12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 08

BLOGKATAHATIKU/IST
Aku hanya sekelopak yang-liu
menari seirama angin
pada iringan lagu maharana

Ini elegi
lalu seperti terempas
aku telah tergolek di rimba lalang setelahnya
dan mati mengerontang

Bao Ling
Elegi Yang-liu

Embusan napasnya terdengar memberat. Masalah yang dipikulnya kali ini tidak ringan. Lebih berat dari jubah berajut benang emas yang sering diantipatinya semasa kanak-kanak dulu. Setiap ritual kenegaraan, Ayahanda Kaisar Yuan Ren Xing selalu memaksanya untuk mengenakan jubah naga tersebut. Jubah yang selalu memegalkan pundaknya seusai mengikuti ritual yang menjenuhkan. Satu bentuk rutinitas formal sebagai putra mahkota yang senantiasa dikutuknya semasa kanak-kanak dulu.
Kepalanya memening.
Diempaskannya punggungnya ke sandaran kursi tembaga berukir naga. Kadang-kadang ia berpikir tidak ingin menduduki takhta ini. Sebuah kursi yang diperebutkan banyak orang dari zaman ke zaman. Darinya, telah tertumpah begitu banyak darah anak manusia. Ia lelah. Dan sejenak ingin beristirahat dari dunianya yang penuh gejolak!
“Yang Mulia….”
Perempuan muda itu memanggilnya dengan suara lunak. Pelan serupa desisan. Seolah-olah suara yang dilantunkannya dapat memecahkan kepala Kaisar Yuan Ren Zhan yang terbuat dari porselen.
Kaisar Yuan Ren Zhan masih memejamkan matanya dengan rupa cua. Tidak ada sahutan sebagai tanggapan atas sapaan Permaisuri Niang Xie Erl barusan. Balairung basilika istana masih dipenuhi partikel sunyi. Perempuan berkulit halus itu mendekat, duduk di seberang meja. Menatap suaminya dengan wajah mangu. Lelaki penguasa Tionggoan itu memang tengah menggamang.
“Yang Mulia, hamba sudah menyiapkan sup sarang burung walet….”
Kelopak mata Kaisar Yuan Ren Zhan membuka.
Ditatapnya Permaisuri Niang Xie Erl yang menyeduhkan secawan sup dari teko emas di hadapannya. Embusan udara dari hidungnya terdengar konstan, simultan dengan suara separo serak yang keluar dari kerongkongannya yang jakun. Dari sekian banyak perempuan yang menemaninya di Istana Da-du, hanya Permaisuri Niang Xie Erl-lah yang paling baik dan setia kepadanya. Puluhan garwa tak ada yang dapat menandingi ketulusan hati rani pertamanya itu.
“Saya sudah banyak menyusahkan kamu, Erl!”
Canting di tangan kanan Permaisuri Niang Xie Erl menyandar pada gigir cawan. Adukannya berhenti pada ujung kalimat Sang Kaisar. Ia mengangkat wajah. Mengurai pelepah bibir. Tersenyum tulus.
“Yang Mulia jangan sungkan. Semua permasalahan Yang Mulia, juga merupakan masalah saya.”
“Akhir-akhir ini saya dipusingkan oleh masalah besar pembelotan Jenderal Shan-Yu!”
“Yang Mulia diberkati oleh Dewata. Semua masalah itu pasti akan terselesaikan.”
“Ah, kurang apa yang Istana berikan pada Shan-Yu?!” Kaisar Yuan Ren Zhan menggabruk meja pelan. “Sekian puluh tahun dia mengabdi kepada Kekaisaran Yuan, semasa Ayahanda Yuan Ren Xing dulu sampai saya sekarang, tak sedikit andil Istana yang telah diberikan kepadanya sebagai imbal jasa. Betapa piciknya Shan-Yu kalau berpikir kita telah bertindak tidak adil kepadanya mengingat bagaimana mahardikanya marga Shan berkat peran Istana!”
