12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 15

BLOGKATAHATIKU/IST
Ia meniti hamparan beledu merah
di sepanjang tangga istana
langkahnya seirama tabal
yang ditabuh pendekar Tionggoan
gadis junjungan langit Fa Mulan menapak perlahan

Di puncak itu Sang Kaisar menyambutnya
sebab ia telah berjaya menyelamatkan Tionggoan
tetapi ia menolak, menggeleng dengan wajah lesi
katanya, ini hanya langkah kecil kemanusiaan!
Karena aku hanyalah sehelai yang-liu
yang tak berdaya di rimba samsara

Bao Ling
Prajurit Garda Langit

“Prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong sudah memukul mundur pasukan pemberontak Han di perbatasan Tembok Besar!” Bao Ling menyampaikan kabar pemotivasi kepada Fa Mulan. “Saya juga mendapat kabar, Kaisar Yuan Ren Zhan akan segera mengirim beberapa ribu prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong untuk membantu kita, memperkuat pertahanan di Tung Shao ini.”
Fa Mulan tidak menanggapi.
Diulurkannya sepasang tangannya di lidah unggun. Meskipun musim salju sudah mulai bergeser, tetapi partikel dingin belum lagi hilang benar dari puncak bukit. Noktah-noktah putih salju masih terlihat menangkup di sana-sini seperti teratai. Indah sekali.
Sudah sebulan momentum fenomenal itu lewat. Tetapi Fa Mulan tetap mawas. Tidak mau lengah barang sekejap. Karenanya, ia menolak undangan Jenderal Gau Ming agar dirinya hadir dalam seremoni keberhasilan yang akan diselenggarakan di Istana Da-du.
Lagipula, ia masih menyertai Shang Weng yang masih dalam tahap penyembuhan, setelah terluka parah dalam sebuah pertempuran di dusun bawah bukit kurang lebih satu setengah bulan lalu.
“Kaisar Yuan Ren Zhan juga akan mengadakan Festival Barongsai,” tambah Bao Ling, turut menjulurkan tangannya ke lidah api. “Hampir semua pendekar hebat Tionggoan akan hadir di Istana Da-du
Fa Mulan mendengus. “Seharusnya Kaisar Yuan Ren Zhan tidak boleh bereuforia begitu!” ujarnya dengan nada tidak senang.
Kabar gembira yang disampaikan Bao Ling barusan malah menggundahkan hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurungkan ekspresifitas euforia Kaisar Yuan Ren Zhan di Ibukota Da-du.
Bao Ling terbahak.
Deretan giginya yang gading menyembul indah. Ada pancaran intelektualitas di sana. Tidak bernada melecehkan. Fa Mulan melirik sesaat, lalu memalingkan kembali kepalanya ke arah lidah unggun, seperti tak mengacuhkan kehadiran pemuda itu dengan menggosok-gosok telapak tangannya di lidah unggun.
“Saya kagum sama Anda, Asisten Fa,” ujar Bao Ling, lalu menderaikan tawanya kembali di ujung kalimat.
“Kagum kenapa?”
Fa Mulan menelengkan kepalanya, seolah memosisikan indera pendengarannya agar dapat menangkap desibel suara lawan bicaranya dengan jelas tanpa harus memalingkan wajah.
“Selama ini tidak ada yang berani mengeritik Kaisar Yuan Ren Zhan.”
“Apa tidak boleh?”
“Boleh saja,” Bao Ling tersenyum. “Tapi….”
“Tapi apa?!” Fa Mulan menghentikan aktivitas menghangatkan badan. Menatap pemuda berwajah bersih di hadapannya yang kini sudah terkikik.
“Tentu saja kalau bernyali besar, siap-siap kehilangan kepala,” lanjut Bao Ling, menaruh telapak tangan di lehernya, lalu menariknya untuk menggambarkan kalimat penggal yang ia maksud.
“Kalau semua orang memiliki sifat megalomania begitu, apa jadinya dengan dunia ini?!” Fa Mulan menyergah, merapatkan baju hangat kulit rusanya.
