12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 07

BLOGKATAHATIKU/IST
Mungkinkah ini semua hanya mimpi?
ketika gulita membenderang
dengan sinarnya yang virtual
dan menyajikan sepenggal legenda
seperti lektur berenigma
yang tak terjangkau akalku

Aku menjerit pada malam
elegi ini menyakitkanku
mengiringku dalam labirin tanpa jawab
hingga jasadku hilang dalam belantara ini

Oh, kekasihku yang majas
adakah engkau atau tiada?

Bao Ling
Kekasihku yang Majas

Pertempuran di perbatasan Tung Shao masih berlangsung sengit. Karena kehabisan dinamit, Fa Mulan terpaksa bergerak taktis dan manualistik. Gelindingan bongkahan kristal salju yang mengarah cepat dan menurun ke arah bawah setelah dilontarkan dari arah atas bukit, dijadikan senjata pelumpuh. Meski sama sekali tidak efektif, namun semuanya dimaksudkan untuk menghalau dan mengacaukan pergerakan pasukan pemberontak Han.
Tetapi hal itu tidak terlalu banyak membantu. Hanya dapat menghambat laju musuh untuk satu-dua hari saja. Fa Mulan masih menunggu kiriman ribuan kuda yang dimintanya dari Ibukota Da-du untuk menerapkan taktik kamuflasenya.
“Shan-Yu sudah bergerak cepat, dan kini maju lima belas mil dari perbatasan!” te-riak Chien Po gemas. Ia masih menghimpun prajurit-prajurit bawahannya untuk menggali terus bongkahan-bongkahan salju.
“Hambat mereka saja! Kita masih menunggu Bao Ling yang akan membawa kuda-kuda itu!”
“Tapi, prajurit kita di garis depan sudah habis! Saya tidak tahu apakah Yao masih hidup atau tidak, Asisten Fa!”
Hujan salju masih turun di Tung Shao. Fa Mulan merapatkan baju hangat tebal serupa jubah dari perca kulit rubahnya. Ditangkupinya kepalanya dengan tudung stola dari bulu binatang serupa. Sementara itu Chien Po, sahabatnya semasa wamil masih berteriak-teriak panik, memerintah prajurit-prajurit bawahannya yang tampak kelelahan. Prajurit Madya yang berbadan raksasa itu turut memikul beberapa bongkahan salju yang berat-berat, mengangkutnya dengan lori, lalu digelindingkannya dari gigir bukit.
“Yao sudah seharian di perbatasan! Saya khawatir dia….”
“Chien Pao, jangan gegabah!”
“Tapi, saya harus menyelamatkan dia!”
“Shan-Yu sangat berbahaya. Kapten Shang Weng yang berpengalaman saja belum mampu menandinginya!”
“Tapi….”
Chien Pao membuang gelondongan salju yang tengah dipikulnya. Ia hendak melangkah, menuruni bukit ke perbatasan Tung Shao, menyusul Yao di zona tempur depan. Fa Mulan menghentikan langkah prajurit berbadan raksasa itu. Rasionalitas kalimat yang berdenyar di benaknya sontak menggerakkan tangannya meraih pundak bidang Yao. Ditahannya langkah prajurit raksasa itu pada satu titik di tengah hamparan salju.
Prajurit Madya berbadan besar itu berbalik dengan menahan geram yang menggemeletukkan gerahamnya. Sepasang tangannya masih mengepal ketika Fa Mulan menarik kerah seragamnya. Ditatapnya nanar sepasang mata bola yang memicing di hadapannya. Mungkin gadis itu benar. Memang sangat berbahaya bila ia turun ke bawah bukit, berhadapan langsung dengan Shan-Yu. Apalagi ia bakal dihadang oleh ratusan ribu pasukan pemberontak Han.
“Kapten Shang Weng tidak bakal terluka parah bila Shan-Yu bukan pendekar hebat!”
“Yao….”
“Mudah-mudahan dia tidak apa-apa!”
