12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 24

BLOGKATAHATIKU/IST
Hingar benar denting itu
hingga menulikan sepasang gendang telinga
ada apa dengan semesta?
sehingga mentari pun tak lagi ramah
aku serasa dilalap murka
rudapaksa serupa pewaka

Kao Ching
Kisah pada Busur dan Anak Panah

Seminggu menjelang Festival Barongsai kawasan Istana Da-du tampak riuh dengan segala aktivitas penyambutan. Ibukota Da-du mendadak meramai oleh nuansa euforia, selayaknya penyambutan tahun baru penanggalan lunar Imlek yang sudah turun-temurun dirayakan rakyat Tionggoan. Masyarakat antusias menyiapkan diri ikut perayaan besar yang diselenggarakan Kaisar Yuan Ren Zhan sebagai simbolis kemenangan Yuan atas pemberontakan Han. Sebagian penduduk dari kalangan terpandang berbondong-bondong untuk turut menjadi peserta lomba barongsai tersebut.
Perguruan silat ternama juga tidak mau ketinggalan. Mereka malah sudah mempersiapkan diri berlatih jauh-jauh hari. Selain karena acara Festival Barongsai tersebut akan disaksikan oleh Sang Kaisar sendiri, juga karena lomba dalam Festival Barongsai tersebut menyediakan hadiah yang sangat menggiurkan bagi para pemenang.
Festival Barongsai itu sebetulnya lapat-lapat terdengar sebagai ajang pencarian bakat pewushu handal di balik euforia kemenagan Yuan atas musuh pemberontak Han di Tung Shao dan perbatasan Tembok Besar. Karenanya, Festival Barongsai itu dapat diikuti oleh khalayak umum dari kalangan manapun. Namun di balik itu, ada hal yang sebenarnya paling mendasari diselenggarakannya acara akbar inisiatif Sang Kaisar tersebut. Bahwa acara yang terbilang megah itu bertujuan memploklamirkan Yuan sebagai penguasa tunggal Tionggoan. Tionggoan di bawah Dinasti Yuan yang telah melahirkan prajurit-prajurit handal dan loyal seperti Fa Mulan.
Namun Kaisar Yuan Ren Zhan tidak pernah berterus terang mengungkapkan empati bangganya terhadap aksi heroik Fa Mulan. Justru Jenderal Gau Ming-lah yang gamblang ingin memberikan tanda penghormatan pada tindakan penyelamatan gemilang gadis mantan wamil itu pada Dinasti Yuan. Dan secara pribadi ia selalu mengagung-agungkan sosok Fa Mulan di hadapan penguasa tertinggi Tionggoan tersebut.
Tetapi seminggu menjelang Festival Barongsai itu pulalah, jenderal ahli strategi itu digamangkan oleh sebuah kasus yang baru terungkap sekarang. Berita yang diperolehnya dari pihak intelijen Istana membuatnya sangat terpukul. Sama sekali tidak menyangka persiapan pesta besar Istana Da-du yang telah rampung sempurna itu akan direcoki oleh satu hambatan besar. Dan lagi-lagi berasal dari biang pengganggu ketenteraman negara. Pemberontak Han!
“Kami menemukan indikasi adanya penyusupan jasus musuh ke dalam Istana Da-du, Jenderal Gau!”
“Apa?!” Jenderal tua itu melotot. Matanya yang sebesar kuaci itu membolide. Terperangah untuk beberapa saat sebelum menormalkan peredaran hormon adrenalin yang tiba-tiba menjalar seperti lahar di sekujur nadinya.
“Maaf, Jenderal Gau!” Zhung Pao Ling mengepalkan tangannya dengan sikap hormat disertai sedikit bungkukan badan sebagaimana lazimnya. Prajurit Kepala Intelijen itu tampak merasa bersalah, menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap wajah tua di hadapannya.
“Seminggu lagi Festival Barongsai sudah dimulai! Saya tidak ingin acara yang diselenggarakan kaisar itu hancur berantakan gara-gara ada pengacau kecil!” geram Jenderal Gau Ming dengan mimik gamang.
“Maaf, Jenderal Gau. Saya siap menerima hukuman. Ini kesalahan saya!”
