15 November 2015

Sulsel Surplus Ekspor dengan Inflasi Tertinggi


INFLASI - Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Infonesia (BI) Sulsel, Derry Rosianto, saat diabadikan beberapa waktu lalu. Ia memaparkan, tekanan inflasi di Sulsel pada September 2015 mengalami peningkatan. Tren naik justru terjadi pada saat tekanan inflasi nasional cenderung naik. BLOGKATAHATIKU/IST

BLOGKATAHATIKU - Sulsel yang merupakan salah satu daerah di Tanah Air yang memiliki berbagai produksi ekspor terbesar, mengalami surplus komoditas. Kendati produksi berlebih, tekanan inflasi justru tinggi dibandingkan nasional dan mengarah ke tren peningkatan harga.
Perbandingan periode sebelumnya di bulan yang sama, inflasi September Sulsel 0,54 persen (mtm), 3,57 persen (ytd), dan 8,36 persen (yoy). Di sisi lain, inflasi nasional -0,05 persen (mtm), 2,24 persen (ytd), dan 6,83 persen (yoy).
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Derry Rosianto, memaparkan, tekanan inflasi di Sulsel pada September 2015 mengalami peningkatan. Tren naik justru terjadi pada saat tekanan inflasi nasional cenderung naik.
“Agak mengherankan juga, karena Sulsel merupakan daerah dengan beberapa komoditas yang surplus. Selain itu, peningkatan ekonomi Sulsel juga lebih tinggi dibandingkan nasional, tetapi justru inflasinya tinggi di atas rata-rata nasional,” ungkapnya.
Menurutnya, penyebabnya tingginya tekanan inflasi lantaran banyaknya petani atau produsen komoditas justru memilih mengirim hasil produksinya ke luar daerah Sulsel. “Pertimbangannya, harga komoditas tersebut lebih mahal jika dijual di luar Sulsel. Konsekuensinya, harga-harga di Sulsel tetap tinggi dan mengakibatkan inflasi,” ujarnya belum lama ini dalam diskusi bersama media Makassar di Resto Penang Bistro, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Derry menambahkan, penyebabnya naiknya harga barang di Sulsel juga disebabkan peningkatan pada kelompok bahan makanan, perumahan, air, listrik, bahan bakar, dan sandang. Berdasarkan data BI, inflasi Sulsel mencapai 16,11 (yoy), sementara nasional hanya 8,26 persen. 
“Inflasi di Sulsel pada September ini didorong inflasi dari Kota Makassar. Kontribusinya sekitar 78,12 persen. Inflasi di Makassar mencapai 8,95 persen (yoy), sementara Parepare dan Palopo masing-masing 7,02 persen dan 7,19 persen. Selain itu, triwulan kedua 2015, ekonomi Sulsel mengalami percepatan dari 5,36 persen (yoy) menjadi 7,62 persen (yoy). Kondisi Sulsel lebih baik dibandingkan ekonomi nasional yang justru mengalami perlambatan dari 4,71 persen menjadi 4,68 persen (yoy),” urainya.