15 November 2015

Perbankan Minta Relaksasi KPR Rumah Inden

RELAKSASI KPR - Relaksasi uang muka kredit properti, belum banyak membantu mendongkrak kucuran kredit terhadap sektor ini. Penyaluran kredit properti dinilai masih cenderung melambat. Bank Indonesia (BI) melansir, penyaluran kredit properti hingga September 2015 mencapai Rp 607,1 triliun. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
Guna Memacu Pertumbuhan KPR
Perbankan Minta Relaksasi KPR Rumah Inden

BLOGKATAHATIKU - Relaksasi uang muka kredit properti, belum banyak membantu mendongkrak kucuran kredit terhadap sektor ini. Penyaluran kredit properti dinilai masih cenderung melambat. Bank Indonesia (BI) melansir, penyaluran kredit properti hingga September 2015 mencapai Rp 607,1 triliun. Kredit ini tumbuh 13 persen secara year on year (yoy). Sebagai perbandingan, pada Agustus 2015 lalu kredit properti masih tumbuh 13,5 persen.
Perlambatan tersebut melanda tiga segmen kredit properti, antara lain kredit konstruksi, real estate, serta kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA). Per September 2015, segmen kredit properti tersebut masing-masing tumbuh 20,1 persen, 20,3 persen, dan 7,8 persen. Padahal, bulan sebelumnya tiga segmen kredit itu masing-masing tumbuh 21,4 persen, 20,9 persen, dan delapan persen.
Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, dalam rilisnya belum lama ini, mengakui pertumbuhan KPR hingga September 2015 memang relatif datar. Bahkan, hingga akhir 2015, bank berkode emiten NISP ini hanya menargetkan pertumbuhan KPR sebesar lima persen.
“Kami masih berupaya agar pada kuartal keempat tahun ini, KPR bisa tumbuh lebih baik. Tetapi, proyeksi kami maksimum hanya akan tumbuh satu digit,” bebernya.
Kondisi serupa juga terjadi pada Bank Negara Indonesia (BNI). Penyaluran KPR bank badan usaha milik pemerintah (BUMN) ini juga seret. Hal tersebut diakui Direktur Consumer Retail BNI, Anggoro Eko Cahyo. Menurutnya, KPR BNI hanya tumbuh dua persen hingga September 2015.
Akan tetapi, kabar baiknya per Oktober KPR Griya BNI tumbuh menjadi 4,5 persen. “Memasuki kuartal keempat 2015 ini, proyeksi permintaan KPR masih belum banyak berubah. Sehingga, kami menargetkan pertumbuhan KPR BNI Griya sebesar tujuh persen hingga akhir tahun ini,” ulasnya.
Guna memacu pertumbuhan KPR, perbankan meminta relaksasi lanjutan, khususnya terkait KPR untuk rumah inden. Sekadar diketahui, sebelumnya BI melarang KPR untuk rumah inden kedua dan seterusnya. Menyoal hal tersebut, Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) meminta BI melonggarkan aturan KPR untuk rumah inden kedua dan seterusnya itu.
“Tujuan relaksasi ini untuk mempercepat roda perekonomian. Jika dilakukan realisasi lebih lanjut, tentu akan lebih mendorong pertumbuhan yang lebih mengakomodir kebutuhan pasar,” ujar Anggoro.
Dari data yang dihimpun, secara umum kondisi sedikit lebih baik dialami Bank Central Asia (BCA) dan Bank Maybank Indonesia. Direktur Konsumer BCA, Henry Koenaifi, mengungkapkan, hingga September tahun ini, KPR BCA masih bisa tumbuh delapan persen. Bank afiliasi grup Djarum ini pun menargetkan pertumbuhan KPR sebesar 10 persen hingga akhir 2015.
Adapun Direktur Ritel Banking Bank Maybank Indonesia, Lani Darmawan, memaparkan, pertumbuhan KPR pihaknya tumbuh di atas 16 persen per September 2015. Bank asal Malaysia ini memproyeksikan pertumbuhan KPR sebesar 15 persen hingga 16 persen tahun ini.
Terkait relaksasi KPR rumah inden, ia menilai bisa mendongkrak KPR. “Namun, yang penting adalah proses underwriting atau penyaringan yang dilakukan bank untuk memastikan kualitas portofolio kredit yang sehat,” tandasnya.