12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 02

BLOGKATAHATIKU/IST
“Siapa lagi nama pemuda itu, A Lang?”
“Namanya Tong Hui Kong, Nyonya Fa!”
“Oh, ya, ya. Ah, saya selalu lupa nama calon suami untuk Mulan, A Lang. Ya, semoga dia pemuda yang baik.”
“Jangan khawatir, Nyonya Fa. Pemuda itu berasal dari keluarga terpandang. Orangtuanya sangat kaya. Saya yakin dia merupakan suami yang paling tepat untuk Nona Fa.”
“Ya, ya. Semoga mereka cocok. Supaya saya dapat lekas menimang cucu laki-laki.”

Fa Li
Calon Suami untuk Putriku

***

Tionggoan (1208-1244 M)

Satu kalpa setelah pembebasan Tsun Gokong dari kurungan goa Dewata di langit, maka layaknya fenomena alam yang sering terjadi, meledaklah sebuah bintang mahabesar ke segala penjuru jagad raya nan pekat gulita. Partikel debu berpencaran, mengelana membentuk sebuah kehidupan baru. Maka terbentuklah semesta hasil nova. Bimasakti, sebuah galaksi raksasa dengan paradigma kehidupannya yang baur.
Gadis itu embusan dari langit.
Ia diberi kekuatan terpendam chi Dewata. Setangkai kembang Magnolia Dewata yang diturunkan dari nirwana untuk meluruskan sebagian dari sejarah manusia yang babur. Para pembatil yang mengisi bumi dengan pertumpahan darah. Dan ketika kekuasaan memporak-porandakan peradaban, maka ia hadir sebagai pahlawan. Sebuah predestinasi yang telah digariskan oleh Sang Khalik.
“Mulan….”
Putri tunggal Keluarga Fa itu berlari seperti biasa. Ditinggalkannya teko berisi teh hijau yang baru saja hendak diseduhkan untuk ayahnya. Teriakan yang lebih menyerupai lengkingan itu mesti digubris, melalaikan rutinitas pagi atas inisiatif pengabdian terhadap ayahnya. Kalau tidak, pasti ada teriakan lain yang datang susul menyusul seolah tanpa henti. Teriakan berarogansi yang lebih berisik dari sangkakala sepanjang lima depa milik para Lama Tantrayana di Kuil Potala, Tibet.
Ia masih berlari.
Dilewatinya selasar halaman tengah rumah sampai berhenti di ruang dalam rumah. Perempuan gemuk itu sudah menanti dengan wajah berkerut seperti kulit jeruk yang meringsing. Berkacak pinggang sembari menatap nanar ke kedalaman sepasang matanya.
Dilihatnya perempuan bernama Fa Li itu menggeleng-geleng kepala. Cetusan tingkah antipati tersebut sudah terbaca dalam benaknya, bahwa ibunya itu tidak senang melihat sikap seorang Fa Mulan, putri tunggalnya. Namun, sedari dulu juga perempuan itu memang begitu. Sebab, ia sadar, ia memang keras kepala lantaran tidak mau manut barang sebentar pun menjadi perempuan sesuai keinginan ibunya itu.
Nyaris sepanjang hidup, perempuan itu berharap sangat agar anak gadisnya dapat menjadi perempuan. Tetapi rupanya Dewata bergeming, mungkin begitu pikirnya. Anak gadis satu-satunya tumpuan harap jauh panggang dari api. Asanya lantak berderai. Apa yang salah pada dirinya? Mungkinkah ada benang merah kesalahan dan dosa masa lalu yang pernah dilakukannya sehingga membuahkan karma buruk pada kehidupannya sekarang?!
“Mulaaaaan!”
“Sabar sedikit, Ibu!”
Dilihatnya perempuan itu mengentakkan kakinya ke lantai. Ya, Dewata! keluhnya. Ia benci melihat hal itu. Suatu kebiasaan yang tidak terpuji. Ya, tidak terpuji. Sebab ia tahu benar, kalau sudah begitu, maka serentetan kalimat bernada sinis akan keluar dari mulut lebar ibunya tersebut.
Dan apa yang telah terbayangkan sebelumnya memang telah menjadi kenyataan. Sekedip mata kemudian perempuan bertubuh besar itu pun telah misuh-misuh serupa bunyi tutup teko tembikar akibat ruapan air mendidih di atas tungku api.
“Ada apa, Ibu?!”