“Sekalipun kepala kamu dipenggal, hal itu tak akan mampu menghapus coreng malu di wajah kaisar apabila terjadi gangguan sekecil apa pun pada Festival Barongsai minggu depan!”
Zhung Pao Ling terdiam.
Entah harus menjawab apa menanggapi kegusaran Jenderal Gau Ming. Diedarkannya mata ke sekeliling ruangan markas strategi sebagai reaksi kegamangannya. Ruangan tersebut sudah menjadi lafaz kehidupan jenderal tua itu sekarang, sejak Kekaisaran Yuan diganyang oleh pemberontakan dari kaum jelata Han dan nomad Mongol, Jenderal Gau Ming saban hari duduk menyendiri di belakang meja strategi. Memang, tentu bukan perkara gampang kalau jasus musuh sudah sampai memasuki lingkungan Istana Da-du. Selain Jenderal Gau Ming, maka ialah yang merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Sang Kaisar di Istana Da-du.
Seharusnya jauh-jauh hari ia sudah harus mengantisipasi hal itu. Namun memang tidak mudah mengawasi ribuan peserta Festival Barongsai yang berasal dari berbagai negeri. Dan ketika sehari sebelum tiba pada saat festival, ia baru mengetahui kalau di dalam lingkungan Istana Da-du sudah menelusup beberapa orang jasus musuh. Kali ini mereka ikut sebagai peserta Festival Barongsai.
“Sekarang, saya tidak peduli bagaimana cara kamu mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan! Lekas ambil tindakan pencegahan, serta perketat pengawasan kepada setiap peserta Festival Barongsai. Jangan sampai ada yang luput!”
“Baik, Jenderal Gau!”
Zhung Pao Ling kembali menghormat dengan takzim sebelum meninggalkan ruangan strategi. Ia melangkah setelah pamit lewat bahasa gerak tubuhnya. Tidak ada basa-basi lagi. Ia harus segera mengenyahkan jasus yang sudah mengendap masuk ke dalam Istana Da-du. Mereka pasti bukan orang biasa kalau dapat lolos dari penjagaan ekstra ketat di gerbang masuk kawasan Istana Da-du. Namun sebelum hal yang terburuk terjadi, maka ia rela mengorbankan nyawanya mulai dari sekarang.
“Tunggu.”
Prajurit loyal bertubuh jangkung itu tertahan di bawah bingkai pintu keluar, lalu membalikkan badan oleh satu panggilan yang berdesibel tinggi di gendang telinganya.
“Hormat saya,” ujarnya spontan. “Apa yang dapat saya lakukan lagi untuk Anda, Jenderal Gau?”
“Cepat sampaikan pesan saya ke Prajurit Kurir Bao Ling di luar markas. Segera hubungi saya di sini.”
“Siap, Jenderal Gau.”
“Nah, cepatlah. Saya ingin dia menyampaikan sekali lagi undangan pesta Festival Barongsai ke Asisten Fa Mulan. Saya ingin Asisten Fa Mulan hadir juga di Istana Da-du. Saya khawatir musuh sudah berada di sekitar Kaisar. Mungkin juga ada musuh dalam selimut. Entahlah. Saya dapat bernapas lega kalau sudah ada Asisten Fa Mulan di sini!”
“Siap, Jenderal Gau.”
Zhung Pao Ling meninggalkan ruangan strategi dengan langkah gegas. Diayunkannya kaki secepat mungkin ke alun-alun markas. Menghubungi sesegera mungkin Prajurit Kurir Bao Ling yang sedang mengaso di sana.
  
***

Bao Ling sedang mengamati ratusan prajurit yang tengah berlatih. Kadang-kadang ia turut membetulkan gerak dan jurus-jurus yang salah diperagakan oleh beberapa prajurit. Akurasi tusukan tombak sangat penting untuk bekal dalam perang nantinya. Salah berarti maut. Makanya, ia yang sangat memahami dan ahli beladiri bersenjata toya serta tombak sangat memperhatikan kesalahan-kesalahan kecil yang kerap menjadi kendala di kemudian hari.
“Konsentrasi.”
Bao Ling terdengar mengaba-aba, sesekali menyentuh lengan atau bahu seorang prajurit yang bermandi peluh.
