12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 19

BLOGKATAHATIKU/IST
Sekawanan rajawali
pasir dan batu delima
adalah setapak lafaz nomadia
majas maharana sejak itu
tak kudengar lagi derap gagah kuda Mongol
hanya ada dengusan napas perana
yang memberat ditelan lara

Kao Ching
Elegi Rajawali

“Suku Mongol merupakan paradigma. Ribuan tahun mereka hidup menomad. Mereka mampu mengatasi kerasnya alam utara yang tidak ramah. Mereka membentuk koloni yang luar biasa di tanah tandus gurun. Tapi usaha agresi yang dilakukan Baba  tidak dapat ditolerir sebagai pembenaran agar rakyat Mongol dapat memiliki tanah tetap untuk ditinggali!”
“Apa yang dilakukan oleh Pemimpin Agung Genghis Khan merupakan cita-cita rakyat Mongol, Pendekar Kao!”
“Jangan mengatasnamakan rakyat sebagai kolektivitas suara untuk mewujudkan ambisi pribadi!”
Kao Ching mengibaskan tangannya. Tidak lagi bersikap santun di hadapan jenderal kepercayaan ayah angkatnya itu. Kali ini ia sudah tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Mereka semua memang sudah dibahang ambisi.
“Tapi….”
Jenderal Thamu Khan sedikit terkejut atasi sikap sarkastis Kao Ching barusan. Namun ia masih berusaha tersenyum. Tidak larut dalam arus kemarahan. Bagaimanapun, ia sudah menang selangkah!
“Maaf atas kelancangan saya, Jenderal Thamu Khan. Bukan saya mendiskreditkan Baba dalam hal ini. Tapi, apa yang Baba lakukan akan menghimpun dendam pada rakyat Tionggoan!”
“Kekuatan armada perang kita sekarang tak terbandingi, Pendekar Kao! Inilah saat yang tepat untuk kembali mendapatkan hak kita. Inilah yang menjadi senjata pamungkas kita untuk merebut tanah Tionggoan! Dan sampai saat ini masih menjadi rahasia di kalangan militer kita, terlebih-lebih militer Tionggoan! Tak satu pun negara yang dapat menyangka kekuatan terselubung Mongol!”
“Justru itulah yang saya takutkan, Jenderal Thamu Khan! Bahwa, dengan kapabilitas lebih yang kita miliki membuat Baba jadi pongah dan jumawa!”
“Sudah ribuan tahun rakyat Mongol tak bertempat tinggal tetap!”
“Dalih itu tidak dapat menjadi alasan untuk melakukan pemampasan. Perang akan menghancurkan kedua belah pihak!”
“Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi rakyat Mongol dapat hidup menetap dan tenang pada sebuah daerah?”
“Rakyat Mongol tidak pernah mengeluh, dan itu sudah berlangsung ribuan tahun. Kalau kepentingan pribadi sudah merecoki iklim politik Mongol, maka yang terjadi adalah kekisruhan. Perang dan perang!”
“Tapi….”
“Saya ini Mongol meski ibu Han, Jenderal Thamu Khan! Dan seperti rakyat Mongol umumnya, tidak ada yang suka perang! Semua penduduk Mongolia sudah hidup tenang di alam gurun yang keras, beradaptasi sejak turun-temurun. Itu stigma yang sudah mereka mafhumi sejak lama. Jadi, alasan atas nama rakyat Mongol itu hanya absolutisme Baba dan petinggi militer lainnya!”
“Mungkin….”
“Saya mohon Jenderal Thamu Khan mengurungkan niat untuk menyerang Tionggoan. Pikirkan matang-matang dampak negatif dari invasi itu. Saya sengaja datang kemari karena saya pikir Andalah orang terdekat dan kepercayaan Baba. Tolong pertimbangkan kembali keputusan untuk menyerang Tionggoan!”
“Keputusan untuk menyerang Tionggoan sudah bulat, Pendekar Kao. Dan hal itu juga merupakan harapan Pemimpin Agung Genghis Khan sejak dulu. Beliau gusar dan geram melihat tingkah suku-suku bangsa lain yang hidup makmur, dan berbuat semena-mena terhadap suku bangsa Mongol ratusan tahun lalu.”
“Histori ratusan tahun lalu?! Maaf, Jenderal Thamu Khan! Betapa piciknya kita kalau mengungkit-ungkit kejadian silam, lalu diaplikasikan ke dalam bentuk revans. Hah, dendam?! Seberapa besar dendam masa lalu itu sehingga mampu merusak hati dan pikiran kita?!”
“Tapi….”
“Sampai kapan dendam itu akan bersemayam di hati mereka?!”
“Pendekar Kao ….”
“Dendam tidak pernah akan ada habis-habisnya!”
“Tapi….”
“Apa bedanya dengan mereka para korban pampasan nanti?! Mereka juga akan mendendam. Lantas, suatu saat bila ada kesempatan untuk revans, mereka akan balik menyerang Mongolia!”
“Anda masih terlalu hijau, Pendekar Kao!”
“Mungkin. Mungkin saya terlalu muda untuk mendalami pikiran Anda semua, para tetua. Mungkin saya masih belum banyak mengecap asam garam seperti Anda semua. Tapi paling tidak saya memiliki nurani dibandingkan dengan Anda semua yang merasa jauh lebih arif dan tua daripada saya! Saya bisa merasakan bagaimana destruktifnya perang itu!”
Kao Ching meninggalkan tenda atase militer Mongol. Ia keluar dengan langkah gontai. Tidak ada satu pun jenderal yang mendengarkan permohonannya. Terlebih-lebih ayah angkatnya, Genghis Khan!
Mungkin besok atau lusa, perang akan meletus di perbatasan Tionggoan-Mongolia. Ia tak punya daya apa-apa untuk dapat menghalau maharana yang bakal memakan banyak korban tersebut. Perang memang majas yang menakutkan sepanjang zaman.
Ia gamang.