29 November 2015

Wisata Sejarah Kota Tua Jakarta




MUSEUM FATAHILLAH - Bangunan yang paling terkenal di Kawasan Kota Tua adalah Museum Fatahillah. Letak bangunan ini persis berada di depan pelataran Kota Tua, dan nama resminya adalah Museum Sejarah Jakarta. Museum Fatahillah terdiri dari beberapa ruang yang masing-masing memiliki nama sendiri-sendiri. BLOGKATAHATIKU/IST

BLOGKATAHATIKU - Banyak ilmu pengetahuan terkait sejarah yang bisa diperoleh saat mengunjungi kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Bangunan-bangunan bersejarah yang menyimpan banyak sejarah, dapat dilihat langsung di ibu kota negara RI ini. 
Sebagai kota metropolitan, Jakarta semakin ramai dengan gedung-gedung baru berkonsep modern, seperti apartemen dan mal. Namun, bukan berarti ibu kota negara RI tersebut mengabaikan sejarah. Ada sebuah kawasan di Jakarta yang sarat akan nilai sejarah, lengkap dengan gedung-gedung lama peninggalan zaman Belanda. Kawasan tersebut adalah kawasan Kota Tua.
Kawasan Kota Tua berada di antara perbatasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Tempat ini sangat tepat untuk wisatawan yang menyukai wisata sejarah. Selain menikmati suasana Jakarta ala zaman Belanda, juga sekaligus bisa belajar di balik megahnya bangunan (tua) cagar budaya peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda. Beberapa waktu lalu, penulis menyempatkan diri menelusuri kawasan wisata tersebut di tengah kesibukan meliput kegiatan Asus Zenfestival 2015.
Kota Tua Jakarta di masa lalu merupakan kota rebutan yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tidak heran, jika mulai Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda-Pajajaran, Kesultanan Banten-Jayakarta, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu.
Ada sejumlah tempat wisata di Kota Tua Jakarta yang patut dikunjungi. Selain menelusuri tempat-tempat historis, wisata Kota Tua menyuguhkan sajian kuliner yang dapat dinikmati wisatawan yang mungkin lelah setelah berkeliling mengunjungi kawasan tersebut. Ada banyak sajian kuliner tradisional yang ditawarkan para pedagang, baik yang menggunakan gerobak maupun restoran. Jajanan yang kerap dijumpai adalah gado-gado, soto, hingga kerak telur pun tersedia banyak di sana.
Bangunan yang paling terkenal di Kawasan Kota Tua adalah Museum Fatahillah. Letak bangunan ini persis berada di depan pelataran Kota Tua, dan nama resminya adalah Museum Sejarah Jakarta. Museum Fatahillah terdiri dari beberapa ruang yang masing-masing memiliki nama sendiri. Beberapa ruang yang ada di Museum Fatahillah antara lain Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Di tempat ini wisatawan bisa belajar mengenai sejarah ibu kota tercinta.
Museum ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari riwayat Jakarta. Makanya, dinamakan Museum Sejarah Jakarta atau juga Museum Batavia. Di masa lampau, tepatnya era penjajahan VOC, bangunan museum ini memiliki fungsi sebagai balai kota, ruang pengadilan, dan penjara bawah tanah. Di bagian luar bangunan museum terdapat lapangan, disebut sebagai lapangan Fatahillah. Lapangan ini dulu adalah tempat mengeksekusi para tahanan.
Museum terbesar di Jakarta ini memiliki tiga lantai, dan menyimpan sekitar 25 ribu koleksi benda bersejarah, di antaranya prasasti, meriam, patung dewa dan dewi, koleksi mebel antik, serta gerabah dan keramik. Penelusuran jejak sejarah Kota Jakarta dari masa prasejarah hingga berdirinya Kota Jayakarta pada 1527, dapat diketahui di museum ini. Untuk dapat masuk, wisatawan harus membeli tiket masuk Museum Fatahillah sebesar Rp 2 ribu per orang. Museum ini terbuka untuk publik setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00-15.00 WIB.
Di depan museum terdapat taman yang dikelilingi bangunan-bangunan tua, seperti Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, juga Kantor Pos Indonesia. Berdiri juga sebuah restoran bernama Cafe Batavia, yang menjadi favorit untuk melepas penat setelah menjelajah Kota Tua. Di akhir pekan, Taman Fatahillah tidak hanya dipadati pengunjung, tetapi juga penjaja makanan dan minuman ringan, tempat penyewaan sepeda ontel, serta para seniman yang mempertunjukkan atraksi, dari “sekadar” mengamen sampai ke atraksi kuda lumping atau debus.
Bagi yang ingin mencoba menggunakan sepeda ontel, atau hanya sekadar ingin berfoto ria, cukup membayar Rp 10 ribu-Rp 15 ribu untuk menyewa selama 30 menit. Di hari biasa, bisa ditawar lebih murah. Pilih sepeda ontel jenis tandem agar bisa membonceng pasangan, bersepeda bersama mengelilingi Kota Tua.
Bergeser sedikit ke selatan dari Museum Fatahillah, dapat dijumpai Museum Wayang. Isi museum adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia wayang. Ternyata, wayang tidak hanya ada di Indonesia. Di museum, dapat dilihat banyak koleksi wayang dari berbagai daerah Indonesia hingga mancanegara. Ada lebih empat ribu wayang yang terpajang pada etalase.
Tidak jauh dari pelataran Kota Tua, juga terdapat Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki barang-barang koleksi yang terbuat dari keramik, seperti lukisan dan patung. Di sini juga dilihat berbagai benda kreatif yang terbuat dari keramik
Agak jauh dari Museum Fatahillah, wisatawan juga sebaiknya mengunjungi Museum Bank Indonesia (BI). Lokasinya, sebelum memasuki pintu masuk kawasan Kota Tua. Di museum, pengunjung bisa mempelajari peran BI sebagai bank yang memiliki otoritas tertinggi di Indonesia. 
Museum terakhir yang ada di kawasan Kota Tua adalah Museum Bank Mandiri. Lokasinya berdampingan dengan Museum Bank Indonesia. Di museum dapat dilihat koleksi uang yang pernah beredar di Tanah Air, dari zaman penjajahan hingga saat ini.