12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 03

BLOGKATAHATIKU/IST
Manakala waktu tak lagi berakal
dan sang sunyi datang mengendap
sebesar hitungan pada guguran yang-liu
aku tak dapat lagi meraba

Ini Tionggoan yang terluka
tetapi para penyeru tak surut berseteru
mungkin lain waktu
taburan benih kebajikan
akan menumbuhkan kinasih

Bao Ling
Nyanyian Sunyi Pertempuran Fajar

Setiap melintas di ruang tengah rumahnya, Fa Mulan selalu tersenyum sendiri. Di atas meja hyang para leluhur Fa, ia dapat melihat dengan jelas pedang ular perak Shan-Yu yang berhasil ditaklukkannya dengan susah payah, tersampir di dudukan pedang kayu mahoni dekat deretan nisan alwah para leluhur Fa.
Pedang itu bukan pedang biasa. Nyaris seberat seperempat berat tubuhnya. Pedang itu terbuat dari baja khusus dengan dua sisi mata pedang yang sangat tajam. Memanjang dengan tiga kelokan serupa tubuh ular. Dalam beberapa pertempuran, konon pedang milik jenderal batil itu dapat melumpuhkan tiga orang prajurit lawan sekaligus dengan sekali tebas.
Itulah sebabnya pedang ular perak sangat ditakuti banyak pendekar dari Dinasti Yuan. Termasuk beberapa pengawal khusus kaisar, jawara-jawara wushu yang berasal dari Yin-tin. Dua pengawal kembar kampiun kaisar, Lu Shan dan Lu Shen mati mengenaskan dalam sebuah pertarungan hebat di depan gerbang Istana Da-du.
Si Tombak Maut, Lu Shan tidak berdaya melawan kepiawaian sabetan pedang ular perak Shan-Yu. Nasib serupa pun dialami oleh Si Golok Setan, Lu Shen. Hanya dengan delapan jurus, sepasang pengawal kembar itu takluk dan bersimbah darah di tanah. Delapan jurus sebenarnya bukan waktu yang singkat untuk dapat melumpuhkan pendekar hebat sekelas mereka. Shan-Yu sebetulnya mendapat perlawanan sengit meski pada akhirnya ia dapat memenangi pertarungan satu lawan dua itu.
Posisi pasukan pemberontak Han sebetulnya sudah terdesak sejak Kaisar Yuan Ren Zhan meminta ban-tuan sahabatnya dari negeri putih Inggris, Sir Arthur Jonathan di London,  melalui delegasi Perdana Menteri Shu Yong, untuk mengirimkan beberapa ribu pucuk Ho Liong dengan imbal barter emas batangan dan batu-batu delima asal Mongolia. Ho Liong yang merupakan ekuivalentik meriam, harafiah dari Naga Api itu memang sengaja didatangkan untuk memukul lawan dari arah utara dan selatan, yang berusaha melintasi Tembok Besar, dan bahkan beberapa di antaranya telah perlahan mendekati pusat Kekaisaran Yuan di Ibukota Da-du.
Keampuhan teknologi perangkat perang modern dari Negeri Barat itu memang efektif melumpuhkan musuh-musuh. Pasukan pemberontak Han terdesak mundur. Namun sebagian perwira dan jasus handal dengan tingkat determinasi tinggi berhasil menerobos masuk ke dalam Ibukota Da-du.
Salah satu di antaranya adalah Jenderal Shan-Yu!
Pasukan Han Chen Tjing yang kembali berusaha melewati Tembok Besar memang banyak gugur sebe-lum mencapai Ibukota Da-du. Pasca penghancuran prajurit Yuan dari Divisi Infanteri, pasukan Han sama sekali tidak menyangka akan mendapat perlawanan sengit dari prajurit-prajurit wamil dan ribuan prajurit Divisi Kavaleri Ho Liong yang tangguh. Pasukan Han pun menipis. Dan ketika sampai di Ibukota Da-du, yang tersisa hanyalah beberapa perwira tinggi pemimpin pasukan Han.
