12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 13

BLOGKATAHATIKU/IST
Ketika aku mendapat sebuah kemenangan
aku tidak mengulang taktik itu
namun merespons berbagai keadaan
dalam cara-cara yang tidak terbatas

Taktik-taktik militer mirip dengan air
seperti air membentuk alirannya
berdasarkan permukaan
sebuah pasukan menang
dengan menyesuaikan diri
terhadap musuh yang dihadapinya

Dan sama seperti air yang inkonstansi
dalam perang pun
tak pernah ada kondisi yang konstansi

Sun Tzu
Refleksi Seni Rana

Aroma kemenangan memang sudah selenggang. Kurang lebih seratus ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh membentuk pagar betis, merangkai rantai manusia yang menutup Tung Shao dari sebelah timur sampai barat. Di belakang rantai manusia, ribuan kuda tanpa penunggang telah berbarikade serupa defile. Kurang lebih sepuluh ribu prajurit Divisi Infanteri yang masih tersisa memegang panji-panji dan umbul-umbul Dinasti Yuan bertiang tombak. Mereka melangkah perlahan menuruni bukit, seolah hendak menyongsong pasukan pemberontak Han di bawah bukit.
Fa Mulan telah mendelegasikan masing-masing Pati memegang kendali atas seratus ribu kuda tanpa penunggang beserta prajurit di garda depan. Bao Ling bertanggung jawab atas barikade selatan. Chien Po pada barikade utara. Sementara Yao dan ia sendiri memegang kendali perintah di barikade timur dan barat. Dari kejauhan kesatuan barikade tersebut membentuk asumsi kekuatan tetralogi yang sangat tangguh. Sebuah empat mata rantai yang saling mengikat, dan mendukung antara satu dengan lainnya.
“Yao, Chien Po, Bao Ling!” Fa Mulan berteriak, memimpin di garis depan. “Kerahkan semua armada untuk merangkak perlahan! Semua prajurit Divisi Kavaleri Danuh dan Divisi Infanteri merengsek maju, berteriak sekeras-kerasnya!”
Maka yang terjadi berikutnya adalah puncak Tung Shao menyemut oleh prajurit Yuan. Menghitam seperti arak-arakan gemawan yang siap menjelma menjadi badai hujan. Dari kaki bukit, Shan-Yu terpana. Tubuhnya menggigil. Ia serasa tak percaya. Teriakan-teriakan yang menggema sampai ke bawah bukit bagai raungan halilintar. Ia serasa berhadapan dengan avalans. Siap melumat dan menguburnya di dalam endapan salju yang akan membekukan tubuhnya. Napasnya seketika tercekat.
“Mundur! Mundur semuanya! Mundur kembali ke barak Utara!”
Tiga ratus ribu pasukan pemberontak Han mundur cepat dari zona tempur. Shan-Yu menggeram dengan wajah memerah menahan malu. Ia telah dikalahkan oleh prajurit wamil, Fa Mulan. Digebahnya pasukannya kembali ke gigir Sungai Onon, menyeberangi derasnya gelombang air. Dan pulang ke kamp mereka setelah melintasi Danau Baikal di perbatasan Mongolia.
“Keparat! Bala bantuan Yuan lebih besar dari jumlah pasukan kita!” gusar Shan-Yu pada asistennya, Ta Yun.
“Da-dari mana mereka dapat memperoleh tambahan prajurit sedemikian cepatnya, Jenderal Shan?!”
Shan-Yu menggeleng di atas punggung kuda putihnya. “Tidak tahu. Tapi, saya rasa Kaisar Yuan Ren Zhan telah menghimpun rakyat di pesisir untuk menjadi wamil.”
“Tapi, bukankah rakyat di pesisir telah bersimpati pada kita, Jenderal Shan?” tanya Ta Yun yang mengenakan bandana dari bahan mohair di atas kepalanya yang berambut lebat sepinggang.
“Tidak, tidak semuanya!” jawab Shan-Yu separo membentak. “Kaisar Berengsek itu sudah menyuap orang-orang itu supaya mau ikut dengan mereka!”