“Yang Mulia jangan memikirkan masalah itu terus. Hamba khawatir….”
Kaisar Yuan Ren Zhan mengibaskan tangannya.
Membungkam kalimat yang belum rampung puan tertua para rani dan selir Istana Da-du itu. Permaisuri Niang Xie Erl menunduk. Tak berani merangkai kata-kata sekalipun subtil untuk kebaikan Sang Kaisar.
“Selama masalah Shan-Yu itu belum teratasi, seumur hidup saya tidak dapat hidup tenang!”
Permaisuri Niang Xie Erl menggigit bibir.
Sejak pembelotan dan pemberontakan Shan-Yu pecah enam bulan lalu, amarah Kaisar Yuan Ren Zhan memang kerap meletup-meletup selaksana dinamit. Emosinya melabil. Entah sudah berapa ribu narapidana yang telah dipancungnya tanpa proses pengadilan sebagai reaksi amarahnya.
Bulan sabit masih bertengger di puncak langit. Biasnya yang keperakan menyentuh tubir jendela ka-mar. Kaisar Yuan Ren Zhan masih memaku dirinya dalam diam. Hanya sesekali menatap bulan separo, juga bintang kemukus yang melintas cepat di kekelaman langit malam melalui daun jendela yang terpentang. Ia belum bicara sepatah kata pun ketika sehelai daun yang-liu rontok diembus angin, masuk menelusup dan tergeletak di lantai samping meja. Dihelanya napas panjang.
Mungkinkah kebesaran Tionggoan akan rontok di tangannya?!
Ada aubade menggugah kesunyian.
Kasim Liu berteriak dengan suara khasnya dari balik gerbang balairung basilika istana. Memberitahukan kedatangan seseorang untuk menghadap Sang Kaisar.
“Suruh masuk!” perintah Kaisar Yuan Ren Zhan, masih menyandar di kursi tembaganya.
Daun pintu terpentang.
Tiga orang masuk bersamaan. Kasim Liu dan Jenderal Gau Ming membungkukkan badannya. Tampak seorang pemuda di samping mereka, langsung berlutut setelah mengempas-empaskan lengan seragam prajuritnya yang memanjang menutup punggung telapak tangan, salah satu prosedur penghormatan saat menghadap kaisar, dan kowtow  di hadapan kaisar.
“Hormat saya, Bao Ling, Prajurit Kurir Yuan dari Kamp Utara, terhadap Yang Mulia Paduka Kaisar junjungan langit dan bumi.”
“Bangunlah,” ujar Kaisar Yuan Ren Zhan, mengaba dengan tangannya.
Pemuda itu berdiri.
Jenderal Gau Ming maju setindak dari tempatnya berdiri, lalu mengatupkan tangannya ke depan memberi hormat sebelum mengurai alasan kedatangannya menghadap Sang Kaisar.
“Yang Mulia, maksud kedatangan hamba beserta Prajurit Kurir dari Kamp Utara ini hendak menyampaikan keadaan dan perkembangan pasukan Yuan di zona pertempuran.”
Kaisar Yuan Ren Zhan memajukan badannya, mengangkat punggungnya dari sandaran kursi temba-ga. Menatap bergantian pada dua sosok perwira tinggi dan prajurit madya di hadapannya.
“Sejauh ini perkembangannya bagaimana?”
“Yang Mulia, prajurit-prajurit di Kamp Utara mulai terdesak mundur karena berkurangnya pasokan amunisi dinamit dari pusat. Selain itu, pasukan pemberontak Han terus menambah personel mereka di perbatasan Tung Shao. Pimpinan Kamp Utara, Kapten Shang Weng meminta bantuan beberapa ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh untuk menghalau musuh yang mulai merangsek masuk ke sana. Mereka mengambil jalan pintas ke bukit Tung Shao agar dapat segera menaklukkan Ibukota Da-du. Menurut data strategi, kalau daerah Tung Shao dapat diduduki pasukan pemberontak Han, maka otomatis Ibukota Da-du akan jatuh ke tangan mereka!”