Fa Mulan melepaskan cekalannya. Chien Po mengendur. Mundur setindak ke belakang. Ia menundukkan kepala, seperti menyesali keputusannya yang babur.
“Kita tunggu sampai Bao Ling datang membawa bala bantuan!”
Fa Mulan memejamkan mata.
Disesalinya Yao yang turun dari bukit fajar tadi. Prajurit Madya berbadan kekar itu memang tidak dapat menahan emosi dirinya. Tanpa sepengetahuannya, bersama beberapa ratus prajurit tangguh, ia turun dari bukit. Menghadang pergerakan pasukan pemberontak Han. Semalam Fa Mulan memang bertengkar dengan Yao.
Yao menilai Fa Mulan terlalu lamban bergerak sehingga musuh dapat kembali menghimpun kekuatan. Ketika mereka masih memiliki banyak persediaan dinamit, Fa Mulan tidak bertindak tangkas mengejar pasukan pemberontak Han yang mundur beberapa mil dari perbatasan Tung Shao. Fa Mulan menolak menekan musuh karena sama sekali belum tahu seberapa besar sebenarnya kekuatan musuh. Shan-Yu mundur dari perbatasan bukan karena sudah melemah. Mungkin saja itu taktik untuk menjebak prajurit-prajurit Yuan yang turun bukit mengejar dan menyusul mereka. Apa-lagi pihak Yuan tidak memiliki data intelijen yang akurat. Data-data intelijen yang lama bisa saja invalid. Aktualisasi di lapangan memang berbeda dengan di atas kertas!
Karena inakurasitas data intelijen Yuan itu pulalah sehingga Shang Weng terluka parah. Sewaktu mereka membombardir pihak musuh dengan dinamit, beberapa data intelijen menyebutkan kalau Shan-Yu sudah kewalahan dan mundur dari zona tempur.
 Berbekal dari data itu juga maka Shang Weng turun bukit, bermaksud mengambil alih kembali kantong-kantong yang pernah diduduki musuh. Tujuannya adalah untuk membebaskan rakyat dari kekangan musuh, juga agar dusun-dusun yang dulu dikuasai oleh Shan-Yu itu dapat dijadikan lumbung logistik untuk para prajurit Yuan.
Namun pada kenyataannya, praduga itu meleset. Bahkan tindakan Shang Weng yang turun bukit nyaris menghilangkan nyawanya sendiri. Di bawah bukit, pasukan pemberontak Han sama sekali belum mundur. Pasukan pemberontak Han lalu mengurung Shang Weng dan prajurit-prajuritnya. Mereka akhirnya terjebak di dalam pertempuran-pertempuran dusun, yang pada akhirnya banyak menelan korban dari pihak Yuan.
“Yao keras kepala!” sembur Fa Mulan gusar. Dielus-elusnya kembali gagang Mushu-nya seperti kebiasaannya jika tengah resah.
“Bantuan dari pusat belum datang!” Chien Po turut gusar. “Itu yang bikin kita mati di sini!”
“Betul! Jenderal Gau Ming terlalu lamban!”
“Jenderal Gau Ming terlalu menganggap remeh sebuah masalah.”
“Hal yang banyak menghancurkan dinasti-dinasti pendahulu!” sesal Fa Mulan berkacak pinggang, mengawasi prajurit-prajurit yang masih mengangkuti bongkahan salju. “Rupanya Kaisar Yuan Ren Zhan tidak belajar dari pengalaman sejarah!”
“Makanya orang jahat seperti Jenderal Shan-Yu selalu memanfatkan kesempatan mengail di air keruh!”
“Kalau semua orang memiliki hati sebusuk Jenderal Shan-Yu, entah apa jadinya dengan dunia ini!”
“Dan seandainya saja semua orang memiliki hati sebaik Asisten Fa, betapa damainya dunia yang kacau-balau ini!”
