12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 11

BLOGKATAHATIKU/IST
Tataplah aku patriot
dalam binar gentar mataku
dan diam kemu bibirku

Ajari aku menari
pada padang lalang sekalipun

Fa Mulan
Nyanyian Padang Maharana

Fa Mulan melangkah hati-hati, masuk melewati beberapa sangu tempur di dalam tenda Shang Weng. Penerangan di dalam tenda membias temaram. Pelita di atas meja sudah meredup, nyaris kehabisan bahan bakar minyak samin. Merupakan rutinitas hariannya setiap petang untuk mengisi dan menambah bahan bakar penerangan di dalam tenda Shang Weng tersebut.
Kondisi pemuda itu sudah lebih membaik setelah dirawat khusus oleh Tabib Ma Qhing. Luka pada kulit luar di alur iga ketiga dada kirinya sudah sedikit menutup meski belum mengering benar.
Fa Mulan berhenti di meja kayu tenda. Duduk di salah satu bangku. Menuang minyak samin dari botol tembikar bekas arak kampung ke wadah perak berbentuk teratai pelita. Sejenak ditatapnya wajah tampan Shang Weng yang sudah setengah terjaga setelah selesai menuang.
“Mulan….”
Fa Mulan berlari setengah tergopoh ke samping amben atasannya itu. Dipapahnya punggung lelaki berbadan tegap itu yang hendak berdiri dan berjalan ke arah meja.
“Kapten Shang….”
“Saya sudah tidak apa-apa.”
“Anda perlu banyak beristirahat. Jangan banyak bergerak dulu.”
Shang Weng bersikeras melangkah. Ia terhuyung. Fa Mulan menyangga tubuh pemuda itu dengan bahunya. Wajah mereka nyaris bersentuhan. Fa Mulan memalingkan wajahnya dengan rupa jengah. Shang Weng mengurai senyum simpul.
“Kenapa Anda tersenyum?!” tanya Fa Mulan setelah mendudukkan tubuh  Shang Weng di salah satu bangku kayu.
“Tidak apa-apa,” elak Shang Weng, menggeser sedikit posisi pelita minyak samin di atas meja. “Hanya….”
“Hanya apa?” cecar Fa Mulan, masih menyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan.
“Hanya saya baru menyadari kalau ternyata Fa Mulan itu sebetulnya cantik!”
Fa Mulan nyaris terjatuh dari bangkunya. Sanjungan mendadak dari Shang Weng melambungkan hatinya. Ia serasa tak berpijak di tanah. Inilah pujian terindah dalam hidupnya selain pujian yang selalu didengungkan oleh ayahnya.
“Sa-saya….”
“Saya berkata apa adanya, Mulan.”
“Ta-tapi….”
“Kenapa? Tidak mau mengakui bahwa kamu sebetulnya cantik seperti bunga yang-liu?”
Fa Mulan menahan senyumnya.
Pipinya semakin memerah seperti buah persik yang meranum. Baru kali ini pulalah ia merasa menjadi perempuan. Segenap kegarangannya hilang ditelan litani. Pemuda itu memang telah menyayapinya dengan sanjungan sehingga ia seolah terbang ke negeri para dewa. Di mana keindahan yang tiada tara dihamparkan di depan matanya. Maharana yang bakal memporak-porandakan mereka besok mendadak lenyap benaknya. Cinta telah menyaput keresahan hatinya.
“Luka Anda bagaimana, Kapten Shang?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Tapi….”
“Hei, dahimu berjelaga!”
Shang Weng sporadis mengeluarkan saputangan dari saku seragamnya. Disekanya dahi dan kening Fa Mulan yang ditempeli jelaga arang. Fa Mulan termangu. Sesaat serupa arca. Mematung lama sampai pemuda yang diam-diam dicintainya itu selesai menyeka.
“Kamu berkelahi lagi, bukan?”
“Ti-tidak!”
“Jangan bohong! Tadi saya mengintip dari balik daun tenda. Pasti dengan Yao!”
“Kami sedang latihan kungfu.”
“Kalau berdalih, coba cari alasan yang lebih tepat.”
“Tapi….”
Shang Weng kembali mengurai senyum. “Untung saya terluka, jadi tidak punya tenaga untuk menyambuk punggung kalian berdua sebagai hukuman.”
Fa Mulan tersenyum, lalu menundukkan kepalanya. Merasa bersalah telah membohongi pemimpin tertinggi di Kamp Utara itu.
Shang Weng bertanya perihal perkelahian gadis itu barusan. “Persoalan apa lagi?!”