Kaisar Yuan Ren Zhan sontak berdiri.
Ia menggabruk meja di depannya dengan keras sampai pontoh giok di tangan kanannya menggemeretak. Permaisuri Niang Xie Erl terlonjak kaget. Kasim Liu bergidik, memeluk tongkat cemeti serabutnya dengan rupa gelisah. Jenderal Gau Ming menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena tidak berdaya menghadapi kekuatan armada perang musuh di zona tempur. Bao Ling bersikap wajar, berdiri dengan tegap.
“Kurang ajar! Apa jadinya negeri ini kalau semua pejabat di sini seperti berpangku tangan!” maki Kaisar Yuan Ren Zhan. “Jenderal Gau, cepat kerahkan semua armada perang sebelum pasukan pemberontak Han itu merebut Ibukota Da-du!”
“Baik, baik, Yang Mulia!” balas Jenderal Gau Ming gugup dengan wajah memucat. “Ta-tapi, kita tidak memiliki cadangan amunisi dinamit lagi, Yang Mulia.”
“Saya tidak peduli kalian mau menggunakan cara apa!” teriak Kaisar Yuan Ren Zhan murka. “Saya hanya mau tahu, pasukan pemberontak Han itu enyah dari Tionggoan!”
“Ba-baik, Yang Mulia!”
“Jenderal Gau, Anda yang paling bertanggung jawab atas keselamatan negeri ini!”
“Hamba mengerti, Yang Mulia.”
Jenderal berbadan tambun itu hanya mengangguk-angguk dengan sepasang mata lunaknya yang menekuri lantai balairung basilika istana. Ia seperti kehilangan akal. Sejak Perdana Menteri Shu Yong memulai lawatannya ke Eropa dalam rangka kunjungan bilateral tujuh bulan lalu, ia seperti kehilangan partner yang dapat diandalkan.
Memang, selama ini Perdana Menteri Shu Yong-lah yang menjadi penentu kebijakan militer pasca pemecatan Jenderal Shan Yu lima tahun lalu. Dan ketika negara dalam keadaan genting akibat pembelotan dan pengkhianatan mantan Jenderal Shan-Yu, maka ia seperti jenderal muno yang tidak tahu harus berbuat apa.
Sebagai pemimpin atase militer pusat, ia telah menerapkan strategi dan taktik yang salah dalam menghadapi serbuan pasukan pemberontak Han. Daerah yang seharusnya rawan seperti di Tung Shao luput dari perhatiannya. Daerah Tung Shao praktis tidak terkawal kecuali kehadiran prajurit-prajurit dari Kamp Utara yang memang berbarak di daerah itu.
“Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba Bao Ling, menyampaikan pesan dari Kapten Shang Weng dan Asisten Fa Mulan untuk segera meminta militer pusat mengirimkan sebanyak mungkin kuda yang ada di Ibukota Da-du,” Bao Ling maju setindak, mengatupkan kedua tangannya menabik, lalu menyampaikan pesan yang diperintahkan Fa Mulan kepadanya. “Hamba Bao Ling, sudah menyampaikan manuskrip dari kedua pemimpin di Kamp Utara itu kepada Jenderal Gau Ming. Permintaan disetujui apabila ada referensi dari Yang Mulia!”
Kaisar Yuan Ren Zhan melangkah sedepa dari meja, menuruni satu undakan lebar di depan, berdiri dengan tangan mengepal di situ. Ditatapnya Jenderal Gau Ming yang masih menundukkan kepala.
“Referensi dari saya?!” teriaknya dengan suara letup, membahana membelah partikel sunyi. Suaranya nyaring membentur dinding-dinding bervinyet teratai, memantul membentuk gaung. “Apakah untuk urusan sepele itu pun saya harus turun tangan?!”
