12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 27

BLOGKATAHATIKU/IST
Inikah maklumat yang mengguntur dari langit
serta titah setajam pedang dari mulut Sang Dewa?
jika darah sebagai tumbalnya
dan airmata imbalannya
apa jadinya semesta?

Bao Ling
Refleksi Maklumat

Fa Mulan mengusap wajah.
Diamatinya wajah penasaran Bao Ling yang mengabarinya perihal undangan Istana Da-du kepadanya, sesaat setelah Shang Weng pamit keluar dan kembali untuk beristirahat ke dalam tendanya.
“Anda harus menghadiri undangan dari pihak Istana Da-du itu, Asisten Fa.”
“Saya merasa tidak punya korelasi apa-apa terhadap acara kabir Kaisar Yuan Ren Zhan tersebut, Bao Ling.”
“Justru karena kontribusi Anda yang besarlah sehingga Kaisar Yuan Ren Zhan, melalui Jenderal Gau Ming bersikeras menghadirkan Anda pada Festival Barongsai nanti.”
“Untuk apa?”
“Saya tidak berani berasumsi. Tapi kalau bukan sebagai bentuk ungkapan terima kasih Istana Da-du kepada Anda, apa lagi yang mendasari sampai pihak Istana Da-du mengeluarkan maklumat untuk memanggil Anda?”
“Pihak Istana Da-du terlalu membesar-besarkan kemenangan kita atas pemberontak Han di Tung Shao. Padahal, pertempuran sama sekali belum berakhir. Mereka hanya terdesak mundur. Nah, suatu saat kalau mereka merasa sudah kuat, pasti mereka akan menyerang Ibukota Da-du kembali. Makanya, saya tidak ingin mengambil kesimpulan kalau kita ini sudah menang. Dan tidak perlu dirayakan secara besar-besaran begitu.”
“Asisten Fa….”
Fa Mulan mengangkat sebelah tangannya ke hadapan Bao Ling yang masih membujuk dengan wajah cemas. Amanat Jenderal Gau Ming atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan mesti dipatuhinya sebagai sebuah keputusan mutlak. Sebagai prajurit Yuan, ia tahu sanksi apa yang akan dijatuhkan kepadanya apabila gagal menjalankan perintah tersebut.
“Sudahlah, Bao Ling,” Fa Mulan menyalib sembari mengibaskan tangannya yang menggantung di udara tadi. “Sampaikan saja terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk pihak Istana Da-du.”
Bao Ling tercengang dengan wajah lesi. “Tapi, mana boleh Anda tak mengacuhkan amanat yang merupakan maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan, Asisten Fa?!”
Fa Mulan menghela napas panjang.
Euforia kemenangan atas pemberontak Han di Tung Shao menggamangkan hatinya. Bukan atas sanksi hukuman yang kelak dijatuhkan kepadanya bila menolak hadir pada Festival Barongsai tersebut. Bukan pula terhadap sebentuk pembangkangan yang melalaikan maklumat penguasa tertinggi Tionggoan.
Namun lebih dari semua itu.
Lebih dari semua itu. Bahwa perjuangan yang belum rampung dan maharana yang terus-menerus merundung tanah Tionggoan merupakan hal yang masih menggalaukan hati. Sukses penangkalan musuh belum pantas dianggap sebagai sebuah kemenangan. Segalanya masih membabur.
“Asisten Fa….”
“Sampaikan saja pesan saya itu.”
“Ta-tapi, Anda tidak bisa semudah itu menampik undangan atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan, Asisten Fa. An-Anda tahu sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada Anda bila menolak!”
“Bao Ling, tolong. Saya tahu ini berat. Tapi, saya juga punya alasan untuk tidak mengikuti undangan pihak Istana Da-du.”
“Tapi, ini perintah, Asisten Fa!”
Fa Mulan menggigit bibir.
Inilah otoriterisasi tiran yang berlangsung turun-temurun. Berlangsung berabad-abad lamanya. Pemaksaan kehendak atas nama kekuasaan telah menyebabkan tanah Tionggoan menelangsa. Rakyat tertindas dan menjadi korban maharana yang menggembur.