“Ya, ya. Konsentrasi. Pusatkan mata kalian pada satu titik saat menombak!” tegasnya dengan setengah berteriak. “Ayo, kerahkan tenaga kalian. Dalam perang hanya ada dua pilihan. Hidup atau mati. Tidak ada yang namanya setengah-setengah. Kalian harus camkan itu semua. Ingat, nyawa kalian tergantung pada ketangguhan diri kalian masing-masing. Hidup mati kalian terletak di tangan kalian sendiri. Jadi jangan pernah berpikir untuk setengah-setengah. Menganggap remeh lawan karena lemah, ataupun sebaliknya. Jadi, jangan sampai lengah. Ingat, konsentrasi!”
Zhung Pao Ling menghampi prajurit kurir tangguh Yuan itu sesampainya di area latihan. Ternyata Bao Ling masih menyempatkan dirinya melatih beberapa ratus prajurit Kavaleri Infanteri setelah beristirahat sebentar seusai makan siang. Ia membantu instruktur kepala yang memiliki kemampuan beladiri setingkat di bawah dengannya.
“Maaf, saya mengganggu aktivitas Anda, Prajurit Kurir Bao.”
“Oh, tidak apa-apa,” balas Bao Ling, meninggalkan area latihan sampai beberapa langkah sembari menyeka keringat di dahinya. “Ada apa, Prajurit Zhung?”
“Jenderal Gau Ming memanggil Anda. Sekarang Anda sedang ditunggu di ruang strategi,” tutur Zhung Pao Ling diplomatis. “Hm, kalau tidak ada apa-apa lagi, saya mohon pamit.”
“Terima kasih, Prajurit Zhung,” angguk Bao Ling sesaat sebelum lelaki bertubuh jangkung itu pamit dan berlalu dari hadapannya.
Bao Ling melangkah ke ruang strategi yang terletak tidak jauh dari area latihan setelah membetulkan dan merapikan gelungan seragamnya. Pasti ada hal penting yang hendak disampaikan mendadak kepadanya. Ia sudah tahu benar watak jenderal tua itu. 
“Hormat saya kepada Anda, Jenderal Gau,” sapanya santun saat memasuki bingkai pintu ruang strategi.
“Masuklah, Prajurit Kurir Bao.”
“Terima kasih.”
Jenderal Gau Ming berdiri dari duduknya. Ia melangkah menghampiri pemuda yang menjadi andalah Kekaisaran Yuan untuk hal-hal yang sangat urgensi seperti pengiriman kawat dan manuskrip kepada pihak berwenang.
“Saya ingin Prajurit Kurir Bao segera ke Tembok Besar, menyampaikan undangan Istana Da-du kepada Asisten Fa Mulan sekali lagi. Selain untuk menghargai jasa-jasanya menghalau pergerakan pasukan pemberontak Han di Tung Shao, kehadiran Asisten Fa Mulan juga diperlukan untuk mengantisipasi jasus yang sudah menyelinap di kawasan Istana Da-du.”
 “Ja-jasus?!”
“Ya. Menurut data intelijen yang telah kita peroleh, jasus dari pihak Han telah memasuki kawasan Istana Da-du, dan ikut sebagai salah satu peserta Festival Barongsai. Ada indikasi bahwa mereka menjadikan Kaisar Yuan Ren Zhan sebagai obyek sasaran pembunuhan. Belum jelas memang. Tapi kalau benar, maka hampir dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang suruhan mantan jenderal Yuan, Shan-Yu!”
“Jadi, apa yang mesti kita lakukan untuk mencegah rencana busuk pihak Han, Jenderal Gau?!”
“Itulah yang merisaukan saya saat ini! Makanya, saya harap Asisten Fa Mulan dapat hadir sebelum acara Festival Barongsai dimulai. Mungkin dengan kehadirannya, pihak Han ragu melaksanakan rencananya tersebut.”
Bao Ling mengangguk-angguk.
Ia mafhum atas ketenaran nama Fa Mulan yang tiba-tiba melejit sejak aksinya yang terbilang heroik di Tung Shao. Kini semua mata seolah tertuju kepada gadis yang baru berusia belasan itu. Kecerdikan dan ketangkasan Fa Mulan menjadi buah bibir semua atase militer dan jenderal di Ibukota Da-du. Ia bahkan jauh melampaui kapabilitas beberapa petinggi militer Yuan, termasuk Kapten Shang Weng yang sudah lama mengabdi dan memimpin di Kamp Utara.