“Mo-mohon am-ampun, Yang Mulia,” ujar Jenderal Gau Ming dengan tubuh gemetar. “Mak-maksud hamba, hamba tidak ingin melangkahi keputusan mutlak Yang Mulia….”
“Alasan mati!” teriak Kaisar Yuan Ren Zhan dengan nadi yang mengurat di sekujur lehernya. “Anda memang tidak becus, Jenderal Gau!”
Bao Ling melihat gelagat yang berbahaya akibat radang amarah Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia kembali mengatupkan tangannya menghormat. Menyergah santun sebelum emosi Sang Kaisar mematikan rasionalitas berpikirnya. Bertindak di luar kendali. Memancung kepala Sang Jenderal yang dianggapnya tidak becus.
“Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba Bao Ling, menganggap kegagalan prajurit Yuan menghadang pasukan musuh memang disebabkan oleh faktor yang  tidak dinyana. Misalnya adalah, jumlah pasukan pemberontak Yuan yang jauh di luar prakiraan sebelumnya akibat partisipan rakyat jelata terutama di daerah pesisir. Jenderal Gau Ming dan beberapa atase militer tidak menyangka hal demikian akan terjadi. Makanya, pasokan logistik dan pengadaan prajurit di Tung Shao agak terlambat sebagai antisipasi pengadangan pasukan musuh!” tuturnya mengurai dalih. “Jadi, memang sebelum segalanya terlambat, Tung Shao selayaknya diblokir untuk memblokade musuh yang menyemut di tepi Sungai Onon. Itulah sebabnya Asisten Fa membutuhkan banyak kuda untuk mengelabui pihak musuh sebagai bagian dari taktik kamuflasenya.”
“Taktik kamuflase?!”
“Mohon ampun, Yang Mulia. Taktik itu dipakai untuk mengantisipasi kekurangan prajurit di pihak kita. Tiga ratus ribu pasukan pemberontak Han sudah hampir menapaki Tung Shao. Untuk melawan mereka, tentu diperlukan pasukan yang berjumlah lebih besar. Tapi, kita tidak memiliki banyak prajurit untuk menandingi mereka meskipun seluruh prajurit yang ada di Ibukota Da-du ditarik ke sana. Asisten Fa Mulan tidak memiliki strategi lain kecuali menggunakan siasat okhlosofobia. Taktik tersebut diharap dapat menjatuhkan mental musuh, dan mundur dari perbatasan Tung Shao karena menyangka pihak kita memiliki pasukan lebih besar dari mereka.”
“Hebat!” Kaisar Yuan Ren Zhan melonjak, seperti kegirangan. Matanya berbinar-binar setelah sedari tadi menyipit karena menggeram. “Laksanakan semua strategi yang dianggap paling baik untuk menghalau pasukan Si Biram Shan-Yu itu!”
“Baik, Yang Mulia!” angguk Jenderal Gau Ming lega.
“Sekarang, kirim semua prajurit yang ada di Ibukota Da-du ke Tung Shao!” titah Kaisar Yuan Ren Zhan dengan otot leher yang sudah mengendur. “Bentengi semua jalan masuk ke Ibukota Da-du! Dan, kumpulkan semua kuda yang ada di sini!”
“Baik, Yang Mulia,” angguk Jenderal Gau Ming kembali, melirik Kaisar Yuan Ren Zhan yang sudah melembut dari balik tepi caping perwira bertulisan kanji Yuan di atasnya.
“Dan mengenai amunisi dinamit yang habis, saya sudah bersurat ke Perdana Menteri Shu Yong untuk meminta Sir Arthur Jonathan di London mengirimkan paket-paket tambahan amunisi yang baru. Juga beberapa Fo Liong buatan Kerajaan Inggris.”
“Fo Liong?!” Kalimat itu nyaris bersamaan keluar dari mulut ketiga orang di hadapan kaisar.
