12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 26

BLOGKATAHATIKU/IST
Pada langit bergemintang
swara datang mendenting dari hati
memantul pada tubir-tubir Tembok Besar
apakah salah bila cinta ini meranggas?

Belum sempat kutebas kebas gemuruh
kala ia sudah mengoyak keping hati ini
asmara, asmara
jangan datang menyergapku
saat Tionggoan masih terluka

Fa Mulan
Nyanyian Asmara di Tembok Besar

“Kenapa tertawa?”
Shang Weng mengatupkan bibir. Berusaha menahan tawa yang masih meruap dari kerongkongannya. Gadis yang baru saja mengungkapkan perasaan hatinya itu mematung di hadapan. Seperti tidak percaya atas keterusterangannya barusan, ia mengulaikan kepala sebagai reaksi jengah keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka dapat mengungkapkan isi hatinya. Entah dorongan kekuatan gaib mana yang mendesak-desaknya untuk berkata jujur. Jujur terhadap rasa cintanya kepada pemuda bermata elang itu, yang sudah lama dipendamnya semasa wamil dulu.
“Tidak apa-apa,” jawab Shang Weng tersipu.
Fa Mulan masih tidak berani menatap wajah Shang Weng yang menyumringah. Bahkan ketika pemuda itu menggandeng tangannya untuk turun dari Tembok Besar dan masuk ke dalam tendanya, ia masih serasa bermimpi. Apakah ini emansipatif dan afeksiliasi yang kali pertama dilakukan seorang perempuan selama ditabukan ribuan tahun lamanya?!
Sungguh.
Ia merasa ajaib dengan kejadian barusan!
“Jangan bohong. Pasti ada apa-apa kalau Anda tertawa begitu, Kapten Shang.”
“Sungguh. Tidak ada apa-apa,” elak Shang Weng sembari menggayutkan sepasang tangannya yang kokoh di bahu Fa Mulan. Sesekali telapak tangannya menghapus titiktitik airmata yang masih basir menempel di pipi gadis kesatria itu.
“Tidak ada apa-apa?” cecar Fa Mulan, sekilas melirik Shang Weng yang masih menatapnya dengan lembut. “Kalau tidak apa-apa kenapa Anda tertawa?”
“Itu karena….”
“Karena apa?”
“Hm, saya pikir….”
“Anda pikir apa?!”
“Sa-saya pikir….”
Shang Weng tergeragap, menggantungkan kalimatnya sehingga tak rampung. Sesaat menekuk wajahnya dengan menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya yang sipu. Sementara itu Fa Mulan masih berusaha mencecar pemimpin tertinggi di Kamp Utara tersebut dengan beragam pertanyaan bernada penasaran.
“Pikir apa, Kapten Shang?!”
Tawa Shang Weng kembali meledak. Kali ini ia sudah tidak mampu membendung sesuatu yang menggelitik di hatinya. Gadis kesatria itu ternyata juga terdiri dari daging dan darah!
“Saya pikir seorang Fa Mulan yang perkasa pantang mengeluarkan airmata.”
“Hah, Anda meledek saya, Kapten Shang?!” jerit Fa Mulan, tanpa sadar menepuk-nepuk lembut dada Shang Weng. “Anda jahat, ya?!”
“Bukan….”
Fa Mulan memberengutkan bibir.
Sedikit merasa jengah atas sikap Shang Weng yang gurau. Ia melototkan mata menggambarkan protes. Tetapi pemuda itu malah membahanakan tawanya sehingga tenda tempat mereka bernaung seolah hendak runtuh.
“Habis, tadi saya tidak melihat Fa Mulan yang tegar dan perkasa. Tapi Fa Mulan yang gemulai, menangis layaknya gadis-gadis lain.”
“Anda sudah keterlaluan, Kapten Shang!”
“Saya tidak peduli apakah saya keterlaluan atau tidak. Yang pasti saya merasa sudah menang.”
“Menang?! Menang kenapa?!”
“Menang karena berhasil membuat seorang gadis kesatria yang heroik di Tung Shao sampai menangis berlinang air bah!”
“An-Anda….”
Shang Weng belum melepaskan tangannya yang menyandar di bahu Fa Mulan. Tawanya sudah menjelma menjadi senyum. Ia menatap lekat-lekat wajah yang menyumringah jengah di hadapannya. Yang kini menunduk entah karena digolak rasa apa di hatinya.