Tetapi perempuan yang terlahir sebagai anak tunggal di keluarga Fa itu memang bukan gadis biasa. Anugerah cerlang segemerlap bintang-bintang di belahan timur langit seperti menaunginya. Menyertai langkahnya yang terseok oleh sarat beban pranata. Kegigihannya sebagai prajurit paling sejati di antara prajurit Tionggoan telah menyibak sampur kelabu yang dinaungi bagi kaumnya turun-temurun.
Tak sadar Bao Ling tersenyum.
Fa Mulan adalah Magnolia. Ia seolah mewakili satu koloni yang dianggap lemah, dan hanya terlahir serta hadir sebagai penghias dunia yang telah dihuni oleh laki-laki. Kadang-kadang kalimatnya seperti racau kala menyuarakan kegelisahan batinnya.
Idealisme perempuan!
Hah, sesuatu yang perlu ia bangun seribu tahun lamanya lagi! batinnya.
“Tapi, apakah Asisten Fa Mulan bersedia menghadiri acara Festival Barongsai itu, Jenderal Gau?” tanya Bao Ling ragu, lebih terdengar kepada dirinya sendiri ketimbang sebuah kalimat tanya untuk lawan bicaranya. “Bukankah Asisten Fa Mulan pernah menolak undangan yang pernah saya sampaikan kepadanya sebulan lalu?”
Ia ingat bagaimana penolakan Fa Mulan terhadap undangan atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan sekalipun! Ia masih ingat bagaimana bersikukuhnya gadis itu terhadap prinsipnya yang keras. Dan mengatakan Festival Barongsai yang diselenggarakan Sang Kaisar itu merupakan euforia yang sepatutnya tidak pantas dilakukan pada saat situasi dan kondisi negara masih labil.
“Bujuk kembali Asisten Fa Mulan agar mau hadir dalam acara Festival Barongsai itu.”
“Maaf, Jenderal Gau! Tapi saya skeptis dalam hal ini. Asisten Fa secara tegas telah menolak menghadiri acara tersebut. Berkali-kali saya membujuknya, tapi dia berasumsi kalau kehadirannya tidaklah lebih penting dibandingkan tetap waspada menjaga daerah perbatasan di pos pengawasan Tembok Besar. Lagipula, Kapten Shang Weng masih dalam tahap proses penyembuhan luka lamanya. Jadi, Asisten Fa belum dapat mendelegasikan tugasnya kembali kepada Kapten Shang Weng.”
“Bagaimana mungkin dia menolak menghadiri acara atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan?!”
“Tapi….”
“Katakan ini perintah!”
Jenderal Gau Ming tampak emosional.
Amarahnya masih belum surut saat mendengar Zhung Pao Ling mengabarinya perihal penyusupan jasus Han itu. Kalimatnya mengguntur tanpa sadar. Namun selekas mungkin dihelanya napas panjang untuk menetralisir emosinya yang meletup dengan basuhan partikel udara yang sedikit mendinginkan dinding paru-parunya.
Bao Ling kembali mengatupkan kedua belah tangannya ke depan membentuk hormat.
“Baik, Jenderal Gau. Saya akan menyampaikan amanat Anda sesegera mungkin.”
“Tolong katakan kepadanya, kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Istana Da-du. Dia adalah simbol keberhasilan armada perang kita. Adalah penghormatan besar apabila Asisten Fa Mulan dapat hadir dalam acara Festival Barongsai nanti.”
“Akan saya sampaikan, Jenderal Gau.”
“Terima kasih. Nah, berangkatlah. Dan juga tolong katakan kepadanya, undangan ini atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan.”
“Baik, Jenderal Gau.”
Tak berapa lama setelah berada di luar ruang strategi militer, tampaklah seekor kuda melesat bagai anak panah membelah udara senja keluar dari Ibukota Da-du. Bao Ling kembali mendapat amanat yang tak kalah kurang pentingnya.
Atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan ia mesti dapat mengajak gadis itu ke Istana Da-du!
Apa pun yang terjadi!