09 November 2015

Sunrise Paling Memikat di Gunung Bromo

GUNUNG BROMO - Senior Sales Executive Ibis Makassar City Center, Andi Fheni Rachmah, saat mengunjungi Gunung Bromo. Gunung Bromo adalah salah satu bagian yang membentuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, memiliki ketinggian 2.392 meter dari permukaan laut (Mdpl). Gunung ini merupakan gunung api aktif, dikeliling lautan pasir seluas 10 kilometer persegi. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Melepas penat dari aktivitas sehari-hari, Gunung Bromolah tempat yang tepat. Di sana, wisatawan bisa melihat pemandangan matahari terbit yang sangat indah. 
Gunung Bromo, pasti tidak asing lagi terdengar di telinga para traveler. Keindahan gunung ini terdengar sampai ke luar negeri. Turis lokal maupun mancanegara berbondong-bondong menggunjungi gunung ini, untuk membuktikan keindahan sunrise atau matahari terbitnya.
Beberapa waktu lalu, Senior Sales Executive Ibis Makassar City Center, Andi Fheni Rachmah, berkesempatan mengunjungi Gunung Bromo. Kesempatan itu digunakan sebelum menjalankan tugas dinas dari tempatnya bekerja, yang dilaksanakan di Surabaya. Waktu itu, ia pergi berdua dengan rekannya di Ibis Makassar City Center.
Gunung Bromo adalah salah satu bagian yang membentuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, memiliki ketinggian 2.392 meter dari permukaan laut (Mdpl). Gunung ini merupakan gunung api aktif, dikeliling lautan pasir seluas 10 kilometer persegi. Secara administratif, Gunung Bromo terletak di Provinsi Jawa Timur dan masuk dalam empat teritori pemerintah daerah, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.
Satu hal yang wajib diketahui, suhu udara di puncak Gunung Bromo dapat berkisar antara dua derajat Celsius hingga 20 derajat Celsius. Kondisi ini adalah bagian unik yang ada di salah satu tempat paling menarik di Jawa Timur ini. Waktu terbaik untuk menempuh perjalanan wisata ke Gunung Bromo adalah pada Juni-Oktober. Periode bulan ini adalah musim kemarau di daerah Gunung Bromo.
Saat tiba di Surabaya setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Makassar menggunakan pesawat, wanita yang akrab disapa Fheni ini langsung melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Ia sengaja berangkat pukul 24.00 Wib, demi mengejar sunrise. Rasa penasaran yang menjadi motivasinya, karena selama ini sering mendengar cerita dari teman-temannya soal keindahan matahari terbit di tempat wisata itu.
Setelah membayar Rp 20 ribu untuk masuk ke kawasan wisata Gunung Bromo, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang kendaraan jeep dengan biaya sewa Rp 500 ribu. Fheni tiba di kawasan wisata Gunung Bromo tepat pukul 03.00 Wib. Untuk menuju Penanjakan maupun Gunung Bromo, harus melewati lautan pasir yang saat itu masih berselimut kabut. Dibutuhkan kehati-hatian untuk melewati jalur ini, karena treknya berupa pasir. Dari kejauhan terlihat sorotan lampu beberapa jeep yang juga menuju ke Penanjakan.
Jalur menuju Penanjakan ini sangat berliku dengan tanjakan-tanjakan yang sangat curam. Pelan tetapi pasti, kendaraan yang ditumpangi Fheni sampai juga di tempat parkir di Penanjakan yang sudah penuh barisan jeep dan hardtop yang terparkir. Selain wisatawan lokal, banyak juga turis asing dengan berbagai peralatan kamera guna mengabadikan momen sunrise di Penanjakan.
Sebelum naik ke spot sunrise, tidak adalah salahnya mencari kehangatan dalam warung dan memesan beberapa minuman hangat, seperti kopi, teh, wedang jahe, atau susu panas. Di kawasan Penanjakan, banyak terdapat warung makanan dan minuman yang juga menjual barang-barang khas Bromo seperti kaus, kupluk, sarung tangan, dan syal. Karena Fheni tidak membawa perlengkapan memadai, ia pun membeli topi, syal, dan sarung tangan Rp 50 ribu, untuk dipakai menembus hawa dingin Penanjakan.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Ia segera bergegas menuju ke spot sunrise di Penanjakan. Untuk sampai ke sana harus berjalan kaki sekitar 100 meter. Spot sunrise ini tempatnya tidak terlalu luas, namun cukup untuk menampung sekitar 100 orang lebih. Di sini juga terdapat bangku-bangku panjang yang biasanya digunakan sebagai pijakan kaki pengunjung untuk melihat sunrise, dan deretan pegunungan seperti Gunung Bromo, Batok, dan Semeru. Sering juga dipakai untuk berselfie ria dengan background sunrise Gunung Bromo.
Selain perlengkapan seperti sarung tangan, kaus kaki, topi, dan syal, pengunjung yang ingin menuju ke Penanjakan, juga disyaratkan memakai jaket tebal yang tahan dingin. Jika tidak membawa itu, bisa menyewa mulai Rp 10 ribu-Rp 25 ribu.
Selain melihat keindahan matahari terbit, kegiatan lain yang sering dilakukan wisatawan adalah mengambil gambar melalui bidikan kamera. Ada pula yang datang  sekadar ingin merasakan keagungan Tuhan, melalui pemadangan alam semesta yang sangat indah di Penanjakan Gunung Bromo. Di Penanjakan bisa melihat pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, dan Gunung Semeru.
Menikmati matahari terbit di Penanjakan Gunung Bromo memang berbeda dengan puncak lainnya yang berada di kawasan wisata Gunung Bromo. Dari Puncak Penanjakan, traveler dapat melihat pemandangan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.

Menunggang Kuda Menuju Kawah Bromo

Setelah puas menikmati sunrise di Penanjakan, dan matahari sudah muncul sempurna, Fheni menuju ke Gunung Bromo itu sendiri. Jalan yang ditempuh untuk sampai ke sana harus melewati lautan pasir. Sampai di tempat parkir, pengunjung harus berjalan kaki bila ingin menuju ke kawah Gunung Bromo.
“Bila tidak ingin lelah, bisa menggunakan jasa joki kuda untuk menuju ke tangga Gunung Bromo. Saat itu, saya menunggang kuda ditemani joki menuju ke sana. Tarifnya bervariasi, tergantung kemampuan menawar. Bisa hanya Rp 15 ribu, atau bahkan Rp 50 ribu (bagi yang tak pandai menawar),” ungkapnya.
Kawah Gunung Bromo akhirnya ada di depan mata, setelah melewati anak tangga yang cukup melelahkan. Kawah ini mengeluarkan asap putih setiap saat. Di kawah ini setiap tahunnya diadakan upacara Kasodo, yang salah satu ritualnya adalah melemparkan sesajen ke dalam kawah. Sesajen-sesajen tersebut diperebutkan orang-orang yang telah menunggu di bawah.
Selain kawahnya yang indah, di sini pengunjung biasanya berfoto dengan menggunakan Gunung Batok sebagai latar belakangnya. Banyak orang yang mengira Gunung Batok ini adalah Gunung Bromo, karena bentuknya yang memang layaknya gunung pada umumnya.