12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 18

Hong,
melesatlah ke angkasa
biarlah aku menatapmu sejenak
dan menikmati kepak sayap indah nirwanamu

Fa Mulan
Refleksi Tinju Hong Terbang

“Siapa itu?!”
Fa Mulan melompat dari salah satu binara Tembok besar.
Sesaat ia seperti kelelawar di rimba malam, mengepak dan terbang sebelum tiba di tanah. Dikejarnya sesosok berpakaian hitam-hitam yang sedari tadi menyender di dinding Tembok Besar. Matanya jeli menangkap orang yang mencurigakan tadi.
Pasti salah seorang jasus musuh! pikirnya.
Sosok hitam-hitam itu melesat. Menapaki udara dengan gingkang. Menjauhi Fa Mulan yang masih gesit mengejarnya, juga dengan menggunakan gingkang seringan kapuk.
“Berhenti!”
Fa Mulan menendang dinding Tembok Besar, memantul dan salto, lalu berhenti di depan sosok berpakaian hitam-hitam itu setelah melangkahinya sedepa dari atas udara tadi. Sosok berbadan sedang itu menghentikan langkahnya. Fa Mulan berkacak pinggang di hadapannya. Menahan lajunya yang secepat kijang.
“Mohon jangan menyulitkan saya, Nona!” ancam sosok bersuara bariton itu, melepas kedok hitamnya. “Tentu saja kalau Anda tidak ingin mendapat masalah!”
Fa Mulan menatap mawas.
Wajah lelaki itu menyembul purna. Sepasang mata bundar dan kulitnya yang secoklat jati itu telah menyimpulkan kalau ia bukan berasal dari suku-suku bangsa yang ada di Tionggoan.
“Saya tidak akan menyulitkan Anda bila menjelaskan apa tujuan Anda ke perbatasan Tembok Besar ini!” jawab Fa Mulan dengan sikap bersiaga, masih menentang lelaki berwajah aristokrat tersebut.
“Ini urusan dalam negeri kami, Nona! Saya kira tidak etis apabila Nona mencampuri urusan kami!”
“Tentu saja saya akan ikut campur bila Anda mengganggu stabilitas di wilayah kekuasaan kami!”
“Maaf kalau begitu,” sahut lelaki berkostum lotong itu, sedikit membungkuk dengan tangan kanan menyampir punggung bawah, mengisyaratkan hormat. “Saya tidak akan segan-segan lagi terhadap Nona!”
Lelaki itu merangsek maju, mengarahkan telapak tangannya ke arah wajah Fa Mulan. Fa Mulan mengelak, menggoyangkan kepalanya ke kanan bersamaan dengan satu tangkisan tangan kirinya yang membentur keras tinju telapak lelaki itu. Lelaki bertubuh sedang itu melayangkan satu tendangan keras, mencangkul dari arah kiri ke kanan. Namun Fa Mulan sudah mengantisipasi, kembali mengelak dengan gerakan salto satu langkah sehingga tendangan keras itu hanya menerpa angin.
Pertarungan masih berlangsung sengit dan seimbang.
Lelaki itu mengeluarkan jurus asing, gerakan tangannya bergerak diagonal, memutar beberapa saat sebelum jurus tersebut mengokoh dengan kaki membentuk kuda-kuda, seperti menghimpun tenaga dari dalam perut dan menyalurkan tenaga ke dalam kedua tangannya yang berotot. Dalam hitungan sepuluh detak jantung, tiba-tiba lelaki itu mengentakkan sepasang telapaknya ke arah Fa Mulan.
Fa Mulan terdorong tiga tindak ke belakang.
Ia terempas oleh embusan angin tenaga dalam lelaki itu, sebelum akhirnya tubuhnya berhenti dan refleks berdiri stabil dengan jurus Menara Burung Hong-nya, salah satu gerakan dinamis dari jurus Tinju Hong Terbang ciptaannya. Satu kakinya membentuk tongkat galah menahan limbung tubuhnya, seperti cakar burung hong yang mencengkeram erat tanah. Telapak kakinya membekas di tanah. Satu bukti bagaimana kuatnya tenaga dalam lelaki asing itu yang mendorong tubuhnya sehingga bergeser sejauh lima kaki.
Menyadari dirinya terdesak, Fa Mulan pun mengeluarkan jurus andalannya. Tinju Bunga Matahari siap meladeni jurus asing lelaki itu. Tinju Bunga Matahari yang luwes tetapi bertenaga itu memang sepadan untuk melawan tinju-tinju keras semacam itu. Selain karena memiliki serangkaian elastisitas gerakan-gerakan bunga, Tinju Bunga Matahari juga mengandalkan telapak tangan sebagai penumbuk dan penangkis.