“Apa saya akan dipancung hanya lantaran hal itu?” Fa Mulan terbahak. “Apa saya akan dipenggal hanya karena tidak mengikuti keinginan Kaisar Yuan Ren Zhan untuk menghadiri acara kabir tersebut? Naif, naif sekali!”
Bao Ling menelan ludahnya dengan susah payah.
Ia masih menunduk, tak berani menatap nanar pada kedalaman sepasang manik mata bagus Fa Mulan. Hanya takzim mendengarkan desisan satu-satunya gadis yang berani menyaru menjadi laki-laki dan bergabung sebagai prajurit di Dinasti Yuan. 
“Saya tidak berani berasumsi, Asisten Fa. Ta-pi….”
“Bukannya saya menolak undangan dari pihak Istana Da-du tersebut, Bao Ling. Tapi, ada kalanya saya memang harus menentang kehendak yang tidak sesuai dengan nurani saya. Bukankah lebih baik kalau biaya pesta kemenangan yang besar itu dibagi-bagikan untuk rakyat? Kaisar Yuan Ren Zhan bisa membeli beras yang sangat banyak untuk kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin di dusun-dusun. Bukannya menghambur-hamburkan harta negara untuk Festival Barongsai yang tidak terlalu membawa faedah apa-apa bagi kepentingan rakyat, kecuali kepentingan politis semata.”
“Ya, ya. Saya mengerti penolakan Anda, Asisten Fa. Tapi, bukankah tidak ada salahnya bila Anda menghadiri acara tersebut? Formalitas saja.”
“Itulah yang tidak saya inginkan, Bao Ling. Menghadiri acara tersebut sama juga berarti saya menyetujui tindakan euforia Kaisar Yuan Ren Zhan. Lagipula, saya memang tidak ingin dianggap tokoh sentral keberhasilan Yuan menumpas pemberontakan Han.”
“Tapi….”
“Keberhasilan kita menggagalkan pemberontakan Han itu tidak terlepas dari andil banyak pihak. Semua yang terlibat di dalam pertempuran Tung Shao memiliki jasa yang sama. Tidak ada yang lebih, dan tidak ada yang kurang. Bagaimana tanggapan orang-orang yang sudah turut bertempur dan berjasa dalam kemenangan Yuan apabila, Fa Mulan seorang dirilah yang dianggap kunci utama keberhasilan tersebut. Bukankah itu akan menyakiti hati mereka? Bukankah hal itu merupakan ketidakadilan bagi mereka? Nah, itulah salah satu alasan mengapa saya enggan menghadiri Festival Barongsai itu, Bao Ling.”
Sesaat Bao Ling tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi kekerasan hati Fa Mulan yang menolak mengikuti undangan dari pihak Istana Da-du tersebut. Seumur hidupnya, ia belum pernah menemui gadis setegar Fa Mulan. Gadis itu tak gentar meski kelak menerima sanksi yang paling buruk sekalipun. Idealismenya yang sekokoh karang itu memang patut dijadikan teladan. Tetapi mengabaikan maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan sama juga dengan bunuh diri. Entah kapan, seperti menunggu kelamnya sang malam, maka kematian pun tak dapat dihindarkan.
“Asisten Fa….”
“Maaf, Bao Ling. Saya sudah menyusahkanmu. Tapi, saya tetap memilih tinggal di sini demi keamanan Tionggoan. Masih banyak hal yang perlu saya lakukan di sini ketimbang mengikuti Festival Barongsai. Di sini, saya bisa berkontemplasi. Saya tidak mau memandang enteng musuh yang sudah mundur ke barak mereka.”
“Tapi, perbatasan Tembok Besar ini sudah dibentengi dengan prajurit dari Divisi Kavaleri Fo Liong, Asisten Fa. Anda jangan terlalu mencemaskan soal musuh yang bakal kembali. Kekuatan mereka sekarang sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan divisi kita yang baru.”
“Saya tidak ingin takabur dengan kekuatan armada perang kita yang canggih. Karenanya, saya dan Kapten Shang Weng tetap mawas. Mungkin ada hal-hal yang luput dari perhatian. Barangkali mereka tengah menyusun taktik dan strategi baru untuk dapat menaklukkan Ibukota Da-du. Entahlah.”
