08 December 2015

Jaga Stabilitas Perekonomian, BI Longgarkan Kebijakan Moneter

PERTAHANKAN BI RATE - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 7,50 persen, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50 persen dan Lending Facility pada level 8,00 persen. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 7,50 persen, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50 persen dan Lending Facility pada level 8,00 persen. Sementara itu, RDG memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dalam rupiah, dari sebelumnya 8,0 persen menjadi 7,50 persen, berlaku efektif sejak 1 Desember 2015. 
Kepala BI Wilayah Sulsel, M Dadi Aryadi, mengungkapkan, BI menilai stabilitas makroekonomi semakin baik, sehingga terdapat ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
“BI meyakini inflasi 2015 akan terjaga di batas bawah kisaran sasaran empat plus satu persen, disertai defisit transaksi berjalan yang diperkirakan berada pada kisaran dua persen dari produk domestik bruto (PDB) 2015,” ulasnya belum lama ini di Kantor BI, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.
Masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global, sebut Dadi, terutama karena kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed Fund Rate) dan keberagaman kebijakan moneter yang ditempuh Bank Sentral Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Oleh karena itu, BI akan tetap berhati-hati dalam menempuh langkah pelonggaran kebijakan moneter.
“Dalam kaitan ini, pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan GWM Primer diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pembiayaan perbankan untuk mendukung kegiatan ekonomi yang mulai meningkat sejak triwulan ketiga 2015. Ke depan, BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memperkuat struktur perekonomian, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan yang tetap terjaga,” tandasnya.