12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 20

BLOGKATAHATIKU/IST
Angin membawa kebaikan
pada taman rebung
dan serumpun lalang di perbatasan
adakah lara telah sirna?
angin akan menjawabnya jua

Bao Ling
Angin Membawa Berkah

“Rajawali Satu?”
Bao Ling mengernyitkan dahinya. Memandang belati bersarung emas itu dengan beragam versi kalimat di benaknya. Entah sudah berapa kali dibolak-baliknya belati bermata tajam itu. Sebilah belati baja berwarna keperakan dengan vinyet sehalus sutra pada sarung emasnya selain huruf kanji berharafiah ‘Rajawali Satu’.
“Rajawali Satu. Pasti julukan dalam kemiliteran. Orang Mongol biasanya menggunakan nama-nama julukan sejak lahir,” timpal Fa Mulan, mengambil kembali belati berukir huruf kanji itu dari tangan Bao Ling.
“Betul. Temujin memiliki julukan Si Raja Gurun, Genghis Khan. Beberapa petinggi militer mereka juga memiliki nama-nama unik. Biasanya diambil dari nama bebatuan berharga semacam ruby. Jadi….”
“Jadi, Si Kao Ching itu pun….”
Bao Ling terlonjak, nyaris terlompat keluar dari dinding bahu Tembok Besar tanpa sadar. “Kao Ching?!”
Fa Mulan mengernyitkan dahi. “Ya. Memangnya kenapa?”
“Kao Ching merupakan pendekar terkenal di Kiangsu!”
“Pendekar terkenal?!”
“Asisten Fa tidak pernah mendengar kehebatan Kao Ching?”
Fa Mulan menggeleng. “Saya terlalu sibuk….”
Sesaat kedua punggawa handal militer Yuan itu terdiam dengan masing-masing benak dipenuhi beragam tanya. Hanya desau angin yang sesekali memecah kebisuan di antara mereka. Fa Mulan yang masih diliputi kebingungan saat bertarung dengan salah satu jasus Mongol, dan Bao Ling yang masih mengamati lamat belati milik musuh yang bertarung dengan Fa Mulan semalam.
“Si Pendekar Danuh!” desis Bao Ling dengan wajah memias, matanya belum lepas dari graver indah pada sarung belati emas tersebut.
Fa Mulan bertanya, mendadak menegakkan kepalanya seperti kobra. “Si Pendekar Danuh?!”
“Dia adalah simbol danuh, pakar dalam hal memanah,” terang Bao Ling bersemangat. “Dia merupakan pendekar peranakan Mongol-Han yang sering mengikuti sayembara memanah, yang diadakan pada pesta-pesta akbar para pangeran dan kaisar-kaisar kecil di istana-istana kecil.”
“Apakah….”
“Kao Ching adalah anak angkat dari Temujin, Genghis Khan, Si Raja Gurun Mongol!”
“Pantas dia bilang begitu kemarin….”
“Memangnya….”
“Sebelum kabur dari sini, dia sempat mengemukakan alasan keberadaannya di perbatasan Tembok Besar ini.”
“Apa itu, Asisten Fa?”
“Dia bilang kalau kehadirannya di Tembok Besar bukan bermaksud memata-matai pihak Yuan. Malah sebaliknya….”
“Sebaliknya?! Sebaliknya… apa maksudnya, Asisten Fa?!”
“Sebaliknya, dia justru datang memata-matai pasukan Mongol!”
“Aneh!”
“Justru itulah yang membingungkan saya, Bao Ling.”
“Padahal….”
“Padahal ayah angkatnya adalah Genghis Khan, salah satu tokoh tertinggi Mongol yang hendak menjatuhkan Dinasti Yuan!”
“Makanya….”
Bao Ling kembali mengernyitkan dahinya. Tak merampungkan kalimatnya, mencoba menghimpun buliran waktu silam dalam kenangan di benaknya. Kao Ching tidak terlalu asing dalam hidupnya. Lelaki peranakan Mongol-Han itu pernah bersamanya dalam sebuah sayembara ketangkasan dan prosa, yang diselenggarakan oleh Pangeran Yuan Ren Qing untuk merayakan hari jadi ketigabelas putri sulungnya, Putri Yuan Ren Xie, di Provinsi Kiangsu lima tahun lalu.
