08 November 2015

Pelaku Perbankan Pesimis Suku Bunga Acuan Turun

PESIMIS - Aktivitas di salah satu ATM Center di Makassar. Kendati Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi deflasi pada Oktober 2015 sebesar 0,08 persen, beberapa stakeholder perbankan pesimis Bank Indonesia (BI) akan menggunting suku bunga acuan atau BI rate. Selama satu tahun belakangan ini, BI rate telah bertengger pada level 7,5 persen. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Kendati Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi deflasi pada Oktober 2015 sebesar 0,08 persen, beberapa stakeholder atau pelaku perbankan pesimis Bank Indonesia (BI) akan menggunting suku bunga acuan atau BI rate. Selama satu tahun belakangan ini, BI rate telah bertengger pada level 7,5 persen.
Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja, menjelaskan, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kelihatannya pemerintah masih akan mempertahankan suku bunga acuan seperti level saat ini.
“Kelihatannya BI rate akan dipertahankan. Dampaknya sendiri masih positif bagi BCA, dalam arti permintaan kredit naik sesuai target kami, yaitu 10 persen sampai akhir tahun nanti,” terangnya dalam rilisnya kepada sejumlah media di Tanah Air, Selasa (3/11).
Sampai kuartal ketiga ini, kredit yang disalurkan BCA tercatat tumbuh 10,3 persen, yakni dari Rp 330,6 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi sebesar Rp 364,8 triliun. Kinerja sumringah kredit tersebut terutama berasal dari sektor korporasi, consumer, dan usaha kecil dan menengah (UKM).
Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan proyeksi BI rate pada akhir 2015 di posisi 7,5 persen. Ini terkait masih tingginya ketidakpastian eksternal yang dapat mendorong arus modal keluar dan pelemahan nilai tukar.
Dalam Laporan Perekonomian dan Perbankan Oktober, LPS menjelaskan, ketidakpastian eksternal ini terutama bersumber dari kebijakan moneter AS dan gejolak di pasar keuangan global.
Meski demikian, imbangan risiko terhadap prospek suku bunga ke depan sedang mengarah ke bawah, sejalan membaiknya prospek inflasi dan neraca berjalan pada tahun ini.
Pada 15 Oktober lalu, (BI kembali mempertahankan policy rate pada level 7,5 persen. Di saat yang sama, bunga deposit facility dan lending facility juga ditetapkan kembali masing-masing di level 5,5 persen dan delapan persen.
BI mengungkapkan kembali fokus kebijakan jangka pendeknya pada upaya stabilisasi nilai tukar, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, serta memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing. Bank sentral juga melihat adanya pelemahan tekanan pada stabilitas ekonomi makro, sehingga terdapat ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Ruang untuk pelonggaran kebijakan ini juga didukung inflasi dan defisit neraca berjalan yang sangat terkendali. Inflasi sepanjang 2015 diproyeksi berada di bawah titik tengah target inflasi yang sebesar empat persen. Sementara, defisit neraca berjalan diprediksi mencapai dua persen produk domestik bruto (PDB) pada akhir tahun ini, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Proyeksi BI rate LPS diperkuat Proyeksi Besaran Ekonomi Makro dan Perbankan Terpilih. Dari data ini, LPS merinci, BI rate diproyeksikan bertahan pada level 7,5 persen dan akan tetap berada pada level itu hingga 2016.
Dalam data ini juga diungkapkan proyeksi inflasi 2015 akan menyentuh empat persen, naik menjadi 5,1 persen di 2016. Sementara, rupiah akan berada pada level 14.100 per dolar AS akhir 2015 dan 14 ribu per dolar AS pada 2016.