05 November 2015

Rawan NPL, BCA Batasi Kredit Valas

KREDIT VALAS - Aktivitas di salah satu gerai electronic data capture (EDC) BCA. BCA melansir, porsi kredit valas BCA tahun ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan porsi kredit valas perseroan 2014 lalu yang mencapai 6,5 persen. Bank yang terafiliasi dengan grup Djarum ini, menjaga rasio kredit bermasalah kredit valas di level 0,5 persen. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY

BLOGKATAHATIKU - Pelemahan rupiah yang terus berlangsung sejak awal 2015 ini, mempengaruhi bisnis perbankan. Bank Indonesia (BI) melansir, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), akan tercermin pada peningkatan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) kredit valas industri perbankan.
Meski meningkat, namun NPL yang terjadi pada semester kedua tahun ini masih jauh di bawah ambang batas atau threshold lima persen yang ditentukan. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, membeberkan, pihaknya tidak menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit valas di tahun ini.
Pasalnya, bank dengan kode emiten BBCA di pasar modal ini, hanya akan mempertahankan posisi kredit valas di tingkat yang sekarang ini. “Porsi kredit valas terhadap keseluruhan portofolio kredit BCA hanya sekitar 5,8 persen,” terangnya belum lama ini dalam rilisnya kepada sejumlah media di Tanah Air.
Menurutnya, porsi kredit valas tahun ini di BCA mengalami sedikit penurunan dibandingkan porsi kredit valas perseroan 2014 lalu yang mencapai 6,5 persen. Bank afiliasi grup Djarum ini, juga menjaga rasio kredit bermasalah kredit valas di level 0,5 persen. “Kami tidak menargetkan pertumbuhan kredit valas, karena risiko kredit valas tinggi. Sebab itu, kami tidak terlalu suka dengan kredit valas,” tegas Jahja.
Hal serupa juga dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk. Sekretaris Perusahaan BRI, Budi Satria, memaparkan, pembatasan pertumbuhan kredit valas untuk sementara waktu ini dilakukan lantaran perseroan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang melambat. Menurutnya, porsi kredit valas di bank dengan kode emiten BBRI ini sendiri sangat terbatas.
“Hal ini dapat terjadi lantaran perseroan lebih dominan menyalurkan kredit segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan denominasi rupiah. Kalaupun ada penyaluran kredit valas, maka pemberian kredit itu hanya kepada nasabah yang juga memiliki income dalam valas,” terangnya.
Sejak awal, BRI juga menganjurkan nasabah yang memiliki eksposur valas namun memiliki pendapatan dalam mata uang berbeda, melakukan hedging atas eksposur yang dimiliki. Hal ini dilakukan untuk memitigasi risiko atas penyaluran kredit valas tersebut.