“Saya masih bingung dengan ambivalensi sosoknya, Bao Ling,” ujar Fa Mulan, sedikit menelengkan kepalanya dengan rupa bingung.
“Saya ingat!” seru Bao Ling keras, sertamerta menegakkan kepala Fa Mulan yang meneleng tadi. “Saya pernah bersamanya dalam sebuah sayembara ketangkasan di Istana Kiangsu.”
Fa Mulan mengalihkan tatapannya dari serumpun ilalang yang meranggas di tepi Tembok Besar. “Kamu mengenalnya?”
“Tahu. Tapi kami tidak akrab. Kami masing-masing hadir sebagai peserta dalam sayembara di hajatan Putri Yuan Ren Xie, anak sulung Pangeran Yuan Ren Qing yang berulang tahun ketiga belas pada saat itu. Dia mengikuti sayembara memanah dan berkuda, sementara saya mengikuti sayembara prosa dan puisi.”
“Tapi dia Mongol, bukan?!”
“Betul. Tapi, ibunya Han. Asisten Fa tahu bukan, kalau suku Han dominan berdomisili di daerah-daerah pinggiran dan perbatasan Mongolia. Jadi meskipun dia Mongol, namun Kao Ching sebetulnya juga masih berdarah Tionggoan. Makanya, setelah beranjak dewasa, dia kembali ikut dengan ibunya di Kiangsu. Dari data intelijen, baru beberapa tahun ini dia pindah kembali ke Ulan Bator dan ikut Temujin. Nah, selama berdomisili di Tionggoan itulah dia kerap mengikuti dan memenangi sayembara memanah. Di situlah awal mula dia dijuluki Si Pendekar Danuh.”
“Cuma anehnya….”
“Di situlah letak keanehannya, Asisten Fa. Saya sama sekali buta tentang sosok misteriusnya. Kenapa dia malah menentang rencana perang ayah angkatnya!”
“Justru….”
“Justru itulah yang harus kita selidiki, Asisten Fa!”
“Tentu.”
“Jangan-jangan….”
“Lebih baik kita selidiki lebih mendetail, Bao Ling. Meraba dengan asumsi malah merunyamkan masalah. Karena ini menyangkut taktik militer. Tentu kita tidak ingin kecolongan lagi, bukan?”
“Tentu, Asisten Fa!” Bao Ling mengangguk tegas. “Atau, apakah pengaruh subtilitas dari ibu kandungnya lebih kuat ketimbang ambisi politik Temujin sehingga dia terpengaruh….”
 “Betul!” Fa Mulan sontak menegakkan badannya. Kali ini kalimatnya menyalibi praduga Bao Ling yang terlontar ragu. “Intuisi kebaikan yang terpancar dari seorang perempuan!”
“Maksud Asisten Fa….”
“Perempuan diyakini mewakili suara dari langit, Bao Ling. Perempuan di sini yang saya maksud tentu saja ibu kandung Kao Ching. Dan sebagaimana layaknya perempuan biasa Tionggoan, dia pasti juga tidak menyetujui perbuatan segelintir petinggi militer yang bernama perang tersebut.”
“Betul, Asisten Fa,” Bao Ling mengangguk akur. “Meski dia dipelihara dan dibesarkan oleh Temujin, tapi dia masih lebih dekat dengan ibu kandungnya. Dia itu lebih Tionggoan ketimbang Mongol!”
“Pantas….”
“Dia tidak menyetujui rencana penyerangan pasukan Mongol ke Tionggoan.”
“Mungkin karena ibunya orang Tionggoan.”
“Salah satu faktor. Tapi, memang bukan perkara mudah menjelaskan alasannya yang terbilang aneh itu, Asisten Fa.”
“Betul. Pasti ada alasan lain.”
“Dan sampai kini masih menjadi misteri bagi kita.”
“Sungguh aneh!”
“Tapi, apakah itu bukan merupakan taktik Kao Ching agar kita lengah, Asisten Fa?!”
“Maksudmu….”