Fa Mulan tersenyum mendengar sanjungan Chien Po. Chien Po merupakan sa-habat yang bersahaja. Meskipun tubuhnya sebesar gajah, tetapi hatinya lembut seperti salju. Halus seperti sutra. Dalam masa-masa berat pelatihan militer di Kamp Utara dulu, Chien Po-lah yang paling banyak membantunya. Sumbangsih tenaga besar Chien Po jugalah yang kerap meringankan beban hukumannya lantaran dianggap membangkang perintah atasan, diam-diam Chien Po sering membantunya mengangkati karung-karung pasir ke zona-zona tempur sebagai sanksi hukuman.
Chien Po adalah anak sulung pasangan petani di Yunan. Ia memasuki ke-hidupan militer sesuai amanat Kaisar Yuan Ren Zhan yang berkuasa di Dinasti Yuan, yang mengharuskan setiap keluarga mewakilkan seorang laki-laki untuk menjalani wajib militer. Selain karena mewakili Keluarga Chien menjalani kewajiban kenegaraan tersebut, ia juga menyimpan dendam lama terhadap Han Chen Tjing, pemimpin pasukan pemberontak Han.
Menurutnya, Han Chen Tjing merupakan musang berbulu domba. Ia menghasut rakyat jelata untuk memberontak terhadap Kekaisaran Yuan. Memaparkan segala kebobrokan pemerintah yang korup dan tiran. Padahal, semua itu merupakan ambiguitas ambisinya yang terselubung untuk menduduki takhta kekaisaran. Ia membodohi rakyat miskin di pedesaan. Juga merampas dan merampok tanah serta harta benda beberapa rakyat jelata melalui kaki-tangannya, Kelompok Topeng Hitam. Keluarga Chien Po termasuk salah satu korban lelaki ambisius tersebut. Sawah ayahnya yang hanya sepetak dirampas untuk dijadikan sangu membentuk sebuah milisi.
Chien Po mendaftarkan dirinya sebagai prajurit di Kamp Utara tepat bersamaan dengan Fa Mulan, Yao, dan Bao Ling. Karenanya, mereka bagai pinang yang dibelah empat. Masing-masing bahu membahu menjalani kerasnya kehidupan di barak militer dalam suka maupun duka, dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda.
 Di dalam Kamp Utara, selain Shang Weng, Fa Mulan-lah yang kerap dianggap sebagai pemimpin para prajurit. Ia mewakili para prajurit menyampaikan gagasan, juga kritikan yang dianggap merugikan mereka. Selain karena cerdas dan gigih, Fa Mulan juga dianggap jujur menyikapi suatu masalah. Ia arif menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan bentrok fisik di antara para prajurit. Ia juga sangat berani mengungkapkan kebobrokan dan penyimpangan beberapa pejabat militer di Kamp Utara.
 Lantaran sikap kritisnya itulah maka Fa Mulan selalu berselisih paham dengan beberapa atase militer. Bahkan beberapa kali pula ia berduel dengan Shang Weng karena silang pendapat. Fa Mulan sama sekali tidak takut dieliminasi dari kemiliteran, atau menjalani serangkaian hukuman yang tidak ringan karena dianggap indisipliner, membangkang perintah atasan.
“Kapan bala bantuan itu tiba, Asisten Fa?”
Chien Po bertanya, menggugah lamunan Fa Mulan yang masih terkesima melihat pasukan musuh serupa sekawanan semut merah, yang merombong masuk ke perbatasan Tung Shao.
“Seharusnya siang ini!”
“Tapi, saya khawatir Bao Ling yang membawa kawat ke Ibukota Da-du di hadang di tengah perjalanan oleh jasus pasukan pemberontak Han, Asisten Fa!” Chien Po mengurai kekhawatirannya. “Kita semua akan mati kalau kawat itu ternyata belum sampai di Istana Da-du!”
“Bao Ling prajurit tangguh.”
“Tapi….”
“Saya yakin kemampuan Bao Ling. Jangan khawatir. Dia pasti sudah menyampaikan kawat yang saya tulis itu kepada Jenderal Gau Ming, dan tiba dengan selamat di sini!”
Bao Ling merupakan prajurit berdeterminasi tinggi.