Berkat strateginya yang jitu, juga didukung oleh ilmu silatnya yang tinggi, Shan-Yu berhasil memasuki Istana Da-du. Di dalam Istana Da-du, sebelum bertarung dengan sepasang pengawal kembar, Lu Shan dan Lu Shen, ia diadang tujuh pendekar Butong. Mereka adalah garda terkuat setelah sepasang pengawal kembar tersebut.
Jurus Formasi Tujuh Bintang pun digelar untuk mengadang laju Shan-Yu kala itu. Tujuh pendekar itu bergerak dinamis mengentak-entak lantai Istana Da-du, berputar-putar dan sesekali beterbangan gingkang membentuk jurus Menara Tujuh Pagoda, bersusun bahu per bahu. Pertarungan pun dimulai ketika tujuh pendekar itu menghunuskan pedang mereka masing-masing, melompat seperti katak ke arah Shan-Yu yang sudah menanti mawas dengan sepasang mata elangnya. Desingan-desingan dan denting pedang yang beradu di sekitar ruangan Kaisar Yuan Ren Zhan terdengar riuh. Shan-Yu menangkis setiap serangan dengan kibasan pedang ular peraknya. Kakinya membentuk kuda-kuda, menahan gempuran pedang pendekar Butong yang bertenaga dari segala arah.
Sementara pertarungan masih berlangsung, Kaisar Yuan Ren Zhan dengan dikawal oleh sepasang pengawal kembar dari Yin-tin segera melarikan diri lewat pintu rahasia belakang. Kaisar Yuan Ren Zhan mesti diselamatkan dari ancaman pembunuhan. Sepasang pengawal kembar itu bertugas menyelamatkan nyawa Sang Kaisar yang sudah di ambang kritis. Mereka melewati jajaran mayat dari kedua belah pihak yang bergelimpangan di tanah sebelum tiba di gerbang utama Istana Da-du. Di sana mereka disambut beberapa prajurit berkuda yang akan melarikan kaisar ke tempat aman.
Di dalam Istana Da-du yang megah itu masih terjadi pertarungan sengit. Shan-Yu tidak ingin membuang-buang waktu. Ia harus segera mencecar Kaisar Yuan Ren Zhan sebelum dilarikan oleh beberapa orang pengawal pribadinya. Kalau tidak, ia akan kehilangan segala-galanya!
Maka dengan menggunakan ilmu pamungkasnya, Bisa Pedang Ular Sakti, dilumpuhkannya tujuh rahib pendekar dari Kuil Butong di Bukit Wudan, Tionggoan Tenggara. Pedang ular peraknya mematuk tanpa ampun, tepat di dahi ke tujuh pendekar rahib berseragam jubah kelabu tersebut hanya dengan gerakan Tiga belas Titik Simpul Mati, totok pedang andalannya. Ketujuh pendekar rahib beraliran Taoisme itu terkulai, lalu tersungkur tak berdaya mencium tanah.
Shan-Yu terbang segesit walet. Hinggap di atas tektum Istana Da-du setelah melewati tembok-tembok tinggi istana, berjalan dengan tubuh seringan repih rambun di atas genteng, lalu menukik cepat serupa lintang kemukus ke arah dua pengawal kembar Sang Kaisar.
Dua silangan tombak dan golok dari Lu Shan dan Lu Shen mengadang gerakan Shan-Yu. Ia berhenti seperti capung dengan kedua belah tangan terpentang di udara. Menghindari tohokan tajamnya tombak berbisa Lu Shan dan sabetan golok besar Lu Shen yang, pada akhirnya hanya menerpa udara tanpa sasar. Sebuah jurus andalannya yang lain, Pedang Ular Terbang, menghindarinya dari maut!
Dan tanpa disangka-sangka kakinya menyepak udara, salto dan melesat lebih tinggi. Dikibaskannya pedang ular perak itu dengan gerakan konstan serupa propeler. Menukik ke bawah. Mengarah ke kereta tandu yang membawa Kaisar Yuan Ren Zhan kabur dari Istana Da-du, tepat simetris pada kepala Sang Kaisar di balik atap kereta tandu. Kedua pengawal kembar itu ternganga. Terlambat menyadari bahaya yang sudah di ambang mata!
Nyawa Kaisar Yuan Ren Zhan sudah tinggal hitungan detak jantung!
