12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 28

BLOGKATAHATIKU/IST
Adakah yang lebih khidmat dari indah yang-liu
yang mengembang di bawah naungan layar biru
dan pada gerai bulir-bulir embun pagi?

Majas apa gerangan
yang dapat melamur ranggas maharana
dan pada sekumpulan pedang mengilap

Bersuaralah kesatria
biar tubir-tubir karang
dan lembah-lembah nan menghijau
menyampaikan jawaban darimu
untuk menguak enigma tak bertepi

Bao Ling
Elegi Enigma

 “Lengan seragam kamu sobek, kenapa?”
Fa Mulan menangkap sobekan sebesar jari kelingking di lengan kanan seragam Bao Ling dengan ekor matanya saat pemuda itu tengah menenggak araknya. Senyum pemuda itu melamur di akhir pertanyaan Fa Mulan. Ia kembali teringat pada penyerangan misterius terhadapnya dalam perjalanan ke pos pengawasan Tembok Besar ini. Saat bertarung, lengan seragamnya sobek. Mungkin tersangkut ranting pepohonan saat ia bersalto dan bergulingan di tanah menghindari sabetan pedang penyerangnya. Entahlah. Mungkin juga lesatan anak panah yang mendesing di dekat tubuhnya ketika diserang pedanuh dari semak-belukar hutan.
“Saya diadang oleh beberapa orang di hutan Hwa saat hendak kemari.”
Fa Mulan membelalak kaget. “Kamu tidak apa-apa?!”
“Saya tidak apa-apa. Orang yang mengadang saya ternyata salah satu prajurit Istana,” jelas Bao Ling, mengernyitkan keningnya karena masih penasaran dengan gelimun maksud pembunuhan dirinya. Tak sadar ia menggeleng. Semuanya masih serupa enigma di benaknya. “Namanya Zhung Pao Ling!”
“Zhung Pao Ling?!”
“Dia adalah Kepala Intelijen Yuan. Dia merupakan salah satu orang kepercayaan Jenderal Gau Ming. Saya tidak tahu apa maksud dia mencoba membunuh saya di hutan Hwa.”
“Masalah pribadi?”
Bao Ling menggeleng. “Bukan. Meski sering bertemu di Istana Da-du, tapi saya tidak terlalu akrab dengan Zhung Pao Ling. Mungkin karena saya dan dia menjalani tugas-tugas yang berbeda. Jadi, saya rasa bukan karena masalah pribadi. Lagipula, saya tidak pernah merasa pernah menyinggung ataupun menyakiti hatinya.”
“Aneh,” desis Fa Mulan dengan sepasang alis yang nyaris bertaut. “Benar-benar aneh.”
Bao Ling menghela napas. “Justru itulah yang meresahkan saya, Asisten Fa. Mungkin ada konspirasi yang berkembang di dalam Istana untuk mengganggu stabilitas Yuan.”
“Maksudmu….”
“Saya tidak berani berasumsi. Tapi kalau benar, maka saya lebih berpraduga kalau hal tersebut didalangi oleh pihak jasus yang sudah memasuki lingkungan Istana,” rekanya, lalu mengembuskan napasnya dengankeras, ekspresi kegalauannya perihal peristiwa miris yang dialaminya di hutan Hwa.
“Tapi, bukankah Zhung Pao Ling merupakan prajurit kepercayaan Jenderal Gau Ming?” tanya Fa Mulan penuh selidik. “Jangan-jangan….”
Bao Ling mengelus-elus dagunya dengan dahi mengerut. “Benar. Tapi, saya sama sekali tidak pernah berasumsi kalau aktor instabilator itu adalah Jenderal Gau Ming. Mana mungkin beliau yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar Istana Da-du itu dapat membangkang begitu? Bukankah beliau sudah bersusah-payah bahu-membahu membangun Kekaisaran Yuan sejak ayahanda Kaisar Yuan Ren Zhan, Kaisar Yuan Ren Xing, berkuasa dulu? Menciptakan instabilator dalam Kekaisaran Yuan itu sama juga berarti beliau meruntuhkan rumah tangganya sendiri yang telah dibangunnya dengan susah-payah. Bukankah begitu, Asisten Fa?”
“Tentu, tentu,” Fa Mulan mengangguk-angguk, mengakuri dalih keyakinan Bao Ling terhadap Jenderal Gau Ming yang sudah lama mengabdi untuk Istana. “Meski saya jarang berada di Istana, tapi saya tahu dedikasi macam apa yang dimiliki Jenderal Gau Ming. Tidak mungkin beliau yang melakukan semua rencana busuk tersebut meskipun ada indikasi semacam itu yang mengarah kepada beliau.”
“Saya justru khawatir jasus musuh sudah demikian jauh masuk ke Istana, sehingga keselamatan Kaisar Yuan Ren Zhan dan beberapa petinggi militer lainnya tidak dapat terjamin dengan baik lagi. Saya harus menyampaikan kasus ini secepatnya kepada Jenderal Gau Ming setiba di Istana Da-du nanti,” tambah Bao Ling, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang kepada lawan bicaranya.
