12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 12


BLOGKATAHATIKU/IST
Kularikan kegamanganku ke Gobi
bercerita pada basir pasir
dan sekawanan rajawali
tentang perintah Si Raja Gurun
Ayah segala nomad
yang diamanatkan kepadaku

Ia berkata
taklukkan Tionggoan agar kita dapat bernaung
dalam sebuah negeri Istana
namun tak kugubris seruannya
sebab ambisi hanya majas fatamorgana

Kao Ching
Temujin Suatu Hari

Gumpalan awan menghitam di bujur ekuator langit. Beberapa walet beterbangan mengitari barak-barak di bawah kaki bukit Tung Shao. Di antaranya menelusup di rimbunan daun bambu. Sesekali melesat sangat rendah, mendekati beberapa pasukan Han yang sedang mengaso.
Ada meja hyang yang ditata menghadap sebelah timur. Dialasi satin kuning telur dengan seperangkat alat pemuja, meja kayu persegi itu tampak angker mengundang pewaka. Jenderal separo baya, Shan-Yu, mengenakan jubah kelabu menjuntai menyisir tanah. Mengibaskan pedang perak ularnya di atas kepala, sejurus mengarahkannya ke depan, menusuk selembar fu  yang tergeletak di samping paidon bersetanggi ladan.
Diangkatnya fu itu ke atas api lilin yang sedang mengobar. Bibirnya bergetar kemu. Serangkaian mantra mengalir bersamaan dengan mengabunya jimat dari kertas tersebut. Sebasung manekin jerami berdiri di depan paidon yang masih menyembulkan tabir asap. Simbol-simbol aneksorsis, wujud kasatmata dalam manekin yang ia buat dan diurapi dengan roh-roh para arwah gentayangan.
Ritual bulanannya. Ia hidup dari autotrop hawa dingin tsar chi. Ilmu Telapak Penghancur Tengkorak ciptaan Auw Yang Pei San  yang ia dalami mesti dialiri dengan tenaga negatif yang berasal dari makhluk-makhluk halus dimensi lain. Setiap rembulan memurna gelap, ia akan mengundang arwah-arwah untuk bersekutu. Menghimpun kekuatan gelap demi mewujudkan ambisinya. Agar suatu saat kelak tidak ada pendekar manapun di Tionggoan mampu mengalahkannya.
Ia akan menjadi penguasa di negeri itu!
“Jenderal Shan-Yu….”
Ada sapaan yang melantun tepat ketika ia telah menyelesaikan ritualnya. Ia melepas jubah kelabu bersulam emas membentuk gambar anominitas di belakangnya. Disampirkannya pedang ular peraknya di punggung setelah memasukkannya ke dalam sarung ukir bambu kuning. Sebilah tali serupa pita merah mengikat pada pundak sebagai pegangan pedang ular peraknya.
“Ada utusan dari Mongol yang ingin bertemu, Jenderal Shan,” jawab salah seorang pasukan Han yang mengenakan lemena.
Jenderal bermata elang itu mengangguk, mengaba dengan tangannya supaya orang itu menyingkir. Ia berjalan perlahan menuju tenda induk. Tempat pertemuan dan rapat militer biasa dilakukan.
“Hormat saya, Kao Ching, utusan Pemimpin Agung Mongolia, Genghis Khan!” sapa seorang pemuda bertubuh terbilang kecil untuk orang-orang Mongol menyambut kehadirannya di tenda induk. Tampak mengepalkan tangannya ke muka wajah. Menghormat lebih dahulu.
Shan-Yu mengangguk sebagai balasan. Tangannya mengaba, menunjuk sebuah kursi guci tembikar yang mengelilingi meja persegi porselen. Pemuda berkostum gembala dengan busur yang menyampir di punggungnya itu duduk di salah satu bangku berembos burung hong.
“Senang berjumpa dengan Anda, Pendekar Kao,” balas Shan-Yu berformalitas dengan wajah dingin. “Ada angin apa yang membawa Anda kemari?”
Ia sudah mendengar nama mashyur Kao Ching. Seorang anak gembala berayah Mongol dan beribu Han yang dipelihara oleh kaum nomad Mongol. Jawara memanah itu dijuluki Si Pendekar Danuh. Akurasitas bidikan anak panahnya tak tertandingi oleh siapa pun. Mampu menjatuhkan dua burung dalam satu kali bidikan. Selama beberapa tahun sepeninggal ayah kandungnya, ia dipelihara oleh Genghis Khan. Tetapi kemudian berpisah karena Kao Ching diambil kembali oleh ibu kandungnya, dan hidup bersama di Provinsi Kiangsu, Tionggoan Utara. Di Tionggoan, Kao Ching sangat populer karena kerap memenangi sayembara memanah yang sering diadakan oleh puak terpandang dan kalangan bangsawan di Istana. Namun beberapa tahun kemudian ia menghilang dari Provinsi Kiangsu, kembali tanpa ibunya ke Ulan Bator .
Kao Ching tersenyum. “Hanya ingin menyampaikan salam Genghis Khan untuk Anda, Jenderal Shan.”
Shan-Yu terbahak. “Temujin selalu begitu. Pantas dia disegani banyak lawan.”