Pemuda bertubuh jangkung itu memiliki banyak keahlian sebagai saka diri. Selain berilmu silat tinggi, ia juga cendekia serta memahami banyak prosa dan epik para sastrawan di Tionggoan. Setahun mengabdi di Kamp Utara, ia sudah diangkat sebagai kurir penghubung antara Istana Da-du dan militer. Sudah beberapa kali eksistensi adiwidianya menggagalkan usaha pencurian paket yang dikirim Istana Da-du untuk pihak militer Yuan di Kamp Utara. Menyelamatkan data-data penting negara dari hadangan para jasus pasukan pemberontak Han.
Seperti juga ihwal muasal kehadiran prajurit lainnya yang memenuhi kewajiban kenegaraan, Bao Ling pun menunaikan panggilan moral itu mewakili keluarganya. Bao Ling merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Dan hanya ia saja satu-satunya laki-laki selain ayahnya di keluarga mahardika Bao di Ibukota Da-du.
Semula ayah Bao Ling, Bao Nang, menghubungi pihak atase militer Yuan agar keluarga mereka diberi kompensasi untuk tidak terlibat dalam kewajiban kenegaraan yang telah diamanatkan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan. Alasannya, ia hanya memiliki satu-satunya putra sebagai penerus keturunan Keluarga Bao. Lagipula, Bao Ling masih berstatus pelajar. Sama sekali tidak memiliki dasar apa-apa untuk menghadapi perang kecuali puisi dan karya sastra yang diakrabinya selama ini, padahal diam-diam Bao Ling belajar wushu pada seorang guru tanpa sepengetahuan ayahnya. Bahkan pengusaha kaya tersebut mencoba menyuap beberapa atase militer tersebut.
Ketika Bao Ling mengetahui ayahnya menempuh cara kotor begitu, ia langsung melarikan diri dari Ibukota Da-du, dan bergabung dengan calon-calon wamil lainnya di Kamp Utara pimpinan Shang Weng. Ia malu terhadap kelakuan ayahnya yang tidak memiliki jiwa patriotisme pada saat negara sedang dirundung masalah.
“Saya malu atas tindakan tidak terpuji Ayah itu!” gusar Bao Ling terhadap ayahnya ketika itu.
“Nyawa kamu lebih penting dibandingkan apapun juga, A Ling!”
“Tapi nyawa saya menjadi tidak berharga lagi akibat kasus suap itu, Ayah. Saya malu, Ayah!”
“Mengertilah, A Ling. Semua yang Ayah lakukan demi kebaikan kamu juga. Ayah tidak mau putra Ayah satu-satunya gugur di medan pertempuran. Ayah rela kehilangan semua harta-benda asal tidak kehilangan kamu. Tahukah kamu, betapa berarti dan berharganya kamu bagi Ayah dan Ibu.”
“Saya tidak ingin dianggap anak pengecut, Ayah. Ayah boleh saja meluputkan saya dari keharusan wamil maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan itu dengan menyuap beberapa pejabat tinggi militer. Ayah boleh saja menggunakan bahkan seluruh kekayaan Ayah supaya saya terbebas dari kewajiban negara tersebut. Tapi, di manakah patriotisme kita sebagai anak bangsa?!”
“Tidak peduli apakah Ayah akan dianggap pengkhianat sekalipun. Yang penting Ayah tidak kehilangan orang-orang yang Ayah cintai.”
“Tidak ada hal yang lebih mulia dan membanggakan apabila mati demi negara.”
“Puih! Apa andil negara bagi kita?! Selama ini, pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Rakyatlah yang selau menjadi sapi perah bagi pemerintah. Tidak ada manifestasi penting negara untuk perbaikan dan perkembangan nasib rakyat. Selama ini, janji-janji kaisar-kaisar Tionggoan selalu jauh dari harapan rakyat. Korupsi merajalela di mana-mana. Kolusi mendarah daging di kalangan Istana. Sekarang, jangankan memikirkan negara yang di ambang perang, bahkan tidak sedikit di antara pejabat negara kita ini tidak peduli terhadap nasib bangsa. Tidak peduli terhadap penderitaan rakyat. Mereka terus saja memperkaya diri mereka sendiri. Jadi, untuk apa lagi kamu bersikeras ingin mematuhi maklumat wamil itu?!”