Sang Kusir berbalik dengan muka pucat. Mengayunkan pedangnya secepat kilat dengan sikap gugup, sampai sarung pedangnya terpental ke tanah. Ditahannya pedang ular perak Shan-Yu yang nyaris merobek tenda kereta tandu. Terdengar suara dentingan keras seperti dentangan martil mpu pedang yang sedang menempa baja di tungku bara. Pedang Sang Kusir mengerak sebelum patah menjadi dua. Sepasang pengawal kembar jawara wushu dari Yin-tin itu pun langsung melompat setelah menyadari pertarungan Sang Kusir sudah usai di sana. Dan ketika mereka tiba di atas samping kereta tandu, Sang Kusir yang juga merupakan pewushu handal itu telah tergeletak jatuh dengan dahi meretak.
Kusir pengawal lainnya segera menghela kekangan sepasang kuda unggul asal Mongol itu kuat-kuat diulahi dengan beberapa cambukan keras cemeti pada punggung kuda. Kuda-kuda itu melompat seperti terbang. Meninggalkan arena pertempuran yang berdarah.
Shan-Yu melompat dengan gerakan salto, hendak menyabetkan kembali pedang ular peraknya ke arah tenda kereta tandu. Tetapi ia sudah digebah tohokan-tohokan tombak serupa angin puyuh Lu Shan. Dari arah belakang, kibasan-kibasan golok lebar Lu Shen juga mengobrak-abrik konsentrasi jenderal bermata tajam dengan sepasang alis bulan sabit itu.
Jenderal pemberontak Han tersebut geram luar biasa. Kereta kuda Sang Kaisar sudah cukup jauh me-ninggalkan Istana Da-du. Ia mengamuk. Menebas-nebas pedang ular peraknya dengan gerakan selicin ular. Mematuk-matuk cepat seperti kobra. Dan sesekali terbang rendah mengitari kedua lawannya yang mulai kelelahan.
Partikel debu beterbangan seperti gemawan dalam radius pertarungan. Gemurat leher Shan-Yu menegang, mengembangkan otot-ototnya yang sekuat baja. Pedang ular peraknya bergetar. Lalu kembali terkibas-kibas seperti propeler. Ia ingin menyudahi pertarungan dengan target delapan jurus agar dapat mengejar Sang Kaisar yang mumpung belum keluar dari perbatasan Ibukota Da-du.
Dari jarak tak seberapa, Shan-Yu berdiri menumpu pada satu kaki serupa bangau dengan paruh yang siap mematuk mangsa. Pedang ular perak di tangan kanannya terjulur ke depan. Sementara itu tangan kirinya membentuk lengkungan busur di belakang kepalanya seperti hendak memanah. Sesaat kemudian tubuhnya terlontar disertai satu teriakannya yang melengking keras membelah keheningan.
Jurus Pedang Danuh yang diperagakannya mendorong tubuh Lu Shen sampai terseret tiga tindak ke be-lakang. Golok besar yang menahan tusukan pedang ular perak Shan-Yu itu membilur, memancarkan percikan lelatu setiap bersentuhan.
Lu Shan mencoba membantu saudara kembarnya dengan mengarahkan mata tombak ke bawah, ke arah kaki Shan-Yu. Namun Sang Jenderal Han itu rupanya sudah mengantisipasi serangan tersebut. Sepasang kakinya yang bersepatu alas baja menyepak-nyepak ujung mata tombak sehingga bergetar keras, menyebabkan badan Lu Shan terpelanting tanpa arah.
Peluh membanjiri tubuh sepasang pengawal kembar adikong terbaik Sang Kaisar. Terik matahari siang yang memancar dari langit seperti mengembuskan udara permusuhan bagi pendekar wushu dari Yin-tin tersebut. Empat jurus terlewati. Peluh-peluh yang menitik di dahi kedua pengawal kembar itu perlahan menjadi musuh dalam selimut. Tetesannya yang merembes ke mata memang menjadi salah satu kendala.
Shan-Yu memang sangat terkenal sebagai pendekar yang cerdik memanfaatkan situasi. Salah satu di antara pukulan taktisnya adalah gebukan pedang ular peraknya yang berat dan bertenaga, yang kerap menghabiskan tenaga-tenaga lawan yang menangkis gempuran membabi-buta darinya. Atau, semburan-semburan pasir ke mata lawan hasil kaisan-kaisan kakinya yang lincah di tanah. Juga kelengahan-kelengahan lawan yang sekecil apapun.
