13 December 2015

Eksistensi Lokal dalam Persaingan Industri Film

MENINGKAT - Syahrir Arsyad Dini (baju merah) dan para pemeran film Sumiati, saat foto bersama usai nonton bareng pemutaran perdana belum lama ini. Secara umum, dalam lima tahun terakhir, produksi film Indonesia terus mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah layar lebar menjadi bukti peningkatan jumlah daya serap penonton, meskipun harga tiket bioskop mengalami kenaikan. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Dua tahun terakhir, industri film lokal Makassar mulai bergairah. Beberapa rumah produksi daerah telah berhasil membawa hasil produksi mereka ke kancah persaingan industri perfilman nasional.
Secara umum, dalam lima tahun terakhir, produksi film Indonesia terus mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah layar lebar menjadi bukti peningkatan jumlah daya serap penonton, meskipun harga tiket bioskop mengalami kenaikan. Semakin besar akses untuk ke bioskop, semakin besar probabilitas orang untuk pergi ke bioskop.
Seiring hal tersebut, produksi film Indonesia juga terus meningkat. Bagi produser film Indonesia, faktor penambahan jumlah layar menjadi faktor terbesar dalam mendorong peningkatan pendapatan, dibandingkan kenaikan harga tiket bioskop. Bagi bioskop, penambahan jumlah layar pada sebuah film, akan meningkatkan pendapatan. Film yang ditayangkan akan mengalami penambahan layar, apabila diprediksi bakal laris dijual.
Berdasarkan dinamika pertumbuhan pasar film nasional, film produksi lokal daerah juga mulai bertumbuh. Itu tidak lepas dari dukungan pemerintah untuk memajukan industri film nasional yang dimulai dari daerah. Pada acara Malam Nominasi Festival Film Indonesia 2015 di Plaza Indonesia Jakarta, beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, menyatakan dukungan terhadap kemajuan film Indonesia.
Ia menyampaikan, kini pemerintah sangat mendukung segala aktivitas perfilman. Menurutnya, ikhtiar memajukan dunia perfilman menjadi tanggung jawab masyarakat pelaku industri film. Tetapi yang tidak kalah penting adalah pemerintah tidak boleh lagi hanya duduk di belakang dan menonton. Pemerintah berkomitmen untuk mendukung semua langkah yang dilakukan.
Untuk memenuhi kebutuhan sineas lokal, Anies berjanji ingin membantu pengembangan infrastruktur, supaya bisa muncul karya film Indonesia yang tidak harus dikerjakan di luar negeri. Selama ini dalam pembuatan film, ada sejumlah proses yang harus diurus di luar negeri, meskipun isi filmnya menggambarkan kehidupan dan panorama lokal. Biasanya, ini terjadi pada proses akhir seperti editing, karena fasilitas yang dibutuhkan di Indonesia masih sangat minim.
Tidak dapat dipungkiri, tonggak kebangkitan film lokal Makassar ke kancah perfilman nasional adalah Bombe yang tayang 2014 lalu. Film tersebut diproduksi Paramedia Pictures Indonesia. Film ini cukup fenomenal, karena ditonton lebih dari 50 ribu orang, meskipun pada saat itu baru tayang di tiga bioskop lokal Makassar, XXI Mal Panakkukang (MP), XXI Mall Ratu Indah (MaRI), dan XXI Trans Studio Mall (TSM). Paling tidak, film lokal sudah bisa mendapat hak tayang di bioskop jaringan 21 Cineplex, dan untuk dapat menggapai itu bukan hal mudah.
Setelah itu, Paramedia Pictures Indonesia kembali membuat kejutan saat mengeluarkan film berjudul Sumiati. Film yang diangkat dari legenda rakyat tentang sosok hantu gentayangan bernama Sumiati ini, sangat sukses untuk sebuah film yang diproduksi production house (PH) lokal Makassar. Bukan hanya di kota Makassar, Sumiati bahkan tayang di bioskop milik jaringan 21 Cineplex, yaitu Cinema 21 dan Cinema XXI. Selain itu juga tayang di bioskop berlabel Cinemax, yang sampai sekarang belum dibuka di Kota Makassar.
Kesuksesa film Sumiati dapat dilihat pada jumlah penontonnya. Sampai tulisan ini dibuat, sutradaranya Syahrir Arsyad Dini, mengungkapkan, jumlah penonton sudah mencapai 81 ribu untuk data nasional. Dari sekian banyak penonton tersebut, Makassar memberikan kontribusi sangat besar, 57 ribu penonton. “Pada pemutaran perdana, banyak pecinta film yang kecewa karena kehabisan tiket,” tutur pria yang akrab disapa Rere.
Melihat animo dari pecinta film Makassar yang sangat besar, pihak manajamen Panakukang 21 bahkan berani menurunkan film populer Mockingjay, dan menggantinya dengan Sumiati. Film tersebut berhasil memaksa bioskop tersebut memasang dua layar agar dapat memenuhi keinginan calon penonton.
Setelah melihat kesuksesan dua film yang telah dibuatnya, Syahrir berani mengklaim, kesuksesan sebuah film tidak semata diukur dari aktris dan aktor yang berperan di dalamnya. Untuk bisa sukses, film lokal tidak mesti menggunakan pelakon dari ibu kota dengan modal ketenaran nama. Film Bombe dan Sumiati semuanya menggunakan aktris dan aktor lokal Makassar. 
Awal 2016 mendatang, Paramedia Pictures Indonesia kembali akan mengeluarkan film terbarunya, yang merupakan sekuel dari Bombe, Dumba Dumba. Nuansa lokal masih menjadi ciri khas film yang memakan waktu syuting sekitar dua bulan ini. Hampir keseluruhan adegan memakai dialog khas Makassar. Biaya produksi untuk film Dumba Dumba sebesar Rp 3,5 miliar. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia menargetkan jumlah penonton untuk Dumba Dumba sebesar 150 ribu orang.
“Untuk menjadi aktris maupun aktor ternama, warga Makassar tidak perlu lagi ke Jakarta. Cukup berkarya di Makassar dan memiliki kemauan kuat, pasti bisa berhasil,” ujar Syarir penuh semangat.