“Fo Liong merupakan persenjataan canggih mutakhir Kerajaan Inggris. Lebih cepat dari lesatan anak panah. Lebih hebat dari ledakan dinamit. Fo Liong seperti senjata Dewata. Seperti semburan api dari mulut naga yang sangat dahsyat,” ungkap Kaisar Yuan Ren Zhan berkonotasi dalam nada bangga. Wajahnya sedikit sumringah setelah sedari tadi memerah menahan amarah. “Fo Liong dapat melumpuhkan lawan satu peleton dari jarak jauh dengan hanya sekali tembakan.”
“Mohon ampun, Yang Mulia,” Kasim Liu memberanikan diri bertanya dengan suara kemayunya setelah sedari tadi hanya diam menyimak. “Apakah Fo Liong sehebat itu?”
“Kamu meragukan apa yang telah saya katakan tadi, Kasim Liu?!” Kaisar Yuan Ren Zhan seperti menggeram, memelototi orang tua ringkih yang bertugas mengurusi keperluan dalam Istana Da-du itu dengan tajam menusuk.
Kasim Liu mundur setindak, membungkuk lalu mengatupkan kedua tangannya dengan sikap kaku. “Ham-hamba tidak berani berpikir begitu, Yang Mulia!” ulasnya lekas dengan kalimat menggagu.
“Kami yakin Fo Liong dapat menghancurkan musuh, Yang Mulia!” timpal Jenderal Gau Ming dengan nada menjilat. “Tidaklah salah apabila tanah Tionggoan ini dipimpin oleh seorang cendekia berotak cemerlang seperti Anda, Yang Mulia!”
Kaisar Yuan Ren Zhan mengangguk-angguk dibelai pujian.
Ada secuil senyum mengembang di sepasang pelepah bibirnya yang kecoklat-coklatan. Dialihkannya edaran sepasang mata ekuatornya ke arah Bao Ling. Mengangguk mengagumi kejeniusan taktik Fa Mulan di Tung Shao yang telah disampaikan oleh anak muda di hadapannya.
 “Nah, Jenderal Gau, sekarang Anda saya delegasikan melaksanakan strategi apa saja yang akan diterapkan oleh Kapten Shang Weng dan Asisten Fa Mulan di Kamp Utara, termasuk fasilitas kemiliteran yang mereka minta. Segera laksanakan!”
“Terima kasih, Yang Mulia!”
Ketiga pengabdi Istana Da-du itu undur diri setelah bertabe seperti biasa. Bao Ling sekali lagi melakukan kowtow sebelum meninggalkan balairung basilika istana. Wajahnya menyumringah. Ia akan memacu kudanya segera ke Tung Shao membawa kabar gembira untuk Fa Mulan. Bahwa permintaan mereka dikabulkan.
Jenderal Gau Ming memang selamban kura-kura. Pasti negara akan hancur di tangannya seandainya Dinasti Yuan tidak memiliki orang-orang berdedikasi tinggi seperti Fa Mulan dan Shang Weng. Sekian lama permintaan pasokan prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh tidak dipenuhi. Lebih memilih mempertahankan aset-aset Istana Da-du ketimbang daerah Tung Shao yang sudah di ujung tanduk.
Di luar gerbang Istana Da-du, setelah diantar oleh Kasim Liu, Bao Ling dan Jenderal Gau Ming segera menunggangi kuda mereka yang diikat di sebuah istal kecil berkanopi rumbia, khusus untuk menitip kuda-kuda tetamu. Dikawal sepuluh prajurit berjaksi dan bersenjata tombak yang berlari di belakang kuda-kuda, mereka pun melarikan kuda masing-masing ke markas besar atase militer Yuan yang terletak tidak terlalu jauh dari Istana Da-du.