Fa Mulan menggigit bibirnya.
Seorang prajurit sejati memang pantang mengurai dusta. Apapun persoalannya. Seberat apapun kasusnya. Toh pemuda itu sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri perkelahiannya dengan Yao tadi. Ia tidak dapat mengelak cecaran pertanyaan Shang Weng itu dengan mengatakan tidak ada apa-apa. Pasti bukan tanpa sebab kalau ia bertarung sengit dengan Yao barusan. Dan akhirnya diputuskannya untuk lugas berterus terang setelah menimbang-nimbang sejenak.
“Yao tidak dapat menahan amarahnya,” jawab Fa Mulan tanpa sedikit pun terdengar nada mendiskreditkan atau mengadu. “Dia nekat menyongsong Jenderal Shan-Yu di perbatasan.”
“Yao keras kepala. Dari dulu….”
“Saya menegurnya. Tapi dia tidak terima!”
“Anak itu mesti diganjar pelajaran!”
“Makanya, kami berkelahi.”
“Saya tidak dapat menyalahkan kamu kalau begitu.”
“Terima kasih, Kapten Shang.”
“Lalu, bagaimana nasib prajurit-prajurit lainnya?”
Fa Mulan menghela napas sampai dadanya dipenuhi oksigen. “Nah, inilah yang membuat saya kalap tadi!”
“Kenapa?!”
“Nyaris seratus prajurit pilihan yang menyertainya gugur sia-sia di perbatasan!”
“Kurang ajar Si Yao itu!”
Shang Weng menggabruk meja.
Fa Mulan terlonjak. Sama sekali tidak menyangka atasannya itu akan mengguntur gusar. Ia sedikit menyesal telah menceritakan kejadian yang sesungguhnya di saat pihak Yuan sudah di ambang kehancuran. Tetapi ia tidak bisa mengarang kisah di hadapan sang pemimpin. Ia tidak bisa merangkai utopia sehingga tercipta ketenangan di benaknya yang babur.  
“Maaf, Kapten Shang!” Fa Mulan mengatupkan tangannya menghormat. “Ini insiden. Yao sudah menyesali perbuatannya. Sebenarnya bukan maksud dia untuk bertindak gegabah. Hanya saja dia menganggap saya lamban mengeksekusi pasukan pemberontak Han beberapa bulan lalu saat terdesak mundur di gigir Sungai Onon.”
“Tapi….”
“Mohon Kapten Shang jangan menghukumnya!” Fa Mulan masih mengatupkan tangan di muka wajahnya. “Dia sudah sangat terpukul dengan kejadian di perbatasan itu. Semua yang dia lakukan itu demi kebaikan Kekaisaran Yuan juga. Dia bernafsu membunuh Jenderal Shan-Yu. Cuma sayang dia tidak memikirkan akibat yang ditimbulkannya, yang memakan banyak korban di pihak kita.”
Shang Weng mengatupkan gerahamnya.
Amarahnya mengubun. Dipejamkannya mata sesaat untuk menetralisir darah yang berdesir di sekujur nadinya. Fa Mulan menggigit bibir. Ia khawatir dan menggamangkan Yao yang mungkin akan mendapat hukuman pancung!
Ia tahu watak keras Shang Weng.
Pemuda itu seperti tidak pernah mengenal bahasa kompromi. Ia menjunjung sebuah prinsip yang sampai mati pun akan terbawa dalam kubur. Bahwa harga diri melebihi segalanya!
Sekian tahun ia mengabdi pada Kekaisaran Yuan, sekian tahun pula ia menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan para leluhurnya, para pewarga marga Shang yang sudah meninggal namun tetap hidup dengan gaung moralitas dan kebajikan sejatinya.
Pemuda itu adalah pemburu ektoterm.
Ia sangat membenci kezaliman. Tidak ada tempat di hatinya untuk para rudapaksa, yang korup dan tiran seperti Shan-Yu. Yura harus ditegakkan demi keadilan zamin. Supaya bijana yang telah dipijaknya sejak kali pertama menghirup lafaz kehidupan terbebas dari segala angkara. Salah satu bentuk bakti moral untuk para leluhurnya!
“Setelah pertempuran ini, Yao harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang tidak berotak itu!” ancam Shang Weng gusar. “Pembangkangannya itu harus mendapat ganjaran hukuman yang seberat-beratnya!”
Fa Mulan langsung menjatuhkan dirinya ke tanah.
