12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 17

BLOGKATAHATIKU/IST
Engkau lantun segala birama
yang diukir Dewata berwajah lektur
wacana semesta
dari seorang kesatria
berpedang kebajikan

Bao Ling
Prajurit Jelmaan Para Dewa

Tubuhnya seperti mengambang. Terbang tinggi. Berhenti pada suatu tempat nan gulita. Lalu ada cahaya yang menerobos cepat seperti lesatan anak panah. Benderang di sekelilingnya. Sesaat ia termangu, tidak tahu tengah berada di mana. Ada mayat-mayat yang bergelimpangan. Darah berceceran di mana-mana.
“Yang Mulia….” Ada suara yang menyapanya lunak. Suara yang diakrabinya semasa kanak-kanak dulu.
“An-Anda si-siapa?!” tanyanya dengan suara menggamang.
“Saya penasehat Fang Tui, Yang Mulia.”
Ia teringat kisah silam masa kecilnya. Orang tua berjanggut putih itu selalu menemaninya bermain-main di taman Istana, mengejar kupu-kupu dan memetik daun yang-liu
“Maafkan saya, Yang Mulia. Maksud kedatangan saya adalah untuk memberitahukan kepada Yang Mulia agar waspada terhadap musuh-musuh di perbatasan. Terutama kaum nomad Mongol.
“Apa?!”
“Suku nomad itu menggunakan kuda-kuda sebagai prajurit, dan sekawanan nasar sebagai kutukan Dewata dari langit!”
“Lalu, saya harus mengambil tindakan apa?!”
“Anda harus memiliki sepasang pedang kembar nova.”
“Sepasang pedang kembar nova?!”
“Ya. Sebelum mereka menghancurkan Kekaisaran Yuan!”
“Di mana saya harus mencari pedang-pedang tersebut?!”
“Ada di sekitar Anda, Yang Mulia.”
“Di sekitar saya?”
“Ya. Sepasang pedang kembar nova merupakan pedang Dewata. Bilah pedangnya dibuat dari gemintang hasil ledakan besar di langit, supernova. Satu kalpa yang lalu, sepasang pedang kembar itu telah melanglang dalam samsara. Sepasang pedang kembar nova itu telah ditakdirkan untuk menyatu melawan kebatilan. Anda harus menemukannya, Yang Mulia!”
“Tapi….”
“Maaf, Yang Mulia. Saya tidak dapat berlama-lama di sini. Saya harus kembali….”
“Penasehat Fang Tui!”
 Kaisar Yuan Ren Zhan terjaga. Dahinya memeluh. Napasnya masih menyengal. Ia telah bermimpi buruk.
“Ada apa, Yang Mulia?!” Permaisuri Niang Xie Erl terbangun. Dahinya mengerut. Ia duduk dari berbaring. “Apa Yang Mulia sakit?!”
Kaisar Yuan Ren Zhan menggeleng.
Temaram di sekeliling. Tidak ada mayat-mayat bergelimpangan. Tidak ada darah yang berceceran. Tidak ada mendiang penasihat tua Fang Tui di hadapannya. Tidak ada sekawanan kuda Mongol yang menerjang Tembok Besar. Tidak ada sekawanan burung nasar yang menghitami langit.
Sepasang pedang kembar nova?! batinnya.
“Saya panggilkan tabib untuk memeriksa Yang Mulia!”
“Tidak usah,” Kaisar Yuan Ren Zhan menyergah. “Saya tidak sakit!”
“Tapi….”
“Saya hanya bermimpi buruk. Tapi….”
“Kenapa, Yang Mulia?!”
“Saya melihat Fang Tui, mantan penasehat Ayahanda dulu. Dia bilang, Tionggoan dalam bahaya besar!”
“Yang Mulia jangan risau. Apa yang Yang Mulia mimpikan barusan hanyalah bunga tidur. Yang Mulia kelelahan sehingga bermimpi buruk.”
“Tapi, itu mungkin isyarat kalau Tionggoan memang dalam bahaya besar!”
“Yang Mulia jangan khawatir. Untuk urusan keamanan negara, Yang Mulia delegasikan saja kepada para atase militer. Mereka pasti sudah tahu tanggung jawab masing-masing.”
“Ah, saya tidak menyangka akan terus dirongrong oleh musuh-musuh di perbatasan. Setelah lepas dari serbuan pasukan pemberontak Han, kini diganggu lagi oleh Genghis Khan!”
“Yang Mulia….”
“Erl, sebelum pesta barongsai diadakan, saya akan menghancurkan barbarian Mongol di perbatasan!”
“Tapi….”
“Besok saya akan menyuruh Jenderal Gau memutasikan Shang Weng dan Fa Mulan ke daerah selatan perbatasan Tembok Besar!”
“Yang Mulia….”
“Supaya hidup saya bisa tenang!”
Kaisar Yuan Ren Zhan menengadah ke arah jendela dengan daun pintu yang sengaja dipentangkannya untuk berangin-angin. Bulan sabit masih menyampir di layar langit. Beberapa gemintang menggelayut di sampingnya.
Sepasang pedang kembar nova?! batinnya kembali.
Ia menggeleng galau.
Ah, rencana apa lagi yang hendak dijatuhkan Dewata kepadanya!