Sejak lahir, ia memang tidak pernah dianggap. Pasalnya, ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan mengharapkan sang Janin akan terlahir laki-laki. Perempuan itu mengidam-idamkan anak laki-laki. Karena, hanya laki-lakilah yang dapat meneruskan kelangsungan marga Fa. Namun semua angan perempuan itu melayang ke langit kala mendapati kenyataan bahwa sang Janin yang dilahirkannya ternyata berkelamin perempuan.
Ya, Dewata!
Alangkah kecewanya perempuan itu sampai-sampai pernah mengutuk dan mengatakan kalau sang Bayi mungil tersebut merupakan jelmaan iblis yang memangsa janin laki-laki yang dikandungnya.
“Sudah dua hari Shang Weng tidak mengunjungimu. Kemana dia?!”
Ia mengembuskan napas keras. Sejenak mematung serupa sano. Pandangannya mendadak verba seiring sontak umpat yang berloncatan di benaknya. Ya, Dewata! Sungguh, sungguh ia keliru menafsir apa yang menjadi sumber kegusaran ibunya yang tidak beralasan hari ini. Sumpah, disangkanya ada serbuan asing dari pasukan pemberontak Han yang sudah takluk, kembali lagi ke barak-barak mereka di Utara, atau invasi Mongolia ke Da-du yang gagal. Namun, ternyata hanyalah pertanyaan kiasan selitani prosa Lao Tzu, yang sudah dihapalnya dalam benak sampai terbawa mimpi.
Untuk itu, ia menggerutu dalam hati. Terus-terang, ia tidak mau bersitegang dan beradu mulut dengan ibunya lagi. Sekian belas tahun, setiap hari dan setiap waktu, pertengkaran merupakan warna dalam hidupnya. Pertengkaran sudah menjadi ritualitas yang mesti dimafhumi. Sungguh, ia sudah lelah. Sangat lelah.
Shang Weng yang dimaksud ibunya itu tidak lain adalah pemimpin para prajurit di Kamp Utara, Tung Shao. Bersamanya, mereka bahu membahu melawan pasukan pemberontak Han pimpinan Han Chen Tjing yang berkonspirasi dengan Jenderal Shan-Yu untuk menggulingkan kekuasaan Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia tahu, setelah ibunya itu mengetahui Shang Weng jatuh hati kepadanya, maka sontak ibunya menganggap hal tersebut merupakan anugerah yang terindah dalam hidupnya.
Tentu saja.
Selama ini, ibunya pasti sudah bosan mendengar rumor tetangga tentang statusnya yang masih melajang. Dan sudah barang tentu pula sebagai ‘ibu yang baik’, perempuan itu tidak ingin putrinya dijuluki perawan tua.
Saban hari ibunya diresahkan dengan masalah ‘calon pendamping’ dan ‘calon pendamping’ yang belum kunjung tiba untuk putri tunggalnya. Padahal, gadis-gadis sebaya seorang Fa Mulan sudah banyak yang dipinang orang. Berstatus istri, menjadi ibu rumah tangga, dan melahirkan anak laki-laki yang lucu-lucu serta montok-montok. Sudah sekian tahun pula perempuan itu pasti merindukan dapat menimang seorang cucu. Cucu laki-laki!
Namun, ia sadar, renjana indah ibunya itu ambyar setelah mengetahui seorang Fa Mulan malah berkorban mendaftarkan diri sebagai prajurit wamil menggantikan ayahnya yang sudah tua. Ya, Dewata! Meski tidak melihat sendiri, ia tahu perempuan itu pasti menangis tiga hari tiga malam sampai-sampai airmatanya mengering.
Bukan karena sedih takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap seorang Fa Mulan, tetapi lebih karena semua harapannya, menimang cucu laki-laki,  telah hancur berantakan. Bukan itu saja. Ia menangis sejadi-jadinya karena sadar kalau anak gadisnya yang baru jalan tujuh belas itu bahkan, akan semakin menjadi laki-laki.
 “Dia sibuk mengurus negara!” jawabnya enteng menanggapi pertanyaan ibunya yang kesusu. “Mana bisa hanya mengurusi Fa Mulan seorang saja?!”
 “Sibuk?!” Perempuan bernama Fa Li itu balik bertanya, mengerutkan kening, membentuk empat garis tipis pada dahinya. Ya, Dewata! Di matanya, perempuan itu tampak lebih tua dari usia Tembok Besar. “Tapi, sudah dua hari dia tidak ke rumah kita!”
“Dua tahun juga tidak apa-apa!” timpalnya dengan kalimat seringan gingkang. “Baru juga dua hari tapi Ibu seperti kebakaran kucir saja!”
