06 December 2015

Pertumbuhan Ekonomi 2016 Kurang dari 6 Persen

RAWAN TEKANAN - Meskipun kondisi terlihat mulai stabil, tetapi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah masih membayangi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan pada 2016 oleh para praktisi, diproyeksi tidak akan melebihi enam persen. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang berada dikisaran 4,8 persen. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Meskipun kondisi terlihat mulai stabil, tetapi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah masih membayangi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan pada 2016 oleh para praktisi, diproyeksi tidak akan melebihi enam persen. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang berada dikisaran 4,8 persen.
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 mencapai 5,3 persen. Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop, mengungkapkan, optimisme pertumbuhan ekonomi tahun depan dimotori dampak positif dari paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
Sebagai praktisi di bidang ekonomi dan investasi, Senior Business Management PT Trijaya Pratama Futures, Atok Mentawai, memaparkan, apa yang telah dikeluarkan tim ekonomi pemerintah, diprediksi baru akan terasa dampaknya di tahun depan.
Menurutnya, meningkatnya belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur, didukung poin-poin paket kebijakan ekonomi yang berfokus pada investment. Atok menyakini, hal tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan investasi dari dalam maupun luar negeri. Peningkatan ekspor dan bertambahnya lapangan pekerjaan baru, akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.
“Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang berfokus kepada investment dan mendorong ekspor, sudah ditujukan pada sasaran yang tepat. Itu akan mampu memperbaiki fundamental ekonomi Indonesia, dengan membaiknya nilai rupiah dan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kisaran 4.500,” bebernya.
Pelemahan mata uang rupiah beberapa waktu lalu, diakibatkan tekanan eksternal yang begitu kuat. Apalagi, dengan membaiknya data ekonomi Amerika Serikat (AS), diprediksi akan mempercepat kenaikan suku bunga The Fed di kisaran 10-25 basis poin. Perlambatan secara bertahap kondisi perekonomian Tiongkok, memberikan dampak pelemahan terhadap mata uang negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.
Atok mengungkapkan, pada beberapa kesempatan Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Axel Van Trotsenburg, sering mengatakan kebijakan perlambatan ekonomi Tiongkok secara bertahap tidak berada di level yang mengkhawatirkan. Pemerintah Tiongkok dinilai bisa mengendalikan dan menangani risiko perlambatan ekonomi tersebut.
“Penyebabnya adalah tingkat utang Tiongkok yang tidak terlalu tinggi, aturan melarang tabungan di luar sistem perbankan, dan besarnya peran negara dalam sistem keuangan. Jadi, pertumbuhan ekonomi Tingkok diprediksi masih akan berada di level tujuh persen. Memang perlambatan ini akan memberikan dampak di seluruh kawasan yang memiliki hubungan perdagangan, investasi, dan pariwisata. Salah satunya Indonesia yang persentase ekspor  komoditas terbesarnya adalah ke Tiongkok,” urainya.
Atok menjabarkan, kebijakan perlambatan ekonomi Tiongkok ini diambil untuk memberikan keseimbangan dan normalisasi kebijakan suku bunga yang akan diambil The Fe, atau Bank Sentral AS. Faktor-faktor ini diyakini bakal menimbulkan guncangan finansial ekonomi global untuk jangka pendek, terutama negara emerging market. Akan tetapi, penyesuaian sangat diperlukan untuk menunjang keseimbangan pertumbuhan ekonomi global secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang direncanakan secara bertahap tahun depan, diharapkan dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi global yang lebih seimbang. Meskipun demikian, untuk jangka pendek, ia memprediksi depresiasi mata uang masih akan berlangsung. Aliran dana juga masih berkurang dan terjadi pengetatan likuiditas, serta meningkatnya perbedaan imbal balik surat utang negara.
Peran pemerintah dan BI sangat di butuhkan untuk mengantisipasi kemungkinan risiko perubahan ekonomi global seperti itu. Kecepatan dan ketepatan kebijakan pemerintah akan mempengaruhi tingkat kepercayaan pasar dan investor terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2016 mendatang, tidak akan melebihi angka enam persen. Situasi perekonomian diperkirakan lebih baik dari tahun ini, tetapi tidak akan melesat seperti yang diharapkan semula. Perbaikan yang terjadi tidak akan melebihi lima persen dan enam persen.
Pelemahan dari sisi ekspor masih akan terjadi pelemahan, seiring harga komoditas yang masih melemah. Sementara, Tiongkok sebagai negara tujuan ekspor sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Pengeluaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur menjadi satu-satunya pendorong pertumbuhan ekonomi.