“Kalau tidak ada orang yang seperti kaisar atau Jenderal Shan-Yu, dunia ini akan terasa sepi,” tepis Bao Ling, duduk di salah satu akar tebangan batang pinus. “Tawar seperti air di Sungai Yangtze.”
“Dalih keesepian tidak boleh dijadikan alasan untuk saling membunuh!” Fa Mulan mengerutkan wajahnya seperti kurang senang dengan alasan Bao Ling. “Tidak ada kedamaian. Hanya diisi dengan perang dan perang!”
“Mungkin itulah seninya hidup.”
“Itu asumsi. Padahal, di luar dari pertumpahan darah, banyak hal yang dapat memperindah hidup. Banyak hal yang dapat mengusir sepi yang menjadi asumsimu tadi.”
“Saya tidak paham, Asisten Fa. Saya hanya belajar dari fenomena alam. Seperti siklus hidup. Sesuatu yang radiah untuk mempertahankan hidup. Merupakan rantai karnivora dan herbivora pada hewan misalnya. Bukankah kita juga begitu. Hanya seorang prajurit. Digembleng, latihan, dan berperang. Kalau tidak ada perang, apa gunanya kita sebagai prajurit?!”
“Tapi, manusia dibekali dengan akal!” Fa Mulan membantah. “Agar kita dapat memilah mana jalan yang baik, dan mana yang salah. Seperti manusia, hewan pun begitu. Hewan dibekali dengan insting.  Mereka diberi naluri untuk mengendus, mana jalur terbaik memperoleh makanan dan tempat yang cocok untuk berkoloni sebagai eksistensi kehidupan.”
“Tapi….”
“Bao Ling, eksistensi kehidupan itu tidak sesederhana apa yang kamu bayangkan.”
“Maksud Asisten Fa?!”
“Denyut nadi dunia tidak hanya terletak pada bagaimana makhluk hidup itu berkembang biak dan mempertahankan hidup. Tapi lebih dari itu, bagaimana kehidupan makhluk hidup itu dapat berselaras dengan alam. Sehingga akan terbentuk keharmonisan. Seperti Tao Te Cing .”
“Saya tidak menyangka Asisten Fa dapat memahami filsuf Tao.”
“Sewaktu di kampung, saya diajari banyak hal oleh Guru Fang Wong.”
“Fang Wong?!”
Fa Mulan mengangguk. “Selain wushu Taichi Chuan, beliau juga mengajarkan saya banyak filsafat indah Tao. Tentang harmonisasi dan inharmonisasi hidup kita dengan alam.”
“Hebat!” Bao Ling berdecak kagum. “Pantas Taichi Chuan begitu dahsyat. Padahal, hanya mengandalkan tenaga lawan sendiri sebagai senjata kita.”
“Tentu. Karena sesungguhnya alam telah memberi kita beragam arteri. Inharmonisasi tentu akan mengacaukan siklus. Sehingga terjadi disfungsi yang mereduksi diri sendiri,” papar Fa Mulan, mereplikasi kalimat bijak yang pernah didengarnya dari gurunya, Fang Wong, semasa kecilnya di kampung dulu. “Kamu pernah mendengar tentang pendekar Auw Yang Pei San?”
Bao Ling mengangguk. “Pendekar Telapak Penghancur Tengkorak, pendekar batil dari Pulau Bunga!”
“Betul. Dia merupakan contoh nyata tentang inharmonisasi, absurditas negatif yang mencelakakan dirinya sendiri.”
“Bukankah dia sudah meninggal, Asisten Fa?”
“Meninggal termakan oleh ketamakan dirinya sendiri. Sesungguhnya, Auw Yang Pei San adalah pendekar hebat. Sayang dia sangat ambisius untuk dapat mengalahkan semua pendekar yang ada di dunia ini. Dia mempelajari semua ilmu silat. Apa saja. Tanpa memilah-milah ilmu silat tersebut. Tanpa menyeleksi dari golongan dan kalangan apa ilmu silat itu berasal, hitam atau putih.”
