12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 22

BLOGKATAHATIKU/IST
Jangan sodori aku sangu titah
sebab lidahku mendadak kelu
ujung pedangku pun tumpul karenanya
prosesi itu telah mematikan akal
aku tak hendak jadi nisan

Bao Ling
Nyanyian Sunyi pada Pertempuran Suatu Malam

Kao Ching menghela napas panjang.
Sesaat menghentikan langkahnya menyaksikan dua bocah yang sedang asyik bermain di pasir. Anak laki-laki yang lebih jangkung dengan selempang kulit kambing di bahunya sesekali tertawa entah karena apa. Sementara itu bocah laki-laki lainnya, berbadan kurus dan pendek, tampak mewek dan mengentak-entakkan kakinya ke pasir. Stola beledu coklat tanah yang dikenakannya terpasang agak miring, dan nyaris menutupi ujung mata kirinya.
Kao Ching melangkah dengan dada sesak.
Dihindarinya langkah sekawanan kambing yang mengarah ke jalurnya. Ia menepi. Berhenti di samping jaro. Anak-anak Mongol yang dilihatnya bermain pasir tadi kini telah berdiri. Menepuk-nepuk tangan mereka yang berdebu. Lalu berusaha mengganggu sekawanan kambing yang berjalan lambat ke tengah gurun beroase. Anak berselempang kulit kambing itu tampak melompat-lompat kegirangan seusai menggebah seekor anak kambing yang tertinggal di belakang. Yang berlari terbirit akibat cambukan pelepah ilalang liar pada punggungnya.
Kenangan masa kecilnya terkuak.
Betapa damainya alam gurun. Sekian tahun diakrabinya sejumput aroma oase, embusan pasir yang basir, serta alunan tabuhan rebana yang mengiringi tarian para gadis Mongol berhidung bangir. Sehingga setiap jengkal tanah gersang itu telah mempolakan subtilitas nomadi di serabut kelabu otaknya. Kesederhanaan yang kini telah terpampas oleh sesosok makhluk majas yang bernama ambisi!
Temujin telah hilang dibawa oleh angin.
Ia telah dibuai oleh ambisi maya berpamrih takhta. Dimensi lain sang waktu telah membopongnya ke dalam lara majas buana. Sehingga terkungkunglah ia di dalam segenap ambiguitas mayor. Ia tak lagi baku. Seorang penggembala sejati, yang berbekal busur dan anak panah di atas punggung kuda Mongol. Lafaznya tak lagi sehangat dulu. Tak seramah embun pagi yang menyapa padang lalang di gurun.
  Kao Ching mengusap wajah.
  Kapabilitasnya telah terpampas. Kendali atas mobilitas pasukan Mongol tidak lagi berada di ujung lidahnya. Jenderal Thamu Khan telah merampasnya. Ia telah menggerakkan sekawanan nasar ke arah Tionggoan. Mengundang maharana. Pelantak damai di muka bumi!
Ia menyergah dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Maharana tidak boleh terjadi. Seluruh rakyat Mongol akan menderita. Ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan keluarga di Mongolia akan kehilangan anak dan sanak saudara mereka yang menjadi korban dari perang laknat. Kematian yang siasia, dan tidak membawa faedah apa-apa.
“Jangan gegabah, Jenderal Thamu Khan!”
“Ini perintah Pemimpin Agung Genghis Khan!”
“Anda beserta beberapa atase militer dapat membatalkan penyerangan. Baba pasti akan mempertimbangkan keputusannya itu.”
“Kalau bukan kita yang menyerang, maka Tionggoanlah yang akan menyerang kita!”
“Lantas, apa bedanya dengan tindakan kita sekarang?! Kita menyerang duluan, lalu mereka akan membalasnya!”
“Tapi….”
“Jenderal Thamu Khan, saya hargai deferens Anda terhadap Baba. Saya hargai pengabdian Anda terhadap Mongolia. Tapi, untuk hal yang satu ini Anda mesti melihatnya dengan mata hati.”
“Saya hanya pengabdi kecil, Pendekar Kao .”
“Tapi Anda harus memiliki jiwa besar untuk masalah hajat hidup orang banyak. Ini masalah jutaan nyawa manusia!”
“Saya paham afeksi perasaan Pendekar Kao. Tapi, kadang-kadang memang ada yang mesti kita korbankan untuk dapat mencapai cita-cita yang luhur.”
“Cita-cita luhur tersebut akan ternoda apabila Jenderal Thamu Khan tetap bersikeras dengan keputusan menyerang Tionggoan! Perang bukan solusi yang baik!”
“Tapi perang dapat menyelesaikan masalah Mongol, Pendekar Kao!”
“Tidak ada penyelesaian masalah dengan jalan kekerasan. Justru hal itu akan membawa masalah baru. Saya sangat tidak sepaham dengan pola pikir seperti itu.”
“Maaf, Pendekar Kao. Ribuan tahun kaum nomad Mongol bertahan hidup dari kekerasan. Kalau tidak begitu, mana bisa ada Mongolia sampai sekarang. Sedari dulu kita tidak bertempat tinggal tetap. Terusir dari satu daerah ke daerah yang lainnya.”
“Kalau itu sudah menjadi predestinasi, kita mau menggugat siapa?! Dan saya tidak ingin habitat yang sudah turun menurun diturunkan dari langit itu dijadikan dalih pemberontakan batin, dan mengkompensasikan keresahan itu dalam bentuk invasi ke negara lain.”
“Masalahnya tidak semudah yang Anda pikirkan, Pendekar Kao.”