Bao Ling diam menyimak.
Dinalarinya inti kalimat yang barusan dikemukakan oleh Fa Mulan. Tak sadar ia mengangguk mengakuri. Mereka memang tidak boleh lengah barang sekedip mata pun. Kekuatan musuh tidak dapat ditakar dengan melihat armada perangnya. Hal itu telah terbukti di Tung Shao. Ketika prajurit Yuan terdesak oleh pasukan pemberontak Han, Fa Mulan yang sedang memimpin di garda depan sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi secara logis dengan kekuatan besar musuh. Toh pada akhirnya juga ia dapat memenangkan pertempuran berkat strateginya yang gemilang.
“Maaf, Asisten Fa. Saya tidak mengintervensi kehendak Anda. Tapi, saya tidak tahu harus berbuat apa atas maklumat Kaisar tersebut. Tentu saja keputusan Anda itu akan berefek buruk bagi penegakan kedisiplinan dalam militer. Maaf sekali lagi. Tindakan Anda itu akan dianggap pembangkangan!”
Fa Mulan mengusap wajah. “Saya tahu konsekuensi apa yang akan saya dapat jika menolak menghadiri undangan dari pihak Istana Da-du tersebut. Saya tahu. Sebagai prajurit, saya akan mempertanggung-jawabkan tindakan saya yang dianggap pembangkangan ini!”
“Asisten Fa….”
“Jangan khawatir, Bao Ling. Saya tidak akan melibatkan kamu. Kalau Kaisar Yuan Ren Zhan gusar dan murka soal ini, maka saya akan menyerahkan kepala saya dengan sukarela untuk dipenggal algojo Istana. Saya tidak akan melarikan diri. Saya siap mati untuk itu!”
“Ta-tapi….”
“Sudahlah, Bao Ling. Saya rela mati demi kebenaran. Mudah-mudahan kematian saya, bila dijatuhi hukuman penggal di kemudian hari karena dianggap membangkang, kelak dapat membuka mata hati Kaisar Yuan Ren Zhan supaya dapat melihat lebih jernih penderitaan-penderitaan rakyat. Saya siap menjadi tumbal demi kemakmuran di Tionggoan ini.”
“Saya tidak berani berasumsi hukuman itu pasti dijatuhkan pada diri Anda, Asisten Fa. Saya menilai tidak ada alasan yang tepat kalau Kaisar Yuan Ren Zhan mengambil keputusan keliru itu. Rasanya terlalu mahal mengorbankan seorang patriot hanya lantaran dia indisipliner, tidak menghadiri undangan yang ditujukan kepadanya atas nama Sang Kaisar. Saya harap Kaisar akan mempertimbangkan hal itu bila Anda tetap bersikeras dengan keputusan Anda yang semula itu, Asisten Fa.”
“Yah, saya harap juga begitu. Bagaimanapun, Kaisar Yuan Ren Zhan jauh lebih bijak dibandingkan dengan Kaisar Yuan Ren Xie, ayahandanya.”
“Betul, Asisten Fa.”
“Yah, mudah-mudahan saja ada pengampunan buat saya. Paling tidak, kalau Kaisar Yuan Ren Zhan pun menghukum saya, mudah-mudahan hukuman itu hanya sebatas sanksi administratif saja. Itu pun kalau beliau mengingat jasa-jasa saya di Tung Shao.”
“Ya. Saya yakin Kaisar Yuan Ren Zhan pasti bertindak bijak. Hm, kalau begitu, saya tidak akan mendesak Anda lagi untuk menghadiri undangan Istana Da-du itu, Asisten Fa.”
“Terima kasih atas pengertianmu, Bao Ling.”
Bao Ling mengangguk.
Kali ini ia benar-benar mengakuri semua tindakan tegas Fa Mulan. Dan tidak dapat membujuk dan memaksa gadis itu lagi untuk menghadiri Festival Barongsai yang akan diselenggarakan di kawasan Istana Ibukota Da-du.
“Hm, kalau begitu, saya mohon pamit.”
