12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 04


BLOGKATAHATIKU/IST

Liong adalah utusan
ia temurun Dewata dari langit
turun ke bumi atas nama cinta
ketika wangi darah
telah memekarkan kebatilan di tanah ini

Bao Ling
Liong

Waktu itu musim gugur di Tionggoan. Pohon-pohon dan rerumpunan re­bung tampak me­rontokkan dedaunan, me­­­nyebarkan bangkai dedaun­an yang me­­­­­­­­­­­­nu­­tup tanah dengan warna merah bata dari ke­jauhan.
Lalu, ada derap-derap langkah kaki kuda me­me­­­­­cah kesunyian hutan bam­­­bu. Bang­kai dedaunan be­ter­bangan di belakang penunggang kuda dengan sam­pir­an pe­dang di belakang punggungnya. Shan-Yu masih be­rusaha mengejar Ka­isar Yu­an Ren Zhan. Inilah upaya terakhirnya untuk menunaikan dendam yang te­lah ber­ke­­­camuk sekian tahun di benaknya.
Lima tahun lalu, ia merasa dikhianati oleh Kai­sar Yuan Ren Zhan. Jen­de­ral perang yang sudah meng­abdi selama puluhan tahun itu, bahkan pada saat ke­­ku­asaan ma­­sih dipegang oleh ayahanda Sang Kaisar, Yuan Ren Xing, pe­nerus ke­kaisaran Dinasti Yuan dari genera­si kedua. Ia merasa Kaisar Yuan Ren Zhan te­lah berlaku tidak adil terha­dapnya. Pembagian wilayah ke­kuasaan per provin­si yang dipim­pin oleh seorang puak Is­ta­na, yang biasa dise­but Kaisar Kecil di Ti­­­­­ong­go­an, itu ter­­nyata tidak menyenangkan hatinya.
Shan-Yu me­ra­sa te­lah disepelekan de­ngan pem­be­rian wilayah kekuasaan da­e­rah-daerah tan­dus di se­belah utara. Se­men­tara Pangeran Yuan Ren Qing, adik Sang Kaisar men­­da­pat tempat daerah-daerah subur se­bagai wilayah kekua­sa­an­nya di sebe­lah se­la­tan.
Dianggapnya hal itu merupakan ketidakadilan yang menimbulkan kecem­bu­­ruan status. Padahal menu­rutnya, selain berfoya-foya dan berhura-hura, Pa­nge­­ran Yuan Ren Qing tidak memiliki kapabilitas apa-apa se­ba­gai abdi negara yang baik. Ia mengajukan protes kepa­da Sang Kaisar, yang ditingkahi dengan pem­­­bang­­­kang­an­nya melalaikan tugas menjaga binara-binara di pos pe­ng­awasan Tem­­­­­bok Besar da­ri gangguan militan no­mad Mongol. Saat itu Dinasti Yuan me­­­­mang tengah meng­ha­dapi pemberontakan kecil dari musuh gurun pim­­pinan Te­­mujin dan anak angkatnya, Kao Ching, yang masih mengembara dengan ke­­ku­­­­atan ke­cil. Ju­ga su­ku-suku Han yang meng­klaim Tionggoan sebagai ne­gara mo­­­­­yang dan le­­lu­hur mereka, yang ter­pam­­­­­­pas oleh bangsa Yuan.
Kaisar Yuan Ren Zhan murka luar biasa. Tem­bok Besar yang berhasil di­lin­­­tasi oleh beberapa pembe­rontak karena kurangnya pengawasan para prajurit pim­­pinan Shan-Yu telah mencoreng nama baik Dinasti Yuan. Selama ini Tembok Be­sar dianggap merupakan benteng terkuat di dunia. Tidak ada kera­ja­an mana­pun yang pernah berhasil melewati bangunan mahapanjang yang menu­tupi per­ba­­tasan Tiong­goan dengan Mongolia itu.
