05 December 2015

Menakar Investasi Prospektif

REKSADANA - Reksana berbeda dibandingkan saham, karena sebagai investor tidak membeli saham suatu perusahaan secara langsung. Investor reksadana menyetorkan dana kepada seorang fund manager. Nantinya, pengelola dana inilah yang akan membeli saham kepada perusahaan-perusahaan bonafide, seperti bank atau perusahaan ternama. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Akhir-akhir ini, reksadana telah menjelma sebagai investasi yang menjanjikan untuk masa depan. Investasi ini cocok bagi seseorang yang memiliki dana terbatas untuk berinvestasi. Dengan modal kurang dari Rp 5 juta sudah bisa berinvestasi.
Reksana berbeda dibandingkan saham, karena sebagai investor tidak membeli saham sebuah perusahaan secara langsung. Investor reksadana menyetorkan dana kepada seorang fund manager. Nantinya, pengelola dana inilah yang akan membeli saham kepada perusahaan-perusahaan bonafide, seperti bank atau perusahaan ternama. Di sini, dividen yang diperoleh bakal didistribusikan kembali kepada investor reksadana.
Reksadana memiliki beberapa keunggulan, salah satunya menawarkan investasi untuk siapa saja. Seorang fund manager bisa menawarkan lembar reksadana dengan harga yang kecil, bahkan hingga Rp 1.000 kepada banyak orang. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membeli saham. Selain itu, reksadana sudah diatur secara khusus oleh pemerintah, sehingga keamanannya terjamin. Sifatnya yang likuid memungkinkan untuk menjual reksana setiap kali membutuhkan uang.
Namun, reksadana bukanlah investasi tanpa risiko. Pasalnya, dana yang terkumpul digunakan untuk membeli saham suatu perusahaan, maka hasil yang diperoleh mungkin berfluktuasi setiap bulannya, sesuai profitabilitas perusahaan tersebut. Selanjutnya, sukses atau tidaknya seseorang sebagai investor sangat dipengaruhi kejelian dan kecermatan, khususnya dalam memiliki fund manager. Jika pengelola dana mangkir dari tanggung jawab atau tidak cerdas memilih investasi, maka dana investasi seseorang adalah taruhannya.
Dari segi definisi, bisnis sebenarnya sedikit berbeda ketimbang investasi. Secara sistemik, bisnis bersifat “aktif”. Di sini, seseorang sebagai pemilik modal mengelola usaha secara langsung. Sementara itu, investasi bersifat “pasif” lantaran dana dikelola pihak lain. Seorang investor hanya mendapatkan hasil bagi dari keuntungan usaha yang dijalankan perusahaan lain.
Kendati demikian, dalam konteks perencanaan atau upaya untuk mendapatkan masa depan yang cerah secara finansial, maka bisnis bisa dikategorikan sebagai investasi yang bagus.