Daerah pesisir yang dimaksud adalah semenanjung Hainam . Sebuah negeri kepulauan kecil dengan penduduk padat. Masih independen. Orang-orang dari negeri putih baru saja meninggalkan daerah itu karena dianggap tidak memiliki lahan apa-apa yang dapat digarap kecuali ikan dan garam.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan, Jenderal Shan?!” tanya Ta Yun, sang pendekar bertubuh karang berohkan senjata trisula. Dadanya yang menggelembung telah menggambarkan kekuatan fisiknya yang sekuat banteng.
“Untuk sementara kita kembali ke kamp dulu. Setelah itu, saya akan berkonfirmasi dengan Pimpinan Han yang masih berada di perbatasan Tembok Besar. Mungkin kita himpun kekuatan baru lagi. Lalu kembali menggempur pihak Yuan.”
“Tapi, apakah kita telah membuang-buang waktu, Jenderal Shan?”
“Maksudmu, kita tetap melawan prajurit Yuan yang berjumlah kurang lebih satu juta personel itu?!”
“Bukan….”
“Kalau saya meladeni mereka bertempur tadi, sama juga saya bunuh diri!”
“Ten-tentu….”
“Jadi selagi ada waktu untuk lolos, lebih baik kita kabur dulu. Sampai suasana kondusif untuk melakukan penyerangan kembali.”
“Ya-ya! Seharusnya memang begitu, Jenderal Shan!”
Ta Yun tergagap.
Trivialitas berpikirnya mengubunkan amarah Shan-Yu. Segera diakurinya dalih Shan-Yu untuk menarik diri dari zona tempur. Aversinya itu memang demi keselamatan semua pasukan Han.
“Mungkin pasukan yang berasal dari Tung Shao ini akan membantu pasukan Pemimpin Han di perbatasan Tembok Besar. Mungkin kita akan mendobrak pertahanan musuh yang sedikit melemah di sana. Beberapa ribu pasukan kita di sana telah berhasil menaklukkan prajurit Yuan,” ujar Shan-Yu menuai harapan. “Apa boleh buat. Ternyata strategi kita gagal di Tung Shao. Padahal, mulanya daerah itu telah diprakirakan akan dapat dengan mudah kita rebut. Justru sebaliknya dengan daerah di perbatasan Tembok Besar yang sama sekali tidak menjadi target kemenangan, kecuali untuk membuyarkan konsentrasi pakar strategi perang Yuan! Huh, saya tidak menyangka Fa Mulan dapat mengkoordinir semua prajurit Yuan secepat dan setangkas itu!”
Ta Yun mengepalkan tangannya di atas punggung kuda ketika melewati daerah paya di gigir Sungai Onon.
“Keparat Si Anak Kampung Fa Mulan itu! Akan saya bunuh dia kalau ketemu!” teriaknya tertahan menahan geram.
Shan-Yu mengangguk. “Padahal beberapa waktu lalu, saya sudah nyaris membunuh pemimpin Kamp Utara, Shang Weng, di dusun Nio. Untung dia dapat kabur. Tapi saya yakin dia terluka parah. Bahkan mungkin tewas di atas bukit sana!”
“Jangan khawatir, Jenderal Shan,” Ta Yun menghibur. “Saya sudah menyusupkan beberapa orang jasus di Ibukota Da-du. Mereka akan membunuh perwira-perwira Yuan bila tidak terkawal nanti!”
“Bagus!”
“Bahkan beberapa di antaranya sudah menelusup ke dalam lingkungan Istana Da-du, meskipun belum sampai ke Area Terlarang Kaisar Yuan Ren Zhan karena ketatnya pengawalan.”
“Tinggal menunggu waktu saja, kepala Kaisar Yuan Ren Zhan akan saya serahkan kepada Han Chen Tjing!”
Shan-Yu terbahak.
Mafelanya yang berwarna coklat tanah mengibar diembus angin sungai. Ratusan ribu serdadu mengekor di belakangnya. Beberapa ribu pasukan mengusung peralatan tempur di pundak mereka. Sebagian lagi duduk di pedati dan muntit kuda yang mengangkut logistik militer.
Keciprat air yang mengirama oleh sapuan ratusan ribu pasang kaki di tepi sungai menimbulkan bunyi mayor. Burung-burung gereja beterbangan dari dahan-dahan rerimbunan daun bambu. Merasa terusik oleh sekelompok makhluk pengganggu. Mereka ketakutan, menjauh ke arah bukit. Dan hinggap di belantara pinus yang sudah tak berambun.
