08 November 2015

Volume Kliring Sulsel Hanya Sumbang 1 Persen

MASIH RENDAH - Bank Indonesia (BI) melansir, kontribusi Sulsel dalam kegiatan pertukaran data keuangan elektronik atau kliring masih rendah, yaitu sekitar satu persen dari total kliring nasional. BI mencatat, jumlah volume kliring setiap harinya rata-rata mencapai 400 ribu transaksi di 147 bank. Sementara di Sulsel hanya melayani kliring sekitar empat ribu transaksi pada 54 bank. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Bank Indonesia (BI) melansir, kontribusi Sulsel dalam kegiatan pertukaran data keuangan elektronik atau kliring masih rendah, yaitu sekitar satu persen dari total kliring nasional. BI mencatat, jumlah volume kliring setiap harinya rata-rata mencapai 400 ribu transaksi di 147 bank. Sementara di Sulsel hanya melayani kliring sekitar empat ribu transaksi pada 54 bank.
Secara nasional, dalam lima tahun terakhir transaksi kliring mengalami peningkatan signifikan, rata-rata sekitar empat persen setiap tahun. Hal tersebut diungkapkan Kepala Divisi Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem Pembayaran Ritel BI, Agus Setyo W, saat meninjau proses transaksi kliring dan pemilahan warkat di Kantor BI Pusat, Jakarta Pusat.
Dijelaskan, tujuan kliring untuk mempermudah transaksi pembayaran yang aman dan cepat. Pemilahan warkat di BI wilayah Sulsel masih dilakukan secara manual, karena volumenya hanya menyumbang satu persen. Kendati demikian, tidak semua Kantor BI melakukan transaksi kliring dengan pemilahan warkat secara manual. Hanya ada empat wilayah yang melakukan pemilahan secara otomatis, yakni Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung.
“Dari seluruh transaksi kliring, bank konvensional masih menjadi penyumbang utama kliring dengan angka 80 persen, disusul bank syariah 20 persen. Untuk jenis bank, transaksi kliring paling banyak dilakukan BCA, Mandiri, BRI, City Bank, Lippo, dan Danamon,” papar Agus.
Khusus Makassar, jumlah kliring selama Oktober 2015 rata-rata 3.810 kali setiap hari, dengan jumlah transaksi sebesar Rp 149,61 miliar. Jumlah itu meningkat dari September 2015 yang hanya 3.327 transaksi per hari dengan nilai Rp 136,76 miliar.
“Sejak diberlakukannya transaksi kliring tahap dua yang diluncurkan Juni lalu, terjadi peningkatan transaksi. Ke depannya, kami targetkan ada peningkatan yang lebih signifikan,” imbuh Agus.