“Prajurit Bao, cepat kirim kawat balasan ke Asisten Fa Mulan hari ini, bahwa permintaan mereka akan segera dikirim besok. Saya sudah menyiapkan seratus ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh, dan ribuan kuda sesuai permintaan Asisten Fa Mulan!” ujar Jenderal Gau Ming di atas punggung kudanya. Diperlambatnya laju kudanya, mensejajari kuda berwarna kelabu yang ditumpangi oleh Bao Ling yang mengekor di belakang. “Sekarang kita ke markas besar atase militer Yuan, di sana saya akan menulis kawat untuk Asisten Fa Mulan.”
“Baik, Jenderal Gau!”
“Bagaimana keadaan Kapten Shang Weng?”
“Kami belum tahu seberapa parah luka di dadanya. Tapi, Kapten Shang Weng sudah siuman.”
“Saya akan mengutus seorang tabib istana untuk merawat luka Kapten Shang Weng. Sertai dia ke barak Kamp Utara. Mudah-mudahan tabib istana dapat segera menyembuhkan lukanya.”
Mereka tiba di depan markas besar atase militer ketika hari sudah mulai menggulita. Beberapa prajurit pengawal yang sedari tadi berlari di belakang kuda langsung membentuk barisan pagar betis di bahu kiri dan kanan gerbang utama markas besar atase militer Yuan. Di dalam halaman markas, beberapa prajurit Yuan yang tengah melakukan latihan tombak sasar, menghentikan latihan serta sontak berdiri tegap membentuk defile begitu Jenderal Gau Ming dan Bao Ling masuk melewati mereka.
Setiba di dalam ruangan besar tempat pertemuan para atase militer, tabib Istana Da-du bernama Ma Qhing sudah menunggu dengan beberapa perbekalan obat yang akan dibawanya ke zona tempur Kamp Utara. Setelah mengetahui Shang Weng terluka parah dalam pertempuran melawan Shan-Yu, Jenderal Gau Ming sertamerta berinisiatif mengirimkan tabib terbaik dari Istana Da-du ke zona tempur Tung Shao. Eksistensi Shang Weng sangat dibutuhkan oleh Kekaisaran Yuan. Pemuda itu telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas yang tinggi selama mengabdi pada Dinasti Yuan.
Bao Ling diserahi manuskrip balasan oleh Jenderal Gau Ming yang ditulisnya kesusu di atas meja kerjanya, yang penuh dengan peta-peta strategi dan diorama daerah-daerah zona tempur. Di diorama tersebut tampak tancapan-tancapan panji miniatur pada tanah liat yang membentuk teksur bukit, sungai, danau, dan barak-barak militer.
Bao Ling mengemas manuskrip tersebut ke dalam sabuk pinggangnya yang terbuat dari kulit ular, dengan kancing kepala sabuk dari bahan perak berembos sepasang naga yang mengapit sebuah bolide. Ada kaligrafi berharafiah Yuan di bawah naga setengah melingkar tersebut.
“Tabib Ma, Prajurit Kurir Bao Ling ini yang akan mengawal Anda ke Kamp Utara,” ujar Jenderal Gau Ming kepada tabib istana tua itu, lebih menyerupai seruan perkenalan ketimbang informasi nama orang yang akan mengawalnya ke zona tempur. “Prajurit Bao, ini Tabib Ma Qhing yang akan merawat Kapten Shang Weng.”
Bao Ling mengurai senyum simultan dengan sepasang tangannya yang mengatup ke depan, menghormat lebih dulu kepada lelaki berjanggut panjang itu sebagai orang yang lebih muda.
“Hormat saya pada Tabib Ma Qhing,” sapanya santun.
Tabib tua yang mengenakan stola beledu biru bermute delima di tengahnya itu mengangguk, membalas hormat Bao Ling. Setelah berdiri menyambut penghormatan Bao Ling barusan, ia pun duduk kembali di salah satu kursi jati dengan pilar sandaran yang berhias vinyet yang-liu di belakang meja pertemuan.
