12 December 2015

Fa Mulan (Epik Maharana) 01

BLOGKATAHATIKU/IST
Fa Mulan (Epik Maharana) 01
Oleh Effendy Wongso

Fa Mulan adalah sketsa patriotisme seorang gadis dalam masa-masa kelam kemanusiaan dan maharana di Tionggoan (Tiongkok, 1208-1244). Ia adalah monokrom heroik, moralitas, cinta, dan konflik sosial. Berangkat dari amanat Kaisar Yuan Ren Zhan di Dinasti Yuan agar seluruh rakyat Tionggoan menjalani wajib militer, bersama beberapa tokoh lain­nya: Shang Weng, Kao Ching, Bao Ling, Oey Young, Yuan Ren Xie, dan Fang Mei; Fa Mulan memulai kisahnya yang penuh gejolak.
Epik Maharana merupakan bagian pertama dari episode satu novel Fa Mulan, salah satu episode dari serangkaian episode yang masih dalam tahap penulisan.


***

Sebenarnya aku melakukannya
bukan untuk Ayah
Tetapi untukku sendiri!
Sehingga sewaktu bercermin dulu
aku melihat seseorang yang berguna!

Fa Mulan
Refleksi Pedang Naga

PROLOG

Apa yang dapat dilakukan seorang gadis belia seperti aku saat menge­tahui bangsa ini di ambang maharana? Ketika menyadari kenyataan bahwa ayahku yang sudah tua masih saja harus mengangkat pedang menyongsong perang dan menghadapi musuh-musuh Dinasti Yuan? Sungguh, kenyataan itu demikian menyakitkan.
Aku Fa Mulan.
Lahir sebagai putri tunggal dalam Keluarga Fa. Mungkin aku akan menyesali diri, mengapa harus terla­hir sebagai perempuan dan bukannya laki-laki. Ya, laki-laki. Laki-laki yang dapat melakukan segalanya, termasuk mewakili Keluarga Fa mengikuti wajib militer yang telah diamanatkan Kaisar Yuan Ren Zhan kepada seluruh rakyat Tionggoan.
Mungkin.
Tetapi kenyataannya aku memang perempuan. Dan aku tidak dapat mengubah takdir langit itu kepada saya.
 “Hei, sekarang giliran kamu!”
 “Sa-saya, Inspektur Tang?”
 “Iya, kamu! Memangnya siapa yang saya panggil?! Dari tadi saya lihat kamu melamun terus!”
“Maaf, Inspektur Tang.”
“Nama kamu siapa?!”
“Mulan.”
“Hah, Mulan?”
“Kenapa memangnya?”
“Jangan kurang ajar! Kamu ini calon wamil. Ditanya malah balik bertanya!”
“Memangnya ada yang salah pada nama saya, Inspektur Tang?”
“Cukup! Jangan membantah lagi! Benar nama kamu Mulan?”
“Benar, Inspektur Tang. Anda bisa baca manus­krip yang saya bawa. Di situ jelas-jelas tertulis nama saya.”
“Kenapa nama kamu mirip nama perempuan?”
“Oh, kalau hal itu saya kurang paham, Inspektur Tang.”
“Kurang paham bagaimana?! Jangan main-main, ya?!”
“Maaf. Sedari kecil saya memang diberikan nama perempuan, Inspektur Tang. Konon, waktu masih bayi saya sering sakit-sakitan. Untuk menghindari malapetaka, maka orangtua saya berinisiatif memberikan nama perempuan kepada saya untuk mengelabui setan-setan jahat yang suka memangsa orok laki-laki. Hihihi,  lucu ya, Inspektur Tang?”
“Cukup, cukup! Jangan ketawa! Tidak ada yang lucu!”
“Maaf, Inspektur Tang.”
“Di sini tertulis marga kamu Fa. Apa betul?”
“Betul, Inspektur Tang. Nama lengkap saya Fa Mulan. Fa yang berarti bu­nga, dan Mulan yang berarti Mag­nolia. Bunga Magnolia.”
“Jangan cerewet! Saya tidak menanyai kamu soal itu. Bukan hanya kamu yang perlu saya daftar sebagai prajurit wamil. Lihat antrean di belakang kamu sudah sepanjang Tembok Besar.”
“Oh, maaf, Inspektur Tang.”
“Terlahir dari ayah bernama Fa Zhou dan ibu bernama Fa Li. Apa betul?”
“Betul, Inspektur Tang.”
“Hei, Fa Zhou adalah ayah kamu?!”
“Betul, Inspektur Tang.”
“Ya, ampun! Ternyata, kamu adalah anak Fa Zhou.”
“Oh, jadi Inspektur Tang mengenal ayah saya?”
“Ya. Ayah kamu adalah sahabat saya semasa perang dulu. Dia purnawirawan prajurit Yuan yang sangat loyal. Dalam sebuah pertempuran bersama saya, kaki ayah kamu terluka oleh sabetan pedang musuh. Sebelah kakinya pincang selama-lamanya. Oleh karena itulah, ayah kamu pensiun dari militer. Ya, mungkin juga karena usianya yang memang sudah tua.”
“Wah, rupanya Inspektur Tang bukan orang lain.”          
“Ya, ya. Saya dan ayahmu sudah seperti saudara sekandung.”
“Kalau begitu….”
“Hei, tapi setahu saya Fa Zhou tidak memiliki anak laki-laki!”
“O-oh, mungkin….”
“Kenapa?”
“Mungkin karena Inspektur Tang khilaf. Menyangka saya yang laki-laki ini perempuan karena bernama perempuan. Bukankah begitu, Inspektur Tang?”
“Hm, mungkin.”
“Nah, benar bukan?”
“Mungkin. Mungkin saya memang lupa. Hm, rupanya saya memang sudah tua.”
“Betul, betul! Anda memang sudah tua, Inspek­tur Tang!”
“Fa Mulaaaaan!”