“Pantas….”
“Suatu hari dia mencuri Kitab Aurora ciptaan Chie Pek Tong ketika pendekar tua itu sedang bertapa. Auw Yang Pei San mengaplikasikan ilmu silat Aurora yang, sebenarnya belum rampung ditulis oleh Pendekar Kekanak-kanakan tersebut. Karena terjadi disinteraksi antara ilmu Aurora tersebut dengan karotis dan serabut kelabu di otaknya, maka dia pun mengalami paranoia. Setahun kemudian dia meninggal karena pecahnya pembuluh darah di kepalanya,” papar Fa Mulan berpanjang-lebar. “Itulah kompensasi inharmonisasi dengan alam.”
Bao Ling mengangguk mafhum.
Sewaktu masih berstatus pelajar, ia memang banyak mempelajari filsafat dari filosofi besar Konfusius dan Lao Tzu. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memperkaya Tionggoan dengan khazanah budaya. Pemikiran mereka selaras dalam damai, jauh dari pikuk pertumpahan darah yang bermuasal dari ambiguitas ambisi.
Dan apa yang telah didengarnya dari Fa Mulan telah mengsingularis sebuah pemahaman tentang kuintesens alam di benaknya. Satu hal yang belum disadarinya betul. Satu hal yang belum tentu dapat diperolehnya dari serangkaian hari yang dilaluinya di bangku perguruan.
Gemintang masih membenderang.
Titik-titik yang memutih keperakan itu bagai pusar quasar yang menghitung peradaban manusia. Tanah tua yang ringkih dan lelah bernama bumi itu pasti jenuh menyaksikan pembantaian anak-anak manusia yang memijaki dan membasuhnya dengan kucuran darah seolah tanpa henti.
Fa Mulan masih mengarca. Masih pula menghangatkan sepasang tangannya yang jenjang pada bara abnus. Bao Ling mengisi benaknya dengan kalimat subtil. Mungkin semacam sangu untuk kearifannya kelak.
“Asisten Fa, menurut Anda, apakah Kaisar Yuan Ren Zhan bijak atau tidak?” Bao Ling bertanya, memecah kebisuan. Suaranya ditelan kesunyian malam.
“Menurutmu bagaimana?” Fa Mulan balik bertanya, mencoba menambah bara unggun yang mulai meredup dengan kayu bakar baru.
“Yang jelas, Kaisar Yuan Ren Zhan tidak sebengis ayahnya!”
“Perubahan ke arah yang lebih baik, itu kemajuan. Meski hanya sebuah langkah kecil, tapi itu merupakan kemajuan besar bagi terciptanya kedamaian di Tionggoan ini.”
“Tapi, musuh-musuh seperti terus-menerus merongrongnya. Saya khawatir hal itu membuat Kaisar Yuan Ren Zhan menjadi bengis seperti ayahnya, Kaisar Yuan Ren Xing.”
“Tergantung bagaimana Kaisar Yuan Ren Zhan menyikapi semuanya itu.”
“Maksud Asisten Fa?!”
“Musuh selalu ada. Kebatilan dan kebajikan senantiasa seiring di dunia ini. Musuh adalah iblis yang selalu bersemayam di benak dan pikiran kita. Kalau kita menuruti hawa nafsu, maka musuh akan bertambah kuat. Jadi genosida atas musuh atau lawan kita sama juga menjadikan kita musuh di mata musuh. Balas dendam akhirnya seperti tanpa batas.”
“Jadi menurut Asisten Fa, harus bagaimana kita menyikapi musuh-musuh kita?”
“Fenomena alam telah mengajarkan kepada kita, bahkan jauh sejak belum terbentuknya kehidupan di bumi ini.”
“Apa itu, Asisten Fa?”
“Air.”
“Air?”
“Ya. Air merupakan contoh nyata tentang kekuatan yang mahadahsyat. Air dapat mengikis karang. Tapi air merendah. Bahkan air menghidupi semua makhluk hidup tanpa pandang bulu.”