“Tabib Ma, tolong juga sampaikan kotak ini kepada Asisten Fa Mulan,” sodor Jenderal Gau Ming setelah mengambil sesuatu dari laci bawah mejanya. “Titip pesan bahwa, ini merupakan simbolitas penghargaan dari Istana Da-du untuknya.”
“Apa ini, Jenderal Gau?” tanya Tabib Ma Qhing berbasa-basi setelah menerima kotak berwarna hitam dari bahan kayu tersebut. Ia berdiri kembali dari duduknya.
Jenderal Gau Ming menjawab. “Pil Naga.”
“Pil Naga?!” Bao Ling mendesis dari seberang meja. Ia mencondongkan badannya seperti hendak mengetahui apa isi kotak hitam yang kini telah berada dalam genggaman Tabib Ma Qhing. Rasanya, ia pernah mendengar kepopuleran Pil Naga tersebut. Pil Naga memang bukan obat biasa.
“Ramuan obat dari ginseng berkualitas unggul berusia seribu tahun dari seorang diplomat Korea. Sebenarnya ginseng ini diberikan Kaisar Yuan Ren Zhan pada hari ulang tahun saya setahun lalu. Tapi saya pikir, Asisten Fa Mulan lebih memerlukan obat kebugaran ini untuk kekuatannya menghadapi serangan musuh di Tung Shao,” jelas Jenderal Gau Ming, memaparkan tanpa ditanyai.
Bao Ling menyergah. “Tapi, Pil Naga ini merupakan barang berharga, Jenderal Gau….”
Pil Naga adalah obat mujarab untuk kebugaran. Merupakan obat langka seberharga emas permata Istana. Ribuan tahun Pil Naga tersebut telah menjadi komsumsi kesehatan para kaisar dari generasi ke generasi.
Bao Ling sering mendengar kalau puak bangsawan Istana selalu menggunakan obat tersebut untuk menambah vitalitas. Tetapi sesungguhnya Pil Naga lebih dari sekedar itu. Konon Pil Naga tersebut pernah menyembuhkan luka dalam seorang pendekar handal Tionggoan yang terkena pukulan tenaga dalam. Selebihnya ia tidak tahu apa-apa lagi selain fungsi keperkasaan dan kejantanan.
Jenderal Gau Ming berdeham. “Sudah tidak berarti buat saya. Justru Asisten Fa Mulan-lah yang lebih membutuhkan Pil Naga ini,” alasannya menjawabi pertanyaan Bao Ling. “Sudahlah. Buat apa dipikirkan lagi. Barang berharga ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan Asisten Fa Mulan, yang sudah menyabung nyawa di zona tempur. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasih Istana Da-du kepadanya.”
Bao Ling dan Tabib Ma Qhing mengangguk bersamaan. Diam-diam Bao Ling memuji sikap welas asih kepemimpinan Jenderal Gau Ming. Sayang, sebagai pemimpin tertinggi atase militer Yuan, jenderal separo baya itu kurang tanggap dan tangkas memimpin. Sehingga cuai melakukan terobosan penting menyelamatkan negara. Sekarang negara tengah berada di ujung tanduk. Dan Kaisar Yuan Ren Zhan terpaksa mengeluarkan maklumat ke segenap jajaran rakyat Tionggoan untuk menjalani wajib militer.
Bersama Tabib Ma Qhing, ia meninggalkan markas besar atase militer Yuan setelah malam menangkup. Tanpa membuang-buang waktu, dipacunya kudanya menuju Tung Shao. Tabib Ma Qhing menyertainya dengan menggunakan kereta tandu, dikawal oleh sepuluh prajurit yang mengekor di belakang dengan kuda mereka masing-masing.
Mudah-mudah Fa Mulan masih dapat bertahan, harapnya cemas. Mudah-mudahan bala bantuan prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh dan beberapa ribu kuda yang, telah disepakati akur oleh Jenderal Gau Ming atas titah Kaisar Yuan Ren Zhan dapat segera dikirim ke Tung Shao.