12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 14

BLOGKATAHATIKU/IST
Angin mengajarku menari
Melambungkan aku setingkat
Aku seperti walet di udara
Kepak-kepaknya mengirama
menyatu dengan awan nan putih
Inilah kehalusan budi
yang diajarkan alam padaku

Fang Wong
Refleksi Taichi Chuan

Keberhasilan Fa Mulan memukul mundur musuh disambut gegap gempita oleh pihak Istana Da-du. Kaisar Yuan Ren Zhan tidak pernah segembira kali ini. Berkali-kali ia memuji kecerdikan strategi dan taktik kamuflase Fa Mulan di Tung Shao. Para atase militer di markas besar militer pusat sama sekali tidak menyangka Fa Mulan dapat menerapkan strategi jitu untuk menggentarkan lawan tanpa terjadi pertumpahan darah. Mereka sepakat untuk menaikkan pangkat Fa Mulan pasca pemberontakan Han nanti.
Sementara itu berita tentang mundurnya pasukan Han pimpinan Jenderal Shan-Yu dari zona tempur Tung Shao menjatuhkan moral pasukan Han lain, yang beberapa di antaranya sudah melintasi Tembok Besar. Han Chen Tjing kecewa. Karena daerah yang dianggapnya lemah dan hanya dijaga prajurit Divisi Infanteri, justru dapat menaklukkan serdadunya yang berkekuatan sangat besar.
Ia sekarang seperti mati kutu.
Di perbatasan Tembok Besar sendiri sudah tidak mudah mereka lewati lagi. Kaisar Yuan Ren Zhan telah menambah armada perangnya dengan satu divisi baru yang sangat tangguh, Divisi Kavaleri Fo Liong. Prajurit-prajurit Yuan itu dibekali dengan Fo Liong. Sebuah senjata pemusnah massal. Dapat menghancurkan lawan satu peleton dari jarak jauh dengan sekali tembakan.
Keparat, makinya dalam hati.
Persekutuan dengan Setan Putih ! Kaisar Yuan Ren Zhan memang harus dipenggal. Kepalanya akan dipersembahkan untuk para leluhur Han, sumpahnya.
Han Chen Tjing melompat seperti terbang.
Ditumpahkannya amarahnya dengan serangkaian jurusnya yang memukul angin. Kibasan-kibasan Telapak Tangan Besi-nya berdesing-desing. Membelah beberapa dahan-dahan pohon cemara udang tanpa senjata, hanya dengan telapak tangannya yang sekuat sangkur baja.
Mantan biksu itu berputar-putar sesaat seperti propeler, menghamburkan pasir ke segala arah. Beberapa dari partikel pasir itu melubangi dedaunan akasia di dalam halaman rumah.
Ia masih berputar, berkelebat seperti kepak-kepak elang, lalu berhenti pada satu titik ketika tangannya yang kokoh seperti beton itu menghantam satu batang pohon cemara udang. Tenaga dalam Kingkong-nya membekas di pohon. Lalu selang berikutnya batang pohon tersebut berderak, membelah dan patah.
Sepuluh tahun yang lalu ia dikeluarkan dari biara Shaolin setelah bertarung dan melukai Fang Wong. Di biara Shaolin, Han Chen Tjing sering melakukan keonaran. Ia juga indisipliner. Selain itu ia diam-diam selalu belajar ilmu silat dari perguruan hitam. Biksu Pha Tou mengusirnya dengan paksa setelah berduel di halaman biara.
Pertarungan tersebut berlangsung seimbang. Pada waktu itu Biksu Pha Tou sama sekali tidak menyangka Han Chen Tjing dapat menandinginya. Padahal ia sudah mengerahkan seluruh kemampuan kungfunya. Bahkan kungfu yang belum diajarkan kepada murid-murid baru.
Dalam akhir pertarungan itu, Han Chen Tjing dapat ditaklukkan. Tetapi Biksu Pha Thou terluka parah. Dan akhirnya meninggal dunia setahun kemudian akibat akumulasi pukulan Telapak Tangan Besi Han Chen Tjing, yang menghancurkan organ dalam tubuh biksu tua wakil pemimpin biara itu.
Han Chen Tjing kabur dari biara Shaolin dengan menanggung malu. Ia tidak rela. Dan berniat membalas dendam suatu hari. Berbekal kesumat itulah ia semakin giat mempelajari beberapa ilmu silat yang ada di Tionggoan. Ia ingin membalas kekalahannya saat bertarung dengan Biksu Pha Tou.