“Saya sama sekali tidak dapat menduga kalau Asisten Fa dapat sedetil itu menghayati fenomena alam.”
“Saya hanya mereplikasi fenomena alam tersebut.”
“Tapi hal itu sudah membawa banyak manfaat besar dalam kehidupan Anda, Asisten Fa.”
Fa Mulan mengangguk. “Manusia berhati luhur, rendah hati, dan tidak sombong merupakan personifikasi air. Setiap orang dapat mengejawantah serupa air. Sebab, setiap manusia membawa benih-benih dan nilai-nilai kebajikan pada saat terlahir. Begitu pula sebaliknya. Semuanya itu terkandung di dalam setiap nurani manusia.”
“Apakah Kaisar Yuan Ren Zhan dapat mengaplikasikan sifat alamiah air itu, Asisten Fa?”
“Kenapa tidak? Kaisar Yuan Ren Zhan memiliki potensi itu. Jauh lebih besar ketimbang rakyat jelata.”
“Saya belum terlalu paham, Asisten Fa.”
“Dengan autokrasi yang dimilikinya, Kaisar Yuan Ren Zhan dapat mengejawantahkan kebajikan seluas-luasnya. Mula-mula mungkin di lingkungan keluarga dan Istana. Kemudian berkembang ke lingkup yang lebih luas, rakyat dan negara.”
“Tapi, sejauh ini saya jarang mendapati ada tokoh kaisar semacam itu dalam lektur filsuf manapun, Asisten Fa. Kebanyakan kaisar di Tionggoan merupakan figur-figur tiran dan lalim.”
Fa Mulan mengangguk. “Benar. Mayoritas kaisar yang berkuasa di Tionggoan memang seperti yang kamu katakan tadi.”
“Kenapa, Asisten Fa?” tanya Bao Ling penasaran.
Fa Mulan menjawab dengan memantominkan kalimatnya. Kedua tangannya terangkat memperagakan maksud yang hendak disampaikan dengan jelas kepada Bao Ling.
“Karena mereka telah terikat oleh benang merah masa lalu. Masa lalu yang melilit mereka dalam angkara. Maka, yang terjadi adalah penggulingan kekuasaan dan kudeta dari waktu ke waktu!”
Bao Ling manggut-manggut. “Saya harap hal miris tersebut tidak terjadi terhadap Kaisar Yuan Ren Zhan!”
“Tentu. Supaya ada kemajuan dalam langkah peradaban!” tukas Fa Mulan tegas.
Bao Ling kembali mengangguk.
Ada intensitas rasio yang menerang dalam benaknya seperti pancaran gemintang dari hasil nova. Setapak kecil langkah bijak manusia, merupakan langkah besar peradaban dunia. Pulsar subtil itu sampai ke dasar hatinya. Membentuk sebait arif pemahaman.
“Malam ini saya mendapat satu pengalaman batin yang sangat berharga melalui Asisten Fa,” aku Bao Ling jujur.
Fa Mulan tersenyum. “Kamu banyak membaca lektur Konfusius, bukan?”
Bao Ling mengangguk. “Sering, Asisten Fa.”
“Nah, kalau begitu kamu pasti akan memahami apa yang telah saya katakan,” ujar Fa Mulan.
“Terima kasih, Asisten Fa. Sungguh, saya sama sekali tidak menyangka Asisten Fa dapat seserba bisa seperti ini.”
“Maksudmu….”
“Maksud saya, Fa Mulan adalah seorang gadis yang luar biasa.”
Fa Mulan terbahak. “Semuanya hanya replikasi. Saya hanya menyampaikan apa yang telah saya dengar dan baca. Selebihnya, tidak ada. Jadi, tidak ada yang patut dibanggakan pada diri saya.”
“Anda terlalu merendah, Asisten Fa!”
“Itulah sifat air!”
Fa Mulan kembali terbahak.
Bao Ling turut melepaskan tawanya mengiramai tawa gadis atasannya itu.
Di balik celah daun tenda, sepasang mata menatap dengan rupa ganjil.