“Eh, anak ini!” Dilihatnya kembali perempuan itu berkacak pinggang. Matanya semelotot ikan maskoki. “Ditanya….”
“Habis….”
 “Kalau Ibu menanyai kamu, itu berarti Ibu peduli sama kamu! Itu berarti Ibu sayang sama kamu! Bukannya sok mengatur hidup kamu!”
“Iya, tahu!” Ia mendengus, melengos dengan rupa tidak senang. “Kapan Ibu tidak mengatur hidup saya?!”
“Eh, tega-teganya kamu bilang begitu kepada Ibu, ya?!”
“Memang dia lagi sibuk!”
“Mulan!” Perempuan separo baya itu menghela napas, matanya mendelik dan memejam hampir bersamaan. “Kalau ditanya, jangan membangkang begitu!”
Ia mengusap wajah. “Habis, saya harus bilang apa, Ibu?! Semua perkataan saya selalu salah. Apa-apa pasti salah!”
 “Ingat, Ibu marah demi kebaikan kamu juga.”
 “Kebaikan apa kalau selama ini saya selalu merasa tersisih, disudutkan sejak dulu. Ibu memang tidak pernah bersikap adil terhadap saya!”
 “Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, Mulan?!”
 “Oh, jadi apa yang selama ini Ibu lakukan untuk saya semata-mata demi membahagiakan saya?!” Ia membeliak, sedikit merasa gusar saat kenangan lama masa kanak-kanaknya yang terkekang oleh kelakuan seorang Fa Li mengiang kembali di benaknya. “Apakah kelakuan Ibu yang otoriter itu dapat dianggap membahagiakan hidup saya?!”
“Kamu terlalu naif menanggapi didikan keras Ibu!”
“Ibu bukan mendidik keras supaya saya disiplin, bukan itu! Tapi apa yang Ibu lakukan terhadap saya selama ini merupakan ketidakadilan. Ya, ketidakadilan!”
“Cukup, Mulan!” bentak perempuan itu. “Jangan mentang-mentang kamu sudah jadi orang dan pahlawan Yuan sehingga berani melawan Ibu!”
“Saya tidak melawan Ibu. Saya bukan membantah Ibu. Tapi saya hanya ingin Ibu membuka mata atas apa yang telah Ibu lakukan terhadap saya.”
“Oh, Dewata nan Agung!” Dilihatnya dengan ekor matanya ibunya mendongakkan kepala, seperti menerawangi atap rumah untuk berbicara dengan Sang Penguasa Langit nun jauh di atas sana. “Beginikah hasil yang saya peroleh setelah bersusah-payah membesarkan anak ini?!”
“Sudahlah, Ibu. Jangan meratap-ratap seperti anak kecil begitu lagi. Percuma. Dewata tidak akan menggubris tangisan Ibu. Dewata pasti tahu kelakuan Ibu yang tiran sejak dulu terhadap saya!”
Ya, Dewata!
Setiap hari perempuan bertubuh besar serupa guci air itu marah-marah. Seolah-olah seorang Fa Li sedang melakoni satu peran sebagai ibu tiri dalam sebuah opera. Dan seorang Fa Mulan adalah anak tirinya yang mesti ditimpali dengan amarah. Entah karma apa yang telah ditanamnya pada masa lampau sehingga menuai ironi di masa sekarang.
“Mulan! Tega-teganya kamu bersikap begitu terhadap Ibu!”
Dilihatnya perempuan separo baya itu berlari ke sudut ruang. Mengempaskan pinggulnya yang besar ke bangku, serta menelungkupkan kepalanya yang sebesar lampion ke atas meja kayu. Ia tersedu. Menangis sesenggukan tanpa airmata.
Ia mencibir dari belakang. Ibunya selalu begitu. Kalau sudah terdesak, maka ia pasti mengeluarkan airmata, meraung-raung seperti bayi. Lalu skenario berikutnya, ia akan menjerit-jerit dan memukul-mukul dadanya sembari menyebut sederet nama leluhur Keluarga Fa. Leluhur Keluarga Fa yang sudah mengembara ke alam baka. Leluhur Keluarga Fa dari generasi pertama sampai mutakhir.
Herannya, perempuan itu dapat menghapal ratusan bahkan ribuan nama berantropologi Fa! Jadi kalau sudah begitu pula, ia pasti mendengar seorang Fa Li merunut nama sesepuh Fa satu per satu, seperti malaikat penjaga kubur sedang membaca daftar nama orang yang sudah meninggal, yang antri hendak ke nirwana!