Kao Ching tersenyum mengikuti derai tawa Shan-Yu. Temujin adalah nama kecil Genghis Khan, pemimpin kaum nomad Mongol yang berusaha mencari identitas diri dengan menaklukkan negara lain. Merebut wilayah kekuasaan negara lain taklukannya supaya rakyat Mongol dapat menetap dan bertempat tinggal.
“Kalau boleh tahu, mungkin ada hal lain yang ingin disampaikannya kepada saya di balik titipan salamnya?” Shan-Yu bertanya, hendak langsung ke pokok masalah. Ia sudah tahu benar tabiat pemimpin nomad Mongol itu. Ia tidak ingin membuang-buang waktu berbasa-basi. Fajar nanti pasukannya akan memulai penyerangan besar-besaran ke puncak bukit Tung Shao. Membantai prajurit-prajurit Yuan pimpinan mantan prajurit wamil Fa Mulan dan atasannya, Kapten Shang Weng.
Pemuda jago danuh itu kembali mengatupkan kedua tangannya ke muka wajah. “Maaf, Jenderal Shan. Pemimpin kami menyampaikan kalau sudah beberapa bulan ini pasukan Han pimpinan Anda yang berada di gigir Sungai Onon telah meresahkan penduduk sekitar. Mereka kadang-kadang merampok dan memperkosa warga di dusun perbatasan. Itulah sebabnya saya diutus kemari untuk menyampaikan keresahan rakyat Mongol kepada Anda.”
Wajah Shan-Yu memerah. Sesaat. Tetapi ia kemudian terbahak seolah tidak termakan singgungan. Kao Ching mengangguk-angguk seolah membiramai tawa lelaki beralis bulan sabit tersebut.
“Saya baru mendengar hal itu dari Anda, Pendekar Kao,” sahut Shan-Yu dingin. “Tentu saja saya akan memenggal kepala prajurit saya itu bila memang bertindak arogan seperti yang Anda katakan tadi!”
“Genghis Khan akan sangat berterima kasih bila Anda turun tangan menangani masalah itu,” tutur Kao Ching santun.
“Tentu, tentu. Saya tidak ingin mengecewakan Temujin. Kedua kubu kita seharusnya bersatu, karena sama-sama memiliki tujuan menggulingkan Kekaisaran Yuan!”
Kao Ching mengangguk. Ia melenguh dalam hati. Tentu saja kalimat dari Shan-Yu itu hanya perona manis. Sebab ribuan tahun kaum nomad Mongol tidak pernah akur dengan suku Han. Namun memang kali ini kedua kubu yang sering bertikai itu memiliki tujuan yang sama. Merebut wilayah kekuasaan Kaisar Yuan Ren Zhan yang sangat luas dan gembur!
“Sampaikan salam balik untuk Temujin. Tolong katakan supaya beliau tidak usah khawatir,” ujar Shan-Yu, masih berusaha bersikap manis. “Saya akan mengawasi pasukan Han lebih ketat!”
“Terima kasih, Jenderal Shan,” balas Kao Ching. “Pasti akan saya sampaikan pesan Anda.”
Shan-Yu mengangguk-angguk. Ekor matanya menatap sinis pada pemuda di depannya. Ia mengatupkan rahang menahan amarah. Wibawanya teremehkan oleh kaum nomad pimpinan Genghis Khan. Huh, dipikirnya siapa dia?! makinya dalam hati. Suku gembala temurun peternak kuda di gurun. Bisa apa dia selain bergerombol memanjat Tembok Besar?!
Suasana dalam tenda induk yang diambangi kebisuan seperti menyebarkan atmosfer permusuhan. Dua sosok itu mengarca. Seolah bertempur di alam benak masing-masing. Kao Ching mengedarkan mata, menyusuri benda-benda di bawah tenda kempa kulit seukuran lima kali tenda biasa prajurit. Tatapannya memusat pada satu titik. Di belakang sebuah meja kerja tampak selembar lukisan monokrom tujuh ekor kuda dengan grafiti kanji di bawahnya. Di lantai tanah, tampak selembar kulit kempa macan tutul menengkurap dengan kepalanya yang masih utuh, diawetkan.
Shan-Yu mengelus-elus pedang ular peraknya di hadapan Kao Ching. Sebuah simbolitas penantangan. Selama menjadi kakitangan Han Chen Tjing, ia pernah sekali terlibat bentrok dengan beberapa barbarian Mongol. Terutama untuk daerah bagian selatan dekat perbatasan Tembok Besar, kedua kubu itu sering berpapasan. Kaum nomad Mongol memang sangat membencinya. Sewaktu masih menjabat di militer Dinasti Yuan, Shan-Yu banyak membinasakan barbarian Mongol yang berusaha melewati Tembok Besar. Genghis Khan sangat dendam kepadanya.
“Saya tidak mau berlama-lama mengganggu Jenderal Shan lagi.”
Shan-Yu mengangguk membalas pamitan anak muda peranakan Mongol itu, masih dengan wajah sedingin salju. Seekor walet nyaris menabrak pucuk tenda ketika Kao Ching bertabe pamit. Tidak banyak hal yang dapat ia lakukan untuk meraba kekuatan pasukan Han yang terdiri dari kumpulan rakyat jelata. Mirip dengan barbarian Mongol, pikirnya. Mereka memang menggunakan kekuatan jelata. Tinggal mana yang lebih cerdik dan memiliki strategi taktis untuk dapat merebut negeri Tionggoan yang subur.