12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 25

BLOGKATAHATIKU/IST
Langit samar berkata
lewat awan-awan sebagai penyerunya
dan seribu unggas yang migran
“Datanglah, Magnolia!”

Namun Engkau tak kunjung tiba
terlebih menari di padang lalang
lalu rintih itu menyurut
diembus angin nan bising

Oh, Magnolia
jangan biarkan halilintar menggasing
dan membiramakan amarah deraunya
pada desing telingaku

Bicaralah
di manakah Engkau maharani?
Tionggoan telah terluka

Bao Ling
Lagu Magnolia

Ia dapat merasakan betapa naifnya jiwa dalam kekerdilan ini. Ratusan pasang mata selaksana mambang mengawasinya dari renggang dedaunan yang setipis bilah rambut. Setiap saat ia dapat ditikam dari belakang sampai pangkal pedang musuh tertancap dan memboyak punggungnya. Keringatnya menitik seperti bulir padi. Jatuh satu-satu.
Rengsanya menegak kala diresapinya ketakutan itu sebagai hal yang lumrah. Sisa-sisa kegentaran yang menghinggapinya seperti mambruk pada dahan rapuh, tergebah oleh satu kekuatan bermuasal dari naluri kependekarannya. Dipacunya langkah kuda lebih cepat dari semula. Melewati beberapa rintangan bambu runcing yang dipasang untuk menjebak dan membinasakannya di tengah hutan.
Sebilah anak panah melesat melewati ceruk dagu dan tenggorokannya. Lesatan anak panah lainnya datang susul menyusul ditangkisnya dengan kibasan-kibasan tombaknya yang berputar serupa propeler.
Ia masih memacu laju kudanya dengan beragam kisah yang membebani benaknya. Suatu saat nyawa yang mengaliri nadi-nadi dan urat-urat syarafnya akan tercabut dari raganya. Dimafhuminya hal itu sebagai konsekuensi tugas moral yang diembannya kini. Mungkin di hutan ini. Mungkin juga bukan di hutan ini. Tetapi pada suatu tempat di mana maharana meranggas seperti padang lalang yang menusuk-nusuk kafilah.
Telah lebih dari seribu kejadian. Ketangkasan hanyalah keahlian yang dapat meluputkan ia sesaat dari maut. Kepasrahan pada kematian adalah hal terpenting dalam meringankan batinnya.
Tiga belas mil telah ditempuhnya menjauhi Ibukota Da-du menuju daerah perbatasan Tionggoan-Mongol di pos pengawasan Tembok Besar. Satu rintangan telah dilaluinya. Dan ia sadar akan menghadapi rintangan-rintangan berikutnya. Nyawanya hanya selembar. Sepantasnya memang diisi dengan hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan. Bukankah itu merupakan warna terindah bagi kehidupan?
Ia tersenyum.
Masih memacu kudanya secepat lesatan anak panah. Ia teringat Fa Mulan yang sebentar lagi akan ditemuinya di pos pengawasan Tembok Besar. Magnolia itu telah memperindah serumpun lalang dan rumput di tanah yang kerontang. Bukankah hal tersebut sudah diwujudkan gadis Fa Mulan pada Tionggoan yang mawai oleh maharana?
Lamunannya buyar oleh sekelebat sosok hitam yang mengambang di atas kepalanya. Seperti terbang, sosok itu mengepak-epakkan kakinya serupa sayap kelelawar. Menyambar dan meliuk sangat dekat sampai-sampai kucirnya mengibas terkena angin yang mendesau dari arah depan. Sosok hitam itu seolah kelelawar yang hendak mematuk dengan sepasang gigi taringnya.
Bao Ling mengelak, salto dan berguling-guling ke tanah menghindari sayatan pedang yang tiba-tiba keluar dari balik jubah hitam si Penyerang Misterius yang mengganggu perjalanannya. Kudanya mengikik dan berhenti mendadak tidak jauh dari tempatnya memijak.
Sosok hitam-hitam tersebut terus mendesaknya saat sepasang kakinya yang menyepak-nyepak udara tadi menjumput tanah. Tusukan-tusukan pedangnya yang mengilap dan terpantul sinar jingga rembang petang masih meliuk-liukkan badan obyek sasarannya seperti trenggiling.
Bao Ling bangkit berdiri dengan satu gerakan memutar setelah memantulkan kakinya ke sebatang bambu. Setelah sigap berdiri, ia mengangkat dirinya dengan gaya terbalik menghindari tusukan bertenaga pedang musuh. Tubuhnya melayang ditopang sebilah tombaknya yang bertumpu vertikal di tanah. Kini ia sudah berada di atas kepala musuh dengan tubuh terbalik.