Lelaki berkucir sebahu digelung dengan tali ekor rubah itu melemparkan badannya ke udara. Ia bergulung-gulung seperti puting-beliung, menukik tajam horizontal pada tubuh Fa Mulan dengan sepasang kepalan tangan yang mengarah ke bagian kepala. Namun secepat kilat Fa Mulan mengembangkan kakinya, menyelonjorkan punggung betis dan pahanya ke tanah dengan gemulai, otomatis merunduk dari terkaman lawan. Lelaki itu hanya menghalau angin. Sasarannya hampa. Dan ia nyaris terpelanting karena gasingan keras tubuhnya sendiri.
Fa Mulan berdiri dengan gemulai setelah berhasil menghindari serangan dahsyat lawan. Sepasang kakinya menguncup ke atas serupa dua bilah dahan yang-liu yang bergeletar tertiup angin. Matanya mawas mengekori tubuh lelaki itu yang sudah sampai di tanah, dan berdiri seimbang dengan sikap kuda-kuda.
Fa Mulan mengambil inisiatif untuk menyerang. Diangkatnya sebelah kakinya mencangkung di depan dada serupa kaki belalang, siap mematuk seperti bangau dengan kelepak bentangan sayap tangannya. Tidak lama kemudian, tanpa disangka-sangka lelaki itu kembali mengibas-ibaskan tubuhnya saat Fa Mulan baru saja hendak menyerang. Kali ini ia berputar lebih hebat seolah golok yang sedang mencacah angin.
Fa Mulan meluruskan lengkungan kakinya, menyepak cepat. Namun tendangannya meleset. Hanya terdengar derau embusan. Gelungan kucir lelaki itu terlepas karena sambaran tendangan Fa Mulan yang sangat keras. Rambut lelaki itu terburai.
Sementara itu terdengar suara riuh dari kejauhan. Puluhan prajurit Yuan datang menyerbu, langsung dipimpin oleh Shang Weng dari salah satu binara penjagaan di Tembok Besar. Lelaki itu terkesiap. Mengendurkan otot-ototnya. Ia mengatupkan sepasang tangannya ke depan.
“Maafkan saya, Nona!” sahutnya. “Saya sudah menyusahkan Anda.”
“Anda siapa?!” tanya Fa Mulan penasaran.
“Saya Kao Ching dari Mongolia. Sebenarnya bukan maksud saya untuk memata-matai kubu Yuan di perbatasan Tembok Besar ini. Tapi, saya hanya ingin tahu seberapa banyak pasukan ayah saya di sini!”
“Pasukan ayah Anda?!”
“Pemimpin Agung Genghis Khan!”
“Jadi….”
“Saya datang kemari justru bermaksud untuk menghalau mereka kembali ke barak. Saya tidak setuju dengan perang. Perang sudah banyak menyengsarakan rakyat Mongol. Saya yakin, Anda pun pasti sepaham dengan saya, bukan?!”
Fa Mulan terlongong.
Ia mematung sampai prajurit Yuan pimpinan Shang Weng sudah berada lima belas depa darinya. Lelaki yang bernama Kao Ching itu menabik sebelum ratusan prajurit Yuan sampai di tempatnya berdiri.
“Kungfu Anda hebat, Nona!” teriaknya, lalu melesat cepat seperti terbang. Ia menghilang di rimba malam bersamaan dengan melamurnya teriakan pertanyaannya. “Hei, nama Anda siapa, Nona?!”
Fa Mulan masih membeku di tempatnya berdiri. Tetapi spontan tanpa sadar ia menjawabi pertanyaan pemuda aneh yang sesaat barusan bertarung dengannya.
“Saya Fa Mulan, Asisten Kapten di Kamp Utara Yuan!”
Lalu semuanya menghilang begitu saja. Hanya malam yang memekat dalam birama sunyi bertabuh ratusan derap sepatu para prajurit Yuan, serta teriakan-teriakan bising dari kerongkongan mereka yang serupa racau. Lelaki Mongol itu sudah menghilang tak terkejar.
Fa Mulan masih terlamun.
Sungguh. Ia sungguh-sungguh terkesima. Pemuda Mongol itu merupakan musuh aneh yang seumur hidup baru ditemuinya!
Dan ia baru terjaga dari lamunan ketika matanya membentur sebuah belati bersarung emas di tanah. Milik musuh aneh itu. Gegas tangannya memunguti belati yang tercecer itu. Dibantu penerangan lamur bulan yang menggantung di langit, ia dapat menangkap sebaris huruf kanji tergraver di sarung belati tersebut.
Fa Mulan menyipitkan mata.
Diejanya tulisan itu. Harafiahnya, ‘Rajawali Satu’. Dimasukkannya belati bersarung emas itu ke dalam ikat pinggangnya tepat ketika Shang Weng berdiri di hadapannya.
“Kamu tidak apa-apa, Mulan?!” Shang Weng bertanya dengan rupa cemas.
Fa Mulan menggeleng.
Sementara itu ratusan prajurit Yuan memencar mencari sosok yang bertarung dengan atasannya barusan.