Memasuki jurus kelima, Shan-Yu berhasil mematahkan tombak Lu Shan dengan kepitan kakinya di tanah. Si Golok Setan Lu Shen tampak kalap, berusaha menebas kepala Shan-Yu saat Sang Jenderal Han itu mendesak kakak kembarnya. Shan-Yu merunduk sekaligus memasuki fase jurus keenam. Pedang ular peraknya terulur ke depan bersamaan dengan kelitan tubuhnya yang serupa elang, mengepak ke belakang dengan paruh tetap di muka.
Beberapa helai rambut dari kucirnya tampak beterbangan kena tebas. Namun ia berhasil merobek paha Lu Shen sebagai balasan sehingga pengawal itu terundur, dan jatuh di tanah dengan lutut menopang badan. Lu Shan masih berusaha melawan meskipun tombaknya telah patah. Sejengkal mata tombak yang masih dipegangnya dihunus ke wajah tirus Shan-Yu. Tetapi kepala Sang Jenderal Han itu terlalu sulit dijangkau hanya dengan mengandalkan patahan tombak.
Ia licin serupa kobra.
Lu Shen bangkit berdiri dengan ringisan kesakitan. Ia tertatih-tatih, mengacung-acungkan goloknya dengan jurus terakhirnya, Golok Pembunuh Naga, temurun silat Selatan ciptaan pendekar golok kesohor, Tio Sam Hong. Amukannya disertai sebuah teriakan yang membahana. Auman Singa Siluman, sebentuk paduan tenaga dalam yang sangat kuat dan bertenaga. Golok yang dihunuskan ke tanah tampak membelah disertai beberapa ledakan kecil serupa lelatu. Shan-Yu melompat dan terbang dengan jurus Pedang Ular Terbang-nya, menghindari belahan tanah seluas setengah depa yang siap menelan tubuhnya.
Jurus ketujuh segera mengakhiri pertarungan. Masih beterbangan di udara, dihunuskannya pedang ular peraknya dengan sebuah dorongan chi gaib hasil persekutuannya selama ini dengan kekuatan hitam para arwah. Ada bolide sebesar biji kenari berderet keluar dari ujung mata pedang ular peraknya, menghunjam berkali-kali dada Lu Shen. Pendekar Golok Setan itu terhuyung dengan mulut memuntahkan darah. Dan Shan-Yu menyudahi pertarungan dengan totokan pedang ular peraknya di dahi pendekar jago golok dari Yin-tin tersebut setibanya ia di tanah.
Lu Shen menghambur ke arah Shan-Yu dengan hanya mengandalkan patahan tombaknya. Shan Yu yang sudah menginjak tanah kembali mengambang tiba-tiba. Pendekar jago tombak itu terperangah. Patahan tombak-nya hanya menikam udara. Shan-Yu sudah berada simetris di atasnya, menatapnya dengan secuil senyum ganjil. Lalu dengan sebuah gerakan refleks, ia menukik seperti anak panah yang terlepas dari tembakan busur. Menikam tepat di batok kepala Lu Shan. Dan pendekar itu terkulai tak bernapas ke tanah.
Sertamerta Sang Jenderal bengis itu melompat ke atas kudanya tanpa menapak sanggurdi. Dikebutnya lari kuda dengan gebahan sepasang tumitnya ke perut kuda. Ia harus mengejar Kaisar Yuan Ren Zhan, membunuh lalu memenggal kepalanya untuk diserahkan sebagai upeti keberhasilan pemberontakan kepada pemimpin pemberontak Han, Han Chen Tjing. Salah satu generasi puak terpandang Han yang ambisius ingin merebut takhta kekaisaran menjadi kaisar dengan imbalan kursi perdana menteri bagi Shan-Yu, seorang jenderal pembangkang yang terbuang oleh kaisar generasi ketiga Dinasti Yuan, Yuan Ren Zhan. Kaisar yang kini menjadi incarannya, yang melarikan diri ke Kamp Utara pimpinan prajurit andal dan loyal, Kapten Shang Weng dan asistennya yang cerdik, Fa Mulan!