Tiga tahun setelah kejadian miris itu, ia kembali ke Shaolin hendak menantang Biksu Pha Tou. Namun alangkah kecewanya ia saat mendapati kenyataan bahwa Biksu Pha Tou ternyata sudah meninggal. Karena tidak mungkin dapat bertarung lagi dengan biksu tua yang mengalahkannya dulu, maka ia mengobrak-abrik seluruh ruangan biara.
Ia hendak mengalihkan tantangannya ke Biksu Yang Fei, pemimpin tertinggi biara. Wong Qi Bei  dan Huan Chen-Liang yang saat itu sedang berguru di Shaolin mencegah niatnya dengan bertarung di luar biara. Mereka mengadang Han Chen Tjing yang ingin menantang Biksu Kepala pemimpin tertinggi Shaolin tersebut setelah sebelumnya mendapat legitimasi untuk menjaga Shaolin, dan mematuhi amanat agar tidak seorang pun dapat mengganggunya bermeditasi di ruang bawah tanah biara.
Pertarungan tidak seimbang itu dapat dimenangkan dengan mudah oleh Han Chen Tjing. Setelah mengalahkan Wong Qi Bei dan Huan Chen-Liang, Han Chen Tjing kembali mengaduk-aduk biara. Ketika itu ia hendak mencari Fang Wong, saudara seperguruannya yang dikalahkannya beberapa tahun lalu.
Rupanya ia masih menyimpan dendam kepada Fang Wong, yang memergokinya belajar ilmu silat hitam, sebuah pantangan besar bagi para biksu Shaolin, dan menganggapnya sebagai biang pengadu yang menyebabkan dirinya diusir dan dikeluarkan secara tidak hormat dari Shaolin.
Fang Wong yang masih terluka akibat pertarungannya dengan Han Chen Tjing tiga tahun lalu, ternyata sudah meninggalkan biara sejak setahun lalu. Pemuda itu kabur ke sebuah dusun di sebelah tenggara Tionggoan. Di sana ia mengalami masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Pukulan Telapak Tangan Besi dan Kingkong Han Chen Tjing memang telah membuatnya menjadi orang setengah lumpuh.
Di dusun itu ia diobati oleh seorang tabib tua yang tinggal beserta seorang putrinya. Selama hidup sebagai petani, Fang Wong selalu dihantui oleh peristiwa tragis yang hampir merenggut nyawanya. Sosok Han Chen Tjing selalu membayanginya. Setahun kemudian ia mengidap skizofrenia. Tidak lama berselang menjelang penyembuhan, ia diilhami sebuah fenomena alam sehingga dapat menciptakan wushu unik, Taichi Chuan.
Dalam masa-masa penyembuhan luka dalam dan trauma psikisnya, ia mengajari anak-anak kampung wushu ciptaannya. Salah satu muridnya yang paling menonjol adalah Fa Mulan. Satu-satunya anak gadis yang belajar wushu kepadanya secara sembunyi-sembunyi.
Setelah biara Shaolin diobrak-abrik oleh Han Chen Tjing, Wong Qi Bei melarikan diri ke Guandong. Di sana ia hidup madani. Menjadi tabib setelah belajar medika tradisional Tionggoan, akupuntur dan Totok Nadi, dan membuka sebuah kedai obat.
Sementara itu Huan Chen-Liang hijrah ke Shandong. Di sana ia mengikuti jejak Wong Qi Bei. Membuka kedai tekstil, menjual aneka kain dan benang yang dibeli dari pedagang-pedagang Mongol yang sudah mengelilingi berbagai negeri melalui Jalan Sutra. Mereka memang menghindari hiruk-pikuk dunia persilatan yang babur.
Han Chen Tjing pun pulang kembali dengan tangan kosong dan dendam tanpa balas. Selama masa transisi batinnya yang penuh dengan angkara dan amarah itu, ia pun melibatkan dirinya di dalam kancah politik. Ia membentuk klan Kelompok Topeng Hitam yang antipemerintah dan bergerak klandestin melawan Kekaisaran Yuan. Namun pada kenyataannya, klan bentukannya tersebut telah melenceng jauh dari misinya yang semula. Kelompok Topeng Hitam lebih dikenal sebagai kelompok garong dibandingkan klan klandestin yang bertujuan menggulingkan Kekaisaran Yuan.
Gerakan-gerakan Han Chen Tjing berhenti seketika ketika Shan-Yu berdiri di ambang pagar halaman. Lamunannya pun membuyar oleh selantun kalimat bariton lelaki itu.
Shan-Yu mengabari dengan suara sayup. “Saya membawa kabar buruk!”