Pagi baru saja disaput oleh siang ketika mereka tiba di dermaga Sungai Onon. Dermaga tersebut merupakan dermaga darurat yang sengaja dibangun sewaktu penyerangan ke bukit Tung Shao. Di sana masih menyandar ribuan perahu dan rakit bambu. Dermaga itu dijaga oleh seribu orang serdadu Han, yang khusus bertugas mengawasi keselamatan transportasi air sederhana itu. Tidak ikut menyerang ke kaki bukit Tung Shao.
Shan-Yu turun dari punggung kudanya.
Langkahnya diikuti Ta Yun yang mengekor hendak mengaso. Mereka duduk di rerimbun bambu, menyandarkan punggung pada batang bambu sembari menunggu barkas khusus untuk para perwira tinggi yang sedang disiapkan oleh beberapa serdadu. Kali ini air sungai tidak terlalu menderas. Jadi mereka dapat menjauh dari kejaran prajurit Yuan dengan mudah. Sewaktu mereka melakukan penyerangan beberapa bulan lalu, air sungai sedikit meluap karena avalans salju dari bukit Tung Shao.
Shan-Yu tidak mau menempuh risiko masuk bersembunyi menelusup ke dusun-dusun. Cepat atau lambat mereka pasti akan tertawan. Apalagi penduduk dusun-dusun sekitar juga sudah mengantipati kehadiran pasukan Han, yang dianggap telah mengganggu ketenteraman mereka. Bahkan beberapa dusun telah mereka hancurkan, dijadikan markas militer dan lumbung logistik.
“Jenderal Shan, apa tidak ada cara lain untuk menghadapi kekuatan besar mereka selain kolaborasi pasukan dari daerah perbatasan Tembok Besar?” Ta Yun bertanya, lebih menyerupai bahan pemecah kebisuan ketimbang pertanyaan strategi.
“Maksudmu….”
“Maksud saya, apakah kita tidak dapat bekerja sama dengan Temujin….”
Shan-Yu sontak berdiri dari duduknya. Ditatapnya sepasang mata sipit di hadapannya dengan tubuh membahang. Suaranya menggelegar. “Saya tidak sudi bekerja sama dengan kaum nomad!”
Ta Yun terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Ada dalih yang hendak diutarakannya. Tetapi urung terucap karena tergebah amarah Shan-Yu yang sudah meledak-ledak. Tentu saja bukan bekerja sama harafiah. Namun hanyalah bagian dari strategi pinjam tangan. Artinya, kaum barbarian Mongol dibiarkan bertempur di garis depan dengan prajurit Yuan sampai kedua belah pihak melemah. Dan ketika itu mereka akan masuk menyerang dari belakang memanfaatkan keadaan.
“Temujin terlalu angkuh!” damprat Shan-Yu. “Bagaimana mungkin kita dapat bekerja sama dengan orang seperti itu! Apalagi, kita memiliki kepentingan politik yang sama. Huh, mustahil Si Mongol Tua ingin berbagi tanah Yuan yang gembur.”
“Maafkan atas kelancangan saya tadi, Jenderal Shan!” Ta Yun bangkit berdiri, mengatupkan sepasang tangannya cepat di pangkal kalimat tabiknya. “Saya memang belum berpengalaman. Mohon Anda memaklumi.”
“Lebih baik kita pikirkan strategi lain ketimbang harus bekerja sama dengan orang yang maneris begitu!”
Ta Yun mengangguk. Diakurinya dengan terpaksa kalimat Shan-Yu yang mangkas. Dihelanya napas. Sebaiknya ia tutup mulut saja. Para perwira tinggi selalu merasa tinggi. Jarang mau menerima masukan dan usul bawahannya. Sifat laten Shan-Yu itu setali tiga uang dengan pemimpin tertingginya, Han Cheng Tjing. Selain keras kepala, mereka juga sama-sama ambisius!
“Maaf, Jenderal Shan,” sapa seorang serdadu yang membungkuk dalam-dalam. “Barkas untuk Anda sudah siap. Apakah kita dapat berangkat sekarang?”
Shan-Yu mengangguk.