“Eh, tunggu,” panggil Fa Mulan, menghentikan niat Bao Ling yang hendak beranjak dari kursinya. “Udara semakin dingin. Hm, sebentar. Saya akan menyeduhkan arak untuk kamu.”
“Tidak usah repot-repot, Asisten Fa.”
“Tidak. Cuma arak kampung.”
Fa Mulan bergerak setelah terpaku beberapa lama di belakang meja tendanya. Dijawilnya dua cawan kecil yang menelungkup di atas meja. Membaliknya dengan sebuah gerakan tak lazim. Seperti menjentik, cawan tersebut terdorong mengarah tepat di depan Bao Ling. Lalu diangkatnya teko kecil yang terbuat dari tembikar itu dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain menelapak di tengah badan teko. Dengan menggunakan tenaga dalam yang tersalur melalui telapak tangan kanannya, cairan arak yang hendak diseduhkannya untuk Bao Ling memancar keluar dan tepat tak luput dari bibir cawan tanpa harus dituangkan sebagaimana lazimnya.
“Hebat. Rupanya ilmu Telapak Fa masih sehebat dulu,” puji Bao Ling kagum. “Saya salut.”
Fa Mulan tersenyum. “Tidak juga. Di waktu-waktu luang begini, biasanya saya selalu menyempatkan diri untuk melatih ilmu-ilmu beladiri yang sudah saya pelajari dahulu. Mungkin saja saya dapat mengomposisikaannya dengan beberapa ilmu silat lainnya.”
Bao Ling tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya di akhir kalimat Fa Mulan. Ia terkenang masa-masa pelatihan semasa wamil dulu. Fa Mulan adalah salah satu prajurit wamil Kamp Utara yang paling tekun dan disiplin. Tubuhnya yang terbilang kecil merupakan sebuah keterbatasan. Untuk itulah ia setiap hari melatih fisiknya seperti tanpa lelah. Ia pun berlatih jauh lebih banyak dari porsi latihan prajurit lainnya. Ia akan berusaha melakukan apa yang gagal dilakukannya dalam sebuah simulasi. Ia mengenyahkan keterbatasan fisiknya itu menjadi suatu kelebihan.
Dalam kurun waktu tak terbatas, ia menyiangi dirinya dengan tempaan-tempaan keras dan penderitaan-penderitaan yang satir menyakitkan. Namun selayaknya fenomena agrarisis, maka ketika masa tunas telah tumbuh, gadis itu telah menjelma menjadi salah satu pemimpin para prajurit di Kamp Utara. Kemenangan atas pemberontak Han di Tung Shao juga menjadi salah satu bukti keberhasilannya yang gilang gemilang.
Tentu saja semua itu tidak dapat diraih semudah membalik telapak tangan. Keberhasilan tersebut memang dibangun dari hasil kerja keras. Semangatnya yang pantang menyerah juga telah membentuknya menjadi prajurit paling tangguh di antara semua prajurit yang ada di Tionggoan!
“Anda masih seperti yang dulu, Asisten Fa. Ulet dan tekun. Pantas saja kalau hanya dalam beberapa tahun kungfu Anda sudah dapat disejajarkan dengan pesilat-pesilat tangguh di Tionggoan.”
“Kamu terlalu melebih-lebihkan.”
“Tapi kenyataannya….”
Fa Mulan terbahak. “Sudahlah, Bao Ling. Menjadi pesilat tangguh bukan cita-cita saya. Lagipula, saya mempelajari beragam dan menciptakan beberapa ilmu silat hanya sebatas beladiri saja. Tidak bermaksud apa-apa. Kalau kamu menyanjung-nyanjung saya terus, nanti saya bisa menjadi pongah.”
“Tapi, Anda memang hebat. Ilmu silat Anda juga merupakan salah satu unsur kekuatan seorang Fa Mulan, patriot Yuan di Tung Shao. Bukankah begitu, Asisten Fa?”
“Aduh, Bao Ling. Kekuatan itu tidak dapat ditakar dengan ketangguhan dan kebolehan ilmu silat yang dimiliki seseorang. Seseorang yang dianggap tangguh dan kesatria, tidak hanya semata-mata lantaran dia memiliki kemampuan serta keterampilan beladiri yang lihai dan baik. Sebenarnya banyak faktor yang membentuk seseorang menjadi kesatria.”