Ia berlutut di hadapan Shang Weng. Sepasang tangannya mengepal di muka. Memohon dengan hormat di bawah kaki pemuda yang masih mengatupkan gerahamnya itu. Agar mengurungkan niatnya menghukum Yao yang sudah melakukan pelanggaran berat dalam kemiliteran.
“Saya yang salah, Kapten Shang!” serunya dengan suara memarau. “Saya yang tidak becus mengawasinya sehingga bertindak di luar kendali. Seharusnya saya yang bertanggung jawab atas kejadian miris di perbatasan itu! Kalau Anda hendak menghukum Yao, maka hukumlah saya terlebih dahulu. Dipancung pun saya rela, Kapten Shang!”
Shang Weng mengibaskan tangannya. Sikapnya sedikit melunak termakan iba. Diam-diam dikaguminya Fa Mulan yang memiliki solidaritas setinggi langit. Ia memang layak menjadi pemimpin para prajurit.
“Bangunlah,” perintahnya. “Yah, sudahlah….”
Fa Mulan sontak berdiri dengan wajah sumringah. “Jadi, Kapten Shang sudah memaafkan Yao, bukan?!”
Pemuda itu diam. Tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Namun suaranya tidak mengguntur lagi ketika ia menjawabi pertanyaan antusias Fa Mulan yang masih menggaung euforis tadi.
“Siapa yang bilang begitu?! Apa kata prajurit-prajurit lainnya nanti? Di mana letak keadilan itu kalau saya membebaskan Yao tanpa syarat?”
Wajah Fa Mulan mengerut. “Jadi?!”
“Yao tetap akan dijatuhi sanksi administratif. Mungkin dia dipecat dari dinas militer, atau pangkatnya diturunkan setingkat.”
Urat syaraf Fa Mulan mengendur. Rengsanya menguap. Badannya menegak. Respirasinya normal kembali. Ia lega. Sangat lega. Yang pasti, Yao tidak akan dipancung! Ia duduk kembali ke bangkunya. Menatap sepasang mata elegan di hadapannya dengan sakinah.
“Kamu agak kurusan,” ujar Shang Weng lembut, menggeser amarahnya dengan topik lain.
“Kapten Shang….”
“Mulan, kamu sudah banyak menderita!”
“Saya….”
“Tidak sepantasnya gadis seperti kamu menempuh bahaya, menyabung nyawa untuk mempertahankan negara.”
“Urusan mempertahankan negara merupakan kewajiban setiap orang, Kapten Shang. Tidak dibeda-bedakan oleh jenis kelaminnya.”
“Tapi….”
“Saya tidak merasa istimewa karena dalih satu-satunya perempuan yang menjadi prajurit Yuan, Kapten Shang! Sekarang, pada saat negara sedang di ujung tanduk, siapa pun dapat mengaplikasikan diri bela negara. Tidak mesti hanya di kemiliteran. Gadis-gadis lain yang menyiapkan segala keperluan logistik misalnya, juga otomatis telah ikut bersumbangsih mempertahankan negara. Para perempuan yang membantu suaminya di sawah di daerah Yunan pun turut berjasa secara tidak langsung. Jadi, jangan bedakan saya dengan para prajurit lainnya.”
“Makanya saya simpati sama kamu, Mulan. Padahal, gadis-gadis sebayamu pasti sudah disunting orang. Melahirkan anak bagi suami mereka. Hidup damai di bawah naungan rumah besar. Bukannya tenda reyot di barak militer bikin sengsara ini.”
“Kalau tidak salah sudah seribu kali Anda mengatakan hal yang sama, Kapten Shang.”
“Kenyataannya….”
“Kenyataannya saya tidak setegar sangkaan Anda, Kapten Shang!”
Shang Weng terbahak. “Tentu. Soalnya kalau tidak, pasti pipi kamu tidak akan terbakar seperti tadi saat saya mengatakan kamu cantik!”
“Anda….”
“Kamu tetap perempuan.”
“Maaf, Kapten Shang. Saya tidak suka diolok-olok begitu!” Fa Mulan mendengus, melipat tangannya di dada pura-pura sewot.
“Saya tidak mengolok-olokmu. Tapi, memujimu!”
“Apa bedanya?!”
Shang Weng terbahak sampai terbatuk. Dielus-elusnya dadanya yang menyeri. Fa Mulan prihatin. Mengangkat tubuhnya dari bangku. Hendak menyentuh bahu pemuda itu tanpa sadar.
“Saya kualat!” aku Shang Weng setelah meredakan tawanya.
“Kualat kenapa?” Fa Mulan mengernyitkan dahinya. Mengempaskan kembali pinggulnya di bangku.