Namun kejadian memalukan itu telah merun­tuh­kan martabat Sang Kai­sar. Terlebih-lebih ketika pe­jabat dan petinggi di negara-negara putih Barat te­lah men­­­­­­­­­­­­de­ngar kejadian miris itu. Pasti akan menjadi ba­han gunjingan dan ter­ta­­­wa­­­­­an di seluruh dunia. Maka de­­ngan legitiminasinya sebagai panglima ter­ting­­gi ang­­­­katan perang Yuan, juga sebagai kaisar da­ri generasi ketiga Dinasti Yu­­an, ma­­ka Shan-Yu diber­hentikan dari tugasnya sebagai jenderal dan pemim­pin Ang­k­at­an Pe­rang Tionggoan!
Tetapi mengingat jasa-jasa pengabdiannya se­la­­ma ini, Shan-Yu masih di­be­ri muka dengan ditugas­kan sebagai wedana di pusat logistik militer Yu­an di Yu­­­­­­­­­nan. Dengan begitu, praktis ia tidak punya kendali apa-apa atas militer Yuan lagi.
Shan Yu mendendam.
Dan ia menyusun siasat makar untuk melum­puh­­­­­kan militer Yu­an dengan ber­gabung diam-diam ke pi­hak pemberontak pimpinan Han Chen Tjing. Selama be­berapa tahun, ia tetap sabar menjalankan tugasnya se­bagai wedana di Yu­nan. Karena dari tugasnya ter­se­but, ia dapat dengan leluasa mengatur dan me­main­kan pa­­sok­an logistik bagi prajurit-prajurit Yuan di Ibukota Da­-du dan da­e­rah-daerah perba­tasan Tionggo­an­-Mongo­lia.
Bukan itu saja. Ia pun telah bersekong­kol de­ng­an ka­­­­la­ngan pemberontak Han untuk mencuri beras-beras berkualitas ung­gul, dan ha­nya menyisakan be­ras-beras bermutu rendah untuk prajurit-pra­ju­rit Yuan.
Pangkal pembelotannya telah menyebabkan me­le­mah­nya fi­sik prajurit-pra­­jurit Yuan secara tidak lang­sung. Dan justru sebaliknya, meru­pa­kan kekuat­an untuk kaum pemberontak Han yang mulai mengatur strategi penye­rangan tak ter­­­­­­du­ga suatu saat. Dalam masa-masa transisinya itulah Shan-Yu ba­nyak me­­­ma­­par­­kan kelemahan militer Yuan. Juga titik-titik kekuatan da­ri praju­rit-pra­­jurit Kaisar Yuan Ren Zhan kepada Han Chen Tjing.    
Shan-Yu juga menyerahkan peta-peta yang me­rupakan titik sentrum ke­ku­atan militer Yuan. Kekuatan militer Yuan berasal dari atas bukit-bukit di se­panjang per­batasan Tembok Besar. Dari arah atas bukit, mereka memiliki dua ra­tus ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang bersenjatakan busur-busur de­ngan anak-anak pa­nah beracun. Racun mahamematikan tersebut berasal dari Lem­bah Dewi Racun, daerah ngarai terpencil yang su­dah lebih dari seabad ditem­pati oleh rahib-rahib pe­rem­puan beraliran Taoisme bernama Go Mei. Daerah lem­­bah itu banyak ditum­buhi per­sik dari ber­ba­­gai je­nis, juga aneka tanaman berbisa seperti Mawar Berbisa dan Yang-liu Berbisa yang me­mi­liki unsur racun me­ma­ti­kan.
Penyerangan dari lembah menuju bukit perba­tas­an Tembok Besar sama ju­­ga bunuh diri. Kare­na­nya, ia menyarankan untuk tidak menyerang dari sana. Te­tapi memutar arah ke uta­ra, menyeberangi Danau Bai­kal di perbatasan Mo­ngo­­lia, dan menyerang dari arah be­lakang setelah melewati Sungai Onon.
