12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 21


Samir ambisi
adalah ambigu bencana
Tuan dan Puan dengar
dunia bukan tempat menumpah darah
awal mulakat manusia dengan yaumudin

Bao Ling
Titah Sang Naga


BLOGKATAHATIKU/IST
“Pasukan Han terpukul mundur, Khan Agung!”
Lelaki berbadan gempal itu berdeham.
Sesaat matanya tak bergerak menatap jenderal ringkih di hadapannya. Selang berikutnya ia kembali asyik membersihkan pedang sabitnya yang sudah lama tak terpakai, menyingkirkan debu yang sudah menyelubung tipis di sekujur sarungnya.
“Khan Agung….”
“Jenderal Thamu, saya percayakan pergerakan militer Mongol selanjutnya kepadamu!”
Satu anggukan membalasi kalimat Genghis Khan.
Lelaki separo baya itu takzim mengakuri. Ia sudah mendapat legitimasi untuk mengambil langkahlangkah cepat menaklukkan Tionggoan. Namun sayang tindakannya untuk menyerang Tionggoan dihalang-halangi oleh Kao Ching, anak angkat Pemimpin Tertinggi Mongolia, Genghis Khan!
“Ada masalah, Jenderal Thamu?”
Seperti bertepuk dua tangan, jenderal bertubuh kurus itu sontak mengangguk. Membungkukkan badan dengan sebilah tangan kanan yang menyampir di punggung bawah, menghormat lazimnya kaum nomad Mongol bertutur laku dalam santun.
“Maaf, Khan Agung. Saya tidak berani mengatakannya!” sahutnya, sebuah usaha basa-basi berefek bola salju. Mendatangkan serangkaian pertanyaan sebagai tawar penasaran.
Genghis Khan menghentikan aktivitasnya.
Diletakkannya senjata kesayangannya itu di atas meja. Menatap sepasang mata balar jenderal tua yang sudah mengabdi kepadanya sejak masih remaja. Seperti domba tua, ia tidak punya kapabilitas apa-apa lagi selain sejumlah jasa pengabdian dan loyalitas yang mengandili armada raksasa Mongolia.
“Ada apa sebenarnya?!”
“Maaf, Khan Agung. Saya belum berani menyerang perbatasan Tembok Besar karena masih terganjal kendala interen!”
“Jenderal siapa yang tidak sepaham denganmu?!”
“Tidak ada, Khan Agung. Semua jenderal sudah sepakat untuk menyerang. Namun….”
“Kenapa?!”
“Ananda Kao Ching masih belum sepakat….”
“Kao Ching?!”
“Maaf, Khan Agung. Mungkin Ananda Kao Ching masih terlalu muda terlibat dalam militer sehingga belum memiliki keberanian untuk bertindak. Ananda Kao Ching masih belum manda melihat pertumpahan darah!”
Genghis Khan menggabruk meja. “Dalih apa yang bikin dia kemayu begitu?!”
“Maaf, Khan Agung.”
“Selalu saja ada penghalang!”
“Saya pikir, Ananda Kao Ching mungkin punya alasan sehingga tidak ingin menyerang….”
“Tidak bisa!” Genghis Khan kembali menggabruk meja sampai pedang sabitnya turut terempas dan mendentam di meja. “Sampai kapan kita harus menunggu?! Sudah ribuan tahun bangsa kita dijajah oleh kesombongan Tionggoan!”
“Tapi….”
“Demi langit dan bumi, tidak ada yang dapat menghalangi Genghis Khan!” teriak Genghis Khan dengan mata memicing. “Siapa pun orangnya!”
“Ananda Kao Ching….”
“Keparat!” bentak lelaki bernama kecil Temujin itu. “Kao Ching terlalu menyanjung tanah kelahiran ibunya, Kao Niang!”
“Mungkin….”
“Perempuan itu telah meracuni otak Kao Ching!”
“Mungkin….”
“Saya menyesal, rajawali itu tumbuh jadi nasar!”
“Mungkin….”
“Jenderal Thamu, eksekusikan segera penyerangan. Apa pun yang terjadi!”
“Tapi….”
“Jangan pedulikan amanat Kao Ching. Hari ini juga saya akan memanggilnya ke Ulan Bator, mencabut mandatnya sebagai Asisten Panglima Perang Mongolia.”
“Baik, Khan Agung!”
Jenderal Thamu Khan menabe.
Ia meninggalkan tenda induk Panglima Tertinggi Mongolia itu.
Ia sudah diberi mandat penuh untuk melaksanakan penyerangan. Tinggal menunggu hari yang tepat saja, maka kurang lebih setengah juta pasukan Mongolia akan menyerbu Tionggoan.
Kao Ching tak lagi memiliki legitimasi untuk membatalkan penyerangan. Ia tersenyum picik. Kali ini Kao Ching akan tersingkir, dan ia bakal memegang tampuk kepemimpinan Mongolia setingkat di bawah Genghis Khan. Anak angkat Temujin itu sudah tersingkir.
Ia terbahak.