“Dewata di langit marah karena gadisnya dipermainkan.”
“Kapten Shang!”
Pemuda berwajah aristokrat itu kembali mengurai tawa. Fa Mulan menyambut tawa atasannya itu dengan memberengutkan bibir. Sejak kehadiran dirinya diterima seutuhnya sebagai seorang prajurit, bukannya gadis yang menyamarkan identitas dirinya, Shang Weng tampak lebih akrab dengannya. Dulu, selain dengan Yao, Fa Mulan paling sering bertengkar dengan Shang Weng. Bahkan mereka sering berduel di luar barak setelah melepas simbol-simbol Yuan. Bertarung atas nama pribadi. Lepas dari strata jabatan, antara atasan dan bawahan. Dan hasilnya selalu berimbang!
Berimbang, karena seorang Fa Mulan tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menyadarkan sahabatnya yang dianggap infair. Sekelumit pertarungannya dengan Yao saat masih berstatus prajurit wamil dulu masih mengiang di benak.
“Saya tidak memiliki alasan untuk menaklukkan Yao di depan banyak orang, Bao Ling. Dia bukan musuh Yuan.”
“Saya tahu kamu mengalah, Mulan. Tapi kalau terus-menerus mengalah, maka anak itu akan semakin besar kepala. Padahal, saya tahu kalau kualitas wushumu jauh di atas Yao.”
“Apa lantas dengan begitu saya dapat mempermalukan dia di muka umum?”
“Bukan begitu….”
“Sudahlah, Bao Ling. Sejahat bagaimanapun Yao, toh dia tetap adalah sahabat kita.”
“Saya tahu. Tapi, kalau tidak kamu kasih pelajaran dengan menundukkannya sekali-dua, maka dia tidak akan berhenti dengan ulahnya yang suka ‘menjajah’ orang kecil.”
“Selama perbuatannya belum keterlaluan, saya tidak akan bertindak apa-apa.”
“Tapi, dia akan semakin menjadi-jadi!”
“Dibunuh pun percuma. Menyadarkan Yao bukan dengan menaklukkan fisiknya, tapi yang terutama adalah hati dan pikirannya.”
“Saya tidak yakin anak itu akan menjadi baik.”
“Seseorang dapat berubah. Beri dia kesempatan untuk sadar.”
“Dia akan sadar kalau sudah ditundukkan.”
“Dia tidak akan pernah sadar dengan semua kesalahannya jika dikasari dan disakiti. Boleh jadi malah Yao akan menyimpan dendam.”
“Tapi kalau tidak….”
“Dendam dan benci tidak akan pernah berhenti bila dibalas dengan dendam dan benci. Namun sebaliknya, dendam dan benci dapat berakhir bila dibalas dengan cinta dan kasih.”
“Anak itu tidak pernah mengenal yang namanya cinta dan kasih. Sikapnya bukan prajurit, tapi barbar.”
“Untuk itulah Yao tidak saya kasari, Bao Ling. Bukannya saya mengalah, tapi saya hanya ingin menyadarkannya dengan pekerti. Menundukkannya dalam perkelahian bukanlah cara yang tepat dan efektif untuk menyadarkannya. Hal itu malah akan menambah runyam masalah. Saya masih berprinsip bahwa, lidah seorang pebijak lebih tajam ketimbang pedang dan tombak manapun.”
“Jadi, kamu masih berusaha membujuknya supaya menjadi baik?”
“Itu kewajiban kita sebagai teman.”
“Tapi anak itu tidak pernah menganggap kita sebagai teman.”
“Untuk itulah menjadi tugas kita menyadarkannya.”
“Menyadarkan anak itu sama juga berhadapan dengan batu.”
“Sekeras apa pun, batu juga dapat aus dan hancur bila digerus oleh air yang bersifat lembut.”
“Kamu terlalu membelanya, Mulan.”
“Demi persaudaraan, dengan mengorbankan jiwa pun saya siap untuk itu.”
Apakah patriotisme itu selaksana partitur yang telah tertuangi nada-nada miris, dan dimainkan oleh sitar kematian dedewi atas maharana ini?! Lantas di manakah letak irama keadilan yang senantiasa menyejukkan jiwa-jiwa nan kerontang?!
Itulah yang kerap menghantuinya.
“Jangan marah,” sergah Shang Weng separo tertawa, menggugah lintas kenangan silam gadis itu semasa menjadi prajurit wamil dulu. “Fa Mulan memang jelmaan para dewa di langit!”