“Oh, para leluhur Keluarga Fa! Karma apa yang saya perbuat hingga putri kandung saya sendiri, Fa Mulan, berani menentang saya?! Oh, dosa dan kesalahan apa yang telah saya perbuat pada kehidupan yang lalu sehingga ditimpakan kesengsaraan ini?!”
“Sudahlah, Ibu! Tidak usah bermain opera begitu! Toh Ibu tidak bakal terpilih lagi sebagai protagonis. Sekarang, Ibu bukan lagi Dewi Purnama. Ibu sudah tua!”
Perempuan itu semakin meraung-raung seperti bayi. Ya, Dewata! Entah apa yang harus ia perbuat kini. Rasa-rasanya, ia sudah tidak sanggup menghadapi tingkah kekanak-kanakan ibunya itu meski ia tahu, semua tingkahnya tersebut hanya pura-pura. Sekian belas tahun diakrabinya kelakuan tengil ibunya sehingga tahu aktualitas dan kebohongan yang hanya setipis sebilah rambut. Apologis dan pembantahan hanya akan merunyamkan masalah. Lalu pada akhirnya, bukannya menyudahi kelakuan tengilnya, perempuan itu malah semakin menjadi-jadi. Ia akan memukul-mukul papan meja dengan kedua belah telapak tangannya dan sesekali membentur-benturkan kepalanya di atas papan meja, pelan.
Ia tahu, akar permasalahannya bermuasal dari sini. Karena ia perempuan. Bukan laki-laki. Ya, Dewata! Sepele memang. Namun efek yang ditimbulkan dari genderisasi tersebut telah menjadikannya orang yang terbuang dari Keluarga Fa.
Seingatnya, nyaris tidak ada persoalan serius dalam keluarganya. Tetapi bagi ibunya, sebuah persoalan sepele apapun yang menyangkut seorang Fa Mulan akan mendatangkan kiamat. Terlambat bangunlah. Cucian yang hilang di sungailah. Terlalu dekat dengan teman laki-lakilah. Sampai cara ia tertawa, berbicara, dan berjalan pun selalu mendatangkan kritik serta masalah!
Masih terngiang pula, sarat beban yang mesti dipikulnya sebagai seorang gadis yang beranjak akil-balig empat tahun silam sebelum ia menyusup dan menyamar sebagai laki-laki ke dalam kamp militer Yuan. Menikah di usia belia merupakan pilihan dan jalan satu-satunya dalam hidupnya sebagai seorang perempuan. Sebuah beban psikis yang tidak pernah dapat diterimanya dengan legawa.
Ia dibentuk untuk menjadi perempuan yang sesungguhnya. Ia ditempa untuk menjadi ‘orang lain’, yang manut pada aturan baku dan leluri. Namun jujur ia tidak bisa. Ia memberontak. Dan sengaja menggagalkan acara penjodohan dengan laki-laki pilihan ibunya, seorang pemuda dari puak terpandang atas perantara seorang makcomblang bernama Liem Sui Lang.
Lalu ketika semuanya lantak berderai, pembantahannya yang tanpa apologi tersebut ditimpali dengan seribu serapah. Ia dipukul dan diusir oleh ibunya dari rumah. Pembelaan untuknya justru selalu datangnya dari Fa Zhou, ayahnya yang lembut dan baik hati.
“Anak tidak tahu diri!”
“Sudahlah. Jangan menghukum Mulan sedemikian beratnya. Pernikahan tanpa didasari cinta bukanlah tindakan bijak. Mulan berhak menentukan pilihannya sendiri. Kalau dia belum siap menikah, sebagai orangtua, kita tidak boleh memaksakan kehendak. Biarlah jodoh Mulan diatur oleh Dewata. Bukannya kita!”
“Tahu apa kamu tentang Mulan, Fa Zhou!”
Ya, pada dasarnya ia tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain. Ia tidak bisa menjadi perempuan kemayu yang ditingkahi feminitas palsu. Ia tidak bisa bersandiwara. Ia ingin menjadi dirinya sendiri. Ia ingin menjadi seorang Fa Mulan yang ceria dan dinamis, tidak diikat oleh sebuah pranata gender. Ia adalah seorang Fa Mulan yang enerjik, bukan gadis pendiam serupa arca yang hanya tahu mengurusi tetek bengek rumah tangga,  melahirkan dan mengasuh anak, serta menjadi budak bagi sang Suami di atas peraduan.