Tayang Sampai Luar Negeri

Eksistensi rumah produksi lokal ke kancah persaingan industri film nasional, juga mampu dibuktikan Qia Film, yang memproduksi film Harim di Tanah Haram. Bukan hanya di Indonesia, menurut Sutradaranya, Ibnu Agha Iwan, film ini juga akan tayang di sejumlah bioskop di Malaysia dan Brunei Darussalam. Qia Film merupakan bagian dari anak perusahaan Abu Tour Group, dengan founder bernama Abu Hamzah.
Ibnu memaparkan, film Harim di Tanah Haram mengambil lokasi syuting di sejumlah daerah Sulsel, juga di Jakarta, Maroko, dan Madrid. Sederet nama besar perfilman nasional pun dilibatkan, di antaranya Irwansyah, Sylvia Fully, dan Tio Pakusadewo. Untuk sountrack dipercayakan kepada Opick dan Melly Goeslaw.
Pembuatan film yang diproduksi Qia Film ini, tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk menyelesaikan proses produksi, pihaknya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 9 miliar. Melalui film pedana produksi mereka, ia berharap dapat sambutan yang baik dari para pecinta film. Minimal bisa ikut memberikan kontribusi bagi kemajuan film nasional.
Biaya produksi yang besar, tentu juga akan mengharapkan target yang juga tidak kalah besarnya. Ibnu berharap, Harim di Tanah Haram bisa menggaet jumlah penonton sebanyak lima juta orang selama masa penayangan. Meskipun demikian, apapun hasil yang didapatkan nanti, tetap diterima dengan lapang dada. Menurut informasi terakhir, pada penayangan perdana, sebanyak 1.500 tiket telah habis terjual.
Film yang tayang perdana 10 Desember tersebut, menyuguhkan cerita berbeda dari drama religi yang ada selama ini. Film menyuguhkan cerita pertobatan seorang PSK yang ingin mengubah jalan hidupnya. Meskipun mengisahkan tentang PSK, namun tidak menampilkan lokasi pelacuran dan hal-hal yang bersifat vulgar.