“Ya, saya rasa kamu harus secepatnya kembali ke Istana,” desak Fa Mulan, turut merasa khawatir dengan perkembangan terakhir di Istana Da-du. “Situasi Istana pasti tidak kondusif. Bahaya dapat mengancam kapan saja. Di balik keberhasilan Yuan, ternyata kemenangan tersebut menyimpan banyak kelemahan serta hal-hal yang tidak terduga. Mungkin hal itu masih luput dan belum diketahui oleh pejabat intelijen kita. Euforia kemenangan Yuan atas pemberontakan Han membuat pejabat militer kita lengah. Yuan sebetulnya masih di ambang bahaya!”
“Betul, Asisten Fa,” akur Bao Ling, menganguk-anggukkan kepalanya keras. “Makanya, paling tidak Anda bisa berandil menyelamatkan negara kembali dengan menghadiri acara Festival Barongsai tersebut,” lanjutnya meminta.
Fa Mulan menimbang-nimbang. “Saya belum dapat memberikan jawaban sekarang. Tapi, saya pasti akan mengambil keputusan bila negara dalam bahaya. Mungkin saya akan menyusul kamu nanti ke Ibukota Da-du.”
“Terima kasih, Asisten Fa,” sahut Bao Ling dengan mata berbinar-binar. “Istana memang sangat membutuhkan atensi Anda.”
Fa Mulan mengangguk. “Sayang kemenangan kita direcoki oleh euforia. Itu salah satu kelemahan dalam maharana. Musuh dapat menyusun kekuatan baru. Buktinya, Zhung Pao Ling yang loyal pun dapat berubah. Otak Zhung Pao Ling bahkan sudah dirasuki oleh niat jahat pihak musuh. Dan pasti dia telah bekerja sama dengan pihak lawan yang hendak menjatuhkan Kekaisaran Yuan.”
“Saya kira memang begitu, Asisten Fa,” yakin Bao Ling.
“Apakah Han Chen Tjing dan Jenderal Shan-Yu dalang semua itu, Bao Ling?” tanya Fa Mulan, lebih pada mempertegas orang-orang yang sedari tadi telah dianggapnya dalang dari konspirasi instabilator di Istana Da-du.
“Boleh jadi. Tapi tidak semudah itu menyuap seorang prajurit kepercayaan yang sudah mengabdi belasan tahun untuk Istana Da-du. Kecuali ada hal-hal yang sama sekali di luar dugaan kita,” jawab Bao Ling lugas.
“Lantas, kenapa hanya kamu yang dijadikan target pembunuhan?” tanya Fa Mulan penasaran.
Bao Ling mengedikkan bahunya. “Entahlah. Saya tidak paham. Tapi mungkin ini ada kaitannya dengan Anda, Asisten Fa.”
Fa Mulan terlonjak. “Saya?!” tanyanya, sesaat berdiri dari bangkunya tanpa sadar. Tidak lama kemudian ia duduk kembali dengan dahi yang mengerut.
Bao Ling mengangguk. “Ya.”
“Korelasinya apa?” cecar Fa Mulan gelisah.
“Mungkin saja mereka tidak ingin Anda menghadiri acara Festival Barongsai tersebut. Sebagai Prajurit Kurir, saya merupakan kunci penyampaian maklumat Istana Da-du kepada Anda. Jadi, membinasakan saya merupakan tindakan penting untuk menggagalkan kehadiran Anda di Istana Da-du pada acara Festival Barongsai nanti,” jelas Bao Ling, kali ini tidak terlalu yakin dengan prediksinya.
Fa Mulan menyentuh cawannya namun tidak meminum araknya. Hanya spontanitas keterkejutannya. “Kenapa?!”
Bao Ling menggerakkan kedua bahunya. “Karena mereka, entah siapa, ingin melamur simbol kemenangan Yuan. Kalau boleh, melenyapkan simbol itu untuk selama-lamanya.”
“Maksudmu….”
“Sebenarnya, pembunuhan itu ditargetkan kepada Anda, Asisten Fa. Sementara saya hanyalah imbas dari rencana jahat mereka.”
“Tapi, kita semua memang menjadi target pembunuhan. Itu konsekuensi kita sebagai prajurit, bukan?”
“Benar. Tapi, konspirasi misterius tersebut tidak semudah apa yang Anda bayangkan, Asisten Fa. Rencana pembunuhan itu sarat dengan muatan politis. Mengungkap siapa biang rencana inferior tersebut tidaklah semudah menyibak cadar. Dalam maharana, seperti yang Anda utarakan dulu sewaktu di Tung Shao bahwa, kawan dapat berubah menjadi lawan. Dan begitu pula sebaliknya, lawan dapat menjelma menjadi kawan.”
“Hm, kalau begitu, ini pasti ada kaitannya dengan pejabat tinggi Istana Da-du. Atau paling tidak, petinggi-petinggi militer Yuan.”
“Tepat. Kalau bukan begitu, mana mungkin orang-orang seperti Zhung Pao Ling dapat berubah menjadi serigala. Kawan menjadi lawan.”
“Dan kalau saya mati misalnya, maka mereka telah melenyapkan salah satu simbol kemenangan Yuan di Tung Shao. Bukankah begitu prediksi skenario dari rencana musuh, Bao Ling?”