“Semoga Dewata mau mengampuni pemimpin Kamp Utara, Kapten Shang Weng,” Fa Mulan mengatupkan telapak tangannya cepat, memohon seperti sedang berdoa. Matanya memejam dengan mulut kemu. “Bukan maksud dia….”
“Mulan….”
“Kapten Shang Weng!” desis Fa Mulan perlahan, seperti berbisik. “Anda sudah keterlaluan!”
“Kenapa?”
“Kalau Dewata mendengar apa yang telah Kapten Shang ucapkan tadi, bisa kualat kita! Besok dalam pertempuran kita akan mendapat musibah! Sebuah bencana akan ditimpakan Dewata kepada kita karena murka!”
Shang Weng menahan tawanya. Ia terkikik. Fa Mulan melototinya sambil menempelkan jari telunjuk tangan kanannya di bibir.
“Mohon Dewata mengampuni,” Fa Mulan kembali berkomat-kamit dengan mata memejam serupa maharesi. “Besok kami akan bertempur. Tolong Dewata lindungi dan berkati kami semua.”
“Maaf,” sahut Shang Weng setelah melihat kelopak mata Fa Mulan membuka dan selesai dengan upacara ritualnya.
“Untuk apa?!”
“Lupa kalau besok kita bertempur dengan pasukan pemberontak Han.”
“Makanya….”
“Makanya saya tidak ingin mengolok-olokmu lagi. Nanti Dewata tidak memberkati kita.”
Shang Weng pura-pura serius. Padahal tawanya sudah hampir menyeruak. Tetapi masih tertahan di tenggorokannya. Sama sekali tidak menyangka Fa Mulan yang demikian tangguh dapat sereligius itu. Sangat menyanjung fenomena tentang Sang Pencipta! Ia kelihatan jadi lain. Bukannya Fa Mulan yang gagah dengan pedang Mushu-nya. Bukannya Fa Mulan yang berjiwa pemimpin. Ia seperti kanak-kanak kini.
Fa Mulan terkesiap.
Nyaris kembali jatuh dari duduknya di bangku. Kali ini ia tidak tengah berada di hamparan nirwana, tetapi tengah menyaksikan bayangan hamparan salju yang dilumuri dengan darah. Ia memekik tanpa sadar. Besok adalah hari maharana!
“Kapten Shang, besok pasukan pemberontak Han pasti sudah sampai di sini! Saya khawatir dengan kondisi Anda yang belum pulih. Sekarang saya akan minta Bao Ling mengantar Anda mengungsi ke Ibukota Da-du! Mumpung masih ada waktu untuk kabur, maka malam ini juga Kapten Shang harus keluar dari zona tempur ini!” Fa Mulan bangkit dari bangkunya, hendak melangkah keluar tenda. Menyiapkan segala keperluan dan sekedar bekal dalam perjalanan kabur Sang Komandan.
Namun langkahnya terhenti. Shang Weng menarik tangannya.
“Mulan, kamu pikir saya ini pengecut apa?!” sembur Shang Weng dengan wajah cua. “Prajurit macam apa saya ini kalau melarikan diri begitu?!”
“Tapi, Anda sedang terluka!” balas Fa Mulan, masih berusaha melangkahkan kakinya. “Kalau Anda tetap bersikeras di sini, itu sama juga Anda memasang tubuh untuk dibantai percuma!”
“Tidak, Mulan!” Shang Weng berdiri, memegangi bahu Fa Mulan. “Saya tetap di sini! Sebagai pemimpin Kamp Utara, meskipun kepala saya terpenggal besok, saya akan tetap di sini menyertai kalian!”
“Saya sudah menggantikan posisi Anda, Kapten Shang!” teriak Fa Mulan bersikeras mengungsikan Shang Weng ke Ibukota Da-du. “Saya sudah memiliki strategi untuk menghalau mereka. Anda jangan khawatir. Keselamatan Anda lebih penting untuk moralitas prajurit-prajurit yang akan bertempur di kemudian hari.”
“Tidak!” tolak Shang Weng emosional. “Saya tetap di sini!”
“Kenapa Anda bersikeras kepala batu begitu, Kapten Shang?!” Fa Mulan panik, tidak dapat mengendalikan emosinya.
“Saya tidak mau dianggap pengecut!”
“Tidak ada yang menganggap Kapten Shang begitu!”
“Tapi….”
“Kapten Shang tetap seorang satria meskipun tidak harus menumpahkan darah di zona tempur ini!”
“Kalau saya kabur ke Ibukota Da-du, maka sama juga saya telah mati berkalang malu!”
