07 December 2015

Sensasi Berwisata di Wilayah Konflik Palestina-Israel



WISATA RELIGI - Pengusaha fashion Muslimah, Andi Anti Aka, saat beribadah umrah sekaligus berwisata religi ke beberapa tempat bersejarah di Palestina dan Yordania. Selama ini, Palestina dan Israel menjadi wilayah yang digambarkan selalu terjadi konflik. Akan tetapi, ternyata masyarakat di sana sangat menghormati wisatawan yang ingin melihat langsung situs-situs sejarah negara tersebut. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Selama ini, Palestina dan Israel menjadi wilayah yang digambarkan selalu terjadi konflik. Akan tetapi, ternyata mereka sangat menghormati wisatawan yang ingin melihat langsung situs-situs sejarah di sana.
Sejak masih kuliah, pengusaha fashion Muslimah, Andi Anti Aka, sudah senang traveling mengunjungi tempat-tempat yang dianggap menarik. Di antara tempat-tempat wisata populer saat ini, ia mengaku lebih banyak melakukan perjalanan keluar negeri. Sebelum menjatuhkan pilihan, terlebih dulu riset kecil-kecilan, negara mana yang memiliki tempat wisata menarik.
Belum lama ini, Anti beribadah umrah, sekaligus berwisata religi ke beberapa tempat bersejarah di Palestina dan Yordania. Sebelum memutuskan memasukkan Palestina ke tempat yang dikunjungi, banyak yang mengatakan tempat itu menyeramkan. Hampir setiap hari di televisi menyiarkan peperangan yang terjadi antara Palestina dan Israel di wilayah perbatasan. Namun, patut disyukuri lantaran perjalanannya dimudahkan Allah SWT.
Meskipun kondisi negara Palestina dan Israel sering terjadi konflik, wanita yang menjabat Ketua Jameela Hijab Community (JHC) ini tetap bertekad berkunjung dan menuntaskan perjalanan religinya. Itu karena didorong adanya Masjid Al-Aqsa di negara tersebut, yang merupakan tempat suci ketiga umat Islam. Umat Islam percaya, Rasulullah Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat itu, setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Mekkah dalam peristiwa Isra Miraj.
Bangunan Masjid Al-Aqsa berbentuk persegi, luas beserta area di sekitarnya 144 ribu meter persegi sehingga dapat menampung hingga 400 ribu jemaah. Panjang bangunan masjid 272 kaki (83 meter), lebarnya 184 kaki (56 meter), dan dapat menampung hingga lima ribu jemaah.
Berbeda Kubah Batu yang mencerminkan arsitektur Byzantium klasik, kubah Masjid Al-Aqsa menunjukkan ciri arsitektur Islam awal. Kubah yang asli dibangun Abdul Malik bin Marwan, namun sekarang sudah tidak ada lagi sisanya. Bentuk kubah seperti yang ada saat ini, awalnya dibangun Ali Azh-Zhahir dan terbuat dari kayu yang disepuh lapisan enamel timah.
Masjid ini memiliki empat menara di sisi selatan, utara, dan barat. Menara pertama dikenal sebagai Al-Fakhariyyah, dibangun pada 1278 di bagian barat daya masjid. Menara kedua, yang dikenal dengan nama Al-Ghawanimah, dibangun di sisi barat laut Al-Haram Asy-Syarif (Bukit Bait Suci) pada 1297 oleh arsitek Qadi Sharafuddin Al-Khalili. Menara terakhir dan yang paling terkenal adalah Bab Al-Asbat. Menara ini dibangun pada 1367. Menara tersebut berupa poros batu silinder, yang berdiri di atas landasan berbentuk persegi panjang.
Di Palestina, Anti juga mengunjungi “Tembok Ratapan” di Palestina. Tembok ini dianggap situs sakral orang Yahudi, dan ribuan orang berziarah di sana setiap tahun. Tembok Ratapan merupakan sumber sengketa antara orang Yahudi dan Muslim. Orang Islam menganggap tembok ini menjadi bagian dari masjid kuno dan tempat Nabi Muhammad mengikat kuda bersayapnya (Buraq) selama perjalanan Isra Miraj. Sementara, orang Yahudi menganggap dinding tersebut sebagai bagian dari sebuah kuil Yahudi, yang disebut juga Bait Suci Kedua, telah berdiri selama ratusan tahun.
Tembok Ratapan merupakan nama yang diberikan orang non Yahudi ketika melihat orang-orang Yahudi meratap sana. Orang Yahudi sebenarnya menamai tembok tersebut sebagai Tembok Barat, atau Kotel HaMaaravi dalam bahasa Ibrani. Orang Islam merujuk tembok tersebut sebagai Tembok Al-Buraq, diambil dari nama kuda bersayap yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Miraj. 
Bagian utama dari tembok, di mana orang pergi untuk berdoa, memiliki panjang sekitar 57 meter dan terbuat dari batu kapur meleke. Sebagian besar batu memiliki berat hingga 1,814.4 kilogram atau lebih, dan satu batu terbesar yang disebut Batu Barat, beratnya mencapai lebih 500 ribu kilogram.

Kisah Nabi Musa AS di Teluk Aqaba

Bagi umat Islam, tentu pernah mendengar tentang kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS. Kisah itu dapat ditemukan dalam Surah Al-Kahfi ayat 60-82. Dalam ayat ini disebutkan, tempat keduanya bertemu adalah di pertemuan dua laut. Umat Islam juga sangat mengetahui kisah Nabi Musa AS yang membelah lautan dengan tongkatnya, saat dikejar tentara Firaun.
Teluk Aqaba kemungkinan merupakan tempat Nabi Musa AS membelah laut untuk menyelamatkan kaumnya dari Firaun. Tidak ada bukti sahih di mana lokasi yang sebenarnya kejadian hebat itu, walaupun ada teori mengatakan di sekitar Nuweiba kerana terdapat penemuan artefak ribuan tahun di dasarnya. Teluk Aqaba juga kemungkinan tempat Nabi Musa AS bertemu Nabi Khidir AS.
Teluk ini terletak di sisi timur Semenanjung Sinai dan di sebelah barat Semenanjung Arab (atau tanah Arab). Teluk Aqaba dan Teluk Suez merupakan dua teluk yang menjorok dari ujung utara Laut Merah; Teluk Aqaba di sebelah timur Teluk Suez. Teluk Aqaba mencapai kedalaman 1.850 meter di bagian tengahnya, sementara Teluk Suez lebih lebar tetapi kedalamannya hanya kurang dari 100 meter. 
Di Teluk Aqaba, Anti dapat melihat langsung lokasi tempat bertemunya Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS, sebagaimana dijelaskan pemandu wisata di negara tersebut. “Banyak pelajaran yang dapat saya ambil selama melakukan perjalanan religi di Timur Tengah, khususnya mengenai kisah para nabi dan rasul yang menyebarkan agama Islam,” ujarnya.