25 December 2015

Silang Sengkarut Ekonomi Global

CENDERUNG MELEMAH - Sejak awal 2015, ekonomi nasional cenderung melemah. Hal ini dipicu silang sengkarut ekonomi global akibat kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, untuk menaikkan Federal Fund Rate (FFR) atau suku bunga acuannya hingga mata uang dolar terdongkrak dan merontokkan sebagian besar mata uang dunia, tidak terkecuali rupiah. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sejak awal 2015, ekonomi nasional cenderung melemah. Hal ini dipicu silang sengkarut ekonomi global akibat kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, untuk menaikkan Federal Fund Rate (FFR) atau suku bunga acuannya hingga mata uang dolar terdongkrak dan merontokkan sebagian besar mata uang dunia, tidak terkecuali rupiah.
Secara parsial, efek terbesar juga dipengaruhi “ulah” Tiongkok yang mendevaluasi mata uang Yuan sebesar dua persen untuk menstimulus market ekspor. Bagi ekonom, kebijakan devaluasi mata uang asal Tiongkok yang mengarah pada “currency war” atau perang mata uang tersebut, diproyeksi ikut menyeret kejatuhan sektor lain seperti ritel, properti, dan otomotif.
Bank Indonesia (BI) melansir, perekonomian Indonesia sudah menurun di kuartal keempat tahun ini. Target pertumbuhan ekonomi yang digadang BI bakal bertengger di angka 5,6 persen hingga 5,8 persen, terpaksa direvisi menjadi 4,7 persen. Padahal, sebelumnya kontribusi pertumbuhan ekonomi disokong ritel atau konsumsi masyarakat yang mencapai 54,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jika ritel turun, ekonomi sudah dapat dipastikan ikut menurun.
Memang, situasi tak sedap ini menjadi momok hampir sepanjang 2015. Dari tinjauan Bisnis Sulawesi, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) merevisi target pertumbuhan. Jika biasanya, ritel bisa tumbuh 14 persen secara tahunan (year on year), maka saat ini para peritel hanya dapat puas menoreh persentase pada angka delapan persen hingga 10 persen.
Penurunan yang terjadi pada dunia ritel dipicu faktor konsumen yang menahan konsumsi. Hal ini terjadi lantaran kondisi makro ekonomi Indonesia yang tengah “bergejolak”, yang ujung-ujungnya mempengaruhi daya beli konsumen.
Sementara itu, masih merujuk data BI, kontraksi di sektor properti masih berlanjut. Paling tidak, hingga kuartal ketiga tahun ini, tingkat penjualan dan pertumbuhan harga masih menunjukkan tren “bearish”. Mengacu pada survei harga properti residential, tingkat penjualan hunian mengerucut menjadi 7,66 persen, dari sebelumnya 10,84 persen pada kuartal kedua 2015. Adapun di segmen harga, pertumbuhannya juga melambat menjadi 1,69 persen secara triwulanan dan 32,31 persen secara tahunan.
Di sektor otomotif, perlambatan ekonomi nasional turut mempengaruhi penjualan mobil domestik yang turun lima persen menjadi 86.979 unit pada November 2015, dari sebelumnya 91.327 unit di bulan yang sama 2014.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), akumulasi penjualan mobil per November 2015 hanya mencapai 940 ribu unit. Di sisi lain, penjualan mobil Grup Astra anjlok 17 persen sepanjang Januari-November 2015 menjadi 473.779 unit dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 571.770 unit. Ini menyebabkan pangsa pasar Astra merosot dari 51 persen menjadi 50 persen.
Di pengujung 2015, pelaku usaha, apapun segmennya, tentu berharap di 2016 ekonomi akan pulih kembali. Seperti adagium “Habis Gelap, Terbitlah Terang”, persoalan terkait hajat hidup orang banyak memang lagi-lagi tergantung terhadap kebijakan yang akan ditempuh pemangku kepentingan di negara-negara maju. Kita memang berharap banyak untuk itu.