“Kapten Shang!” Fa Mulan menjerit. “Semua ini demi kebaikan Kapten Shang! Semua ini demi kebaikan Kekaisaran Yuan! Saya tidak ingin prajurit-prajurit Yuan tanpa pemimpin! Kita tidak boleh berharap terlalu banyak pada atase militer Yuan, para jenderal yang egosentris di pusat itu!”
“Kamu jangan mendesak saya, Mulan!” Shang Weng bersikukuh untuk tetap tinggal di zona tempur. “Ini perintah atasan!”
“Saya tidak peduli Anda siapa, Kapten Shang! Saya tidak peduli sekalipun Anda Kaisar!” Fa Mulan masih menentang tanpa digentari strata jabatan. “Kalau demi kebaikan Kapten Shang tetap juga menolak, maka saya tidak akan segan-segan lagi, meskipun berlaku kasar terhadap Kapten Shang!”
“Ka-kamu….”
“Coba berpikir rasional, Kapten Shang!” Fa Mulan menatap nanar sepasang mata bagus di hadapannya dengan benak merompa. Inkarserasi kebatuan sikap Shang Weng seperti mengurungnya dalam satu kalpa inkarnasi yang melelahkan. “Kalau kita berdua terbantai di sini, siapa lagi yang dapat memimpin pasukan di Kamp Utara?! Makanya, saya harap Kapten Shang dapat bijak mengenyahkan sepotong kalimat yang bernama satria itu, jika pada kenyataannya hanya menjadi korban penggal di zona tempur ini!”
“Saya masih punya harga diri!”
“Kalau harga diri itu tidak dapat membawa manfaat apa-apa, apalah artinya harga diri Anda itu, Kapten Shang?!”
“Sa-saya….”
“Anggap saja saya sedang memohon, Kapten Shang!”
“Tapi….”
“Kapten Shang, saya mohon!” Fa Mulan menjatuhkan dirinya.Sepasang lututnya berdebum di tanah. Untuk kedua kalinya ia berlutut memohon. Keadaan segenting ini memang harus diantisipasi secepat mungkin. Harga diri, prisnsip, dan martabat seperti menjadi pranata. Membentuk idealisme getas. Sehingga menjadi beban rasionalitas.
Pemuda yang masih dibebati kain kasa itu terperangah. Tidak menyangka Fa Mulan akan sengotot begitu. Ia merunduk. Mengangkat tubuh mungil di hadapannya, dan menuntunnya berdiri. Tetapi ia belum mau mengalah untuk mengungsi.
Harga diri lebih dari segalanya!
“Berdirilah, Mulan!” bentaknya. “Sampai seratus tahun pun kamu berlutut meminta saya mengungsi, saya tidak akan pernah melakukan hal sepengecut begitu!”
“Kapten Shang!”
“Saya tetap akan menjunjung nilai-nilai luhur para leluhur marga Shang. Seorang satria tidak boleh menyembunyikan kepalanya seperti kura-kura! Saya akan melawan mereka, meskipun kedua tangan dan kaki saya dipotong!”
Mata Fa Mulan memerah.
Diusapnya wajah. Entah harus berbuat apa untuk melunakkan kekerasan hati Shang Weng. Gengsi dan harga dirinya lebih tinggi dari Hwasan . Andai saja pemuda tidak terluka, maka ia pasti akan berusaha menaklukkan kekerasan hati pemimpinnya itu dalam sebuah pertarungan.
“Pergilah, Kapten Shang!” usir Fa Mulan dengan suara paruh tangisnya. “Sebelum segalanya terlambat!”
“Saya tidak bisa berpangku tangan melihat kamu terbantai di sini!”
“Saya bisa jaga diri.”
“Saya tidak akan dapat memaafkan diri saya sendiri seandainya kamu terbantai di sini sementara saya tidak berbuat apa-apa di Ibukota Da-du!”
“Arwah saya tidak akan menuntut apa-apa dari Kapten Shang seandainya tewas dalam pertempuran besok!”
“Saya tidak ingin kamu mati!”
“Semua orang pasti mati. Tinggal menunggu waktunya saja. Kalau saya takut mati, sedari dulu saya tidak akan mendaftarkan diri saya sebagai wamil. Sedari dulu saya pasti telah melarikan diri dalam penggemblengan yang keras di Kamp Utara ini!”
“Ta-tapi, saya tidak ingin kamu mati!”
“Saya tidak takut mati! Ini risiko prajurit!”
“Saya ingin menyertai kamu bertempur besok! Saya akan mengawal kamu!”