“Tepat.”
“Tapi, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kemenangan kita di Tung Shao itu andil kolektif. Bukan tindakan gagah berani orang per orang.”
“Saya mengerti, Asisten Fa. Tapi ini semua menyangkut politik yang pelik, dan mungkin jauh dari segala prakiraan kita. Kadang-kadang simbol itu lebih penting dibandingkan sejumlah kekuatan bala militer. Buktinya, Divisi Kavaleri Fo Liong sangat ditakuti oleh kaum pemberontak karena melihat eksistensi keefektifan divisi baru Yuan tersebut, yang dapat melumpuhkan banyak musuh di dalam sebuah pertempuran. Padahal, Divisi Kavaleri Fo Liong hanya terdiri dari beberapa ribu prajurit saja. Nah, Anda bisa bandingkan dengan jumlah prajurit dari Divisi Infanteri atau Divisi Kavaleri Danuh yang memiliki prajurit bahkan sampai hampir sejuta orang, sebelum banyak yang gugur dalam pertempuran melawan pemberontak Han.”
Fa Mulan menjentikkan jarinya. “Saya sependapat soal itu. Dalam hal ini, bukan berarti Divisi Kavaleri Fo Liong tidak memiliki kelemahan. Hanya saja, mereka belum menemukan taktik dan cara untuk melumpuhkan armada tempur baru Yuan tersebut,” ulasnya yakin.
“Ya. Itulah sebabnya mereka memilih untuk mundur karena dikalahkan oleh rasa gentar yang majas. Padahal, belum tentu kekuatan militer Yuan, Divisi Kavaleri Fo Liong, sekuat praduga mereka. Itulah yang saya katakan simbol, Asisten Fa. Simbol itu dapat berupa jargon, kisah patriotisme dan ketangguhan, dan banyak lagi hal lainnya. Ya, termasuk Anda. Anda adalah simbol kemenangan Yuan atas kubu pemberontak. Khususnya untuk pertempuran di Tung Shao,” papar Bao Ling setelah menyimpulkan penyebab mundurnya musuh dari zona tempur di Tung Shao beberapa bulan lalu.
“Saya sama sekali tidak ingin menjadi simbol, Bao Ling. Apalah arti sebuah pengakuan bagi saya. Padahal, apa yang saya lakukan itu semata-mata hanya untuk menyelamatkan negara dari ambang bahaya. Jadi, selain atas nama negara dan rakyat, tidak ada inisiatif dan motivasi apa-apa lagi yang melatarbelakangi niat saya melakukan aksi-aksi, yang bagi kalian adalah tindakan patriotik dan fenomenal, tersebut. Semua itu hanya bela negara. Lagipula, saya ini prajurit yang berkewajiban membela negara, bukan? Hei, apa saya mesti berpangku tangan melihat negara kita diserang?”
“Saya mengerti, Asisten Fa. Tapi dalam Kenyataannya, simbol kemenangan itu sudah demikian melekat pada diri Anda. Sekarang, Anda sudah menghadapi dilematisasi. Musuh Anda sudah berada di mana-mana. Anda sekarang mesti waspada. Ingat, kawan bisa menjadi lawan. Demikian pula sebaliknya,” tutur Bao Ling sembari mempermainkan jemari tangannya di atas meja, mengusap tetesan arak yang sedikit meluber dari bibir cawannya. “Hm, tapi saya yakin kalau seorang Fa Mulan dapat mengatasi semua itu dengan ketangguhannya,” lanjutnya, lalu tersenyum di akhir kalimatnya.
Fa Mulan menyembulkan senyumnya mendengar pujian Bao Ling. “Tapi, sampai di mana batas kemampuan seorang Fa Mulan, Bao Ling? Apa memangnya Fa Mulan terlahir berbeda dengan manusia-manusia lainnya? Apa memangnya Fa Mulan memiliki otot besi dan tulang baja sehingga sekokoh karang. Hei, kamu pikir saya ini pemberani apa? Fa Mulan juga memiliki rasa gentar. Dalam pertempuran, Fa Mulan juga takut ditikam dengan pedang,” ujarnya panjang-lebar. “Yang pasti, Fa Mulan itu tidak setangguh pradugamu.”
“Tapi….”
“Sudahlah, Bao Ling. Saya ini prajurit murni. Bukan siapa-siapa. Kalau mereka menganggap saya ini simbol kemenangan Yuan, ya terserahlah. Tapi yang pasti saya merasa tetap sebagai prajurit biasa.”
Bao Ling terdiam, mencerna semua kalimat bijak yang disampaikan Fa Mulan dengan kesungguhan yang berasal dari palung hati. Sesaat dipejamkannya mata. Menikmati keindahan batin tak terkira dari seorang perempuan kesatria.
Ia semakin jatuh hati kepadanya.
“Maaf, Asisten Fa. Mungkin saya harus pamit. Sudah jauh larut malam,” pamit Bao Ling, berdiri lalu melangkah keluar tenda sebelum sekali lagi menatap sepasang mata telaga gadis yang diam-diam dicintainya itu.