Daerah titik penyerangan yang dimaksud me­mang tidak terlalu terkawal. Selain dianggap tidak stra­te­gis, gigir Sungai Onon juga diabaikan karena terlalu de­ras untuk dilalui. Pos-pos penjagaan di daerah itu ha­nya di­a­wasi tidak lebih da­ri seribu prajurit Divisi Infan­­te­ri. Melumpuhkan prajurit jaga itu sama mu­dah­nya de­ngan memitis mati seekor kutu. Strategi itulah yang akan di­gu­nakan un­tuk menyerang Dinasti Yuan tidak la­ma lagi setelah mereka ber­ha­sil meng­ga­lang dan meng­himpun kekuatan besar.
Meski memiliki banyak sumber daya manusia, te­­tapi pasukan pembe­ron­tak Han tidak didukung oleh fa­­silitas persenjataan yang memadai. Untuk meng­ha­­dapi prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh, mereka me­mang harus menerapkan strategi ji­­tu. Bertarung secara fron­tal dan terbuka dengan pasukan berpanah ter­­­­sebut sa­ma halnya dengan mengirim nyawa.
Itulah yang dipikirkan Shan-Yu sebagai antisi­pa­si sebelum menyerang Ibu­­­­­­­­­kota Da-du, di mana Kaisar Yu­an Ren Zhan berdiam. Maka setelah mere­nung, ia mengu­sul­kan kepada Han Chen Tjing sang Pemimpin Han un­tuk me­nyi­a­p­­­kan dan membuat zirah tameng buat pa­sukan Han nantinya. Zirah yang di­mak­­­sud adalah ba­ju-baju seragam yang terbuat dari lempengan-lem­peng­an ku­lit kayu po­hon mahoni, yang menutup nyaris selu­ruh tubuh kecuali wajah para ser­­da­du.
Cara itu dianggap efektif dan efisien untuk me­la­wan prajurit Yu­an, khu­susnya dari Divisi Kavaleri Da­nuh yang berdeterminasi tinggi. Sela­in itu, zirah ter­se­but bisa dibuat secepat mungkin dengan biaya sedi­kit. Se­mua serda­du Han dipersenjatai dengan tombak se­panjang dua meter, dan dilengkapi de­ngan se­bu­ah ta­meng kayu elips yang terikat di lengan kiri se­ba­gai pe­na­­han gem­­puran anak-anak panah beracun.
Tentu saja piranti persenjataan sederhana itu di­anggap terbaik untuk da­­pat menandingi kehebatan pra­jurit Yuan dari Divisi Kavaleri Danuh. Lesatan anak-anak panah beracun tersebut tidak akan langsung me­nem­­busi tubuh pa­su­kan Han. Selain diharapkan me­le­set, anak-anak panah yang ditembakkan itu akan me­nan­­cap pada zirah pasukan Han. Memang itulah se­ba­gi­an dari stra­tegi yang telah dipikirkan Shan-Yu jauh-jauh hari. Setelah itu, perlahan tetapi pasti me­reka akan ber­­ge­rak ma­­ju sembari menghabiskan semua per­sedi­a­an anak-anak panah pra­ju­rit dari Di­­visi Kavaleri Danuh tersebut.
Shan-Yu tersenyum dengan rupa menang.
Tepat pada saatnya nanti, pasukan Han akan me­nyerang frontal dan be­sar-be­saran se­­perti seka­wa­nan se­mut me­­rah yang merayapi Tembok Besar dan me­­ng­a­rungi Su­­ngai Onon, kemudian mendaki bukit-bukit Tung Shao untuk me­mangsa de­ngan ganas prajurit-pra­ju­rit Yuan.
Ia terbahak dengan suaranya yang khas. Me­leng­­king menembusi dinding-din­ding angkasa. Diangkat­nya pedang ular peraknya tinggi-tinggi. Diacung-acung­­­­­­­­­kan dan diputar-putarkannya seperti propeler sampai de­­da­unan yang me­ng­­e­­­­­­­rontang di tanah beterbangan mem­­bentuk pusaran selebar kubah Istana Da-du.
Kaisar Yuan Ren Zhan pasti tamat!