“Apa?!” Fa Mulan meledakkan tawa kecilnya dalam nada sinis. “Kapten Shang bermaksud mengawal saya?! Jangankan membantu saya, mengangkat pedang pun mungkin Kapten Shang tidak sanggup!”
“Ka-kamu….”
“Saya hargai keputusan Kapten Shang yang tulus ingin membantu saya. Tapi, saat ini tidak mungkin Kapten Shang dapat mengaplikasikan suri teladan sebagai seorang pemimpin yang baik! Situasinya tidak memungkinkan. Bagaimana Kapten Shang dapat menolong orang lain kalau diri sendiri saja tidak dapat ditolong?!”
“Kita bertempur bersama-sama.”
“Saya tidak ingin dibebani oleh pesakit!” tegas Fa Mulan tanpa rasa sungkan, berterus terang. “Maaf, Kapten Shang!”
Shang Weng melotot. “Kamu harusnya sudah dipenggal!”
“Seharusnya. Seharusnya, Kapten Shang. Namun sayang negara dalam kondisi chaos,” bela Fa Mulan enteng, “sehingga saya dapat meluputkan diri dari hukuman penggal Anda itu, Kapten Shang! Saya akan berasumsi di hadapan Kaisar Yuan Ren Zhan bahwa, apa yang telah saya lakukan itu demi kebaikan Dinasti Yuan. Kaisar Yuan Ren Zhan pasti dapat menakar keadilan, mana yang benar dan mana yang salah. Karena apa yang telah saya perbuat, yang bagi Kapten Shang mungkin dianggap pembangkangan ini, semata-mata demi keselamatan aset negara! Saya berusaha menyelamatkan aset potensial Dinasti Yuan. Aset potensial itu adalah Anda, Kapten Shang!”
“Ta-tapi….”
“Kapten Shang sudah berkontribusi banyak dalam pertempuran besok kalau menuruti saran saya mengungsi ke Ibukota Da-du!”
“Sampai mati pun saya akan tetap di sini!”
Rambun masih menyelimuti barak Kamp Utara. Fa Mulan menggigil. Maharana di depan mata. Tetapi lelaki berpendirian setegar karang itu tak juga luluh. Malah menebarkan partikel gamang serupa laksa jarum yang menusuk-nusuk hatinya.
Dewata seperti mengabaikan doa-doanya!
Sudah dua hari Bao Ling datang membawa kawat balasan dari Jenderal Gau Ming. Namun bala bantuan yang termaktub akur dalam manuskrip belum kunjung tiba. Penantiannya lebih menyakitkan ketimbang musuh itu sendiri!
Fa Mulan melangkah dengan putus asa.
Moralitas yang hendak diaplikasikannya terbentur dinding pondik. Pemuda itu adalah benteng keangkuhan. Ia tak sanggup meruntuhkan jumawitas Shang Weng. Lelaki itu kokoh tak tergoyahkan.
“Fa Mulan….”
Ada satu cekalan keras menariknya kembali, mendekat nyaris berbenturan wajah. Shang Weng memeluknya. Tiba-tiba. Jantungnya serasa tertombak! Napasnya seolah berhenti, putus di kerongkongan seperti mati!
“Sa-saya tidak ingin kamu mati!” seru pemuda itu dengan nada gugup. “Saya mencintai kamu!”
Ada sayap yang mengambangkannya dari tanah. Gerbang svargaloka seperti terpentang kembali. Hamparan sejumlah bunga telah terlihat indah di sana. Namun diurungkannya untuk terbang. Sebab masih banyak tugas yang menantinya di tanah para pendosa. Menanti kehadiran sepasang tangannya untuk membilas sempelah darah merah yang menyelubung bumi.
“Kapten Shang….”
“Kalau kamu mati, saya juga ikut mati! Saya menyertaimu sampai mati!”
Fa Mulan menggeleng. Pelukan melepas. Pemuda itu terpana seperti terpanah!
“Maaf, Kapten Shang! Saya merasa tidak etis Anda membahas masalah pribadi di saat keadaan negara sedang genting.”
“Mungkin besok saya tidak punya kesempatan lagi!”
Fa Mulan mengusap wajah.
Sejenak mematung sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia sudah sampai di daun tenda ketika sebuah teriakan memaku sepasang kakinya di tanah.
“Saya tidak ingin dua kali kehilangan orang yang saya cintai, Mulan!”
“Mak-maksud Kapten Shang….”
“Shiaw Ing telah dipampas oleh pembatil Han! Saya tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama dengan gadis itu!”
Fa Mulan terkesima.