Di atas ia lebih leluasa melancarkan balasan. Dan kepala musuh menjadi titik terbaik untuk pelumpuhan. Sejurus saat masih mengambang di udara, Bao Ling melancarkan satu totokan jari telunjuk untuk mengikat mati simpul syaraf tepat di ujung ubun-ubun penyerang misterius tersebut. Namun seperti sudah mengetahui niat lawannya, sosok berpakaian hitam-hitam itu menangkis jari telunjuk Bao Ling dengan kepitan jari telunjuk dan jari tengahnya. Seperti sepasang sumpit bambu yang mengapit erat sebatang sosis.
Menyadari kegagalan serangannya yang mematikan itu, Bao Ling pun sesegera mungkin melancarkan tendangan bertubi-tubi ke wajah lawannya ketika tubuhnya memutar normal. Jari telunjuknya terlepas dari kepitan jemari lawan yang sekeras kepit kepiting karena konsentrasi sang lawan yang terburai saat menghindari tendangan sekuat sepak kudanya.
Si penyerang misterius itu sedikit terdesak oleh serangan Bao Ling yang akurat dan bertubi-tubi. Namun rupanya ia bukan orang berilmu beladiri rendah. Buktinya tendangan cangkul dari Prajurit Kurir Yuan itu yang biasanya ampuh menyepak titik sasaran dahi dengan tepat dapat dihindarinya dengan satu kelitan badan seluwes walet.
Seperti menyadari beberapa falsafah silat yang pernah dipelajarinya bahwa, salah satu pertahanan terbaik ada dalam bentuk penyerangan, maka Bao Ling pun tak mengendurkan serangan-serangannya yang keras dan bertenaga. Tubuhnya yang tinggi dan jangkung memang senantiasa mendistribusikan energi potensial, sehingga lawan-lawan yang kerap dihadapinya kewalahan menahan pukulan-pukulan dari arah atas ke bawah. Dan biasanya setelah melewati serangkaian jurus yang memakan waktu cukup lama, maka tenaga lawan yang hanya dapat menangkis dan menangkis akan terkuras dengan cepat. 
Tetapi meski agak terdesak mundur, sosok berbalut jubah hitam dengan sampur gelap senada yang menutupi kepalanya itu tetap menyimpan marabahaya. Dan sesekali menyulitkan Bao Ling dengan tohokan-tohokan pedang bajanya yang tajam. Beberapa saat terdengar dentingan mata tombak dan ujung pedang yang beradu. Nada dentingan benda logam itu diikuti oleh merebaknya dedaunan kerontang di radius pertempuran. Sesaat laga dua pendekar itu masih berimbang.
“Siapa kamu?!” teriak Bao Ling sebagai upaya taktik memecah konsentrasi musuhnya.
“Tidak perlu kamu tahu sebab ajalmu sudah di ujung pedang saya,” balas si Penyerang Misterius itu.
Bao Ling tidak terpancing mendengar kalimat satir musuhnya. Ia masih berkonsentrasi mengoyak pertahanan lawan dengan menusuk-nusuk tombak ke bagian vital badan lawan. Si Penyerang Misterius itu masih menangkis dengan mengibas-ibaskan pedangnya serupa propeler.
“Oya?” umpat Bao Ling, balas memancing amarah lawannya saat senjata mereka saling menyilang di udara. Pergerakan mereka menjeda. Saling tatap dengan mata mawas dan menantang. “Kalau begitu, keluarkan semua kekuatanmu!” lanjut Bao Ling saat senjata mereka kembali berdenting-denting di udara, dan sesekali mendesing-desing di dekat kepala masing-masing.
“Nah, bersiap-siaplah untuk mati!” teriak si Penyerang Misterius itu sembari balik menyerang dengan sepenuh tenaga sampai urat-urat di sekujur lehernya tampak menegang. “Awas! Rasakan pedang ini!”
“Baik kalau kamu tetap bersikeras untuk membunuh saya. Saya akan ladeni.”
“Jangan banyak bicara, Keparat!”
“Silakan. Tunjukkan seluruh kemampuan silat yang kamu miliki!”
“Kurang ajar!”
“Ayo!”
“Mampus kamu!”
“Ayo, jangan buang-buang waktu lagi. Saya tidak ingin meladeni cecunguk seperti kamu. Rasanya terlalu mahal waktu saya untuk dipakai bertarung dengan pesilat pemula semacam kamu! Masih ada hal penting yang harus saya kerjakan selain meladeni manusia pengecut seperti kamu!”
Si Penyerang Misterius itu akhirnya terpancing. Ia kalap. Menyerang secara membabi-buta dengan mengerahkan seluruh kemampuannya.
“Saya bunuh kamu! Saya bunuh kamu!” teriaknya histeris, merasa frustasi karena tak satu pun sabetan pedangnya mengenai tubuh lawannya.