“Tolong jangan panggil saya dengan nama Kapten lagi.”
“Memangnya kenapa?”
“Kamu sudah menjadi milik saya.”
“Saya tidak mau bersikap kurang ajar terhadap atasan saya atas alasan apa pun. Apa kata prajurit-prajurit lainnya bila menyaksikan tindakan saya yang tidak santun begitu pada Anda. Maaf, saya tidak bisa memberi contoh yang kurang baik pada prajurit-prajurit lainnya.”
“Saya adalah kekasih kamu. Begitu pula sebaliknya, kamu adalah kekasih saya. Jadi kamu memiliki legitimasi untuk itu.”
“Siapa bilang begitu?” Fa Mulan kembali melototkan mata. “Kalau saya cinta Anda, itu belum tentu berarti saya harus menjadi milik Anda, Kapten Shang. Jadi….”
“Tapi kamu sangat berarti bagi saya, Mulan. Saya ingin kita lalui hari-hari yang panjang ini bersama-sama. Saya ingin menikahi kamu!”
Fa Mulan terkesiap.
Sesaat seperti terentak oleh permintaan Shang Weng yang tulus untuk menikahinya. Namun diwajarkannya sikap dengan tersenyum. Seolah tidak terpengaruh oleh kalimat indah selantun litani dari svargaloka tersebut.
“Saya belum siap,” tolaknya. “Masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain urusan pribadi. Kaisar Yuan Ren Zhan masih membutuhkan kita sebagai abdi negara. Untuk saat ini, yang saya pikirkan hanya masalah negara. Lagipula, saya tidak dapat hidup tenang kalau keadaan negara terus dirongrong perang.”
“Tapi sampai kapan, Mulan?!” protes Shang Weng, melepas tangannya dari bahu Fa Mulan. “Apa kamu lupa kalau suatu saat kita semua akan tua?!”
“Tentu saja semua orang akan menjadi tua. Saya juga tahu kalau tidak ada seorang pun yang dapat luput dari hukum alam tersebut. Tapi, alangkah bahagianya kalau dunia ini tenang tenteram tanpa perang. Sebagai prajurit, saya bertanggung jawab moral memikirkan masalah-masalah negara. Bukankah memerangi semua masalah keamanan negara merupakan tanggung-jawab semua warga? Terus terang, saya tidak dapat lepas tangan menyaksikan kekacauan-kekacauan yang terjadi. Saya tidak akan pernah dapat hidup tenang seandainya lari dari tanggung-jawab. Jadi, saya harap Anda bisa paham keputusan saya untuk tidak memberikan jawaban saat ini.”
 “Saya salut dengan keputusan kamu. Tapi, kapan kamu dapat memikirkan diri kamu sendiri?”
“Saya bahagia apabila negara kita tenteram, Kapten Shang.”
“Tapi tidak mesti sampai sebegitu ekstrimnya mengorbankan diri, Mulan!”
“Mati untuk negara pun saya rela.”
“Kamu keras kepala!”
“Mungkin. Tapi saya rasa apa yang saya korbankan belum ada apa-apanya bagi negara.”
Shang Weng mendengus. “Kepentingan negara dan kepentingan pribadi dapat berjalan seiring, Mulan.”
“Tidak mudah membagi dua kepentingan sekaligus secara adil dan berimbang, Kapten Shang.”
“Tapi….”
Fa Mulan bangkit berdiri dari duduknya.
Sosoknya membayang sebesar gergasi di dinding kulit kempa lembu tenda disorot cahaya penerangan lampu minyak ketika ia sudah menjarak tiga kaki dari meja. Dijauhinya Shang Weng yang masih duduk dengan rupa gelisah di meja kayu persegi tendanya.
Kali ini ia memang harus menampik akumulatif cinta pemuda itu. Pernikahan merupakan momen indah yang masih serupa angan-angan di benaknya. Sungguh. Ia memang belum siap untuk menerima hal yang mengawang-awang tersebut meski cetusan akur darinya hanya sebatas menganggukkan kepala.
“Maafkan saya, Kapten Shang. Biarlah semua itu kita serahkan kepada Dewata di langit.”
Shang Weng mengangguk getas.
