07 December 2015

Michelle E Surjaputra, Manfaatkan Demam Korea dalam Bisnis Kuliner

MICHELLE E SURJAPUTRA - Buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, begitulah perumpamaan yang tepat ditujukan untuk Michelle E Surjaputra. Pasalnya, sebagai putri yang lahir dari orang tua pengusaha, bungsu dari tiga bersaudara ini tidak sertamerta berdiam diri menikmati fasilitas yang diberikan kepadanya. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, begitulah perumpamaan yang tepat ditujukan untuk Michelle E Surjaputra. Pasalnya, sebagai putri yang lahir dari orang tua pengusaha, bungsu dari tiga bersaudara ini tidak sertamerta berdiam diri menikmati fasilitas yang diberikan kepadanya. Justru, ia dapat mendirikan usaha sendiri yang bagi kebanyakan orang dipandang sebagai pencapaian fantastis.
Bagaimana tidak, di usianya yang baru menginjak 27 tahun, wanita muda berparas rupawan ini sudah memiliki bisnis yang lumayan bergengsi, restoran cepat saji asal Korea Selatan, Bonchon Chicken.
Ditemui pada pembukaan salah satu gerainya, kelahiran Jakarta 15 November 1988, mengungkapkan ihwal usaha kulinernya. “Saat saya kuliah di Amerika, setidaknya dua kali sebulan nongkrong di Bonchon. Di New York, ada tujuh gerai Bonchon,” ujar alumni New York University-Leonard N Stern School of Business ini.
Meskipun memiliki insting bisnis yang diperoleh dari orang tuanya, ia tak sertamerta memboyong Bonchon. Sekembalinya ke Indonesia, ia malah magang di perusahaan ayahnya.
“Selain itu, saya pernah magang di AXA Advisory, Bank Indonesia, dan Union Bank of Switzerland (UBS). Nah, ide Bonchon baru muncul saat saya jalan-jalan di mal-mal Jakarta. Terpikir, kenapa tidak bawa Bonchon ke Indonesia? Apalagi, di Indonesia sedang tren demam Korea. Namun yang pasti, orang Indonesia memang suka makan ayam,” kenang penyuka shopping ini.
Michelle mengaku, awalnya agak risih berbisnis sendiri lantaran tak memiliki pengalaman terkait usaha waralaba. Tetapi, ia pantang mundur karena tidak ingin bekerja di perusahaan keluarga. Selain itu, ia beralasan perusahaan orang tuanya adalah bidang manufaktur metal. “Itu sama sekali bukan bidang saya. Saya lebih suka industri lifestyle,” ungkapnya.
Mantap dengan pilihannya, ia mencoba memberanikan diri mengirim minat kerja sama ke pihak Bonchon Chicken melalui website. Manajemen Bonchon meresponsnya, akan tetapi tidak begitu saja menerima permintaan Michelle. “Ya, menurut GM-nya, Bonchon sudah sering menerima tawaran permohonan master franchise untuk Indonesia. Makanya, saya diberi kesempatan membuat business plan,” imbuhnya.
Lantaran sudah terbiasa menyusun business plan, Michelle bahkan bisa membuat proposal setebal 50 halaman hanya dalam tiga hari. Ia mengaku, manajemen Bonchon terkesan terhadap proposalnya. Selanjutnya, upaya untuk mendapatkan hak waralaba berlangsung secara cepat. Padahal, ia baru memasukkan proposal pada Agustus 2011, tetapi Oktober tahun yang sama sudah diminta ikut training. “November 2011 izin keluar, Januari 2012 gerai pertama saya di Grand Indonesia, Jakarta, resmi dibuka,” runutnya bangga.
Saat ini, di bawah bendera PT Michelindo Food International sebagai pemegang master franchise Bonchon Chicken untuk Indonesia, Michelle beserta beberapa sahabat investornya bergerak cepat. Bermula dari Grand Indonesia, Bonchon kini berjumlah tujuh gerai, tersebar di mal-mal kelas atas seperti City Walk Sudirman, Living World Alam Sutera, Supermal Karawaci, Gandaria City, Central Park, Kota Casablanca, Kemang Village, Beachwalk Bali, dan Trans Studio Mall (TSM) Makassar.
Menyasar segmen menengah atas, sebut Michelle, keunikan yang ditawarkan Bonchon terletak pada kesegaran bahan makanannya. “Di Bonchon, ayamnya fresh. Tak melalui proses pembekuan, juga tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam,” urainya.
Terkait investasi awal yang digelontorkannya saat membuka gerai pertama, begitu pula gerai-gerai selanjutnya, Michelle enggan mengungkap. Namun, baginya, tantangan terbesar untuk mengembangkan bisnisnya adalah bagaimana memastikan Bonchon Indonesia bisa mengikuti standar Bonchon internasional.
“Cita-cita saya, ingin menjadikan Bonchon Indonesia sebagai Bonchon terbaik di dunia. Untuk itulah, saya intensif terlibat dalam operasional perusahaan. Saya selalu rapat setiap pagi di kantor dan setiap gerai yang saya datangi, setidaknya dua kali dalam sebulan. Saya juga berencana akan terus berekspansi, dengan target membuka gerai setiap bulan,” optimisnya.