“Dan penyerangan ke Tionggoan pun tidak semudah apa yang Anda bayangkan, Jenderal Thamu Khan! Banyak faktor yang mesti Anda pikirkan di luar dari strategi yang telah Anda susun dan rencanakan. Semangat yang menggebu-gebu dengan pasukan sebesar apa pun tidak cukup menjadi sangu untuk merebut wilayah orang.”
“Tapi….”
“Bila Anda bersikras, sama juga berarti Anda mengirimkan jenazah untuk keluarga prajurit Mongol!”
“Maaf, Pendekar Kao! Mungkin tidak etis Anda mengatakan hal itu di saat pasukan Mongol dalam persiapan penuh. Seharusnya Anda menjadi motivator. Bukan sebaliknya. Mengendurkan semangat tempur pasukan Mongol!”
“Saya berkata apa adanya. Tidak ada yang saya tutup-tutupi untuk urusan seurgen nyawa orang.”
“Tapi….”
“Pasukan Han pimpinan Jenderal Shan-Yu dan Han Chen Tjing baru saja dipukul mundur. Bahkan ratusan ribu prajurit mereka tewas di perbatasan Tembok Besar oleh kedahsyatan prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong Dinasti Yuan. Apakah Jenderal Thamu Khan tidak belajar dari pengalaman?!”
“Kita sudah mengantisipasi hal itu! Kita memiliki strategi jitu untuk meredam prajurit dari divisi baru mereka!”
“Jangan takabur, Jenderal Thamu Khan! Meski divisi baru mereka itu jauh tidak sebanding dengan jumlah pasukan kita, tapi mereka tidak boleh diremehkan!”
“Atase militer sudah memikirkan cara untuk melumpuhkan divisi baru mereka itu, Pendekar Kao. Salah satunya adalah dengan penyerangan secara frontal dan terpadu pada satu titik lemah lawan.”
“Kekuatan mereka tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, Jenderal Thamu Khan!”
“Tentu. Tapi, berdasarkan data intelijen kita, mereka tidak akan dapat membendung pasukan Mongol yang datang bagai air bah!”
“Asumsi tidak dapat dijadikan landasan kekuatan Mongol!”
“Mungkin….”
“Tidak ada strategi yang paling jitu selain diplomasi, Jenderal Thamu Khan.”
“Diplomasi tidak masuk dalam agenda strategi.”
“Kalau begitu, Anda mesti bersiap-siap untuk kehilangan banyak nyawa!”
“Itu risiko perang!”
“Kalau risiko bisa dihindari, kenapa tidak?!”
“Maksud Pendekar Kao, apakah kita harus mengalah?! Dan membiarkan Tionggoan….”
“Mengalah adalah salah satu strategi. Mengalah untuk mencapai kemenangan merupakan sebuah siasat yang paling jitu dalam peperangan. Menghindari terjadinya pertumpahan darah adalah kemenangan gemilang dalam maharana! Jauh lebih jaya ketimbang kemenangan tentatif!”
“Penaklukan merupakan satu-satunya cara, Pendekar Kao. Armada besar, kemampuan dan semangat tempur yang menggebu-gebu sudah dimiliki oleh pihak kita. Pengenduran adalah kekalahan. Kalau bukan sekarang, selamanya Mongolia akan dianggap bangsa yang lemah!”
“Status bangsa besar tidak ditentukan dari seberapa besar negara itu menaklukkan negara lain. Tapi seberapa jauh kontribusi dan eksistensi kehadiran negara tersebut sebagai bagian dari dunia. Sayang Baba sudah bertindak terlampau jauh. Tidak memikirkan bagaimana seharusnya prospektif Mongolia ini ditempatkan.”
“Kekuatan sebuah negara terletak pada angkatan perangnya, Pendekar Kao. Saya sangat tidak sepaham kalau Anda mengabaikan hal itu. Negara yang seperti Pendekar Kao  maksud itu nantinya akan menjadi negara lemah. Negara pesakit yang setiap saat dapat menjadi sasaran empuk invasi negara kuat dan besar. Makanya, Mongolia mesti memiliki armada perang besar. Persis yang dibangun oleh Pemimpin Agung Genghis Khan sekarang!”
“Membangun kekuatan armada perang semata akan melemahkan sektor lain, Jenderal Thamu Khan! Sektor lainnya akan terlalaikan sehingga menghambat perkembangan ekonomi negara. Rakyat pulalah yang akan menderita nantinya!”
“Tapi….”
“Sekarang saya tidak memiliki kapabilitas apa-apa untuk mencegah penyerangan, Jenderal Thamu Khan! Tapi, saya hanya dapat meminta agar semua atase militer dapat membuka mata supaya bertindak benar. Bukannya jumawitas megalomania karena merasa telah memiliki legitimasi dan kemampuan tempur yang jauh di atas batas kemampuan negara lain!”
“Tapi….”
Maklumat penyerangan itu sudah jelas.
Tidak ada yang dapat menghentikannya lagi. Sekawanan nasar akan menghitami langit Tionggoan. Menyerang negara itu bertubi-tubi seperti gemawan yang mencurahkan rambun kematian. Satu nestapa kemanusiaan yang telah merimbun dalam rupa baur. Ia menggeleng sedih. Gamang dengan keputusan ayah angkatnya!
Kao Ching melangkah tanpa permisi.
Ia keluar dari tenda salah satu atase militer kepercayaan Genghis Khan itu. Ia ingin secepatnya pergi dari tempat para nasar beranak-pinak. Jauh ke suatu tempat terpencil. Melupakan semua kenangan yang pernah terjadi di sana.
Ia ingin mengobati luka hatinya.