“Tapi, kalau bukan faktor kekuatan fisik seperti ilmu silat dan beladiri yang baik, memangnya seorang yang dianggap tangguh dan kesatria tersebut harus mengandalkan apa?”
Fa Mulan tersenyum. “Nah, kamu mulai seperti Yao.”
“Yao?” Bao Ling mengerutkan dahinya. Ia teringat prajurit mantan wamil seangkatannya di Kamp Utara tersebut. “Memangnya ada apa dengan Yao, Asisten Fa?”
Fa Mulan meneguk araknya. “Yao dulu selalu mengandalkan kekuatan fisik. Salah satu kelebihan Yao adalah postur tubuhnya yang besar, kekar, dan tegap. Tapi, tahukah kamu, hal itu sama sekali tidak menjamin dia dapat mengalahkan lawannya yang bertubuh jauh lebih kecil darinya.”
“Maksud Asisten Fa?”
“Yao pernah bertarung dengan saya di Tung Shao.”
“Dan Asisten Fa dapat mengalahkannya?”
“Benar. Tapi, hal itu bukan karena saya memiliki kemampuan beladiri lebih dari dia. Kami sesungguhnya memiliki ilmu silat yang setara meski berbeda aliran. Namun pada kenyataannya, dia tidak dapat mengalahkan saya dalam pertarungan di Tung Shao tempo hari karena dia semata-mata mengandalkan kekuatan otot. Bukan disertai kekuatan otak.”
Bao Ling mengangguk-angguk mafhum.
Ia tahu Yao memang memiliki tubuh sebesar beruang. Kekuatan fisiknya sungguh luar biasa. Kemampuan beladiri gulat Mongolnya juga sangat berbahaya. Ia dapat meremukkan tulang-tulang lawan hanya dengan satu telikungan.
“Yao mengandalkan kekuatan fisiknya semata-mata. Selain sebagai sebuah kelebihan, hal itu juga merupakan kelemahan Yao.”
“Kelemahan?”
“Ya, kelemahan. Karena menganggap lebih kuat dari lawannya, maka dia akan merangsek terus-menerus tanpa menyadari kalau energi dari tenaga besarnya tersebut suatu waktu dapat habis. Biasanya, lawan yang cerdik akan memanfaatkan hal itu sebagai senjata taktik. Lawan akan berkelit dan mengelak terus sampai tenaga besar orang seperti Yao itu terkuras. Jika sudah begitu, maka lawan dapat dengan mudah mengalahkan petarung seperti Yao, yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Jadi intinya, kekuatan fisik itu dapat menjadi bumerang.”
“Jadi maksud Asisten Fa, adalah lebih baik memadukan kekuatan otot atau fisik itu dengan kekuatan otak?”
“Benar. Karena kekuatan fisik itu memiliki keterbatasan yang bila sampai pada titik tertentu akan mengalami penurunan drastis. Sementara kekuatan otak itu nyaris tak terbatas. Kekuatan otak tersebut dapat hadir dalam keadaan paling genting sekalipun. Yah, seperti saat prajurit kita terdesak oleh pasukan pemberontak Han di Tung Shao tempo hari. Berkat ide taktik kamuflase dengan ribuan kuda tanpa penunggang, kita akhirnya dapat memukul mundur musuh yang menyemut di Tung Shao. Kekuatan otak itu di sini termasuk kecerdikan, strategi, taktik, gagasan maupun ide, dan banyak hal lain yang dapat dipergunakan sebagai senjata pamungkas seseorang dalam sebuah pertarungan.”
“Wah, Anda benar-benar lihai, Asisten Fa.”
Fa Mulan terbahak. “Ah, sudahlah, Bao Ling. Jangan memuji saya lagi. Saya tidak ingin menjadi pongah. Karena pongah juga merupakan salah satu bumerang bagi seorang pesilat dan petarung.”
Bao Ling turut terbahak.
Sesaat diamatinya wajah tirus gadis seangkatannya semasa wamil dulu dengan rona kagum sebelum meneguk araknya. Sayang ia belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya kepada gadis manis itu.