“Ayo, cepat! Saya tidak punya banyak waktu lagi untuk melayani orang pongah seperti kamu!”
“Awas kamu! Saya bunuh kamu!”
Bao Ling masih bersabar dan tidak kesusu menyudahi duelnya.
Ia hanya menggunakan ilmu silat dasar pada awal pertarungan, bermaksud melumpuhkan dan bukan untuk membunuh lawannya. Namun si Penyerang Misterius tersebut masih saja berusaha merangsek maju meski terdesak mundur. Musuhnya itu memang sangat bernafsu menghabisi nyawanya.
Pertarungan kali ini memang menyita banyak waktunya.
Meski tidak memiliki ilmu silat yang tinggi dan istimewa, tetapi si Penyerang Misterius itu sangat gesit dan lincah. Tohokan-tohokan tombak panjangnya dapat dihindarinya dengan hanya memutar-mutar kepala dan sedikit badannya tanpa harus menyeret kaki. Lalu sesekali ia melompat-lompat seperti kera.
Bao Ling sudah meningkatkan serangannya dengan menggunakan jurus-jurus maut. Tongkat Naga merupakan salah satu jurus andalannya. Tombaknya jadi lebih bertenaga, seperti mengandung kekuatan bertenaga dalam yang tersalur melalui lengannya yang kokoh. Tombaknya bergerak sangat cepat dari tangan kanan ke tangan kiri. Sesekali menggantung di badannya, berputar untuk beberapa saat sebelum gagang tombaknya mengarah menonjok ke dada lawannya tersebut.
Lelaki misterius itu terentak ke belakang.
Namun ia masih dapat menahan limbung tubuhnya dengan berdiri seimbang pada sepasang kakinya yang tegap. Bao Ling tidak ingin melepaskan peluang saat melihat musuhnya terdesak, mengendurkan pertahanan karena menahan sakit akibat tohokan gagang tombaknya barusan. Dilemparkannya tombaknya ke atas kepalanya. Tombaknya memutar serupa propeler dan melayang di udara. Sekedip mata tombaknya sudah berada kembali di tangannya. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi karena refleks telah mengecoh mata dan perhatian lawannya, ia melemparkan tombak tersebut dengan sekuat tenaga. Tombaknya bergerak secepat kilat, lurus dan terarah menghantam kembali ke dada lawannya itu.
Sepasang mata si Penyerang Misterius itu membeliak lewat celah pada sampurnya. Dan ia terlongong dengan mulut menganga saat tombak Bao Ling sudah menancap di dada kirinya. Darah tampak mengucur dari dadanya bersamaan dengan ambruknya tubuhnya yang melimbung. Ia pun terempas jatuh ke tanah. Menelentang mati dengan tombak yang masih menghunus di dada kirinya.
Bao Ling mendekat.
Mencabut tombaknya dari jasad lelaki yang menyerangnya secara misterius tersebut. Setelah itu ia membungkuk, duduk melutut di sisi mayat lelaki itu. Disibaknya sampur yang menutupi wajah lelaki yang sudah dilumpuhkannya itu kemudian. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat wajah si Penyerang Misterius yang sudah memucat itu.
“Zhung Pao Ling?!”
Bao Ling menahan napasnya.
Dahinya mengerut. Sama sekali tidak menyangka kalau si Penyerang Misterius tersebut adalah salah satu pemimpin prajurit intelijen Istana Da-du yang sudah dikenalnya lama. Tetapi, untuk apa Zhung Pao Ling ingin membunuhnya?! Bukankah mereka sama-sama prajurit Yuan, yang mengabdi dan berjuang untuk Kaisar Yuan Ren Zhan?! tanyanya membatin.
Sesaat Bao Ling menggeleng sebelum menutup kelopak mata mayat sahabat seperjuangannya itu dengan sekali sapuan telapak tangan. Tak ada bukti yang dapat menunjukkan siapa dalang sebenarnya dari usaha pembunuhan dirinya setelah tubuh jenazah diperiksa sebentar tadi. Ia berdiri. Menghela napas panjang.
Ah, konspirasi apa lagi yang akan terjadi untuk menggulingkan kekuasaan Kaisar Yuan Ren Zhan?!
Bao Ling membatin getir sebelum melompati punggung kudanya tanpa menapaki sanggurdi, dan memacu langkah hewan bertenaga serta bernapas kuat itu dengan gebahan sepasang tumitnya pada perut kuda. Ia mesti cepat-cepat ke pos pengawasan Tembok Besar. Menyampaikan maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan untuk Fa Mulan yang dimutasikan di sana setelah kemenangan gemilangnya atas penumpasan pemberontakan Han di Tung Shao.
Mumpung masih ada waktu.