Sebuah pangkal kisah menyedot serupa besi sembrani. Seperti lektur filsuf Konfusius yang asyik ditelusuri dengan kontemplasi. Menarik untuk disimak lebih jauh.
“Shiaw Ing?!”
Seperti sudah mengetahui pertanyaannya, pemuda berbadan tegap itu langsung menjawab.
“Dia kekasih saya. Sudah meninggal tujuh tahun lalu. Sebuah kelompok perompak bernama Kelompok Topeng Hitam telah menghancurkan segalanya. Kaki tangan Han Chen Tjing itu bukan saja merampok harta benda keluarga saya di Tiangjin, tapi juga menggagahi Shiaw Ing yang saat itu berkunjung ke rumah. Sebuah kebiadaban telah merampas kesuciannya. Dia menghabisi nyawanya sendiri karena tak kuasa menanggung malu. Tragedi itu memicu amarah saya sehingga menjadi predatoris. Saya masuk militer. Saya telah bersumpah untuk menumpas Han Chen Tjing dan antek-anteknya! Saya ingin menumpas kebatilan! Demi Shiaw Ing, juga demi tegaknya ketenteraman di negeri Tionggoan ini!”
Fa Mulan melepas secuil senyum tanpa sadar. Entah karena dorongan apa. Tetapi tidak ada sinisme yang membasa dari pelepah bibirnya yang rekah. Mungkin gejala takjub. Kisah sepat yang sama sekali jauh melakon dari benaknya.
Pemuda itu memang terluka!
Selama ini ia tidak pernah mengetahui kalau jalinan kisah masa lalu  Shang Weng mengalun getir. Setahunya, pemuda itu lahir dari keluarga biasa-biasa saja di Tianjingsebuah daerah kabupaten di Tionggoan Selatan. Masuk militer jauh sebelum keluarnya maklumat wamil Kaisar Yuan Ren Zhan. Reputasi akademiknya luar biasa. Ia merupakan kader di kemiliteran. Orang kepercayaan Jenderal Gau Ming. Sangat menonjol dalam strategi peraang, namun tidak memiliki ilmu silat istimewa kecuali keterampilannya memainkan hampir semua alat dan senjata organik perang serta keunggulan insting tempurnya. Ia sangat memuja Sun Tzu. Bukan religius dan tidak agamis. Tetapi senang membaca lektur Konfusius yang bijak.
Serangkaian pertempuran telah membentuk sosoknya menjadi momok. Ia adalah gergasi perang. Predator bagi semua mangsa. Tidak ada pengampunan bagi lawan yang sudah takluk. Ia mencacah kebatilan. Melawan kejahatan dengan kekerasan. Pedangnya senantiasa berlumuran darah. Namun ia heroik. Selalu membela rakyat jelata yang tertindas. Sulung dari sembilan bersaudara itu memang menyimpan sekelumit misteri. Ia introver.
Ia sangat kejam terhadap prajurit cuai. Digemblengnya wamil sehingga sekeras baja. Mentalitas yang telah dibentuknya sebelum berperang telah mendatangkan antipati semua wamil. Ia serupa ektoterm. Tetapi ia sangat arif memutuskan suatu masalah. Idealisme. Gigih dan tidak gampang menyerah.
“Dendam, bahkan lebih jahat dari pembatil itu sendiri, Kapten Shang!”
“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya sakit kehilangan orang yang dikasihi!”
“Mungkin. Tapi dendam yang membara di hati Kapten Shang akan menikam seumur hidup. Sakitnya jauh lebih sakit ketimbang pada saat Kapten Shang menerima kenyataan tragis itu!”
“Saya tidak ingin terluka untuk kedua kalinya!”
Fa Mulan menggigit bibir.
Ia mengerti makna kalimat itu. Namun tak diterjemahkannya karena mungkin besok mereka memang tidak memiliki waktu lagi karena diberangsang maharana menjadi abu. Dan ia lebih memilih menyimpannya sebagai cerita indah tak berbingkai.
Fa Mulan kembali melangkah tepat ketika sebuah teriakan menggema di gendang telinganya.
“Asisten Fa!” Bao Ling menguak daun tenda. Wajahnya sumringah. “Bala bantuan sudah datang!”
Di luar, terdengar riuh derap-derap langkah kaki kuda serupa guruh. Fa Mulan berlari keluar tenda. Menyambut prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang menyemut di luar barak. Juga ribuan kuda tanpa penunggang. Ia tersenyum. Mengelus-elus gagang pedang Mushu-nya yang menyampir dengan gagah di pinggangnya.
Dewata mengabulkan doa-doanya!