikan langsung upacara Ngaben yang menjadi adat dan ciri khas Pulau Bali.

Menikmati Secangkir Kopi Luwak

Kopi Luwak Bali di Ubud sangat terkenal seantero Nusantara. Makanya, saat itu Rizka tidak lupa menikmati sajian kopi luwak. Dikemas dalam konsep agrowisata, wisatawan tidak hanya dapat bersantai sembari menikmati kopi di saung-saung yang tersedia, melainkan juga dapat melihat proses pengolahan kopi dari awal.
Saat itu Rizka diajak berkeliling kebun kopi yang ada di sana, untuk melihat berbagai jenis tanaman kopi. Selain itu, juga dapat melihat hewan luwak yang menghasilkan kopi luwak di kawasan agrowisata. Untuk mencicipi secangkir kopi luwak asli, hanya perlu mengeluarkan biaya yang tidak lebih Rp 80 ribu. Jika suka, dapat membeli varian kopi yang dijual di sana untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Meski hanya sebuah kecamatan yang terhimpun dari sejumlah desa, Ubud di Bali adalah sebuah kawasan yang berkelas internasional. Tersedia fasilitas akomodasi sebagaimana yang ada di Kuta Bali.
Ada banyak hotel dan resort di Ubud, mulai kelas bintang hingga penginapan murah yang asri, seperti hotel melati dan homestay. Tinggal di homestay menjadi jalan terbaik bagi yang ingin melebur dalam kehidupan masyarakat Bali yang sesungguhnya.