“Lalu, apa bedanya Ayah dengan pejabat-pejabat korup itu kalau Ayah menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan dirilari dari tanggung jawab bela negara?! Bukankah itu egois, Ayah?!”
“Merekalah yang egois A Ling! Mumpung kita masih memiliki kemampuan finansial, kenapa tidak kita pergunakan saja untuk mengelabui mereka? Bukankah mereka juga selalu mengelabui rakyat?! Mereka adalah maling yang berteriak maling!”
“Justru karena itulah saya tidak ingin menjadi seperti mereka. Apa jadinya negara kita ini kalau semua kader dan komponen bangsa berlaku apatis, dan selalu ingin menang sendiri. Bukannya saya sok patriotik, Ayah. Bukan. Saya hanya ingin menjadi seseorang yang berguna. Seseorang yang, bila tiba saatnya menutup mata untuk selama-lamanya nanti, akan dikenang sebagai pahlawan. Bukannya sebaliknya. Sebagai penjahat!”
“Oya?! Lantas, apakah sedemikian berharganya sebuah pengakuan itu sementara kamu hidup tersiksa di medan rana, diperalat dan dijadikan budak perang oleh para pejabat negara yang licik itu?! Huh, betapa ironisnya pemikiran suci-mulia yang mengisi benak mudamu itu, A Ling! Kamu masih terlampau hijau. Dunia politik Istana sarat dengan kepicikan!”
“Justru Ayahlah yang picik. Ayah egois dan hanya mementingkan diri sendiri!”
“Cukup, A Ling!”
Namun tidak ada kata cukup di hati dan benak Bao Ling. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengikuti maklumat wamil tersebut. Demi harga diri dan rasa patriotisme terhadap nasib bangsa yang dirundung maharana.
Bao Ling merupakan pemuda yang cerdas. Sayang ia tidak tahan banting. Kehidupan militer yang keras dan buruknya prasarana kamp nyaris memaksanya hengkang. Sekian belas tahun hidupnya dibuai kemewahan. Sehingga nestapa yang menjadi lafaz para prajurit tidak sanggup dijalaninya. Hidupnya yang nyaman di rumah istananya dahulu selalu menggodanya untuk pulang.
Namun entah dari mana datangnya kesadaran moral itu. Tiba-tiba ia membatalkan niatnya untuk kembali ke rumah istananya yang teduh di Ibukota Da-du. Hal itu memang tidak terlepas dari refleksitas presensi patriotik Fa Mulan yang dicermininya. Ia malu ketika bercermin. Rasanya terlalu kerdil bila masalah sepele itu membuatnya lari terbirit-birit sebelum bertempur. Ia tidak ingin dikatakan pengecut!
“Apa jadinya bangsa kita kalau diisi oleh manusia-manusia berhati dangkal, Bao Ling!”
“Selama ini saya yang salah, Mulan. Ayah ternyata benar. Pejabat-pejabat negara hanya memperalat kita untuk mencapat tujuan mereka sendiri. Militer adalah sarana mereka menuju cita-cita inferior mereka.”
“Jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk lepas dari tanggung jawab. Lagipula, kesimpulanmu tentang pejabat negara yang batil itu hanyalah oknum. Kamu tidak dapat menyamaratakan semua orang. Masih banyak pejabat negara yang baik di Tionggoan ini!”
“Mungkin. Tapi saya merasa misi militer ini tidak membawa manfaat apa-apa kecuali kesengsaraan.”
“Prajurit dan militer Yuan serta rakyat adalah manunggalis. Di saat rakyat di ambang maharana, maka militer akan tampil sebagai tameng untuk melindungi rakyat itu sendiri. Militer dan rakyat harus sehati. Militer berasal dari rakyat juga. Kita ini prajurit yang berasal dari rakyat, bukan?”
