12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 16

BLOGKATAHATIKU/IST
Jangan menatapku begitu
karena kelopak matamu seperti yang-liu
yang menggulanai malamku
dengan tikaman sebilah rindu

Purna hatiku patah
ada yang tak terbantah
kau memang memanah
menjatuhkan hatiku ke tanah

Shang Weng
Elegi Suatu Malam

“Kapten Shang….”
Pemuda itu menepis secawan teh yang telah diseduhkan Fa Mulan untuknya. Cawan yang masih mengepulkan asap panas itu terpelanting. Pecah di tanah. Gadis itu terkesiap. Wajahnya memerah. Nila tingkah pemuda itu menghadirkan gulana. Kerongkongannya mengerontang. Ia serasa di tubir curam.
“Kapten Shang, apa luka Anda menyeri?”
“Saya tidak perlu dibelaskasihani!”
Fa Mulan lunglai. Terduduk lemas di bangku. Secawan teh dan kenangan raib oleh sekibas tindak sarkastis. Sesaat ia mengharap ini mimpi. Tetapi ia memang tidak tengah bermimpi. Pemuda itu Shang Weng. Memang Shang Weng yang sesaat tadi telah berubah menjadi sosok lain. Secarik tabula rasa telah ternoktah. Pemuda itu asing di matanya!
“Ada apa sebenarnya, Kapten Shang?!” tanyanya menggugat setelah tidak berhasil membendung amarah. “Apa saya telah melakukan sebuah kesalahan besar sehingga secawan teh ini pun menjadi sasaran amukan tanpa dalih?!”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” sahut Shang Weng, duduk memunggungi Fa Mulan yang berdiri dengan rupa galau. “Keluarlah!”
“Saya perlu penjelasan Kapten Shang sebelum angkat kaki dari sini!” tantang Fa Mulan dengan suara bergetar samar. Deferensnya menguap. Ia tidak peduli kini tengah berhadapan dengan siapa.
“Penjelasan apa?!”
“Penjelasan tentang kenapa Kapten Shang bertindak vulgar begitu!”
“Ini perintah atasan,” Shang Weng menghardik. “Mau keluar atau tidak?!”
“Dipenggal pun saya tidak akan keluar sebelum Kapten Shang bersikap kesatria mengatakan ada apa sebenarnya!” Fa Mulan melototkan mata. Ia tidak ingin ditekan tanpa salah.
“Kamu sudah tahu jawabannya saat di luar berduaan dengan Bao Ling tadi!” Shang Weng mengarahkan telunjuknya ke daun tenda simultan dengan teriakannya yang tenor. “Apa perlu saya jelaskan lagi!”
Fa Mulan terundur setindak ke belakang. Perutnya mual. Tiba-tiba ia ingin tertawa sekaligus menangis. Ia benci melihat wajah tampan itu! Ia benci melihat seringainya yang bacar! Ia benci mendengar jeritannya yang ideofon!
Ia benci semuanya!
“Saya sudah mengerti!”
“Saya tidak suka kamu bergaul dengan Bao Ling!”
“Atas dasar apa Kapten Shang melarang saya bergaul dengan Bao Ling?!”
“Saya mencintai kamu!”
Fa Mulan mengibaskan tangannya.
Kalimat barusan hanyalah sebentuk pluralistis pokta yang tidak ingin didengarnya saat ini! Sebab segenap simpatinya sudah runtuh hanya oleh satu perkara. Seorang kesatria dan romantika cengeng!
Hah, sebuah perpaduan ironi!
“Mau ke mana?!” Shang Weng menarik lengan gadis yang sudah melangkah dua tindak setelah kibasan tangannya menguncup.
“Saya malas membahas masalah pribadi,” jawab Fa Mulan apatis. “Maaf, saya ingin istirahat di dalam tenda saya!”
“Tunggu. Bukan maksud saya….”
“Tidak ada yang perlu Kapten Shang jelaskan lagi. Saya tidak marah. Saya hanya kecewa terhadap sikap Kapten Shang yang kekanak-kanakan begitu!”
“Saya menyesal. Tapi semua yang saya lakukan tadi karena saya mencintai kamu. Saya tidak ingin ada orang lain yang merebut hati kamu!”
“Maaf, Kapten Shang. Jangan memusingkan saya dengan hal-hal cengeng begitu!”
Shang Weng tergeragap. Kalimat Fa Mulan menohok hatinya. Ia terkapar tidak berdaya oleh kekuatan cinta. Sesuatu yang lebih menyakitkan dari tombak musuh yang menghunus dada kirinya satu setengah bulan lalu!
Hatinya tercacah!
“Ka-kamu mencintai Bao Ling?!” desak Shang Weng, memegang erat bahu Fa Mulan, dan mengguncang-guncangkannya perlahan. “Kamu mencintai dia, bukan?!”
Fa Mulan menatap nanar sepasang mata yang berkaca-kaca itu.
Tiba-tiba ia merasa muak dengan romantisme babur tersebut. Ia ingin menyudahi semuanya. Sebab kenangan tentang sosok kesatria dan pertempurannya yang heroik di Tung Shao mendadak melenyap bagai kemarau semusim diguyur hujan sehari!
Dan ia akhirnya mengangguk dengan sebilur luka yang langsung menganga di hatinya!
“Ja-jadi….”
“Tolong hargai hak saya untuk tidak ingin diganggu, Kapten Shang!”
“Tapi….”
“Negara Yuan lebih membutuhkan perhatian kita. Rasanya belum pantas kita mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan negara!”
“Mulan….”
“Maaf, Kapten Shang,” Fa Mulan mengentakkan bahunya. Sepasang tangan kekar Shang Weng terkulai. “Selamat malam!”
Fa Mulan melangkah.
Shang Weng mengekorinya dengan mata. Ia tidak tahu harus bertindak apa. Gadis itu melebihi seribu musuh yang pernah ditaklukkannya. Digigitnya bibir. Tungkainya melemas. Ia terjatuh di tanah dengan sepasang lutut yang menopang tubuh.
Cinta Fa Mulan yang sakral telah mengalahkannya.
Ia tersungkur tak berdaya.
Sepasang mata elangnya membasah!