“Saya sudah tahu!” seru Han Chen Tjing dingin. Disekanya peluh yang membanjiri tengkuk dan lehernya dengan sapuan ujung lengan bajunya.
“Saya tidak menyangka Fa Mulan dapat secepat itu merangkum banyak prajurit di Tung Shao!” Shan-Yu mengurai alasan.
Han Chen Tjing mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Yuan Ren Zhan memang cerdik. Dia lebih berbahaya dari ayahnya, Yuan Ren Xing.”
“Ketua Han, jadi apa selanjutnya rencana Anda untuk menghancurkan Dinasti Yuan?” Shan-Yu melangkah. Berhenti simetris dengan sebatang cemara yang tumbang oleh pukulan dahsyat Telapak Besi Han Chen Tjing.
“Kita tidak memiliki serdadu sebanyak mereka!” urai Han Chen Tjing ragu. “Menyerang mereka secara frontal di Tembok Besar sudah tidak mungkin kita lakukan lagi!”
“Apa Fo Liong mereka begitu hebat, Ketua Han?!”
“Anda sudah mendengarnya juga, Jenderal Shan?”
“Dari jasus yang sudah menyelinap ke Ibukota Da-du.”
Han Chen Tjing berdeham.
Ia menarik napas panjang. Mengembuskannya kemudian, juga dengan birama panjang. Shan-Yu mengelus ujung janggutnya yang menghitam seperti ekor bekisar. Ia masih menanti jawaban.
“Kalau tidak hebat, pasukan kita tidak mungkin mundur dari perbatasan Tembok Besar!” jawab Han Chen Tjing akhirnya setelah berhasil mengusai emosinya.
“Saya tidak menyangka Yuan Ren Zhan dapat menggalang kekuatan dengan Setan Putih!” Shan-Yu menimpali, matanya memicing bengis.
“Semua itu karena andil Perdana Menteri Shu Yong,” sahut Han Chen Tjing, melangkah sedepa dari tempatnya berdiri. “Dia memiliki banyak relasi dengan Negeri Putih. Setan Putih-Setan Putih itu membantu mereka, memasok Fo Liong untuk menghancurkan kita!”
“Keparat!” Shan-Yu meninju telapak tangannya sendiri.
“Untuk saat ini saya tidak tahu harus berbuat apa-apa. Semua rencana kita gagal. Pasukan kita yang berhasil melewati Tembok Besar sudah dibabat habis oleh prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong. Kecuali gerilya dan menelusup di Ibukota Da-du, saya sungguh tidak tahu rencana apa lagi yang akan dapat kita terapkan!” imbuh Han Chen Tjing dengan rupa bingung.
Shan-Yu merapatkan gerahamnya. Dicengkeramnya keras-keras gagang pedang ular peraknya saat pemimpin tertinggi Han itu melangkah masuk ke ruang dalam rumah tanpa memedulikannya. Ia benar-benar merasa menjadi orang yang tidak berguna. Ia bersumpah untuk memenggal kepala Sang Kaisar suatu saat nanti. Dan menyerahkannya sebagai hadiah untuk lelaki berilmu silat tinggi itu.
“Jenderal Shan….”
Shan-Yu menoleh.
Di ambang pagar halaman tampak Ta Yun berlari ke arahnya. Tiba dua depa dari hadapannya disertai sebuah bungkukan tabe. Wajahnya menyumringah.
“Saya baru mendapat kabar dari beberapa jasus di Ibukota Da-du, Jenderal Shan,” paparnya. “Mereka mengatakan kalau Kaisar Yuan Ren Zhan akan melakukan pesta kemenangan di Istana Da-du. Mereka akan mengadakan Festival Barongsai.”
Shan-Yu mengerutkan dahinya. “Festival Barongsai?!”
Ta Yun mengangguk. “Ya, Festival Barongsai. Menurut jasus kita, acara Festival Barongsai tersebut akan dihadiri oleh seluruh peserta barongsai yang ada di Tionggoan. Pihak Istana Da-du sudah menyebarkan undangan ke seluruh penjuru negeri. Festival Barongsai itu direncanakan akan berlangsung pada saat purnama purna, awal dua bulan depan nanti!”
Tubuh Shan-Yu menegak. “Kalau begitu, siapkan orang-orang kita yang berwushu tinggi. Kita akan menelusup masuk sebagai peserta lomba barongsai. Segeralah berkemas, ikut saya ke Ibukota Da-du besok pagi. Samarkan identitas kita sebagai petani. Jangan sampai kepergok prajurit penjaga gerbang. Wajah kita pasti sudah disebar di seluruh pelosok negeri sebagai buronan!”
“Baik, Jenderal Shan!”