“Tapi, saya merasa kita sebagai rakyat kecil hanya diperalat. Masuk militer menjadi prajurit hanya untuk menjadi jongos pejabat-pejabat negara.”
“Jongos atau bukan, kalau seseorang memiliki kontribusi yang besar bagi negara, maka mati sekalipun dia akan tetap dikenang sepanjang masa. Sebagai pahlawan. Ya, sebagai pahlawan.”
“Hah, sebagai pahlawan?!”
“Ya, sebagai pahlawan. Pahlawan yang memiliki reputasi nama seharum semerbak bunga. Pahlawan yang akan terus menerus hidup di sanubari bangsa. Bukankah hal tersebut merupakan kebanggaan yang tak ternilai harganya? Jauh melebihi jauhar yang ada di muka bumi ini.”
“Kamu mirip saya sewaktu bersikeras mematuhi maklumat wamil itu. Saya menyampaikan aspirasi yang seperti kamu katakan barusan ketika menentang Ayah, yang selalu berusaha membujuk saya agar melalaikan kewajiban negara tersebut. Namun, apa yang telah kita peroleh dari serangkaian pengorbanan yang telah kita berikan?! Huh, jangankan menjadi pahlawan, jangan-jangan bila kita meninggal kelak, kita hanya akan menjadi bangkai yang membusuk dipenuhi belatung.”
“Saya tidak menyalahkan pendapatmu, Bao Ling. Tapi rasanya terlalu picik kalau di saat rakyat membutuhkan kita, kita justru lari karena tidak mampu meneruskan perjuangan yang semakin berat ini.”
“Jangan membujuk saya untuk tinggal lebih lama di sini, Mulan. Percuma. Kamu hanya membuang-buang waktu saja. Bagaimanapun, saya sudah memutuskan untuk meninggalkan tempat ini!”
“Saya tidak berhak melarang kamu. Kalau kamu memang mau meninggalkan Kamp Utara ini, ya silakan saja. Saya hanya memberi saran dan pandangan. Saya tidak memiliki legitimasi melarang kamu pergi.”
“Terima kasih.”
“Tapi, cobalah renungi sekali lagi. Rakyat sangat membutuhkan kita. Siapa lagi yang dapat membela mereka kalau bukan kita? Kamu pikir apa arwah para leluhur kita akan hidup kembali dan bertempur dengan musuh-musuh itu?”
“Tapi….”
“Coba enyahkan kecengengan kita itu, Bao Ling. Dulu, saya juga seperti kamu. Saya sempat dilemahkan oleh naifnya kekerdilan-kekerdilan hati. Saya bahkan pernah menyesali mengapa harus terlibat di dalam misi kemiliteran ini. Kenapa harus mematuhi kewajiban kenegaraan itu. Bukankah lebih baik kalau saya menuruti perintah ibu saya yang menginginkan saya menikah dan bersuami saja. Bukankah merupakan hal yang menggembirakan kalau memiliki anak-anak yang lucu dan montok. Bukankah hal itu jauh lebih menyenangkan ketimbang harus terlibat dalam perang terkutuk ini? Tapi, pada akhirnya saya sadar. Perasaan-perasaan semacam itu merupakan hal yang sangat manusiawi. Kita tidak boleh larut dalam sentimentil semacam itu.”
“Ta-tapi saya….”
“Tegarlah, Bao Ling. Inilah masa-masa suram dalam hidup kita yang mesti dilalui dengan tabah.”
“Tapi, saya hanya orang biasa, Mulan.”