Menurutnya, seorang gadis tidak mesti melulu berurusan dengan rumah tangga dan dapur. Banyak hal yang dapat dilakukan seorang gadis. Pasungan pranata telah melukai demikian banyak hati perempuan. Mereka mati perlahan-lahan dalam kurungan emas sangkar madu. Semestinya, seorang gadis tidak boleh dijajah lagi oleh adat istiadat yang meleluri. Seorang gadis harus memberontak. Seorang gadis harus merombak kultur gender yang sudah mendarah daging di Tionggoan.
Itulah sebabnya ia selalu diam-diam mempelajari ilmu silat keluarga Fa, satu hal yang amat tabu bagi kaum perempuan, Pedang Naga Fa dari kitab kuno karangan leluhur Keluarga Fa. Sebuah mustika terpenting yang disimpan ayahnya di salah satu tumpukan buku sejarah Keluarga Fa.
Dulu, ketika ayahnya berlatih wushu, ia selalu mengintip dari balik tembok ruangan khusus tempat latihan. Selang berikutnya, ia menghapal kemudian memperagakan ilmu silat yang dilihatnya diam-diam tadi di dalam kamarnya. Dikembangkannya beberapa jurus yang dianggap lebih dinamis. Setelah itu memperdalam lantas memperkaya salah satu jurus keluarga Fa, Telapak Fa yang dahsyat. Bahkan, juga menciptakan sendiri jurus-jurus baru. Di antaranya adalah Tinju Bunga Matahari yang gemulai tetapi bertenaga, dan Tinju Hong Terbang yang gesit dinamik.
Namun lepas dari semua itu, ia memang bukan gadis tipe calon ibu rumah tangga yang baik. Ia tidak memiliki fisik ideal seperti dambaan banyak lelaki. Ia tidak memiliki pinggul besar yang diyakini dapat memberikan banyak keturunan dan anak laki-laki kepada sang suami, seperti kultur orang-orang Tionggoan selama ini.
Pinggulnya kecil. Dadanya nyaris rata. Tubuhnya terlalu kurus. Bahkan terlalu kerempeng sehingga menyerupai toya. Dan tingkahnya tidak gemulai layaknya gadis-gadis lain.
Ia sadar pula kalau ibunya pernah menyesali memiliki putri seperti seorang Fa Mulan. Ibunya tidak pernah bersikap manis kepadanya. Ibunya tidak pernah menunjukkan rasa sayang layaknya ibu sejati kepada anaknya yang tunggal. Tidak ada afeksi dari perempuan gemuk itu seperti dambanya selama ini.
Hanya ayahnya sajalah yang sangat mencintainya.
Hanya ayahnya pulalah yang sering memberinya semangat untuk tetap tegar setelah diantipati oleh ibunya. Juga ayahnyalah yang menghiburnya setelah gagal di acara perjodohan beberapa tahun lalu itu.
“Bunga-bunga bermekaran pada musimnya. Namun, kadang-kadang ada bunga yang terlambat mekar pada saat itu. Tapi kelak bunga yang terlambat mekar tersebut akan menjadi bunga terindah. Ya, bunga terindah. Dan kamulah bunga itu, Mulan!”
Setiap mengingat kalimat subtil itu, Fa Mulan langsung menitikkan airmata haru. Ayahnya merupakan pahlawan dan guru terbaik dalam hidupnya. Karena itulah ia akan berbuat apa saja demi membahagiakan lelaki tua tersebut. Bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun seperti yang telah dilakukannya empat tahun lalu. Saat itu ia menggantikan posisi ayahnya mengikuti wajib militer yang diamanatkan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan dari Dinasti Yuan, agar seluruh keluarga di Tionggoan wajib mewakilkan seorang putra menjadi prajurit untuk menghadapi serbuan pasukan pemberontak Han yang sudah melintasi Tembok Besar. Juga gangguan-gangguan kaum nomad Mongol di perbatasan Tionggoan.
Dan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu memang telah menjadi kenyataan. Ia telah menjadi pahlawan perempuan yang menyelamatkan Tionggoan dari kehancuran. Kaisar Yuan Ren Zhan generasi ketiga penerus Kekaisaran Yuan telah menganugerahinya gelar Prajurit Besar Yuan. Mengalunginya dengan sebuah Medali Naga yang terbuat dari emas murni. Itulah simbol dan penghargaan tertinggi yang belum pernah diperoleh siapa pun di Dinasti Yuan. Bunga yang terlambat mekar itu telah mengembang. Menyerbakkan keharuman yang tiada tara ke seluruh penjuru negeri Tionggoan.
Ketangguhan itu telah ditunjukkannya kepada ibunya. Bahwa seorang perempuan yang bernama Fa Mulan adalah bunga keluarga. Ia adalah berkah dari segala yang pernah dikutuk.
Ia adalah pahlawan.