Kalimat sanggahan yang hendak keluar dari tenggorokannya mendadak membeku di bibir. Angannya untuk membangun rumah tangga dengan gadis itu terempas jatuh ke tanah. Mungkin ia perlu belajar untuk bersabar. Menunggu sampai hati gadis itu terenyuh. Dan menerima utuh kehadiran dirinya.
Sebab maharana memang masih merisaukan hati gadis itu. Patriotismenya jadi tertantang. Memang benar. Bangsa ini memerlukan kepedulian. Jauh di atas kepentingan-kepentingan pribadi.
“Maaf kalau saya tadi sedikit memaksa,” ujar Shang Weng lirih. “Semua saya lakukan karena saya sangat mencintai kamu.”
“Tidak apa-apa, Kapten Shang,” balas Fa Mulan, berbalik dari tatapannya yang terawang pada dinding kulit kempa lembu tenda. Seperti menyadari dirinya telah larut dalam kubangan durja, ia pun menyeret langkahnya dan duduk kembali di belakang meja. “Saya dapat memafhumi tindakan Anda yang progresif.”
Shang Weng mencondongkan badannya lebih dekat ke arah Fa Mulan. Ditatapnya lamat lekuk garis wajah gadis itu yang kini menjingga keperakan ditimpa sinar lampu minyak. Ketegasan pada raut belia itu telah menggambarkan serangkaian perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Juga pahit getir kenangan yang semakin mendewasakannya.
“Saya tidak perlu mendengar kalimat maafmu, Mulan.”
“Kenapa?”
“Saya tidak merasa kamu pernah berbuat salah terhadap saya.”
“Tapi, saya selalu membuat Anda gusar.”
“Itu karena kesalahan saya sendiri.”
“Kalau bukan permintaan maaf, lantas saya harus berbuat apa untuk menebus kesalahan saya kepada Anda, Kapten Shang?”
“Hei, untuk apa minta maaf kalau kamu tidak pernah berbuat salah sama saya.”
“Lalu….”
“Saya cuma minta kamu jangan memanggil saya lagi dengan Kapten.”
“Saya tidak bisa!”
“Harus bisa! Ini perintah!”
“Dipenggal pun saya tidak akan pernah mau.”
“Kenapa?”
“Karena Anda adalah atasan saya.”
“Hei, siapa juga yang bilang kalau saya ini merupakan bawahan kamu.”
“Justru karena itu saya harus tetap memanggil Anda dengan Kapten. Kecuali….”
“Kecuali apa?”
“Kecuali saya yang Kapten, dan Anda yang Asisten.”
“Hah?! Jadi, kamu bermaksud menggantikan posisi saya?”
“Memangnya kenapa kalau iya?”
“Hei, berarti kamu bermaksud makar ya?”
“Bukan makar. Tapi merebut kekuasaan dari tangan Anda.”
“Hah, bernyali sekali!”
“Apa salah? Memangnya, hanya Anda yang dapat menduduki jabatan posisi atas?”
“Kalau begitu, saya memiliki alasan kuat untuk memenggal kepalamu!”
“Hah, sebegitu kejamnya?”
“Ya, masih lebih baik kalau cuma kepala kamu yang dipenggal. ”
“Memangnya….”
“Tentu saja. Kalau hukuman untuk kamu itu ‘harus segera menikahi saya’, apa kamu mau?”
Fa Mulan terkikik.
Suram suasana serupa mendung tadi kini disaput senyum dan tawa. Shang Weng mengurai kalimat jenaka. Membiarkan gadis yang dikasihinya terbahak untuk sesaat.
“Hah, memangnya kita ini sedang membahas masalah apa? Memangnya Anda ini Sang Kaisar yang ingin saya kudeta apa?”
Mereka masih tertawa ketika terdengar derap-derap kuda yang menderas mengarah ke tenda, memecah kesunyian malam di Tembok Besar. Fa Mulan berdiri. Menyeret langkahnya ke ujung tenda. Menyibak salah satu daun tenda sebelum melongokkan kepala keluar. Dilihatnya lima prajurit jaga tengah mendekati sang Penunggang Kuda.
“Maaf mengganggu istirahat kalian,” sahut sang Penunggang Kuda. “Saya Prajurit Kurir Bao Ling. Datang membawa maklumat atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan!”