“Saya pun orang biasa, Bao Ling. Saya bukan manusia yang luar biasa. Pada dasarnya, saya bukan orang yang tahan banting. Saya bukan gadis bermental baja. Saya juga merasakan betapa beratnya beban kita sebagai prajurit wamil. Gemblengan-gemblengan keras di Kamp Utara ini, pada mulanya serasa tak memiliki makna apa-apa selain pembentukan budak perang. Saya juga sempat beranggapan kalau semua yang kita lakukan di sini merupakan kesia-siaan belaka. Kenapa?! Karena kita adalah tameng Yuan! Kenapa?! Karena kita adalah tameng yang notabene merupakan alat perang semata. Tapi, sudahlah. Saya sadar, saya dan kamu, juga sahabat-sahabat kita hanyalah orang biasa yang, memiliki banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan sehingga tidak dapat mencerapi makna sesungguhnya di balik apa yang telah kita lakukan selama ini. Kita tidak pernah tulus beraltruisme. Kita terlalu egois dan anani, itu masalahnya. Tapi, bukankah dari kekurangan dan ketidaksempurnaan itu kita dapat belajar supaya kelak menjadi lebih baik dan sempurna? Bukankah kita dapat memetik hikmah dari kekurangan dan ketidaksempurnaan tersebut?”
“Tapi….”
“Lepas dari semua itu, saya sadar ada makna hakiki yang dapat kita peroleh suatu saat. Bukan untuk Yuan, tapi untuk diri kita sendiri. Tahu tidak, Bao Ling. Setiap saya bercermin, saya selalu ingin melihat ada seraut wajah orang yang berguna. Bukannya seraut wajah asing yang tidak mampu menghadapi kenyataan hidup ini. Seraut wajah asing yang lari dari tanggung jawab. Itulah yang memotivasi saya sehingga sampai sekarang masih bertahan sebagai prajurit wamil. Nah, sejujurnya saya pun ingin kamu dapat bercermin. Bercermin untuk melihat seraut wajah yang, su-atu saat kelak dapat menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa! Yah, saya ingin melihat Bao Ling yang tangguh!”
Ketika itu Bao Ling tersentak.
Tanpa terasa airmatanya menitik. Diresapinya serentetan kalimat Fa Mulan sebagai sebuah kontemplasi. Sebuah renungan panjang yang pada akhirnya mengubah dirinya menjadi manusia yang terlahir dengan jiwa baru. Dan memutuskan untuk tetap meneruskan perjuangan membela Kekaisaran Yuan.
Fa Mulan tersenyum.
Lintas kenangan semasa wamil itu melamur dari benaknya bersamaan dengan menguncupnya bibirnya sesaat setelah Chien Po bertanya, dan menggugah semua kisah silam yang sarat dengan kenangan itu.
“Berapa pasukan yang akan dibawa Bao Ling, Asisten Fa?”
“Tidak tahu. Jenderal Gau Ming tidak menyebutkan berapa ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang akan mereka kirim,” jawab Fa Mulan sembari mengedikkan bahu.
Wajah Chien Po mengerut. “Melihat besarnya jumlah musuh di bawah sana, saya pesimis kalau prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang hanya segelintir itu dapat mengalahkan mereka, Asisten Fa!”
Fa Mulan membeliak. “Jangan menakar kekuatan dari besarnya jumlah prajurit!”
“Tapi….”
“Kita harus belajar dari Sun Tzu . Kekuatan itu ada pada semangat. Bukan pada sejumlah armada perang.”
“Mungkin. Tapi kenyataannya kita memang sudah terdesak mundur karena tidak memiliki prajurit sebanyak mereka!”
“Prajurit-prajurit itu tidak mesti berupa orang. Orang per orang, atau manusia….”
“Maksud Asisten Fa?!”
Fa Mulan kembali berkacak pinggang. Keyakinannya untuk mengalahkan musuh terbit kembali. Dielus-elusnya gagang Mushu, pedang berukir naga di pinggangnya. Sebenarnya, Mushu bukan pedang istimewa. Hanya pedang biasa temurun dari para leluhurnya, yang memiliki sugesti kemenangan pada setiap pertempuran. Selama ini Mushu memang seperti belahan jiwanya. Seolah pusaka beroh para arwah Fa yang setiap saat melindunginya dari mara bahaya.
