06 November 2015

Strategi Berinvestasi di Properti

INVESTASI PROPERTI - Sebuah maket apartemen saat diabadikan belum lama ini dalam event properti di Makassar. Investasi dalam dunia properti bukanlah hal yang mudah meskipun sangat menjanjikan. Pasalnya, diperlukan kecermatan berhitung agar tak “buntung” di kemudian hari. Mencari keuntungan dari investasi properti bukan hanya terkait bisa menjual pada harga lebih tinggi ketimbang harga beli. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Investasi dalam dunia properti bukanlah hal yang mudah meskipun sangat menjanjikan. Pasalnya, diperlukan kecermatan berhitung agar tak “buntung” di kemudian hari. Mencari keuntungan dari investasi properti bukan hanya terkait bisa menjual pada harga lebih tinggi ketimbang harga beli, akan tetapi banyak aspek lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan.
“Masalahnya, risiko utama investasi properti karena instrumen ini tidak likuid, berbeda dengan investasi lainnya seperti emas. Jadi, ketika seseorang akan menjual kembali atau ingin menyewakan rumahnya, tentu membutuhkan waktu yang agak  lama,” terang Associate Executive Director PT Sagotra Usaha, sekaligus pemegang merek Century 21 Indonesia, Daniel Handojo dalam rilisnya belum lama ini kepada sejumlah media di Tanah Air.
Kendati demikian, di luar risiko tersebut investasi properti terhitung menguntungkan. Apalagi, harga properti di Indonesia cenderung terus naik. Bahkan, dalam periode yang tidak terlalu lama, bila lokasi properti tersebut bagus, kenaikan harga properti bisa mencapai dua digit.
Daniel menjelaskan, belakangan ini penjualan properti tidak terlalu kencang. Meski begitu, harga properti masih tetap tumbuh. “Cuma, pertumbuhan harganya memang lebih kecil. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, selama kuartal dua lalu rata-rata pertumbuhan harga properti di Indonesia sekitar 5,95 persen,” bebernya.
Agar bisa menghitung dengan cermat keuntungan yang bisa diperoleh dari investasi properti, perlu diketahui dari mana saja keuntungan tersebut. Namun uniknya, dari berinvestasi properti seorang investor bisa memperoleh dua sumber pendapatan. “Yang pertama, investor bisa memperoleh pendapatan dari menjual properti miliknya. Yang kedua, bisa mendapat uang lagi dari hasil menyewakan properti tersebut,” urainya.
Sementara itu, Associate Director for Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menuturkan, pada dasarnya properti juga memiliki siklus. Kadangkala harganya bisa terus bagus, tetapi kadang juga bisa turun.
“Investor yang ingin menanamkan modalnya di sektor properti, harus jeli dalam menghitung untung rugi menanamkan dana di sektor ini. Investor harus bisa menyesuaikan margin. Apabila tidak bisa menambah margin, bisa dengan mengurangi biaya operasionalnya,” ulasnya.
Cara menghitung potensi keuntungan dari kedua cara investasi properti tersebut juga berbeda. “Biar lebih jelas, investor perlu mencermati masing-masing cara investasi properti dan keuntungan yang bakal diperoleh. Bila investor berinvestasi di properti dengan cara menjual properti miliknya, maka mereka akan memperoleh keuntungan yang disebut capital gain. Sederhananya, capital gain ini merupakan selisih antara harga jual dan harga beli properti tersebut. Tentunya, ini dengan catatan harga jual properti lebih tinggi ketimbang harga belinya,” imbuh Ferry.
Akan tetapi, menghitung capital gain dari penjualan properti tidak sesederhana itu. Seorang investor belum tentu langsung meraup keuntungan dari penjualan properti miliknya, meski menjual dengan harga lebih tinggi dari harga beli.
“Jangan lupa, sebelum investor menjual kembali propertinya, bisa jadi sudah mengeluarkan banyak biaya untuk merawat properti tersebut. Selain itu, ketika pertama kali membeli properti, pasti banyak biaya yang harus ditanggung. Kalau sampai lalai menghitung komponen biaya tersebut, bisa jadi investor malah menetapkan harga jual lebih rendah ketimbang semua biaya yang sudah dikeluarkan. Parahnya, investor justru merugi,” tandas Daniel.