“Maksud saya, dia pura-pura menentang kehendak Temujin menyerang Tionggoan agar kita mengendurkan pengawasan di perbatasan Tembok Besar ini. Membingungkan kita, dan membuat kita bertanya-tanya perihal kontradiksi yang dilakukan oleh ayah-beranak itu!”
“Jadi….”
“Yah, mungkin saja itu strategi mereka, Asisten Fa.”
“Tapi….”
“Kita mesti waspada.”
“Tentu. Apa saja bisa menjadi musuh kita. Kawan bisa jadi lawan. Begitu pula sebaliknya. Lawan bisa jadi kawan. Tapi, tentu saja saya berharap Kao Ching merupakan pihak dalam alternatif terakhir itu. Lawan yang menjadi kawan.”
Fa Mulan terbahak.
Bao Ling mengirami tawa kecil sahabat seintelektualnya. Satu-satunya gadis langka yang pernah ditemuinya seumur hidup. Perombak segala kultur turun-temurun ribuan tahun di Tionggoan!
“Ya, apa saja bisa terjadi dalam peperangan, Asisten Fa,” tutur Bao Ling di ujung tawanya. “Tapi, selama bersamanya di dalam ajang sayembara di Kiangsu beberapa waktu lalu, saya memang tidak pernah melihat sosok Kao Ching yang mengarah jumawi. Maksud saya, dia merupakan pendekar yang tergolong defensif, dan sangat menghindari publisitas yang berkembang dalam dunia persilatan. Dia juga tidak tampak pongah ketika menjuarai sayembara memanah tersebut. Meskipun dia introver, tapi sosoknya cukup bersahaja.”
“Semalam saat bertarung dengannya, saya merasa tidak sedang berduel dengan musuh. Saya yakin, dia tidak menggunakan seluruh kemampuannya saat berelahi kemarin. Justru, pertarungan kami kemarin berawal dari saya sendiri. Sayalah yang memicu pertarungan tersebut. Sayalah yang mendesaknya agar mau membeberkan identitas dirinya sehingga dia terpaksa meladeni saya berkelahi karena menolak.”
“Pendekar langka.”
“Salah satu pendekar paling unik yang pernah saya tahu.”
“Betul, Asisten Fa. Dia seperti perpaduan harmonis alam gurun yang buas dengan keindahan selatan Tionggoan. Ketangkasannya berkuda sembari melesatkan anak panah ke titik sasaran danuh merupakan keterampilan yang tiada tara.”
“Hebat!”
“Konon dia juga dapat melesatkan sekali anak panah dengan dua sasaran rajawali di udara kena sekaligus jika sejajar seiringan. ”
“Hah?!”
“Makanya, dia dijuluki Si Pendekar Danuh.”
“Kalau begitu, saya termasuk orang yang beruntung dapat bertarung dengannya kemarin, Bao Ling.”
“Padahal, dia jarang mau bertarung!”
“Oya?”
“Buktinya, dia tidak pernah mau mengikuti sayembara duel yang diselenggarakan sekaligus dengan sayembara memanah dan prosa.”
Fa Mulan menikmati semilir angin yang bertiup dari bukit menyusur lembah perbatasan Tembok Besar. Sejenak dibiarkannya pipinya tertampar, enggan mengalihkan kepalanya dari serbuan angin. Gelungan rambutnya yang sebahu bergoyang-goyang, beberapa helai bilah rambutnya yang kecoklatan itu melambai-lambai. Dari kejauhan ia tampak anggun dengan pedang Mushu-nya yang kali ini menyampir di pundaknya.
Diam-diam Shang Weng melihatnya terpesona.
Sejak pertengkaran mereka seminggu lalu, memang ada jarak yang mengantarai mereka. Hubungan mereka tak lagi seakrab dulu. Shang Weng menyesal. Kadang-kadang ia menyadari dirinya memang terlalu kekanak-kanakan, egosentris, serta terlalu mementingkan gengsi dan harga diri.
“Jadi bagaimana dengan belati itu, Asisten Fa?” tanya Bao Ling, melirik belati bersarung emas yang menyampir di ikat pinggang Fa Mulan.
“Kalau berjodoh, belati rajawali ini pasti akan kembali lagi ke tangan Kao Ching.”