“Chien Po, kunci sebuah kemenangan sejati terletak pada dedikasi dan loyalitas. Bukan pada kemenangan itu sendiri. Kemenangan yang lazim kita kenal semisal; membunuh musuh-musuh, merebut benteng lawan, atau mengusai dan menduduki daerah kekuasaan mereka. Bukan itu. Kemenangan itu sebenarnya fiktif. Untuk sementara mungkin kamu dapat mengalahkan musuh, mengusainya. Tapi, sampai kapan kamu dapat bertahan? Besok atau lusa, mereka akan datang dengan segenap kekuatan baru untuk melumpuhkan kamu. Begitu seterusnya.”
“Jadi, maksud Asisten Fa kita harus bertindak bagaimana untuk dapat mengalahkan pasukan pemberontak Han itu?!”
“Gunakan hati dan pikiran!”
“Gunakan hati dan pikiran?!”
“Ya. Di dalam sebuah pertempuran, musuh itu tidak hanya berupa pasukan lawan, tapi juga ketakutan-ketakutan yang berasal dari dalam hati. Juga kecemasan, kekhawatiran, pesimistis, dan masih banyak lagi hal sepele lainnya.”
“Jadi….”
“Jadi segenting apa pun situasi dan keadaan di medan pertempuran, kita tetap harus tenang.”
“Ta-tapi, bagaimana saya bisa tenang kalau melihat jumlah pasukan pemberontak Han yang begitu besar seperti semut merah!”
“Nah, itulah salah satu musuh majasi yang harus kamu lawan.”
“Tapi….”
“Chien Po, kadang-kadang musuh majasi itu jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh jasadi itu sendiri.”
Chien Po diam menyimak.
Titik-titik salju yang tertiup semilir angin dari puncak bukit menusuk-nusuk kulit arinya. Kematian yang sudah di ambang napas menggamangkan hatinya. Tetapi gadis bertubuh ringkih di hadapannya tak sedikit pun merasa gentar. Ia laksana gergasi yang menghadang musuh tanpa rasa takut. Patriotismenya memang seteguh karang!
“Seperti juga musuh majasi, prajurit sebagai sebuah personil pun juga begitu.”
“Maksud Anda….”
“Jangan takut tidak memiliki prajurit! Semua lanskap alam yang ada di sini dapat menjadi prajurit majasi yang akan melindungi kita dari maut! Batu, pepohonan, salju, iklim, dan masih banyak lagi faktor alam lainnya. Semuanya itu menjadi prajurit kita. Dan musuh bagi mereka.”
“Maafkan kelancangan saya, Asisten Fa! Mungkin Anda terlalu mengada-ada bila mengingat kekuatan musuh yang sebenarnya!”
“Saya tahu, Chien Po! Saya tahu seberapa besar kekuatan musuh. Saya tahu berapa jumlah pasukan pemberontak Han itu. Jumlah prajurit kita tidak lebih dari seperempat pasukan mereka. Tapi ingat, musuh yang seperti saya bilang tadi bukan hanya terdiri dari prajurit majasi dan pasukan jasadi. Namun, juga problema-problema batin. Ambisi mereka yang menggebu-gebu untuk segera menaklukkan Ibukota Da-du juga merupakan musuh dalam selimut. Yang tanpa mereka sadari akan melumpuhkan kekuatan mereka sendiri.”
“Tapi….”
“Sudahlah, Chien Po. Kekompakan kita, serta kesatuan prajurit kita yang solid ini juga merupakan armada perang yang tangguh untuk memukul mundur musuh. Yakinlah!”
Chien Po melanjutkan mengangkuti bongkahan-bongkahan salju. Fa Mulan masih berdiri dengan rupa baur. Ia cemas karena bala bantuan dari Ibukota Da-du belum pula kunjung tiba. Dari kejauhan, di bawah bukit perbatasan Tung Shao, dilihatnya noktah-noktah hitam yang menyemut merayapi dinding-dinding salju. Waktunya hanya dua puluh empat jam. Besok fajar, jika bantuan yang diharapkan belum juga kunjung tiba, maka hampir dipastikan pihak Yuan akan hancur menjadi abu!